LANGKAH CERDAS MOHAMMAD NATSIR ; DA’I ZU’AMA DAN ULAMA INTELEK

POLITISI DAN DA’I SEJATI.

Itulah sebutan yang nampaknya tidak berlebihan jika disematkan pada sosok laki-laki pejuang Islam: Mohammad Natsir. Ia lahir di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai juru tulis kontrolir di kampungnya. Ibunya bernama Khadijah. Ia dibesarkan dalam suasana kesederhanaan dan dilingkungan yang taat beribadah.

PUTRA BANGSA TEGUH PINTAR DAN CERDAS BERPOLITIK

Natsir mulai menuntut ilmu tahun 1916 di HIS (Holland Inlandische School) Adabiyah, Padang kemudian pindah di HIS Solok. Sore hari belajar di Madrasah Diniyah dan malam hari mengaji ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab.

Tamat dari HIS tahun 1923, Natsir melanjutkan pendidikannya di MULO (SMP) (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Padang. Disanalah ia mulai aktif berorganisasi di Jong Islamieten Bond (JIB) atau Perkumpulan Pemuda Islam cabang Sumatra Barat bersama Sanoesi Pane. Aktivitas utama organisasi ini pada saat itu adalah menentang para misionaris kristen di wilayah Sumatra Utara.

Natsir adalah laki-laki cerdas. Sejak muda ia mahir berbahasa Inggris, Arab, Belanda, Prancis, dan Latin. Karena kecerdasannya, tamat dari MULO pada 1927, Natsir mendapat beasiswa studi di AMS (Algemere Middlebare School) A-II setingkat SMA di Bandung dan lulus tahun 1930 dengan nilai tinggi. Ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam.

Di kota inilah ia berkenalan dengan H. Agus Salim dari Syarekat Islam, Ahmad Soorkaty pendiri organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyah, dan A. Hasan, pendiri Persatuan Islam (Persis).

Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs).

Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

AKTIVIS DAKWAH SEJATI

Sedari muda Natsir aktif berorganisasi. Berbagai aktivitas dakwah dan politik dijalaninya dengan penuh kesungguhan hingga akhir hayatnya. Berikut ini organisasi-organisasi dan berbagai jabatan yang sempat diembannya:

  1. Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung.
  2. Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.
  3. Direktur Pendidikan Islam, Bandung.
  4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing.
  5. Anggota Dewan Kabupaten Bandung.
  6. Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho).
  7. Memimpin Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI).
  8. Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta.
  9. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta.
  10. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
  11. Anggota MPRS.
  12. Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia)
  13. Dalam pemilu 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi meraih suara 21% (Masyumi memperoleh 58 kursi, sama besarnya dengan PNI. Sementara NU memperoleh 47 kursi dan PKI 39 kursi). Capaian suara Masyumi itu belum disamai, apalagi terlampaui, oleh partai Islam setelahnya, hingga saat ini.
  14. Menentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikenal dengan Mosi Integrasi Natsir. Akhirnya RIS dibubarkan dan seluruh wilayah Nusantara kecuali Irian Barat kembali ke dalam NKRI dengan Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri-nya. Penyelamat NKRI, demikian presiden Soekarno menjuluki Natsir.
  15. Menteri Penerangan Republik Indonesia.
  16. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia.
  17. Anggota Parlemen. Penentang utama sekulerisasi negara, pidatonya “Pilih Salah Satu dari Dua Jalan; Islam atau Atheis” di hadapan parlemen, memberi pengaruh yang besar bagi anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia.
  18. Anggota Konstituante.
  19. Menyatukan kembali Aceh yang saat itu ingin berpisah dari NKRI.
  20. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang cabang-cabangnya tersebar ke seluruh Indonesia.
  21. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan.
  22. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina.
  23. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya.
  24. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia).
  25. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London.
  26. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim, dll. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

TOKOH DUNIA ISLAM

Mohammad Natsir sangat dihormati oleh dunia Islam. Ia adalah ulama, da’i militan yang tidak pernah menyerah kepada lawan, dan selalu membela kebenaran. Dunia Islam mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi.

Dunia mengakuinya, namun di negerinya sendiri mulai dari rejim Soekarno dan Soeharto telah memandang sebelah mata. Ia beberapa kali masuk penjara dan sampai dilarang pergi keluar negeri oleh pemerintahan Soeharto karena ketokohannya yang sangat disegani dan dihormati di kancah perpolitikan Islam.

PENULIS TANGGUH

Disamping mahir berorganisasi sehingga menjadi negarawan ulung, Natsir juga berkarya dalam dunia perbukuan untuk mewariskan tsaqafah-nya. Karya-karya Mohammad Natsir antara lain: Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah), Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan), Shaum (Puasa), Capita Selecta I, II, dan III, Dari Masa ke Masa, Agama dalam Perspektif Islam dan masih banyak lagi.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.

Haus Ilmu

Natsir juga dikenal sebagai pribadi yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Ia selalu mengambil manfaat dan inspirasi dari para pejuang dan orang-orang saleh. Diantara tokoh dunia Islam yang mempengaruhinya adalah Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi.

Syuhada Bahri (Ketua DDII) menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

MENCINTAI DUNIA PENDIDIKAN

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

BANGSA RUKUN DAN TASAMUH ADALAH CITA-CITANYA YANG BELUM TERCAPAI

Agus Basri dalam sebuah wawancara bertanya kepada Natsir, “Adakah sesuatu yang belum tercapai?” Ia menjawab: “Hingga sekarang ini, yang belum tercapai, sama seperti keinginan saya waktu jadi Perdana Menteri: orang-orang yang rukun, beragama, ada tasamuh, toleransi antara umat beragama yang satu dengan umat yang lain, itu ndak tercapai. Iya, Baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur (Negara sejahtera yang penuh ampunan Allah), itu yang ndak atau belum juga tercapai…”

Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan ampunan padanya. Semoga ada generasi baru yang meneruskan cita-citanya. Amin…

Sumber Tulisan:

Mengenang Seabad Mohammad Natsir, Adian Husaini.

MUJAHID DAKWAH SULIT TANDINGAN DI BUMI NUSANTARA

POLITISI ISLAM DI INDONESIA SEWAJARNYA BELAJAR DARI MOHAMMAD NATSIR!

Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini, selain punya andil besar dalam perjuangan kemerdekaan juga punya andil dalam menopang jalannnya demokrasi. Kepercayaan akan Tuhan dalam sanubari para pemeluknya juga melekat, kepercayaan bahwa negeri ini adalah titipan Tuhan yang harus senantiasa dijaga bersama.
Jejak agama mayoritas ini terpatri dalam perjalanan bangsa dan negara semenjak perjuangan melawan penjajah. Banyak ulama dan pangeran dari kerajaan Islam memainkan peran lewat perperangan, walau pun akhirnya mereka kalah lalu ditangkap, diasingkan dan wafat di tanah yang lain.
Kita bisa menyebut Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, bahkan juga ada perempuannya seperti Cut Nyak Dien dan Laksamana Malahayati, dan yang lainnya.

Pada awal abad 20-an, para tokoh Islam memainkan peran tidak lagi lewat perang fisik. Mereka lebih memilih membangunkan kesadaran rakyat terutamanya para pemuda untuk paham keadaan tanah airnya. Lewat organisasi- organisasi yang didirikan dan pusat pendidikan Islam yang modern, generasi penerus bangsa dibentangkan layar berpotret keadaan bangsa berbanding dengan keadaan dunia kala itu.
Dapat kita menyebut Syarikat Islam (sebelumnya Syarikat Dagang Islam) dengan tokohnya H. Samanhudji dan HOS Tjokroeaminoto, Muhammadiyah oleh K.H Ahmad Dahlan, Nahdhatoel Ulama oleh KH Hasyim Asyarie, Persatuan Islam oleh Ahmad Hassan, dan banyak lagi orgasnisasi Islam lainnya.
Untuk pendidikan Islam modern banyak tumbuh di Sumatera Barat (lebih khusus disebut Minangkabau) lewat Abdullah Ahmad dengan HIS Adabiahnya di Kota Padang, Haji Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang, Rahmah El-Yunusiyah denga Diniyah Puterinya. Ringkasnya para tokoh Islam melalukan perjuangan tidak lagi lewat pertempuran fisik tapi pada perjuangan intelektual lewat organisasi dan pendidikan yang mereka bina bangunkan.

Melewati fase kemerdekaan, perjuangan untuk melanjutkan cita-cita proklamasi tidak mengendur sedikitpun jua. Belanda dengan dibantu para sekutunya masih ingin menguasai Indonesia. Meletuslah perang di Surabaya, Bung Tomo dengan pekik kalimat agung “Allahuakbar” membangkitkan semangat juang rakyat Surabaya yang sebahagian besar adalah para santri untuk melawan Belanda dan sekutunya. Jadilah tanggal pertempuran itu 10 November kita peringati sebagai hari pahlawan.
Ada juga fase sejarah bangsa ini diselamatkan dari kekosongan saat para pemimpin kita ditangkapi Belanda pada agresi militernya yang kedua. PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) ditegakkan Syafruddin Prawiranegara, seorang tokoh Masyumi, di Bukittinggi lalu dibawa jauh ke dalam hutan Sumatera untuk menghindari serangan udara Belanda.

Ketika negara sudah diakui kedaulatannya oleh Belanda, namun Belanda masih sempat mengacak-ngacak kesatuan kita dengan memaksa pembentukan Republik Indonesia Serikat. Tokoh dari partai politik Islam muncul memainkan lobi ke semua fraksi di parlemen menyelamatkan negara lewat mosi integralnya.
Munculnya istilah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bangsa dan negara terselamat kan melalui perjuangan konstitusi. Soekarno tanpa ragu ketika menunjuk M. Natsir sebagai perdana menteri, dengan alasan Natsir dan partainya punya konsep menyelamatkan negara lewat konstitusi. Hasilnya rekam jejak politik bangsa dan negara ini tidak pernah absen dari keikutsertaan tokoh-tokoh Islam yang ada.
Sekian banyak tokoh Islam dari berbagai generasi dan fase kebangsaan dan kenegaraan kita, tokoh yang terakhir lah penulis ingin ulas sedikit di sini, yakni Mohammad Natsir atau lebih sering dipanggil Pak Natsir. Natsir lahir 15 Juli 1908 di Alahan Panjang, Sumatera Barat. Dia merupakan jebolan AMS (Algemeene Middelbare School) jurusan Sastra Klasik Barat di Bandung yang juga merupakan sekolahnya Sutan Syahrir.
Setamatnya dari sekolah tersebut, Natsir mendapat beasiswa untuk lanjut di Rechtschoogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum untuk mendapat gelar Mr (Meester in de Rechten). Namun dia lebih bergairah turun serta dalam perjuangan se-generasinya untuk usaha memerdekakan bangsa. Dia aktif pada Jong Islamieten Bond di Bandung.
Mendirikan lembaga bernama Pendidikan Islam untuk ikut serta membangun generasi muda. Natsir belajar Islam secara intensif dengan Ahmad Hassan, seorang tokoh organasasi Persatuan Islam berketurunan India.
Dengan Ahmad Hassan lah, Natsir banyak memperoleh pengetahuan Islam yang luas lewat diskusi dan pinjaman buku-buku Islam yang banyak (Hassan punya usaha percetakan). Lewat kombinasi pengetahuan Islam dan aktifitasnya di organisasi Islam (Jong Islamieten Bond dan Persatuan Islam), menjadikan dirinya memilih bergabung dengan partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang didirikan November 1945.
Natsir memulai karir di Masyumi dengan menjadi anggota Pimpinan Pusat Masyumi pada kongres 1945, setelah itu Natsir terpilih menjadi ketua pada kongres- kongres selanjutnya hingga tahun 1958 digantikan Prawoto Mangkusaswito.

Sebagai politisi Islam, Natsir telah melatih dirinya di organisasi-organisasi yang ada kala dia muda. Intelektualnya diisi dengan baik seiring jalan dengan pengetahuan Islamnya. Penanya tajam, tak membuatnya canggung untuk beradu argumen lewat tulisan. Dia juga dibekali kemampuan orator, sebagai salah satu ciri khas aktivis Islam saat itu.

Terjun ke gelanggang politik pasca proklamasi, terutama selepas agresi militer Belanda II, menjadi salah satu bintang dalam perpolitikan Indonesia. Semenjak menjadi Menteri Penerangan di Kabinet Syahrir II, Natsir menjadi kesayangan presiden Soekarno. Soekarno yang dulu (1930-an) berdebat sengit lewat tulisan tentang Islam dan Negara dengan Natsir, pada saat itu tak mau menerima draft pidato yang belum diteliti oleh pak Natsir.
Bahkan sebagian besar teks pidato Soekarno, Natsir lah yang menuliskan. Puncak karir politik Natsir adalah terpilihnya sebagai Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suatu bentuk atau istilah yang muncul hasil dari perjuangan politiknya juga. Natsir menyelamatkan negara Indonesia yang terpecah-pecah dalam beberapa negara bagian lewat lobi politik dan mosi integralnya tahun 1950.

Kegemilangannya di dunia politik, menjadikannya idola bagi tokoh dan aktivis Islam generasi berikutnya. Tak kurang dari Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan Amien Rais menjadikannya panutan walaupun interpretasi dan pengejawantahan ide dan semangat Natsir menjadi berbeda karena tuntutan zaman.
Cak Nur sangat mengidolakan Natsir karena semangat modernisme Islam yang dibawanya. Islam modern yang dibawa Natsir menjadi inspirasi generasi Islam selanjutnya untuk mengisi kemerdekaan Indonesia.
Adalah HAM dan demokrasi yang menjadi poin penting dalam modernisme Islam yang dibawa Natsir. Ketika penyusunan konstitusi baru di Majelis Konstituante pasca pemilu 1955, Natsir dengan partainya Masyumi sangat aktif untuk meloloskan pasal-pasal yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Suatu kegiatan politik mulia yang tidak terekam ingatan bangsa ini karena usaha tersebut digugurkan dengan Dekrit Presiden Juli 1959.
Mengenai masalah demokrasi, Masyumi semenjak ikut serta dalam Demokrasi Parlementer selalu mengupayakan lahirnya pemilihan umum secara langsung untuk menentukan wakil-wakil rakyat. Dan usaha itu berbuah hasil tahun 1955 ketika kadernya Burhaddin Harahap menjadi perdana menteri.
Bahkan terhadap lawan politiknya PKI (Partai Komunis Indonesia), Natsir memilih untuk menghadang mereka lewat pemilu, biar rakyat yang menentukan. Dengannnya Natsir bisa sangat emosional ketika beradu argumen di Majelis Konstituante dengan lawan-lawan politik. Namun begitu cair dan akrab ketika “ngopi” di kantin Konstituante.
Kesederhanaan menjadi ciri lain yang melekat pada pak Natsir. George Mc. Turnan Kahin, seorang Indonesianis asal Amerika Serikat, menyaksikan seorang menteri dengan jas bertambal. Bahkan para staf kementerian pernah patungan untuk membelikan jas yang pantas untuk bos mereka. Sesuatu hal yang menurut Kahin, tak pernah ia saksikan di negara manapun. Pak Natsir juga selalu memakai kemeja yang itu-itu saja, ia cuma punya dua kemeja butut.
Kecintaan Natsir pada negara Republik Indonesia benar-benar dibuktikan dengan konkrit. Setelah tahun 1950 ia menyelamatkan kesatuan negara, pada masa awal pemerintahan Orde Baru, Natsir kembali menyelamatkan hubungan diplomasi Indonesia dengan dan Malaysia. Malaysia yang pernah diganyang pada masa Soekarno, menolak utusan Soeharto untuk bertemu.
Namun utusan Indonesia bisa diterima tatkala Natsir menitipkan sepucuk surat kepada Perdana Menteri Tengku Abdul Rahman. Jepang mengucurkan bantuan dana kepada Indonesia setelah Natsir berbicara di depan para pengusaha Jepang, Kuwait pun demikian.
Semua bantuan itu dilakukan walaupun aktitifitas politiknya dibatasi bahkan tak diperbolehkan sama-sekali.

Namun puncak kecintaannya dibuktikan dengan penandatanganan petisi 50 yang mengecam pidato presiden Soeharto di markas Kopassus, Cijantung. Natsir dan kawannya yang lain mengingatkan bahwa ucapan presiden adalah perintah tak boleh diucapkan sembarangan.
Tulisan ini hanya ingin memotret kembali politik yang dijalankan oleh seorang tokoh intelektual sekaligus politisi Islam terkemuka, disegani lawan dan disenangi para kawannya. Bahwa dunia Islam Indonesia pernah memiliki seorang yang hidupnya lurus-lurus saja, sangat bersahaja dan jauh dari cerita-cerita dramatis ala tokoh-tokoh di perfilman.

Menjalanai kehidupan dengan sederhana dan teguh memegang prinsip, tapi juga sangat pluralisme dalam pergaulan, akrab dengan siapa saja yang dia kenal serta yang terpenting menjadi kampiun demokrasi.

Menaklukkan politik yang penuh jebakan dan godaan dengan caranya sendiri, tak terpengaruh dengan gaya dan cara yang materialisme. Kelembutan menjaga tutur kata, keluwesan pergaulan dan kesederhanaan menyatu dengan kegigihan mempertahankan sikap dan konsistensi pendirian.
Sekarang begitu banyak aktivis Islam yang menyemai diri di organisasi- organisasi kemahasiswaan Islam.

Bernaung di bawah organisasi- organisasi Islam terkemuka di tanah air, bahkan memilih kendaraan politik pada partai poltik Islam atau yang berbasis masa Islam. Tapi apakah ada yang bisa mendekati Natsir, dalam hal intelektualisme, pengetahuan Islam mumpuni, kelihaian berkomunikasi dan konsistensi serta kegigihan memperjuangkan prinsip.
Kalau sederhana ala Natsir yang ditawarkan mungkin cukup sulit untuk menembus perpolitikan tanah air. Tapi setidaknya politisi sekaligus intelektualisme yang menjadi ciri politisi Islam waktu itu diikuti konsistensi dan kegigihan mempertahankan prinsip, setidaknya akan menarik gurat wajah politik Indonesia agar lebih cerah.
Kita tunggu saja, semoga tak bertahun berbilang masa mungkin tak dapat yang serupa.

Semoga substansi Islam modernis yang ditunjukan Natsir kembali ditawarkan oleh para politisi Islam kita bukan jubah, peci, kopiah, sarung atau pernik aksesoris penanda keIslaman lainnya.


HIDUPKAN DAKWAH BANGUN NEGERI

PESAN DAKWAH MOHAMMAD NATSIRT A U S H I Y A HHIDUPKAN DA’WAH BANGUN NEGERIPemimpin PulangTasyakur NikmatBai’atul QurbaMembina ummat dari bawah, Jangan berhenti tangan mendayungGali dari ajaran IslamKita tidak boleh pasifHidupkan kembali ukhuwah IslamiyahLayarkan terus perahu iniMakmurkan masjid kembali, Tegakkan jama’ah dari sanaTafsir At Thushiyatul Khakonservasi pemeliharaanberurat ke risalah Tauhidintegrasi selektifkaderkonsolidasi dan polarisasiPemulihan Tenaga TerpelantingHidupkan dakwah bangun negeri“PEMIMPIN PULANG” …..,14 JUNI 1968, udara pagi yang cerah di Lapangan Udara Tabing Padang, pintu gerbang ranah Minang, kembali hidup, setelah hampir satu dasawarsa berada dalam cengkeraman “Orde Lama” merasa terbebas dari rasa tertekan dan hilangnya harga diri.Hari itu, baru 2 tahun setelah “Orde Baru” dicanangkan dibawah kepemimpinan Soeharto, yang didukung oleh massa rakyat yang lahir dari TRITURA sangat mendambakan suasana baru, nafas baru, terbebas dari segala macam tekanan yang selama ini terasa berat menghimpit di bawah sistem komunis PKI, untuk kembali membangun kampung halaman.Jam menunjukkan jarum waktu 08.15 WIB pagi, disaat pesawat Electra GIA mencecah landasan dengan mulus, membawa di dalamnya Pemimpin Pulang, Bapak Mohammad Natsir dan Umi yang berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Gubernur Sumbar Prof. Harun Zain dan Wali kota Padang Kol. Maritim Akhirul Yahya.Pemimpin Pulang Bapak Mohammad Natsir dengan kepada tegak melanjutkan perjuangan dalam rangka merangsang semangat yang tadinya telah hampir padam untuk membangun kampung halaman. Beliau disambut dengan panggilan “orang tua kita”.Hampir seluruh daerah Tingkat II dalam daerah Sumatera Barat sempat didatangi Bapak Mohammad Natsir, mendorong umat kembali memulai membangun negeri yang bermuara dari lubuk hati.Pemimpin Pulang Empat cara pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan.

  • Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.
  • Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku, atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya.
  • Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya.
  • Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul. Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur. Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang. Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti.

Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip. Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus. Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang.Medan Djihad, 24 Agustus 1961Maulid 1381TASYAKUR NIKMATSaat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat. Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini, apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu:Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri, yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah dari luka-luka terkoyaknya perang saudara semasa rezim Soekarno, selam 3½ tahun lamanya, banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak keruntuhan yang harus dibangun.Langkah-langkah yang digariskan itu, adalah tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

  • penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.
  • perumahan rakyat yang hangus terbakar
  • sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan
  • luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu
  • kehancuran pendidikan agama.

Nopember 1961, terjadi lagi satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak Mohammad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor; dan dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan dan sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan, kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba yang sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat dengan segala akibat yang harus dilalui, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang, bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat, terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak Mohammad Natsir.Dengan pedoman yang telah digariskan secara terperinci oleh Bapak Mohammad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan, maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut, menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan, karena psikologis masih diliputi oleh rasa takut dan alasan untuk menjaga keamanan yang bersangkutan. Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil. Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung).Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakkan, PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halamannya (negerinya) itu.Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat, menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan. Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Pak Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohammad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk yang digoreskan walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”, bersama pemimpin-pemimpin lainnya seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Duski Samad, dan lain-lainnya.Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak Mohammad Natsir disambut baik, tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”, memulai dengan program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan, waktu itu tahun 1962.Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing, dengan dibekali amanat supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat kala itu Bapak Mohammad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid dan membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni sutera alam dan tikar mendong harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat melalui kursus dan latihan. Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI telah merayap dari sudut ke sudut hati setiap peserta, walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.Semboyan kita ialah :¨ Yang m u d a h sudah dikerjakan orang¨ Yang s u k a r kita kerjakan sekarang¨Yang tak mungkin kita kerjakan besok¨ Dengan mengharap kan hidayat Ilahi ““Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat” !Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak Mohammad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria, akan tetapi merasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanita-wanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura, dan juga pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang, umpamanya pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor terutama dikalangan “bundo kandung” kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis.Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak Mohammad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta, disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga.Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar disertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang“, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima, sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu. Dan seorang, keluarga Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru mengungkapkan dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..“, merupakan buhul yang kian saat makin erat untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.BAI’ATUL QURBABai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan terus berkelanjutan sebagai pesan dari “pemimpin”,1). Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (Al-Ankabut 69).2). Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru, tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru-tiru. Tetapi memang kepandaian-kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, apalah artinya kepadaian-kepandaian seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar dan yang semacam itu.Dalam pada itu, secepat-cepat terbangnya pesawat jet dia tidakkan bisa, tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali.Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyai undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani.Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.3). Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Tetapi kecenderungan penduduknya, di bidang ekonomi ialah kepada mencahari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian mereka. Padahal sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang.Ini seringkali “dilupakan” pula.Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, (amaliyah) sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan pribadi mereka sebagai satu (1) umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang.Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform“.Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu, tetapi memang begitulah hakekatnya.4). Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Baru saja Irian Barat menjadi Wilayah R.I. belum apa-apa di Kotabaru sudah ada “Restoran Padang”.Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar.Kita bicara saja dengan beberapa orang yang mempunyai modal, kita terangkan saja umpamanya bahwa pertanian dan peternakan yang menghasilkan barang-barang untuk keperluan sandang dan pangan adalah mempunyai harapan baik bila benar-benar dijadikan obyek usaha. Apalagi bila diiringi dengan penyempurnaan cara pengolahannya.Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yag terus berkembang dan penghematan devisa. Mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah secara besar-besaran, memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain.Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini.Nanti orang kampung sekitarnya bisa pula menerima upah dalam perusahaan secara besar-besaran itu.Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat.“Penasehat” dengan honorarium yang lumayan. Tak usah turut bekeja payah-payah. Nama awak saja yang dimasukkan dalam formasi management. Dengan itu dapatlah pula dikurangi anslah pajak C.V ataupun perseroan. Upayanya begitu, ini kalau ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata-mata.5). Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik.Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa ini dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus“.Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :a. hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;b. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);c. keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;d. ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;e. keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a;Ini wijhah yang hendak di tuju.Ini shibgah yang hendak di pancangkan ;Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.6). Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing.Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu.Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak..Semoga di jauhkan Allah jualah kita semua dan keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan, Amin !Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan pada angka (4) tadi itu, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali, agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata, dengan mempergunakan jalan-jalan yang kita rintiskan ini. Asal hal-hal yang semacam itu lekas-lekas dapat dipintasi, Insya Allah mereka akan masuk shaf kembali ;“kok io kito ka-badun sanak juo ……….!”7). Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap. Akan tetapi rasa bahagian kia yang tertinggi, ialah apabila kita dapat melihat bahwa itu hanyalah salah satu dari ribuan dapur yang berasap karenanya.Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah.Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar. Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing, senantiasa akan membimbing kita dalam menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Nya jua, Amin!. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.B i s m i l l a h !Dari sini kita mulai !Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi, semakin terasa kesulitan yang harus dilalui.Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ;“rasa berpantang putus asa,bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati,dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai,yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”. MEMBINA UMMAT DARI BAWAHJANGAN BERHENTI TANGAN MENDAYUNG, [1 ])Sudah sama-sama kita sadari, bahwa YAYASAN KESEJAHTERAAN telah memilih bidang “pembinaan” sebagai lapangan usaha. Yakni pembinaan umat masyarakat desa, baik lahir ataupun batin. Perumusan ini amat sederhana kedengarannya tetapi pada hakekatnya, tidaklah begitu sederhana. Sebab ini berarti bahwa kita berusaha memanggil dan membawa serta masyarakat desa itu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Semua itu dalam rangka “pembinaan negara” dalam arti yang luas. Kalau kita sudah menyadari benar-benar hakekat tugas kita itu, maka titik tolak dan cara-cara usaha kita mempunyai suatu corak yang khas.1. Satu dalil dalam ilmu ekonomi, mengatakan bahwa manusia sebagai manusia ekonomis (homo-economicus) umum melakukan kegiatan-kegiatan ekonomis dengan tujuan mencapai sebanyak-banyak hasil, guna memenuhi keperluan-keperluannya dengan “korban” yang sekecil mungkin. Begitu bunyi satu dalil atau stelling ekonomi yang terkenal.Akan tetapi manusia bukan semata-mata homo economicus saja. Tetapi ia juga seorang homo methaphisicus atau homo religiousus. Ia mempunyai bermacam kepercayaan menganut bermacam nilai hidup yang seringkali dipandangnya lebih penting daripada memenuhi keperluan hidup materialnya semata-mata.Manusia juga adalah makhluk ijtimaa’ie social being yang tak dapat tidak, hidup dalam suatu “rangka kemasyarakatan” social order, di mana dia terikat oleh ikatan-ikatan kulturil, sosial politik, adat-lembaga, atau cita-cita sosial yang tertentu.Salah seorang Sarjana Ekonomi dalam satu ulasannya mengatakan antara lain[2]); “… perkembangan ekonomi itu bukanlah suatu proses yang semata-mata mekanis sifatnya. Tidaklah semata-mata sekedar usaha menghimpunkan beberapa unsur-unsur yang tertentu. Pada akhirnya suatu perkembangan ekonomi itu, adalah merupakan satu usaha manusia. Dan sebagaimana juga halnya dengan lain-lain usaha manusia, hasilnya, pada akhirnya, tergantung kepada kecakapan, mutu (kualitas) dan sikap jiwa dari manusia yang menyelenggarakan usaha itu sendiri“.Sebagaimana kita ketahui, masyarakat yang hendak kita panggil dan bawa serta untuk berusaha meningkatkan kesejahteraannya lahir dan batin itu, adalah masyarakat-agraris, masyarakat pertanian dengan segala sifat dan pembawaannya sebagai “masyarakat tani”.Taraf hidup dalam sebagian terbesar dari desa-desa kita, lebih-lebih sebelum “pemulihan kemerdekaan” masih dekat sekali kepada gambaran masyarakat desa seperti yang dilukiskan oleh DR. MOHAMMAD HATTA dalam bukunya “Beberapa Fasal Ekonomi“, antara lain sebagai berikut ;” ….. Tanah adalah pokok penghasilan yang terutama. Pada tanah bergantung nasib manusia. Betul tak ada penghasilan yang jadi, kalau tidak dengan usaha manusia, tetapi pekerjaan manusia cuma sedikit bagiannya. Kerja manusia hanya mencangkul sedikit, menanam bibit dan mengatur banyak air yang perlu bagi tanamannya. Selanjutnya diserahkan kepada alam untuk membesarkanya bibit itu sampai menjadi buah.Kalau bibit sudah ditanam, orang dapat mengetahui, apabila waktu menuai, apabila buah dapat dimakan. Itu diketahui berkat pengalaman. Kebiasaan menunggu berbulan-bulan akan hasil usaha bertanam dan kepastian bahwa saban tahun orang dapat mengharapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyebarkan hati dan menetapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyabarkan hati dan menetapkan perasaan. Oleh karena itu persekutuan dusun tenang rupanya, bersifat menanti. Semuanya, langkah dan waktu ditetapkan oleh alam. tidak ada pekerjaan yang harus dan diburukan.Penghidupan beredar menurut irama yang sudah tentu. Dan tahun ketahun edaran ekonomi tetap, tidak berubah-ubah.Memang ada yang mengganggu ketetapan itu. Misalnya musim kemarau, musim penyakit dan bahaya perang, yang memusnahkan beberapa jiwa. Tetapi selainnya menunggu, segala marabahaya itu menetapkan kembali keadaan yang lama. Jiwa yang bertambah dari tahun ke tahun disapunya kembali. Oleh karena itu neraca penghidupan masyarakat serupa lagi dengan keadaan semula sebelum bertambah umatnya.Sebab itu pula segala marabahaya itu dirasai orang sebagai satu fatum, “takdir” yang tak dapat dihindarkan.Kepercayaan akan takdir seperti itu memperkuat perasaan menyerahkan nasib yang sudah tertentu, menimbulkan keyakinan bahwa yang ada itu, tidak dapat diubah-ubah. Demikianlah keadaannya penghidupan jiwa di dusun. Alam dan tempat, menjadi alat pengasuh perasaan kuno, perasaan menyerah dan perasaan sabar.”Demikian DR. MOHAMMAD HATTA. Beliau memaparkan ini beberapa belas tahun yang lalu.Tetapi pada umumnya apa yang digambarkan oleh Bung Hatta itu masih merupakan satu gambaran yang karakteristik atau ciri umum dari masyarakat pedesaan kita, boleh dikatakan di seluruh tanah air.Maka apabila sekarang kita hendak membangun perikehidupan masyarakat desa kita yang demikian, tidaklah dapat kita menutup mata dari keadaan yang nyata itu.Agar atas pengetahuan kita tentang “kekayaan alam” yang ada, pengetahuan kita tentang “tingkat kecerdasan” umat, tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam unsur “non-ekonomis” itu, dapatlah kita menggariskan rencana usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan “approach“nya kata orang sekarang.Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada umumnya berada dalam alam “statis-tradisionil” itu dengan bermacam-macam cara. Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi yakni dengan pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC. Ada yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit. Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern.Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”.Caranya; ” modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”.Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :· Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh· Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat desa terlibat hutang yang tak terbayar.· Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi “besi tua”.Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur manusianya.Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka akan bingung dan patah semangat.Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik.Membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan dan dinamikanya. Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seibang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’a nya.Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia” inilah jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah dibidang apapun.“Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya.2. Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam persoalan yang harus diatasi.Antara lain ;Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya entah di bidang sandang ataupun pangan.Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced means of production), misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang yang semuanya diperlukan untuk proses produksi.Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar, pembeli alat-alat penghasil itu.Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan tetapi disimpan, lalu digunakan untuk produksi selanjutnya.Dengan lain perkataan; apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang“, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada masa yang akan datang. Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar pula.Bagaimana pentingnya penumpukkan modal bagi suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya, dapat kita rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya. Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan. Ini mengakibatkan kita sedikit, atau tidak sama sekali dapat memupuk modal ini, juga mengakibatkan hasil produksi kecil tak mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup merosot, dan ekonominya tak mungkin berkembang. Jadi ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari taraf yang rendah, ialah :a. memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.b. menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.Sering persoalan yang tumbuh ialah, bagaimana kita membawa umat dan masyarakat desa itu kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”, dan bagaimana supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (waste).Alhamdulillah dalam masyarakat kita tidaklah ada unsur-unsur non ekonomis yang mengakibatkan pemborosan secara besar-besaran.Tidak ada umpamanya masalah sacred cow dan sacred monkey seperti di India umpamanya, di mana rakyat Hindu yang merupakan mayoritas mempunyai kepercayaan yang mendalam bahwa sapi adalah hewan yang suci tak boleh disembelih. Kira-kira 80 juta ekor sapi, atau kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah sapi di India itu, yang kekuatannya tidak dimanfaatkan lagi dalam proses produksi seperti membajak, penghela pedati, atau sapi perahan tidak boleh disembelih tetapi harus dipelihara dan diberi makan selama hidupnya.Demikian pula ada kepercayaan mayoritas rakyat India bahwa “monyet” atau “kera” pun adalah binatang yang suci. Dibeberapa daerah monyet demikian berkembang biaknya sehingga menjadi gangguan besar bagi tanam-tanaman dan menimbulkan kerugian-kerugian yang tak kecil, bagi perkebunan-perkebunan. Sungguhpun demkian monyet tersebut tidak boleh dibunuh.Para sarjana Ekonomi India dan pemimpinnya sudah menyadari betapa besarnya “economic waster” yang ditimbulkan oleh itu semua. Akan tetapi mereka sampai sekarang tidak atau belum mengatasinya. Dan Nehru semasa hidupnya pernah menghadapi protes-protes yang pedas dari rakyat India, ketika ia mengupas persoalan sacred monkey” itu secara rasionil, dan mengemukakan idea untuk mengekspor monyet-monyet itu hidup-hidup ke luar negeri, di mana monyet-monyet itu dapat dimanfaatkan kulitnya sedangkan India mendapat devisa yang diperlukan untuk pembentukan modal. Mengenai masalah sacred cow, Nehru ataupun para pemimpin politik dan ekonomi India lainnya, tidak pernah berani menyinggungnya. Malah memberi perlindungan atas sacred cow ditempatkan dalam Undang-undang Dasar Negara India sendiri.Jelaslah sudah, bahwa kepercayaan yang hidup dalam masyarakat seperti ini merugikan Gross National Produkct (GNP) India, dan merintangi pemupukan modal. Akan tetapi dalam hal ini pemimpin India yang bertanggung jawab berhadapan dengan suatu kepercayaan agama yang sudah berurat berakar pada masyarakat India, mengelakkan konfrontasi dengan mereka, berdasarkan pertimbangan bahwa suatu percobaan untuk memberantasnya secara radikal, niscaya akan berakibat negatif yang akan mencetuskan kekacauan dan kerusakan-kerusakan terus menerus, dan akan mengakibatkan macetnya pembangunan ekonomi.Di Indonesia kita tidak menjumpai masalah-masalah seperti tersebut di atas. Di Pulau Bali, di mana mayoritas rakyatnya beragama Hindu-Bali, tidak ada masalah sacred cow ataupun sacred monkey. Malah sapi Bali terkenal sebagai sapi sembelihan, dan di Bali sendiri ada Canning Industry, yang menghasilkan Corned Beef.Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan (waste) besar-besaran boleh dikatakan tidak ada.Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besar-besaran yang terjadi bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang kesekian, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.Namun masih ada kemungkinan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau perjudian massal dalam bermacam-macam bentuknya, seperti hwa-hwe dan lain-lainnya, yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya.Inilah yang sangat perlu diawasi.Selain dari pada itu, sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita di sini pada umumnya masih tetap tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ syara’ mamutuih, Adat memakai !”.Kedua-duanya memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif, mengandung pendorong dan perangsang, force of motivation, tenaga penggerak untuk mendinamisser satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”. Menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan, dan yang semacam itu merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.GALI DARI AJARAN ISLA M

A

jaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju, antara lain:1. KeseimbanganHukum Islam menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ;a) “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).b) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”. (Hadist). 2. Self helpMencari nafkah dengan “usaha sendiri“, dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah “lebih terhormat“, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain :c) “Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”. (Hadist).Diperingatkan bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah :d). “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (keengkaran)” (Hadist).3. TawakkalTawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa;e) Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.f) “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. (Atsar dari Shahabat).Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang, tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang“.4. Kekayaan Alam g) “Di arahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia. 1)Kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna 2)menghasilkan buah bermacam rasa. 3)Kepada alam hewan dan ternak serba guna dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.4)Kepada perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.5)Kepada lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah), dan supaya kamu pandai bersyukur”.6)Kepada bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.7)5. Time – Space – Consciousnessh. “Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingan nya waktu yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.10)i. “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. 11)j. “Dibandingkan kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah ini” dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit”12) dan Dia lah yang menjadikan bumi mudah untuk kamu gunakan.Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.13)Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. 14)6. Jangan Borosk. “Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri,agar jangan melewati batas, dan berlebihan ;16)“Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.17).Kalau disimpulkan ;Alam ditengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia, dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan oleh manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada ilahi, serta menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Dan ini semua adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, tak dapat tidak merupakan sumber dorongan bagi kegiatan penganutnya, juga di bidang ekonomi, yang bertujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).“Hasil yang nyata” dari dorongan-dorongan tersebut tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa penganutnya itu sendiri, kepada tingkat kecerdasan yang mereka capai dan kepada keadaan umum di mana mereka berada.Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:1). Bekerja: Ka lauik riak mahampehKa karang rancam ma-aruihKa pantai ombak mamacahJiko mangauik kameh-kamehJiko mencancang, putuih – putuihLah salasai mangko-nyo sudah 2). Caranya: Senteng ba-bilai,Singkek ba-ulehBa-tuka ba-anjakBarubah ba-sapoAnggang jo kekek cari makan,Tabang ka pantai kaduo nyo,Panjang jo singkek pa uleh kan,mako nyo sampai nan di cito,Adat hiduik tolong manolong,Adat mati janguak man janguak,Adat isi bari mam-bari,Adat tidak salang ma-nyalang, (basalang tenggang.)Karajo baiak ba-imbau-an,Karajo buruak bahambau-an,Panggiriak pisau sirauik,Patungkek batang lintabuang,Satitiak jadikan lauik,Sakapa jadikan gunuang,Alam takambang jadikan guru.Jiko mangaji dari alif,Jiko babilang dari aso,Jiko naiak dari janjang,Jiko turun dari tanggo.Pawang biduak nan rang Tiku,Tandai mandayuang manalungkuik,Basilang kayu dalam tungku,Disinan api mangko hiduik.Handak kayo badikik-dikik,Handak tuah batabua urai,Handak mulia tapek-i janji,Handak luruih rantangkan tali,Handak buliah kuat mancari,Handak namo tinggakan jaso,Handak pandai rajin balaja.Dek sakato mangkonyo ado,Dek sakutu mangkonyo maju,Dek ameh mangkonyo kameh,Dek padi mangkonyo manjadi.Nan lorong tanami tabu,Nan tunggang tanami bambu,Nan gurun buek kaparakNan bancah jadikan sawah,Nan munggu pandan pakuburan,Nan gauang katabek ikan,Nan padang kubangan kabau,Nan rawang ranangan itiak.Alah bakarih samporono,Bingkisan rajo Majopahik,Tuah basabab bakarano,Pandai batenggang di nan rumik.Latiak-latiak tabang ka PinangHinggok di Pinang duo-duo,Satitiak aie dalam piriang,Sinan bamain ikan rayo.3). Kemakmuran :Rumah gadang gajah maharam,Lumbuang baririk di halaman,Rangkiang tujuah sajaja,Sabuah si bayau-bayau,Panenggang anak dagang lalu,Sabuah si Tinjau lauik,Birawati lumbuang nan banyak,Makanan anak kamanakan.Manjilih ditapi aie,Mardeso di paruik kanyang.4). Perhatian :Ingek sabalun kanai,Kulimek balun abih,Ingek-ingek nan ka-paiAgak-agak nan ka-tinggaTeranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha pembangunan itu.N U C L E A R :Lah masak padi ‘rang singkarak,masaknyo batangkai-tangkai,satangkai jarang nan mudo,Kabek sabalik buhus sontak,Jaranglah urang nan ma-ungkai,Tibo nan punyo rarak sajo.Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.Melupakan atau mengabaikan ini, mungkin lantaran menganggapnya sebagai barang kuno yang harus dimasukkan kedalam museum saja, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.Membangun kesejahteraan dengan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusia nya, sehingga menjadi homo ekonomikus, sebagaimana yang kita lihat sekarang sedang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan dapat dimulai setiap waktu. Tidak menunggu sampai datangnya kredit luar negeri, atau kapital asing yang akan mendirikan pabrik-pabrik modern di negeri kita lebih dulu. Tidak.Sebab dia dimulai dengan apa yang ada.Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.Ibarat orang mengaji dia memulai dari alif. Sesudah itu baa, kemudian taa, dan seterusnya. Selangkah demi selangkah – step by step – thabaqan ‘an thabag.Dia mulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat pedesaan itu. Kepada kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam dirinya masing-masing.Yakni : observasinya yang bisa dipertajamdaya pikirnya yang bisa ditingkatkandaya gerak nya yang bisa didinamiskan,daya ciptanya yang bisa diperhalus,daya kemauannya yang bisa dibangkitkan.Dia mulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help kata orang sekarang sesuai dengan peringatan Ilahi.“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….”Cukupkan dari yang ada …Telapak tangan….Di sini kita melihat peranan hakiki dari Sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani.Dalam hubungan peringatan ulang tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang, Pak Natsir mengatakan:“Tadi pagi, kita sudah melihat Pameran Yayasan Kesejahteraan dari hasil usaha masyarakat pedesaan. Amat sederhana. Tidak dapat dibandingkan dengan Pameran Jakarta Fair yang sekarang juga di Jakarta itu. Bila kita melihat barang-barang yang sederhana itu, marilah kita coba melihat dibelakang barang-barang itu, pula perkembangan potensi pribadi, dari manusia-manusia yang telah melalui process, harap cemas kegagalan, dinamika-dinamika daya cipta yang berkembang penuh dengan, suka-duka, dengan cucuran keringat, seringkali tetesan air mata, dalam menghadapi kesulitan yang serasa tak dapat diatasi, menghadapi kegagalan-kegagalan yang hampir membawa hanyut kedalam putus asa silih berganti dengan gertaman gigi, didorong oleh cita-cita dan kemauan untuk berjalan terus sampai berhasil…Jangan berhenti tangan mendayung,nanti arus membawa hanyut” …..Begitu bunyi suara hati mereka. Itu yang ada dibelakang hasil lahiriyah yang dipameran itu. Mereka masih mengaji alif-baa-taa. Kemauan mereka akan melanjutkan kaji khatamMemang pada permulaan, terasa lambat kaji beralih, dari reka kereka berangsur-angsur. Disatu saat kaji self help (menolong diri sendiri) beralih kepada kaji mutual help, tolong-menolong, bantu-membantu, dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun kata ahli agama. Sesuai dengan anjuran Ilahi :“Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan.Dari taraf ini berangsur-angsur kepada take-off kata orang sekarang. Dimana ibarat mesin sudah hidup, baling-baling sudah berputar pesawatnya mulai bergerak, meluncur di atas landasan, naik berangsur-angsur semakin lama semakin tinggi.Kalau sudah demikian maka akan sampailah ke taraf ketiga, yaitu taraf yang biasa kita namakan selfless help yaitu dimana kita sudah dapat memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan apa-apa.Itulah taraf ihsan yang hendak kita capai sesuai dengan maqam yang tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup duniawi ini oleh seorang Muslim dan masyarakat Muslimah.Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi;“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan).Satu kemajuan Insya Allah akan terwujud dengan semboyan:“Mulai dengan melatih diri sendiri, mulai dengan alat yang ada, mencukupkan dengan apa yang ada. Yang ada itu adalah cukup untuk memulai.Kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau infaq fii sabilillah dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa.“Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. (Q.S. Al Lail, 19 – 20).Itu tujuan yang hendak kita capaiBegitu khittah yang hendak kita tempuh.Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil.Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah“. Dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya.Pak Natsir memperingatkan pula tentang kekuatan moral yang dimiliki.Saudara telah menanamkan “nawaitu” dalam diri Saudara masing-masing untuk membina umat dalam masyarakat desa yang sudah Saudara-Saudara ketahui kekuatan, baik kekuatan ataupun kelemahan di dalamnya.Saudarapun telah bersama-sama dengan mereka mengalami suka dan duka, manis dan pahitnya.”Pernah ditahun 1946, setahun sesudah proklamasi, rombongan kami (kata Pak Natsir), disambut di Bukittinggi dengan pantun :“Mandaki ka gunung Marapi,Manurun ka Tabek Patah,Nampak nan dari Koto Tuo,Lah barapo kali musim baganti,Lah urang awak bana nan mamarintah,Nasib kami baitu juo”. [3])Maka jawablah pantun itu dengan “amal”, dengan Syi’ir posisie kucuran keringat dan perasan otak. Kalau kadang-kadang hendak berpantun juga, pelepaskan lelah, jawabkan saja ;Ba-ririk bendi di IndarungMandaki taruih ke Tinjau LauikJan baranti tangan mandayuang,Nanti aruih mambao hanyuik”.[4])Bismillah …..Kembangkan layar bahtera kecil saudara-saudara menuju pulau harapan. Kami do’akan bersama-sama ;Tukang nan tidak mambuang kayu,Nan bungkuak kasingka bajak,Nan luruih katangkai sapu,Satangkok kapapan tuai,Nan ketek pa pasak suntiang [5])Anak urang Padang Mangateh,Nak lalu ka Payokumbuah,Namun nan singgah iko ka ateh,Bijo barandang nan ka tumbuah. [6]Mamutiah cando riak danau,Tampak nan dari muko-muko,Batahun-tahun dalam lunau,Namun nan intan bakilek juo. [7])Bekerjalah ….. ,Bismillah …… –vTIDAK BOLEH KITA PASIF [8])

P

ertanggungan jawab moral kita, tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin. Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedangkan teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.Memang …..,“Ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpin dari orang awam.”Makanya kita yang dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal.Kita memiliki dan seharusnya memiliki ;

  • Ke-Iman-an kepada Tuhan Yang Maha Esa,
  • Daya pikir dan daya cipta
  • Cara hidup yang bersih
  • Akhlaq dan budi pekerti yang baik,
  • Rasa cinta kepada Agama, nusa dan bangsa umumnya,
  • Rasa setia kawan dan rasa tanggung jawab moril terhadap saudara mereka itu, yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejaran dan persamaan pandangan hidup, khususnya.

Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uang atau kekuatan lahir.Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong….. vHIDUPKAN KEMBALI UKHUWWAH ISLAMIYAH [9])

S

udah mulai agak janggal pula kedengarannya bila menyebut kaji ini. Kaji yang sudah begitu lama kita kunyah. Tetapi, yang masih sedikit sekali berjumpa pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan modern dengan alat-alat penghubungnya yang serba lengkap, automobil, kereta api, kapal terbang, tilpon, pers, radio, televisi, semua itu ternyata gagal dalam menghubungkan jiwa dan jiwa, dalam ikatan persaudaraan yang ikhlas dan hakiki.Rupanya soalnya bukan soal alat. Soalnya terletak pada jiwa yang akan mempergunakan alat penghubung itu sendiri. Sebaik-baik alat pemotret tidak bisa memprodusir gambar seseorang yang tidak ada. Alat-alat komunikasi yang ultra modern yang dapat menyampaikan pesan kepada satu satelit di luar bumi dengan tekanan suatu knop saja, alat-alat semacam itu tidak mampu menghubungkan rasa muhibbah itu sendiri yang tidak ada.Alat-alat komunikasi sebagai hasil dari teknik modern ini telah dapat memperpendek jarak sampai sependek-pendeknya. Akan tetapi jarak jiwa dan rasa manusia tidak bertambah pendek lantarannya. Malah sebaliknya yang seringkali kita jumpai. Hidup bernafsi-nafsi, siapa lu siapa gua, semakin merajalela.Inilah problematik dunia umumnya sekarang ini, ditengah-tengah kemajuan material dan teknik yang sudah dapat dicapai manusia diabad XX ini.Ini juga problematik yang dihadapi manusia Umat Islam khususnya.Persoalan uchuwwah Islamiyah ini wajib kita memecahkannya dengan sungguh-sungguh, kalau benar-benar kita hendak menegakkan Islam dengan segala kejumbangannya kembali dinegara ini.Bagi Umat Islam soal ini hanya dapat dipecahkan oleh Umat Islam sendiri, tidak boleh oran lain.Dan jika tidak dipecahkan, maka yang salah ialah Umat Islam sendiri, terutama para pemimpinnya, bukan orang lain.Menegakkan dan menyuburkan Ukhuwwah Islamiyagh tidaklah sangat bergantung kepada alat-alat modern, tidak pula kepada harta bertimbun-timbun.Malah dikalangan kaum yang hidup sederhana itulah kita banyak berjumpa “suasana ukhuwwah” lebih dari kalangan yang serba cukup dan mewah.Dan ….,Sekiranya ukhuwwah itu dapat ditumbuhkan hanya dengan mendirikan bermacam-macam organisasi, dengan anggaran dasar dan kartu anggotanya, dengan semboyan-semboyan dan poster-posternya, semestinya ukhuwwah sudah lama tegak merata diseluruh negeri ini.Sekiranya ukhuwwah Islamiyah dapat diciptakan dengan sekedar anjuran-anjuran lisan dan tulisan, semestinya sudah lama ukhuwwah Islamiyah itu hidup subur dikalangan Umat Islam, dan umat itu sudah lama kuat dan tegak.Sebab sudah cukup banyak anjuran lisan dan tulisan yang dituangkan kepada masyarakat selama ini.Ayat dan hadist mengenai ukhuwwah, sudah berkodi-kodi kertas, dilemparkan kedalam masyarakat dengan majalah-majalah, buku-buku dan surat-surat kabar, sudah hafal, dikunyah-kunyah dan dimamah orang banyak.Kalau ukhuwwah Islamiyah belum kunjung tercipta juga, itu tandanya pekerjaan kita belum selesai.Dan kalau usaha-usaha selama ini belum berhasil dengan memuaskan, itu tandanya masih ada yang ketinggalan, belum dikerjakan.Rupanya soal ukhuwwah ini soal hati yang hanya dapat dipanggil dengan hati pula.Sedangkan yang sudah terpanggil sampai saat sekarang barulah telinga dan dengan kata. Oleh karena pihak pemanggil yang bisa berbicara barulah lidah dan pena-nya belum hati dan jiwanya.Rupanya dan memang terbukti rahasianya menegakkan ukhuwwah Islamiyag terletak dalam sikap langkah dan perbuatan yang kecil-kecil dalam pergaulan sehari-hari, seperti yang ditekankan benar oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam dalam membina jamaah dan umat Islam yang pertama-tama, tegur sapa, memberi salam, dan menjawab salam, mengunjungi orang sakit yang sedang menderita, mengantarkan jenazah ke kubur, memperhatikan kehidupan sejawat, membujuk hati yang masygul, membukakan pintu rezeki bagi mereka yang terpelanting, membukakan pintu rumah dan pintu hati kepada para dhu’afa, dan amal-amal kecil yang semacam itu, kecil-kecil tapi keluar dari hati yang ikhlas dan penuh rasa persaudaraan.Sedangkan kita selama ini lebih tertarik oleh cara-cara borongan, demonstratif, dengan berteras keluar, asal kelihatan oleh orang banyak.Wal hasil,membangun kembali ukhuwwah Islamiyah memerlukan peninjauan dan penilaian kembali akan cara-cara yang sudah ditempuh sekarang.dia memerlukan daya cipta dari pada pemimpin yang dapat berijtihad,dan memerlukan para pekerja lapangan tanpa nama, tanpa mau dikenal khalayak ramai,bersedia meniadakan diri.Memakmurkan masjid kembali, menyusun jamaah, melalui itu, menegakkan ukhuwwah Islamiyah adalah kaji alf-baa-taa.Bukan barang baru lagi ahli qiraat, tapi mungkin sekali kelalaian kita ini adalah lantaran berlaku seperti ahli qiraat yang asyik dengan nada dan irama suara, tapi lupa akan pokok-pokokonya “tajwid alif-baa-taa”.Waktu belum kasip, asal mulai dari sekarang.Sekarang;Jangan habis masa dengan mengunyah dan memamah apa-apa yang diperbuat dan tidak diperbuat orang lain.Tak usah kita terombang-ambing, o leh pertanyaan-pertanyaan seperti : “Bila nanti orang membuka pasar, apakah kita akan turut berjual beli …?Pertanyaan semacam ini baru pantas dipikirkan jawabnya oleh orang yang sudah memiliki modal atau barang yang akan diperdagangkan.Adapun orang yang kantongya kosong, barang-barang pun tak punya, apakah yag akan diperjual-belikannya nanti biar pun orang membuka pasar ….,Jangan-jangan dia seperti yang akan jadi barang dagangan orang lain ………,Semogalah tidak akan berlaku sebagai yang dikeluhkan sya’ir ;” Maka berserulah situkang seru ;” Wahai manakah dia yang menyahuti seruan ini,” Yang diseru,” tak kunjung menyahut juga …..”.MOH. NATSIRDALAM PELAYARAN YANG PANJANG, ADAKALANYA, NAHKODAHARUS BERPIRAUI. Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus.II. Waktu berpirau, perahu dikemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat depan, tepi menyerang.III. Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar.Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang sedang berpirau :1. Angin dan gulungan ombak tidak di songsong tepat terpampan. Akan tetapi arah perahu sekali-kali tidak boleh demikian rupa sehingga mudah terbelok melintang sejajar dengan gulungan ombak. Satu kali letak perahu begitu, dia akan terbalik digulung gelombang.Kalau ada satu ketika gelombang terlampau besar, arus terlampau deras, angin badai berputar-putar, lebih baik sauh dibongkar, layar diturunkan berhenti ditempat sebentar, menunggu badai reda. Tidak ada badai yang tak pernah reda. Lebih banyaklah sementara itu taqqarub kepada Ilahi Rabbi, kepada Khaliq yang menjadikan segala sesuatu yang termasuk angin dan arus itu.Bagi seorang Muslim ikhtiar dan do’a memang selalu sejalan berjalin, tidak boleh dipisahkan.Ini lebih baik dari pada melepaskan kendali dari tangan, dibiarkan perahu terombang ambing, menurutkan kemana angin dan arus menderas.2. Kemudi tidak boleh lepas dari tangan. Mata juru mudi dan nahkoda tidak boleh lepas dari mengawasi pedoman untuk menentukan arah, mengaasi kemana-kemana jurusan angin dan arus, mengawasi bintang yang jauh dilangit, untuk menentukan tempat agar jangan keliru memegang kemudi. Disangka awak masih berpirau, kiranya haluan terlongsong berkisar sulit pula membetulkannya kembali.Awak perahu tidak boleh berhenti mendayug. Berhenti mendayung, sauh tidak boleh dipasanng berarti hanyut. Sebab angin dan arus tidak timbul suasana lesu, dan suasana masa bodoh, atau paniek, akan sukar pula membangkitkan mereka mendayung kembali. Mereka selalu asyik dan diasyikkan.Jika dayung besar, sesuatu waktu dirasakan terlampau berat tukar dengan dayung yang lebih ringan yang sesuai dengan tangga mereka waktu itu. Namun berdayung terus berdayung. Agar jiwa mereka tetap besar harapan mereka tidak patah. Hati mereka harus terus dirawat.Seorang nahkoda, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa berlayar sendiri. Kekuatannya terletak pada tenaga anak perahu. Diwaktu badai tidak bolehlah dia mendandani dirinya sendiri. Bila perlu dia juga harus bersedia dan bisa mennjadi juru bantu, turut mendayung, menimba air, memanjat tiang memasang layar.Nahkoda tidak boleh terlepas dari mata anak perahu. Mereka ini tidak boleh mendapat atau mendapat kesan, bahwa tempat kemudi kosong, tidak ada yang menunggui. Ini bisa menimbulkan putus harapan dan suasana paniek. Dalam keadaan seperti itu mudah sekali anak perahu yang sedang kehausan lantaran tidak sabar atau lantaran kejahilan mengorek dinding perahu supaya lekas-lekas mendapat air. Padahal airnya air bergaram, tidak dapat diminum melepaskan haus; sedangkan perahu bisa tenggelam lantaran berlobang dan membawa tenggelam semua penghuni perahu bersama-sama; bukan karena arus dan badai, tetapi karena nahkoda yang lalai.3. Tenaga berpirau yang pokok ialah tenaga dayung.Nakhoda yang mahir, di samping itu dapat mempergunakan angin yang datang menyerang dari samping, penambah tenaga dayung; kemahirannya terletak dalam memasang layar, dalam menentukan, mana layar yang harus dipasang mana yang harus diturunkan; kemana kemudi harus ditekankan, agar tenaga angin seperti itu dapat diambil manfaatnya, dengan tidak dikuatiri akan membelokkan arah.4. Berlayar bukan asal sekedar berlayar. Harus tentu-tentu tempat yang dituju. Harus tentu sifat muatan yang dibawa. Adapun bendera dan panji-panji, besar pula manfaatnya sebagai lambang dari tujuan yang hendak dicapai dan dari isi muatannya dibawa. Tak layak lagi bahwa simbolik mengandung kekuatan yang tidak boleh diabaikan.Dalam pada itu, kadang-kadang dimusim darurat, mengibarkan bendera lambang itu menimbulkan kesulitan. Dalam keadan yang semacam itu ijtihad Nakhodalah yang menentukan, disuatu keadaan, manfaat dan mudharatnya mengibarkan lambang ditiang tinggi itu.Yang perlu dijaga ialah :a. Jangan lakukan “tasyabbuh”.Tasyabbuh yang barangkali tadinya dimaksudkan untuk menyamar, akan tetapi kesudahannya membingungkan anak perahu sendiri, dan menghancurkan kepribadian mereka.b. Jangan ada “talbisul haq bil bathil” mencampur adukkan muatan yang baik dengan yang buruk, nanti seluruh muatan jadi rusak.c. Anak perahu dan para penumpang semuanya harus dilatih dan para Nakhoda melatih diri, sehingga mereka bisa bergerak ibarat ikan berenang dilaut, terus menerus dikelilingi air asin, tetapi dagingnya tetap tawar dan segar.5. Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk mencapai sesuatu tujuan yang bernilai tinggi. Tidak ada pelayaran tanpa resiko. Soalnya bukanlah ada resiko. Soalnya ialah mengambil resiko yang dapat dipertanggung jawabkan, setelah dibandingkan dengan tenaga yang ada, dan denga nilai yang hendak dicapai.Bagaimana orang bermain di pantai kalau ikut kepercikan air. Nakhoda selalu perlu ber-ijtihad, perlu mempergunakan daya ciptanya teman seperahu, untuk menghadapi keadaan sekelilingnya sewaktu-waktu.Nakhoda harus menyadari harinya tidak berhenti. Harinya terus menuju ke “laruik sanjo”. Di samping itu, siapa yang tadinya “Rijalul ghad” sedangkan berkembang menjadi “rijalul yaum”.Hutang nakhoda ialah membimbing mereka itu, melapangkan jalan bagi mereka, melatih mereka sanggup bertanggung jawab dan pengalaman pahit.6. Beberapa rangkuman ayatdan hadist, yang dikemukakan dibawah ini, semoga dapat menjadi pegangan, dalam meeruskan “pelayaran” dan “berpirau” bila dipahamkan dan diambilkan api yang terkandung di dalamnya.Dengan ini sebagai landasan berpikir, silahkan ;Jangan gugup, Bismillah :Layarkanlah terus perahu ini.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.MOH. NATSIRA L I F B A T A AMASJIDJAMAAHUKHUWWAHMakmurkan Masjid kembali,Tegakkan Jamaah dari sana ! [10]Seringkali bila kita berkata kepada orang yang sudah biasa apa yang disebut berpolitik, berorganisasi dan berlambang “Memakmurkan Masjid”, mereka sambut denga sikap skeptis dan dingin, sebab bunyinya kurang menarik, persoalannya tidak diraskan aktuil, tidak vital bila dihubungkan denga apa yang mereka namakan “perjuangan”.Sebenarnya maka mereka ini bersikap begitu oleh karena sudah lama terkurung dengan tidak sadar barangkali dalam cara berpikir yang konvensional dan statis.Pada hal, sesungguhnya kepada Umat Islam, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewariskan justeru Masjid itu sebagai lambang pembina potensi umatnya.Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusuhan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh derita.Masjid bukanlah semata-mata tempat shalat, kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat.Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun jamaah.Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah.Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah.Yang satu “muamalah maal khalqi”.Ini kaji ” alif – baa – taa”.Yang sudah terang perintah.Bahwa perintah :Adalah perintah wajibMasyarakat Islam memikul jamaah yang dikenakan langsung oleh jamaahnya/agamanya.Maka Masjid adalah warisan Rasul, sebagai penangkalan bagi Umat Islam untuk membina jamaahnya. Menambah pngertian, mempertinggi kecerdasan, dan akhlaq budi pekerti, mendinamikan jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota jamaahnya, dalam menghadapi pokok-pokok persoalan hidup.Malah dari Masjid dan Langgar yang berjiwa hidup dan dinamis sebagai pusat, dapat diberikan bimbingan yang menaikkan taraf kemakmuran hidup oleh para ahli yang mencintai umat.Soalnya penghidupan mereka, kebanyakannya, soal yang sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman dan pupuk, soal mempertinggi hasil bumi, soal tambak, tebat ikan, dan kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan yang belum berganti, soal sapi yang belum berobat, soal atap tiris yang belum disisip, soal anak yang belum sekolah …, Soal-soal yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan sistem ekonomi yang hebat-hebat, sistem pesawat udara jet-jet tanpa landasan tempat naik dan turunnya.Dengan masjid yang berjiwa hidup sebagai pusat pembinaan umat, pusat pembinaan jamaah, akan dapatlah Umat Islam memelihara “Izzah” kepribadian umat dalam berkecimpung dalam masyarakat ramai yang berbagai corak, ibarat ikan dilaut memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin; dapat pula jamaah Islam itu berlomba-lomba dengan jamaah lainnya menegakkan kebenaran dan keadilan dan menyumbangkan kebajikan bagi masyarakat umum.Itu fungsi Masjid,Itu kewajiban Umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan macam manapun.Bina Jamaah melalui Masjid …..,Hidupkan Masjid kembali, nanti, masjid akan memancarkan hidup kepada umat.Akan beberapa puluh ribu benar jumlah gedung-gedung kebudayaan, markas-markas organisasi dengan mulanya, stadion-stadion dengan lapangannya, dinegeri ini.Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertabur-tabur dinegeri ini.Tinggal; mengisi dan menghidupkannya.Bukan sekedar memperindahnya untuk diperagakan dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marme berukir-ukir, menyimpan mayat tak bernyawa di dalamnya.Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal dan kekayaannya sumer kekuatannya.Bukanlah masjid yang hidup itu, kepada Umat Muhammad di amanatkan untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain dari kepada Allah.Sudah kita lupakan ;” Hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah,” orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari” kemudian, serta menegakkan shalat dan mengeluarkan” zakat, dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah;” maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang terpimpin”, (at- taubah 18).Ini tuntutan yang diterima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini.TAFSIR AT-TAUSHIATUL KHAMSAH1). Kalau kita memperhatikan risalah “At Taushiatul Khamsah”, oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah :Konservasi – yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang adaMaksud konversi itu untuk membukakan jalan bagi re-integrasi yakni “menghimpun yang tadinya berserakan”.Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun.Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan.Begitu intisari dari “At Taushiatul Khamsah”, ….2). Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balansAlhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan.Terutama ialah berkat adanya “anti toxine” lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh.Bisa timbul pertanyaan ;“apakah “utuh” itu ?Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain?Jika pada umumnya demikian, ini barulah “taraf minimal” sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu.Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi.Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa dikalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejala-gejala “ranun” itu.Ada yang “uzlah”pasifAda yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus makshiyat 100%.Ada yang hanya mengeluh;Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini.Lalu menunggu perkembangan keadaan. Kalau-kalau keadaan akan berubah.Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan “keadaan sudah berubah”.Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut.Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita.Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita.Ini tentulah akan bergantung kepada :– apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak.Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif.Re-integrasi dalam tiga bidang :(1) bidang umat,(2) bidang pemimpin,(3) bidang kader.3). Bidang UmatA. Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi umat yang dipancarkan dari “lembaga risalah” warisan Rasul.Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluran-saluran lain.Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu.Jangan kita lupakan bahwa yang paling menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani.Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu.Untuk merawat luka “kehidupan rohani” itu, kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada “lembaga risalah” yang hidup dan dapat memancarkan ….?B. Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal.Yang diperlukan bagi mereka ialah ;(1). perhatian dari pada kepala keluarga (jamaah), dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.(2). hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa “hubungan moril”.(3). menduduk-kan “nawaitu”nya,Yang tersebut belakangan ini, “menduduk-kan nawaitu-nya” penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi.Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas, dengan seseorang yang melaksanakan kegiatannya, walaupun sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya.Yang pertama merasa, dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko.Yang kedua merasa, masih merasa dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu.Pada umumnya, mendudukkan niat-memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan idea dibidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada keimanan.Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik.Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar dalam kalbu masing-masing anggota keluarganya.Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup suburkan rasa dan kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga.C. Sesungguhnya kita masih banyak mempunyai saluran tenaga.Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru…Dan bisa pula ditambh dengan yang paling baru lagi.Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain. Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh.Di samping itu dimana pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya.4. Untuk itu re-integrasi dikalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak.Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak kukunya yang sebenarnya.Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan “tanda kutip”, dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentan, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi.Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha re-integrasi dibidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa.Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsur-angsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu.Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali.Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun kesal.Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan “tanda kutip” itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, sebagaimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya.Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ;” Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali” …..,Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 – 99 ….., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia.Silahkan ulangi mentelaahnya,kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya ….,Re-integrasi pada niveau kepala keluarga adalah integrasi selectif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi.Bukan untuk satu neveau golongan saja.bukanlah keseluruhannya bisa diganti dengan umat yang lebih baik,Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu.Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjasdi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktor-faktor subjektif.Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui.Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang.Satu da lainnya dengan semboyan dan tekad;” yang sulit kita kerjakan sekarang,” yang tak mungkin, kita kerjakan berseok …Insya Allah,” yang mudah sudah banyak orang lain mengerjakannyaJangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan.Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan.Dan di coba lagi maju selangkah,dan begitu seterusnya ……Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami.Tak perlulah disini “orang tua diajar pula memakan bubur lagi”.Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif.Re-integrasi aktif menghendaki aktiviteit.Aktivited menghendaki bimbingan.Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat.Bimbingan harus berdasarkan rencana,Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi lokal,interlokal (dan sentral dimana bisa) …..5). KaderZaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya.Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu.Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan umat yang akan lebih panjang umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu.Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan sebagai suatu “conditiosine quanon”, ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan.Satu-satunya jalan itu, ialah ;Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah.Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan “zelf – disiplin” mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa.Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisi-pengisi waktu yang kebetulan berlebih.Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang “masuk agenda”, yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis.Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan;(A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh lima-an) dulu, syukur.Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter sebagai bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas – yang akan mereka jalankan itu.Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h dalam arti yang luas.(Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid sebagai lembaga risalah yang hidup dan dinamis sebagai pusat pembinaan umat dan pembentukan kader).Apa yang kita lihat dan rasakn dalam “keadaan” sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan “dasar jiwa” bagi para calon pemimpin umat.Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji “kalimat ilahi”, akan tetapi lantaran dasar yang tidak kuat ditengah perjalanan, tertempuh jalan yang disebut “tujuan menghalalkan semua cara”.Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi “sarjana”.Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif.Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan umat ialah “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah umat.Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang “melek buku” tetapi “buta masyarakat”.Sedangakn kemahiran membaca “kitag masyarakt” itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata-mata.Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah umat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat dipelbagai bidang.Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung umat, dan lambat laun berurat pada hati umat itu.Makin pagi makin baik ……,(Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai “salon politik” yang menjadikan pemimpin amateur).Maka ditengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses “timbang terima” secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti.Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan “api” ialah batu api juga.6. Konsolidasi & PolarisasiTenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang tlah digiatkan lagi,kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu.hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama.Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi “mangsa” atau terdesak dalam kompetisi antara bermacam-macam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh.Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis.Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga.Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh.Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain.Kalau belum bisa dalam bentuk organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktu-waktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi “accu” umat.Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita.Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu disesuaikan dengan tujuan untuk membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar BA, Drs dan sebagainya.Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut.Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman.Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang efektif, agar jangan asal ramai orang bershalat jamaah saja.Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya.Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal.Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu.Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ;Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, dan pembagian tugas menurut bidang masing-masing.Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara.Akhirul kalamSekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, sebagai landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah.Adapun tafsri dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya.Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya.Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugas-tugas, pelaksanaan, balans, program lagi ….., dan begitu seterusnya.Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu).Ini sudah menjasdi sunnatullah,laa tabdila likhalqillah …..,Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ;” kejayaan jua yang kau idamkan,jalan mencapainya kau tempuh tidak,Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering.Bismillah …..RIDHATANYA DAN DO’AÄÄÄÄÄÄÄÄÄÄÄÄÄÄTentang hidup di desa iniDari dahulu sampai kiniBanyak, cerita ku dengarDan pengalaman dan penderitaan dirasaHidup dilingkungan bahan bertimbunTerlena dibuai nyanyian alamAlpa menggali aneka gunaMeranalah hidup hampir tak punya,Dini hari …………….Dalam upacara ini …………Berdegup jantungku merangkum tanyaMunajat jiwaku memohon do’a.Adakah ini mula masanya— Desauan air sungai ngalau dicelah celah batu iniBertukar derum mesin diruang pabrik— Lambaian bambu mendaduhkan daun-daun iniBerganti cerobong tinggi mengepulkan asap,— Gerobak bemo, pedati kayu, ditarik insan mandi keringatBertukar rupa truk, dan gerbong menyilang siur,— Punggung membungkuk meranting tulang mendukung deritaMenjelma manusia manusia baruMakmur bahagia …….MOHAMMAD NATSIR :PEDOMAN PEMULIHAN TENAGA TERPELANTINGAda ratusan ribu, kalau tidak milyunan, tenaga-tenaga yang terpelanting sekarang ini. Ada puluhan ribu yang sudah gugur. Banyak tenaga-tenaga yang invalid. Ada pula yang masih dalam tahanan. Puluhan ribu rumah yang terbakar hangus.Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang sedang direncanakan oleh “yang berwajib” untuk menyalurkan tenaga-tenaga yang terpelanting itu, dan lain-lainnya, timbul pertanyaan, apakah kita boleh pasif saja sambil menunggu-nunggu apa yang akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” ?Jawabnya ; tidak !Tidak boleh kita pasif. Pertanggung jawab moral kita tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, baik dibidang sipil atau dibidang militer tadinya.Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedang teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat kita lakukan dibidang ini? Sedangkan kita tidak mempunyai apa-apa. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa.Memang. Tetapi ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpim dari orang ‘awam.Makanya kita dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal. Kita memiliki dan seharusnya memiliki;a. Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasab. Daya-pikir dan daya-ciptac. Cara hidup yang bersihd. Akhlak dan budi pekerti yang baik.e. Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa umumnyaf. Ras setia kawan yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup, khususnya.Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uap atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri mereka yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi mereka selama ini.Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya. Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.Kalau ini sudah kita sadari, maka kita dapat membagi-bagi tenaga-tenaga masyarakat yang sedang terpelanting menderita itu dalam berbagai golongan yang kita harus dengan berbagai cara pula.Apa macam golongan itu ? Ada ;A. Pelajar dan MahasiswaB. Bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil dan Militer.C. Bekas pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah).D. Tani, pedagang kecil dan buruh kecilE. Mereka yang invalidF. Keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang gugur.G. Mereka yang masih dalam tahananH. Mereka yang kehilangan rumahBagaimana menghadapi masing-masing golongan tersebut ?……………………………………………,Tata – cara ;Penyelenggaraan usaha-usaha tersebut diatas memerlukan beberpa hal, baik yang bersifat psychologis ataupun technis;1. Buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” kita bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan ini. Tunjukkan minat kepada keadaan mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.Andaikata pun kita belum dapat memberikan bantuan kepada mereka sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril kita harus berikan.Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri agar kita ketika itu, dengan hati yang lebih lega.Hati yang lebih lega dan kembali berisi harapan niscaya akan menambah himmah mereka untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan mereka dan menghindarkan diri mereka pada perbuatan-perbuatan yang menyalahi hukum Syar’iy atau duniawi. Sekali-kali jangan mereka meninggalkan kita dengan bermacam-macam perasaan, yang mematahkan hati mereka untuk menjumpai kita kembali.2. Untuk kelancaran usaha pemulihan, diperlukan cara pencatatan yang sederhana dari mereka yang bertebaran itu, mengenai namany, alamatnya, kecakapannya dan lain-lainnya. Catatan-catatan semacam itu diperlukan untuk memudahkan hubungan menghubungkan mereka dengan bermacam-macam bidang pekerjaan, sewaktu-waktu kita mengetahui terbukanya sesuatu kesempatan bekerja atau sumber pencaharian, yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka.3. Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan informasi dengan mempertajam mata dan telinga dengan hubungan korespondensi untuk mengetahui dimana ada, atau akan ada kesempatan penyaluran tenaga-tenaga tersebut baik dalam ataupun di luar daerah.4. Ada seseorang telah terbuka kesempatan penyalurannya dalam suatu bidang pekerjaannya, janga lupa ;a. meamanatkan kepadanya, supaya dia benar-benar membuktikan kesungguhannya dan senantiasa mempertinggi mutu pekerrjaannya dibidang yang akan ditempuhnya itu. Dia harus membuktikan bahwa dia adalah salah seorang dari golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hidup, seperti kejujuran dan budi akhlak-akhlak pekerti yang baik.b. Memesankan kepadanya, supaya bila apabila dia sudah mendapat sumber pencahariannya, jangan dia sendiri tenggelam di dalamnya. Akan tetapi di samping pekerjaannya, hendaklah dia berusaha sedapat mungkin, merintiska jalan bagi teman-teman yang masih bertebaran.5. Tunjukkan minat kepada usaha-usaha yang telah atau sedang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok berupa perusahaan sendiri, umpamanya dibidang pertanian, peternakan atau perusahaan kecil dan sebagainya. Mereka ini termasuk golongan yang berani merintis dan mempunyai inisiatif.Gembirakan semangat bekerja mereka dan berilah dorongan kepada perusahaan kecil yang diselenggarakan dengan tenaga sendiri atau bersama itu. Kumpulkan bahan-bahan mengenai tata kerja dan pengalaman mereka masing-masing yang dapat pula dipergunakan sebagai pedoman bagi teman-teman mereka yang ingin menempuh bidan itu pula.6. Di dalam beberapa hal, dalam pekerjaan semacam ini mungkin diperlukan menghubungi instansi-instansi resmi. Tidak usah ragu-ragu atau khawatir bila untuk ini diperlukan menghubungi instansi-insntansi itu. Hubungi mereka secara sopan, zakelijk dan correct, dengan tidak menggadaikan martabat pribadi.Ada dua cara yang dimanapun juga tidak akan mendapatkan penghargaan, yakni ; cara sembrono yang tak tahu aturan, dan cara pengemis yang mintak-mintak dikasihani.……………………………………………,-Penutup,1. Barangkali timbul pertanyaan; Kalau begitu macamnya usaha-usaha yang harus diselenggarakan mengingat teman-teman yang banyak itu, lalau bagaimana kita sendiri ?Jawabnya; Sudah tentu masing-masing kita perlu mengusahakan agar dapur tetap berasap. Ini kewajiban kita sebagai kepala keluarga. Tetapi dalam pada itu, sudah menjadi pembawaan bagi seorang pemimpin bila ia hendak dianggap sebagai pemimpin bahwa dia terus memikirkan dan mengikhtiarkan kesejahteraan bagi umat yang dipimpinnya, di samping itu berusaha memenuhi kewajiban terhadap diri dan rumah tanggannya sendiri dengan sesatpun tidak memutuskan harapan atau ma’unah dan kerahiman Ilahi dalam keadaan bagaimanapun.Amal dan ikhtiar kita dalam dua bidang kewajiban ini senantiasa sejalan dan berjalin. Terkadang-kadang titik berat itu mungkin berkisar-kisar di antara dua bidang itu, menurut tuntutan keadaan disesuatu waktu. Tetapi kedua-duanya tetap terjalin, dalam bagaimanapun juga.Malah justeru di sa’at serba sulit itulah Umat menghajatkan benar bahwa para pemimpin mereka dapat dirasakan berada ditengah-tengah mereka dalam suka dan duka, dalam arti; tetap bersama-sama menghadapi persoalan mereka walaupun mereka tahu bahwa para pemimpin mereka itu tidak bisa, dengan serta merta, mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami.“KAMU HANYA AKAN DAPAT PERTOLONGAN (DARI ILAHI) DENGAN, (MENOLONG KAUM YANG LEMAH DI ANTARA KAMU”,Ini adalah Sunnatullah.“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTAK PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS PIMPINANNYA”.Bukanlah begitu peringatan Rasul ?2. Pemikiran-pemikiran (idea) yang tersebut pada pasal-pasal diatas itu belumlah komplet dan limitatif, yaknitidaklah terbatas hingga itu saja. Satu dan lainnya dikemukakan sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Kita percaya kepada pengalaman-pengalaman daya pikir daya cipta masing-masing kita yang sama-sama menghadapi kesempurnaan lagi dalam praktiknya, sambil berjalan.Mungkin pula dari apa yang tersebut diatas timbul pendapat seolah-olah apa yang dikemukakan itu adalah barang lama, tidak ada yang baru.Syukurlah kalau ternyata itu semua adalah hal-hal yang sudah lama dikerjakan orang, dan lantaran itu tentu, kitapun dapat mengerjakannya, asal mau.Yang sudah terang ialah, bahwa barang yang lama itu tetap bagi kita akan baru, selama kita tidak atau belum kerjakan.Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan kita ialah ;– Yang mudah sudah dikerjakan orang– Yang sukar kita kerjakan sekarang– Yang “tak mungkin” kita kerjakan besok– Dengan mengharapkan hidayat Ilahi.“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!………………… Pertengahan November 1961,……


[1]) Disampaikan dalam pidato Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang 15 Juni 1968, Gedung Bagindo Aziz Chan Padang[2]) Richard T. Gill, “Economic Development, Past and Present“…. the point of that economic development is not a mechanical process; its not simple adding up of assorted factors. Ultimately it is a human enterprises. And, like all human enterprises is out-come will depend finally on the skill, quality and attitudes of the men who undertake it“.[3]) Ada keluhan sebahagian masyarakat yang putus asa, melihat kondisi yang kurang enak, dilihat dari sudah sering kalinya pergantian zaman (penjajahan) bahkan sudah bangsa kita sendiri yang memegang pemerintahan, akan ttapi perubahan yang dinanti belum juga terlihat. Pesimismee keadaaan ini tidaklah sejalan dengan tuntutan aqidah agama (tauhid) dan kaedah-kaedah adat.[4]) Jawaban yang tepat adalah “jangan berhenti tangan mendayung agar arus tidak membawa hanyut”.[5]) Artinya, tukang yang ahli tidak pernah membuang-buang kayu, kalau bertemu yang bengkok bisa dimanfaatkan untuk bajak peluku tanah, kalau ada yang lurus tapi kecil dimanfaatkan untuk tangkai sapu, lebih kecil lagi bisa untuk alat penuai padi atau anai-anai, yang lebih kecil lagi bisa untuk pasak sunting yang bermanfaat sekali dikala perhelatan “anak daro”. Jadi, seorang yang arif lebih menitik beratkan kepada manfaat sesuai dengan kondisi yang ada.[6]) Artinya, masa depan itu akan ada perubahan yang cepat, begitu cepat sehingga kadang-kadang yang terjadi di luar dugaan sama sekali, sehingga tidak mustahil terjadi apa yang musykil terlihat hari ini. Antara lain sebagai diungkapkan dalam kemajuan teknologi “tampang” yang sudah direndang itulah yang akan tumbuh”. Dalam bentuk negatif saja bisa bertemu yang selama ini ditolak karena sudah menjadi kebiasaan orang banyak maka yang salah sudah dianggap betul.[7]) Artinya, dalam situasi sedemikian perlu adanya benteng-benteng jiwa berbentuk sikap istiqamah sebagai suatu ciri-ciri khusus (mumay yizaat) dari orang-orang yang beriman, yakni Akhlaqul kharimah sebagai buah dari keyakinan agama yang hak. Dimana, betapun yang bernuansa intan walau tersimpan di dalam lumpur, cahayanya tetap cahaya intan juga.[8]) Kunjungan Bapak M.Natsir ke Balai Kesehatan A’isyyiyah Padang tanggal 15/6/1968 hanya 10 menit dan dari peringatan itu dikutip Taushiyah.[9]) Kuliah Umum, dihadapan Mahasiswa IKIP Padang, 15 Juni 1968. [10]) Kayutaman di Padang Panjang tanggal 18/6/1968


Ulasan Majalah Tempo tentang Natsir, ketika peringatan 100 tahun Natsir.

sumber : Majalah Tempo
Edisi. 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

Laporan Utama

Sebuah Pemberontakan tanpa Drama

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood:
perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan,
dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena
ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu
teladan yang jarang.

DIA,
Mohammad Natsir (17 Juli 1908 6 Februari 1993), orang yang puritan.
Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak
berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang
sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik
sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah
lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi,
tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih
baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang
berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap
yang diambil, bersahaja.

Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan
Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang
bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita
tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri
Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat
Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. “Ia
memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di
antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Mungkin karena itulah sampai tahun ini seratus tahun setelah
kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat tidak sedikit orang menyimpan
keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer
kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di
kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan
kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa
gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah
air ini. Dan di kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang
sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri
dari Partai Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya
mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah
bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.

Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi
bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada
dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain,
disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya
semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua
yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di
atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung
parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika
itu.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan
Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih
berarti. Waktu itu, pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan
nasionalis­me-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai
bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah
Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan
kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.

Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya “bertemu” lagi
dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri
penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda
pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi
ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar
buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang
kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara
kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.

Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara
kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa
menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara
si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an
Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang
terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang
semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa
tokoh lain tanpa pengadilan.

Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang
memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita,
akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat,
menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu.
Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan
kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung
awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin
yang cenderung otoriter.

Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa
Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan
menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel “musuh utama”
pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis
keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit
bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau
Buru pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik peng­ikut PKI.
Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para
penanda tangan Petisi 50 dicekal.

Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang
cukup panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang
mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita
sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan
ber­sahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari
belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh,
bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh
santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edi­si ini.


MENJAGA KERUKUNAN UMAT

MEMELIHARA
KERUKUNAN UMAT

Oleh : H Mas’oed Abidin

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang diketuai Bapak DR. Mohamad Natsir, juga turut dirancang oleh Buya Datuk Palimo Kayo sejak didirikan pada bulan Pebruari 1967.

Sebagai organisasi dakwah, maka kepada setiap unsur yang berperan dalam Dewan Da’wah selalu diajarkan supaya memanggil semua orang ke jalan Allah, dengan cara-cara yang diperingatkan supaya memanggil itu dengan hikmah (bijaksana).

Bil hikmah dalam satu masyarakat yang terdiri dari pemeluk-pemeluk berbagai agama, terasa sekali sangat mutlak diperlukannya.[1]

Sebagai telah diyakini bahwa Dakwah Islam adalah perombakan total sikap umat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat. Maka sebenarnya sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain, dakwah tidak akan pernah berhenti, tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap umat Muslim di mana pun mereka berada. Karena itu para pendiri Dewan Da’wah dengan sadar telah menetapkan gerakan dakwah berdasar kepada taqwa dan keredhaan Allah dan tujuan menggiatkan mutu dakwah Islamiyah di Indonesia.

Dalam melakukan kegiatan-kegiatan, Dewan Da’wah menempatkan diri sebagai penerus kegiatan-kegiatan dakwah sebelumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW

Menerima tugas risalah, artinya adalah memanggil umat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatu hasanah. Bapak DR. Mohamad Natsir menyebutkan dengan ungkapan sederhana tapi padat arti ialah “risalah mengawali dan dakwah melanjutkan”.

Dewan Da’wah sadar benar walaupun tugas risalah Islamiyah yang dibawa Rasulullah SAW bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin). Namun sudah menjadi tabiat pembawaan, bahwa setiap risalah pasti menghadapi tantangan. Menghadapi tantangan itu, diperlukan jawaban-jawaban. Maka tugas dakwah senantiasa mengandung dua segi: bina’an wa difa’an. Pertama: membina mereka yang sudah muslim, baik yang sejak lahirnya, maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah Islamiyah. Kedua: membela Islam dan umatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam, bahkan yang melihat Islam sebagai rivalnya.

Pertama: membina mereka yang sudah muslim, baik yang sejak lahirnya, maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah Islamiyah. Kedua: membela Islam dan umatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam, bahkan yang melihat Islam sebagai rivalnya.

Di kala Bapak DR. Mohamad Natsir berkunjung ke Sumatera Barat pada Juni tahun 1968 itu, ada program pokok yang musti dilakukan.

  1. GERAKAN KEMBALI TANGAN UMAT

a. Melalui penguasaan keterampilan di desa-desa,

b. Dalam usaha membina kesejahteraan bersama,

c. Menghidupkan kembali ekonomi umat di desa-desa. Desa adalah benteng kota dalam artian perkembangan ekonomi yang sesungguhnya.

Keterampilan pertanian dan peternakan terpadu di Tanah Mati Payakumbuh dan pemanfaatan lahan wakaf umat di Rambah Kinali mulai digarap.

Tujuan utamanya tidak hanya sekedar untuk mendatangkan hasil secara ekonomis namun lebih jauh sebagai wadah pembinaan generasi muda yang tetap harus tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ , syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

Adat dan syari’at memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif. Keduanya menyimpan kekuatan pendorong dan perangsang, force of motivation, menjadi tenaga penggerak, untuk mendinamisasi satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”, dan menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan, untuk mengembangkan kegiatan ekonomis, seperti menghindarkan pemborosan, dan selalu melihat jauh ke depan, yang akan merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

Bapak DR.Mohamad Natsir sebagai seorang the political thinkers atau the political idea philosopher, senantiasa berupaya menggali dan memerankan sungguh-sungguh potensi yang dipunyai masyarakat kecil. Idea dan pemikiran politik Mohamad Natsir adalah berurat di hati umat.

Satu tema menarik: menciptakan masyarakat tamaddun (beradab). Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban liberal yang sekuler. Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi. Konsep membentuk masyarakat semacam ini sangat sejalan dengan salah satu konsepsi pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir dalam ruang lingkup pemikiran Islam.

Ajaran agama Islam sanggup bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya, tanpa harus menggadaikan prinsip dasar ajaran Wahyu Allah yang menjadi landasan agama Islam.

Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban liberal yang sekuler. Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi. Konsep membentuk masyarakat semacam ini sangat sejalan dengan salah satu konsepsi pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir dalam ruang lingkup pemikiran Islam.

Ajaran agama Islam sanggup bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya, tanpa harus menggadaikan prinsip dasar ajaran Wahyu Allah yang menjadi landasan agama Islam.
Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari-hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya. Tetapi semestinya bersifat inklusif, untuk bisa dipahami oleh semua orang.

Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan semua problematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap lapisan masyarakat yang ada mulai dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut.

Pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir sedari awalnya berupaya menjelmakan umat pertengahan (umathan wasathan). Suatu tatanan masyarakat yang kokoh iman dan berakhlak mulia seperti yang dikemukakan ajaran Al Qur’an. Sebagai pemikiran aplikatif terhadap problematika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupakan sebuah keniscayaan. Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan hadir, karena kesenjangan antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut. Kesenjangan teratasi oleh pembentukan masyarakat self help, selfless help dan mutual help di atas.

Upaya menjembatani kesenjangan hanya bisa dilakukan melalui amal nyata dengan “Berorientasi kepada ridha Allah SWT.” Suatu keyakinan sangat obyektif bahwa setiap ajaran Islam, pasti mampu memberikan jalan keluar (solusi) terhadap problematika sosial umat manusia.

Ajaran agama Islam berada dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut, adalah mereka orang-orang yang beriman.

Apatisme politik dan bersikap menjadi “pengamat diam” tanpa ada keinginan dan usaha untuk ikut berperan aktif dalam setiap perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah-lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi, yang selalu mengalami perubahan, hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan sikap yang jelas, antaranya ;

· mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,

· jangan pikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,

· apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu,

· jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata-kata tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu saja setiap perubahan, baik itu bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini. Setiap mukmin mestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhubungan dengan kehidupan dunia luar dan di sekitarnya.

Sikap hidup menjemput bola, merupakan sikap hidup yang sangat didorongkan untuk dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Sikap dinamis sangat diperlukan mengantisipasi selemah-lemah iman, dan sikap dinamis pula yang menjadi kata-kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Sikap dinamis sangat diperlukan mengantisipasi selemah-lemah iman, dan sikap dinamis pula yang menjadi kata-kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam saling membantu dan tidak selalu tergantung kepada orang lain. Ketergantungan akan menempatkan orang terbawa hanyut ke mana-mana.

Maka menciptakan kekuatan ekonomi dalam masyarakat mesti diupayakan terus-menerus melalui penguatan rakyat kecil (people empowerment) yang menjadi tiang proses kompetisi dunia saat ini. Terutama di dalam menghadapi perkembangan era globalisasi. Maka tujuan dakwah adalah dalam kerangka ibadah dan pembentengan aqidah. Apalagi tatkala umat tengah mempertahankan diri menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.

DR. Mohamad Natsir mengemukakan dalam taushiyahnya bahwa membangun masyarakat besar hanya bisa dicapai dengan penguatan (to strength) melalui masyarakat kecil dan sederhana. Istilah yang pas untuk menjelaskan hal ini adalah melalui pembentukan cara hidup yang diajarkan agama Islam. Antara lain berdikari atau berdiri di kaki sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain (self help), kemudian membantu orang lain tanpa pamrih dengan ukuran ikhlas karena Allah SWT (selfless help), dan selanjutnya membentuk satu masyarakat yang saling membantu satu dan lainnya (mutual help).

Cara hidup ini merupakan konsepsi pemikiran Islami yang dikembangkan menjadi dasar pembentukan kerjasama di antara warga masyarakat. Bahkan bisa dikembangkan untuk solidaritas antar negara yang mendasari bentuk hubungan internasional yang mampu menciptakan tata perdamaian dunia.

Ketiga dasar tersebut merupakan dasar pembentukan masyarakat tamaddun (beradab), yang bukan hanya bersifat “kebangkitan ekonomi”, tetapi merupakan sesuatu yang bersifat moral (the moral renewance). Dalam “pembersihan moral” ini, maka peranan agama Islam menjadi penting.

HIDUPKAN KEMBALI LEMBAGA PURO, TANAMKAN RUHUL INFAQ

· Hidupkan kembali kebiasaan menabung dan berhemat dalam satu simpanan bernama puro.

· Juga menghidupkan kebiasaan berinfaq, bersedekah dan berzakat sebagai suatu usaha pelaksanaan syariat Islam,

· menghimpun dana dari umat yang berada untuk dikembalikan kepada umat yang lemah (dhu’afa).

Perhatian tidak dapat dipalingkan dari perlunya pembinaan para dhu’afa’ serta anak-anak yatim yang memerlukan uluran tangan setiap Muslim. Yang mereka perlukan bukan sekedar makanan dan pakaian akan tetapi adalah juga tempat berlindung dan sarana pendidikan. Memang sudah sejak lama sarana pembinaan anak yatim melalui panti-panti asuhan menjadi perhatian dari Badan-badan Dakwah Islam di tanah air. Tidak dapat dilupakan peran ke-gotong-royongan sebagai buah dari ajaran ta’awun sebagai inti aqidah tauhid.

Upaya yang dilakukan di antaranya untuk memberikan bantuan bea siswa terhadap anak-anak yatim, serta mencarikan Bapak angkat yang akan meng-kafil (membiayai) anak-anak yatim yang berprestasi dan juga mendirikan bangunan darul aitam.

Bertahun-tahun kemudian, membiayai anak yatim melalui lembaga puro atau mengidupkan ruhul infaq telah terbukti. Di antaranya bangunan Panti Asuhan Putera Bangsa Yayasan Budi Mulia Padang yang dilengkapi dengan sembilan lokal ruang belajar dan satu asrama bertingkat untuk anak-anak yatim, yang dimulai pembangunannya pada tahun 1992. Sungguhpun sampai sekarang Dewan Da’wah sebagai Yayasan belum mempunyai panti asuhan anak yatim secara khusus.

Hal ini tidaklah berarti bahwa Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia melupakan pembinaan anak yatim. Usaha ini dilakukan secara positif dengan berbagai gerak antara lain melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga-lembaga dakwah dalam dan luar negeri. Kemudian pada bulan September 1997 ditanda tangani piagam kerja sama pembinaan anak yatim tersebut antara Dewan Da’wah dengan Yayasan Budi Mulia di Padang.

Masih berkaitan dengan pembinaan anak yatim ini maka Dewan Da’wah secara intensif tetap berusaha ke arah penyediaan dana abadi yang secara jangka panjang mampu membiayai keperluan-keperluan anak yatim. Tentu, yang sangat mendesak terarah kepada anak-anak yatim yang berada di bawah Kafil Aitam Dewan Da’wah. Mulai Agustus 1996 dicoba mengusahakan ladang pembenihan bibit ikan untuk keperluan anak yatim di desa Bawan, Kec. Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan budidaya ikan air tawar sistem karamba di Desa Sigiran, Maninjau, yang juga hasilnya diperuntukkan 100% bagi keperluan anak yatim.

Usaha ini baru dalam langkah awal, namun juga berdampak terhadap pendidikan ekonomi pedesaan pada kalangan dhu’afa’ di sekitar proyek-proyek ekonomi yatim tersebut antara lain menerapkan sistem bagi hasil dengan para penduduk pedesaan dimaksud.

Apa yang digambarkan ini, semuanya berawal dari menghidupkan kembali puro, menggerakkan hati umat untuk ikut serta mengulurkan tangan membantu kaum yang lebih lemah (dhu’afa) dengan menanamkan ruhul infaq.

CATATAN ;

[1] Lihat DR. Anwar Haryono, SH; Media Dakwah Dzulkaedah 1411/ Juni 1991; Mengingat 24 Tahun Dewan Da’wah.


JANGAN DIGANGGU IDENTITAS UMMAT

Jangan Diganggu Identitas Kami ….….[i]

  1. Seringkali kita mendengar bahwa apa yang disebut “Kristenisasi” di Indonesia adalah semata-mata satu “isu”, dalam pengertian bahwa itu hanya omongan yang dibikin-bikin.

Tetapi, kita umat Islam yang berada dilapangan, dikota-kota, ataupun didesa-desa, dipinggir-pinggir pantai ataupun dikaki-kaki gunung, bukan saja mengetahui, akan tetapi merasakan dan mengalami sehari-hari bagaimana meningkatnya kegiatan missi dan zending Katolik ataupun Protestan dari dalam dan luar negeri dalam usaha mereka melakukan expansi agama mereka di tanah air.

Bukan saja dikalangan apa yang dinamakan “suku terasing”, akan tetapi juga malah semakin meningkat didaerah-daerah mayoritas Islam dan dipusat-pusat kebudayaan Islam, seperti daerah ACEH, MANDAILING, MINANG KABAU, JAWA BARAT, SULAWESI, AMUNTAI, KALIMANTAN SELATAN, KALIMANTAN TIMUR, SAMBAS, KALIMANTAN BARAT dll, dimana kegiatan-kegiatan itu sudah merupakan aksi pemurtadan/proselytisme Ummat Islam kepada agama Kristen dengan bermacam-macam cara.

2. Maka dokumentasi yang dikumpulkan oleh PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT ini, hanyalah menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah, dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini

Coraknya bermacam, hakekatnya sama: Riak pemurtadan menumpangi gelombang pembangunan.

3. Bagi kita ummat Islam, sebenarnya hal ini sudah berulang kali diperingatkan oleh Allah S.W.T, antara lain sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Baqarah 109:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sudah menjadi keinginan dari kebanyakan ahli kitab mengembalikan kamu kepada kekufuran sesudah kamu beriman.” (QS.2, Al-baqarah : 109).

Dan surat Al-Baqarah 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلآ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan tidaklah akan senang kaum Yahudi dan Nashara kepadamu sebelum engkau menurut agama mereka” (Al-Baqarah 120).

Kewajiban kita ialah supaya masing-masing kita tanpa kecuali benar-benar memelihara diri dan keluarga kita daripada terjerumus dalam kekufuran. sebagaimana peringatan Ilahi dalam Surat At-Tahrim ayat 6 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (At-Tahrim 6).

Tiap-tiap rumah tangga Islam harus menjadi benteng dari agama dan keimanan, untuk kita dan keturunan selanjutnya.

4. Kepada pihak missi dan zending yang berdatangan dari luar negeri ke Indonesia ini dengan kekayaan materi yang melimpah-limpah, dengan bekerjasama yang rapat dengan missi dan zending dalam negeri untuk melakukan expansi agamanya tanpa pilih bulu, rasanya tidak ada kata-kata yang dapat kita ucapkan lagi. Pada “Musyawarah Antar Agama” tanggal 30 November 1967 kami telah menawarkan satu tata cara hidup antar agama (modus vivendi) yang dapat menjamin kesatuan bangsa dan tanah air dalam Negara yang mempunyai bermacam-macam agama (multi Religius) ini.

“Intisari nya adalah agama yang satu jangan menjadikan agama lain menjadi sasaran propagandanya.” Akan tetapi modus-vivendi ini tegas-tegas ditolak, baik oleh pihak Protestan ataupun Khatolik.

5. Dalam pada itu baru-baru ini terdengar oleh kita Amanat Bapak PRESIDEN SUHARTO yang ibarat seteguk air yang menyejukkan hati dimusim kering. Yaitu yang menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang beraneka agama ini, agar betul-betul sama-sama saling tenggang rasa dan hormat menghormati satu sama lain.

Kita dengarkan dan junjung tinggi Amanat beliau yang diucapkan secara ikhlas dan sungguh-sungguh pada peringatan Isra’dan Mi’raj tanggal 16 Agustus 1974 yang baru lalu itu.

Beliau berkata pada penutup pidato anatara lain sbb:

“…….. Saudara- saudara; Demi untuk berhasilnya pembangunan itu, maka harus diusahakan betul-betul agar supaya terpeliharanya suasana hidup rukun, tenggang rasa dan hormat menghormati diantara sesama ummat beragama, sesama penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama-sama membangun masyarakat.

Dengan tidak mengurangi Universilnya ajaran agama masing-masing marilah kita kembangkan sikap keagamaan yang luhur, sehingga penghayatan dan penyiaran agama di Indonesia ini dilakukan dengan cara yang tidak menyinggung perasaan, dengan memperhatikan lingkungan adat kebiasaan serta tata kesopanan. Marilah kita pupuk rasa hormat menghormati dan percaya mempercayai dan marilah kita hindarkan perbuatan-perbuatan yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Untuk jangan sampai mengganggu perasaan golongan lain, maka dalam penyiaran dalam agama itu harus kita usahakan agar jangan sampai ditujukan kepada orang yang sudah beragama ……….”

Demikianlah Amanat Bapak PRESIDEN SOEHARTO sesuai benar dengan sari -pati rencana “ Piagam Antar Agama” yang dianjurkan oleh wakil-wakil Islam dalam Musyawarah Antar Agama bulan November tahun 1967.

6. Dalam pada itu, kita ummat Islam memang cukup diberi perbekalan oleh agama kita, agar pandai-pandai menempatkan diri dalam satu masyarakat dimana ada bermacam aliran agama:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang bimbang dan ragu-ragu. Masing-masing golongan mempunyai arah (sendiri) yang ditujunya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebajikan. (QS. 2, Al-Baqarah : 147-148).

لآ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama, dan (orang-orang) yang tidak mengusir kamu keluar dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang berlaku adil “. (QS. Al-Mumtahanah 8).

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Yang Allah larang kamu jadikan sahabat, hanyalah orang-orang yang menyerang kamu didalam (urusan) agama dan mengusir kamu keluar dari kampung kamu dan membantu (pengusir-pengusir) mengeluarkan kamu; dan barangsiapa yang menjadikan mereka sahabat, maka mereka itu adalah orang-orang salim”. (QS.Al-Mumtahanah 9).

Ringkasnya:

  • Kami sadar bahwa, bumi Allah ini diisi oleh bermacam-macam aliran faham dan agama. Kami tidak dibenarkan menyisihkan diri dari masyarakat campuran itu, malah kami harus berkecimpung didalamnya dan berlomba-lomba dalam menegakkan kebajikan untuk ummat manusia tanpa diskriminasi.
  • Yang tidak bisa kami persahabati hanyalah mereka yang memusuhi agama kami (Islam) dan ingin merobah aqidah dan identitas kami.
  • Sekedar perlainan agama tidak menghalangi kami untuk berbaik budi dan hidup rukun dengan sesama manusia yang bukan beragama Islam.

7. Akan tetapi kita tak bisa bertepuk sebelah tangan.

Oleh karena itu kita berseru dengan segala kerendahan hati kepada Bapak-bapak para Pejabat Negara, para Anggota-anggota Dewan-dewan Perwakilan di pusat dan didaerah, agar sesuai dengan Amanat Presiden yang telah berulang kali kita dengar itu sudi kiranya mengambil kebijaksanaan untuk meyakinkan missi dan zending asing dan tidak asing supaya mereka pandai pula membatasi diri.

Janganlah mereka menganggap kami orang Islam ini sekalipun miskin-miskin dan tidak sepintar mereka sebagai orang-orang pagan atau animis yang perlu mereka mandi-nasranikan pula lebih dahulu untuk “mempercepat proses Pembangunan Negara”.

Atau, bila ada yang sedang mencari sesuap-pagi sesuap-petang, harus dimandi-nasranikan dulu, makanya dapat diterima sebagai penjaga malam atau pegawai administrasi dirumah sakit zending mereka (Baptist, Bukittinggi).

Kami sudah beragama … Beragama Islam!Jangan diganggu identitas kami!

Kami mengharapkan mudah-mudahan dengan kerjasama yang erat antara para Alim-Ulama Islam dan para pejabat yang berwenang dibidang ini, akan tercapailah stabilitas kerukunan hidup antar-agama di Tanah air yang sama-sama kita cintai ini.

Agar jangan :

akibat menompang nya “riak aksi pemurtadan” pada “gelombang pembagunan negara”, gelombang nya pecah ditengah, sebelum mencapai pantai harapan …… Na’uzubillahi min zhalik!

Mudah-mudahan allah melindungi kita dari keadaan demikian!

Amiin !

Wassalam,

DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA

dto

Mohammad Natsir

[i] Berkenaan dengan masaalah Pasaman ini, Dewan Dakwah Sumatera Barat mengeluarkan sebuah dokumen dihantar oleh Mazni Salam Sekretaris DDII Perwakilan Sumbar berupa Dokumentasi Gerakan Kristenisasi di Pasaman Barat, dengan judul “Kristenisasi dan Transmigrasi di Sumatera Barat”, dengan surat pengantar No.428/II-C/PDDI/7/1974 tertanggal Bukittinggi 4 Juli 1974. Bapak DR. Mohamad Natsir memberikan kata pengantar dokumen tersebut, sekalian merupakan taushiyah dakwah bagaimana langkah dalam menghadapi gerakan salibiyah ini.

Antara lain beliau berkata, “Maka dokumentasi yang dikumpulkan oleh PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT ini, hanyalah menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah, dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini”.(Kristenisasi dan Transmigrasi di Sumatera Barat, DDII Sumbar, Kata Pengantar, Jakarta, 1974).


BERENCANA HADAPI MISI SALIBIYAH

Berencanalah dengan baik, dalam berhadapan dengan

gerakan Salibiyah yang terencana. (M.Natsir, 1968)

Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya untuk memikirkannya lebih mendalam. Apalagi untuk membicarakannya dengan teman-teman kita secara bertenang-tenang.

Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab bakorong-ketek“.

Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab bakorong-ketek“.[1]

  1. Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.
  2. – Pihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi biaya pembangunan tidak ada.
  3. – Akibatnya, pihak masyarakat merasa tidak puas karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.
  4. – Di Bukittinggi ada agen dari missi asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, bertenang-tenang Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristenisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materi dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka di tengah-tengah ummat Islam. Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti di tengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat” itu. Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daya upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.
  5. – Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukakan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !. Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama? Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken

Di pulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum!- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu. Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katolik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan, mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.

Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.

  1. – Kalau mereka berpikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat mengadu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :
  • Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan.

  • Pihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.

  • Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang modern, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

  1. Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.
  2. Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu.

Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya.

Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minangkabau secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya !

Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

  • Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?

Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:

  • (a) rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,b) soal asrama untuk tentara,

  • (b) soal kekurangan rumah sakit yang bermutu lebih baik, ialah dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam.

Atau setidaknya-tidaknya peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya. Tapi apabila yang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali manfaatnya.

Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjukkan jalan alternatif yang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missi-missi asing itu :

Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini“.

Haraplah hal ini kita coba-coba sama-sama pikirkan.

Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir.

Dan bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern. Dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dsb.

Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal. Yakni asrama yang mencukupi syarat (kalaupun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut. Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat dikumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.

  • Kata dari orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.

Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih flexible. Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama. Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana

Saya ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was.

Wassalam, Mohamad Natsir.

CATATAN :

[1] Surat Bapak DR. Mohamad Natsir yang ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo dan Buya Fachruddin HS. Datuk Majo Indo, bertarikh Djakarta, 20 Juli 1968, adalah merupakan pengamatan Pak Natsir serta pengalaman-pengalaman berdasarkan data-data tentang Gerakan Salibiyah yang sangat terencana.


🇮🇩 MOHAMMAD YAMIN, WAFAT DI PANGKUAN BUYA HAMKA.

Peselisihan Buya Hamka dan Mohammad Yamin,
Bukti Orang Minang Santun Berpolitik…

Ulama tersohor tanah air, Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka pernah berselisih paham dengan politikus sekaligus tokoh pergerakan, Mohammad Yamin. Namun di balik kisah perseteruan kedua belah pihak itu, ternyata menunjukkan pula seberapa santunnya kedua tokoh asal tanah Minang ini dalam berpolitik.

Tak hanya sekedar cerita dan goresan tinta sejarah belaka, meski berasal dari suku dan daerah yang sama, kedua tokoh ini pernah saling bersitegang ketika membahas rencana masa depan Republik Indonesia.

Kala itu, kejadian peselisihan dua tokoh Minangkabau ini bermula pada kurun waktu 1955 hingga 1957, ketika keduanya sempat duduk bersama di bangku parlemen.

Buya Hamka yang berasal dari Partai Masyumi berdebat dengan cukup banyak dengan Moh Yamin yang berasal dari Partai Nasional Indonesia (PNI).

Keduanya saling berdebat dan membahas tentang perumusan Dasar Negara Republik Indonesia. Partai Masyumi bersikukuh agar terbentuknya UUD 1945 dengan Dasar Negara Berdasarkan Islam. Sdangkan pihak PNI atas nama nasionalis berkebangsaan, diamanatkan memilih UUD 1945 dengan Dasar Negara Pancasila.

Karena urusan yang tak kunjung usai, dalam sebuah kesempatan sempat diperkarakan, Buya Hamka menyampaikan pidato politik yang sangat kontroversi dan menimbulkan sejumlah polemik. Ia menyampaikan, apabila bangsa Indonesia berdiri berdasarkan dasar negara Pancasila, maka sama dengan menuntut rakyatnya ke Neraka.

“Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke Neraka!” kata Buya dalam pidatonya.

Sejumlah peserta rapat Paripurna Konstituante dibuat terkejut lantaran pidato Buya Hamka yang sangat keras itu. Sejumlah tokoh PNI, terutama Moh Yamin pun dibuat jengkel dengan pernyatan sepihak yang dilontarkan pihak Masyumi. Bahkan kebencian Moh Yamin kepada Buya Hamka berlanjut ketika menghadiri sejumlah acara resmi seperti seminar kebudayaan dan sidang-sidang konstituante lainnya.

Ketika Buya Hamka kedatangan seorang rekannya yang berasal dari daerah yang sama.

KH. Isa Anshari bertanya kepada Buya Hamka terkait perselisihannya dengan Moh Yamin.

“Apa masih tetap Yamin besitegang dengan Hamka?,” tanya KH Isa Anshari.

Buya Hamka pun mejawab, “Rupanya bukan saja wajahnya yang diperlihatkan kebenciannya kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya.”

Saat itu terjadi sejumlah pergolakan di beberapa daerah, pemerintah pun berupaya memberantas segala pemberontakan yang ada di bumi Indonesia, termasuk PRRI di Sumatera Barat. Salah satu tokoh yang mendukung kebijakan pemerintah adalah Muhammad Yamin.

Pihaknya menolak keras pemberontakan yang ada, dan berujung pembubaran Partai Masyumi yang diduga sejumlah tokohnya terlibat dalam pemberontakan PRRI.

Setelah pembubaran Konstituante yang bertugas untuk membentuk konstitusi baru bagi Republik Indonesia, Soekarno menetapkan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara.

Tak berselang lama, usai dua tahun pembubaran Masyumi, tepatnya pada tahun 1962, Moh Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, RSPAD.

Uniknya, ketika jatuh sakit, Moh Yamin justru meminta agar Chaerul Saleh menghubungi Buya Hamka agar mau menemuinya di RSPAD. Chaerul Saleh yang juga tokoh asal tanah Minang itu membujuk agar Buya Hamka datang segera ke rumah sakit menjenguk Moh Yamin.

“Buya, saya membawa pesan dari Bapak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja datang menemui Buya. Ada pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir,“ kata Chaerul Saleh yang saat itu menjabat sebagai menteri.

“Apa pesannya?” jawab Buya Hamka.

“Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya, sekarang Pak Yamin dalam sekarat.” Buya Hamka yang mendengar permintaan itu pun cukup tercengang, lantaran ia hanya mengetahui bahwa Moh Yamin sangat membenci dirinya.

“Begini Buya, yang sangat merisaukan pak Yamin, beliau ingin bila wafat dapat dimakamkan di kampung halamannya yang telah lama tidak dikunjungi. Beliau sangat khawatir masyarakat Talawi tidak berkenan menerima jenazahnya. Ketika terjadi pergolakan di Sumatara Barat, Pak Yamin turut mengutuk aksi pemisahan wilayah dari NKRI. Beliau mengharapkan sekali Hamka bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.” pinta Chaerul Saleh.

Aamiin..

”Kalau begitu mari bawa saya ke RSPAD menemui beliau.” jawab Buya Hamka dengan bijaksana.

Ketika datang ke ruang perwatan di mana Moh Yamin terbaring, Buya Hamka terkejut melihat sejumlah kabel infus dan oksigen yang banyak tersemat pada tubuh Yamin. Dengan penuh kedewasaan, Buya Hamka lalu menjabat tangan lawan politiknya itu, lalu mengecup keningnya.

Moh Yamin pun merasa bersyukur, permintaan terakhirnya dituruti oleh Buya Hamka. Sambil bergelinang air mata, dengan lirih suara pelan ia mengucapkan terimakasih.

“Terima kasih Buya sudah Sudi untuk datang,” ucap Yamin dengan suara pelan.

“Dampingi saya,” sambung Yamin masih dengan suara lirihnya.

Kemudian untaian lafal tauhid yang berulang-ulang dibisikkan, “La ilaha illallah Muhammadan Rasulullah”. Dengan suara pelan, Yamin pun mengikutinya.

Lalu, Buya Hamka mengulang kembali bacaan kalimat tauhid itu sebanyak dua kali dengan lembut. Namun, pada bacaan yang kedua, suara lirih Yamin sudah tidak terdengar. Hanya isyarat lain dengan mengencangkan genggaman tangannya.

Meski begitu, Buya Hamka membisikkan kembali kalimat tauhid. Kali ini, Pria kelahiran Kota Sawahlunto itu sudah tak merespon sama sekali. Hamka pun merasa genggaman Yamin semakin melemah, dan tangannya terasa dingin lalu perlahan terlepas dari genggamannya.

Sesuai dengan permintaan Moh Yamin, Buya Hamka memenuhi pesan terakhirnya untuk menemani jenazah Yamin dalam acara pemakaman di Desa Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat.

Masya Allah..

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan tempat terbaik bagi beliau berdua di Surga-Nya..


MEMBENTENGI AQIDAH UMAT

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membentengi Aqidah Umat

Memelihara Kerukunan Beragama

Oleh H. Mas’oed Abidin

Memelihara daerah dari bahaya gerakan Salibiyah berarti juga menjaga keutuhan nilai nilai adat yang terang terangan menyebut¬kan bahwa ranah ini adatnya bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabullah.

Selain itu memelihara keutuhan ukhuwah hanya dimung¬kinkan dengan menghidupkan kembali nilai nilai “tungku tigo sajarangan” dalam melibatkan unsur unsur alim ulama ninik mamak dan para cendekiawan baik yang duduk dalam pemerintahan maupun yang ada di kalangan perguruan tinggi.

Yang sangat diperlukan adalah menumbuhkan ulama dan pendakwah Islam yang beradat, dan menanamkan kembali rumpun orang adat yang ber-agama Islam, serta para cendekiawan yang beradat dan beragama Islam.

Usaha ini menjadi sangat krusial dalam menciptakan tatanan masyarakat ber-adat, dengan adatnya bersendi syarak dan syarak bersendi Kitabullah (al-Quran).
Juga, yang tidak dapat dilupakan adalah tentang pentingnya peran kegotong royongan sebagai buah dari ajaran ta’awun sebagai inti aqidah tauhid.

Dewan Dakwah melihat bahwa usaha umat Islam dalam membendung usaha usaha yang mendiskreditkan umat dan bahkan memurtadkan umat Islam dari agama mereka, adalah semata mata ber-sifat mempertahankan diri.
Umat Islam diperintahkan untuk mengajak golongan lain kepada kalimatin sawa, atau kata persamaan, yakni :

1. Tidak menyembah kepada selain Allah, dan tidak menyeku¬tukan Nya dengan sesuatu apapun.

2. Tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan, selain Allah. Jika mereka berpaling, saksikanlah bahwa kami adalah orang orang muslim.

Sebagai Yayasan Islam, Dewan Dakwah mempunyai pedoman yang baku dalam segala hal, termasuk dalam hubungan antaragama, antara lain :

1. Islam dinyatakan sebagai agama di sisi Allah, namun Islam melarang pemaksaan dalam agama.

2. Islam mengajarkan, golongan Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam, sehingga umat Islam mengikuti agama mereka.

3. Akan didapati orang orang yang paling keras permusuhan¬nya kepada orang orang yang beriman, yakni orang orang Yahudi dan mereka yang menyekutukan Allah.

Dalam kamus orang orang beragama, tidak ada pengertian semua agama adalah benar.
Yang ada, agamanyalah yang benar.
Karena itu agamanya harus disampaikan kepada siapa saja, dan dengan cara apa saja.

Untuk menciptakan kerukunan itu, mutlak diperlukan kebijakan dari semua pihak yang dapat juga disebut semacam kode etik.

Bila ingin membicarakan keberhasilan kaum Salibiyah dalam merebut hati umat Islam Indonesia, sering Bapak Mohamad Natsir bertanya : bukankah banyak pula umat mereka yang sadar lalu berbondong bondong masuk Islam?. Tanya yang berupa khabariah ini menyebabkan kita menoleh kepada soal itu.

Ternyata memang ada benarnya dan memerlu-kan penggarapan khusus.
Di Kabupaten Nusa Tenggara Selatan dengan ibukotanya Soe, seorang raja bernama Gunawan masuk Islam kemudian diikuti oleh kurang lebih 9000 rakyatnya.

Karena tidak ada pembinaan, sebagian mereka kembali murtad.
Hal ini kita coba mengatasi dengan pengiriman 6 orang da’i yang honornya dicarikan dari bapak angkat.

Begitu juga di Mentawai ribuan orang masuk Islam, namun hal ini kurang dapat kita layani.

Di pulau pulau terpencil di daerah Maluku banyak laporan dan permintaan pengislaman, pengarahan dan bantuan.

Sahabat sahabat baru seperti ini, dapat kita lihat perkembangannya dengan adanya jama’ah Muhtadin di kota kota seperti : Yogya, Medan, Cilacap, Mentawai, Lampung dan lain lain, bahkan telah sampai kita adakan pertemuan silaturahmi di Cisalopa.

Acara seperti ini biasanya dihadiri pula oleh Muhtadin dari Malaysia dan Brunei. Sebahagian instrukturnya ada yang diambilkan dari tenaga-tenaga ahli dakwah dari tamatan Timur Tengah.

Usaha yang menampilkan peran dan gerak dari Muhtadin ini menarik perhatian dan minat dari berbagai pihak.

Utamanya dari para Muhsinin dari Timur Tengah, sehingga responnya terlihat pada undangan-undangan untuk menunaikan ibadah haji bagi para muhtadin yang telah berprestasi.

Seperti di tahun 1997 misalnya, 5 orang di antara mereka di undang untuk menunaikan ibadah haji dengan dari biaya lembaga Muhtadin dari Jeddah.

Menyangkut permutadan umat Islam oleh kalangan Salibiyah yang pada dua dasawarsa terakhir sangat pesat dilakukan oleh mereka, maka Dewan Dakwah melihatnya sebagai suatu bahaya yang tidak hanya berakibat terhadap agama Islam, tetapi juga terhadap kerukunan nasional.

Mengenai masalah ini Dewan Dakwah selalu menyampaikan pandangan-pandangannya secara terbuka kepada Pemerintah melalui Departemen Agama dan Departemen Dalam Negeri, dan juga diterbitkan catatan-catatan tentang fakta dan data oleh Media Dakwah.

Soal yang sangat penting dan peka ini, dikemukakan oleh Dewan Dakwah melihat kenyataan kenyataan yang terjadi di lapangan, karenanya di-sampaikan secara jujur, adil dan terbuka.

Pada tahun tahun terakhir ini terasa mulai dapat dipahami.
Bukan saja oleh sesama golongan Islam, melainkan juga oleh golongan golongan masyarakat lainnya.

Dewan Dakwah, walaupun bukan partai politik, namun melalui berbagai saluran konstitusional yang ada, dengan memberi¬kan pertimbangan pertimbangan kepada lembaga lembaga pemerintahan yang terkait.

Dewan Dakwah melihat bahwa usaha umat Islam dalam membendung usaha usaha yang mendiskreditkan umat Islam dan bahkan memurtadkan umat dari agama mereka, adalah semata mata ber-sifat mempertahankan diri.
Bersifat self defence.

Walaupun demikian, Dewan Dakwah senantiasa menyikapi setiap ada ajakan untuk menciptakan kerukunan hidup antar umat beragama, dengan sikap positif sesuai bimbingan Agama Islam, karena sebagai sesama pengatur agama yang bersumber dari Allah.

Umat Islam diperintahkan untuk mengajak golongan lain kepada kalimatin sawa’, atau kata persamaan, yakni :

1. Tidak menyembah kepada selain Allah, dan tidak menyeku¬tukan Nya dengan sesuatu apapun.

2. Tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan, selain Allah.

3. Jika mereka berpaling, saksikanlah bahwa kami adalah orang orang muslim.

Sebagai yayasan Islam, Dewan Dakwah mempunyai pedoman yang baku dalam segala hal, termasuk dalam hubungan anta¬r agama, antara lain :

1. Islam dinyatakan sebagai agama di sisi Allah, namun Islam melarang pemaksaan dalam agama.

2. Islam mengajarkan, golongan Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam, sehingga umat Islam mengikuti agama mereka.

3. Akan didapati orang orang yang paling keras per-musuhan¬nya kepada orang orang yang beriman, yakni orang orang Yahudi dan mereka yang menyekutukan Allah.

Pandangan Dewan Dakwah mengenai soal yang sangat penting dan peka ini, karena berdasarkan kenyataan kenyataan dan disampaikan secara jujur, adil dan terbuka, pada tahun tahun terakhir ini terasa mulai dapat dipahami.

Bukan saja oleh sesama golongan Islam, melainkan juga oleh golongan golongan masyarakat lainnya.

Ketika Paus Johannes Paulus II berkunjung ke Indonesia 9 14 Oktober 1989, empat orang sesepuh umat : K.H. Masjkur, K.H. Rusli Abdul Wahid, Prof. Dr. H.M. Rasjidi, dan M. Natsir, menyampaikan surat terbuka melalui Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia dilampiri fakta dan data.
Buktinya tidak ada bantahan.

Dewan Dakwah, sekali lagi, bukan organisasi kemasyarakatan, juga bukan partai politik.
Akan tetapi, Dewan Dakwah tidak hendak membiarkan dirinya sendiri dan keluarga besarnya buta politik, karena politik pada hakikatnya adalah seni mengatur masyarakat.

Dewan Dakwah bukan partai politik, Dewan Dakwah pun sangat menyadari keterbatasan keterbatasannya.

Maka dari itu, kepada keluarga Dewan Dakwah yang tersebar di seluruh tanah air, Dewan Dakwah hanya dapat menyampaikan imbauan supaya mereka menjadi warga negara yang baik.

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohammad Natsir, bagian dari Dakwah Komprehensif di dalam Gagasan dan Gerak Dakwah ilaa Allah oleh H.Mas’oed Abidin


PEMENANG ADALAH MUKMININ HAQQAN

” Apa bedanya mukminin dan muslimin? ”
“Kaum muslimin hari ini menunaikan seluruh syiar Islam, dari shalat, zakat, haji, puasa Ramadhan, serta ibadah lainnya.
Namun mereka sangat gersang!
Mereka gersang ilmu, ekonomi, sosial, militer, dan lainnya.

MENGAPA KEGERSANGAN  TERJADI?
Sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an;
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”.
Katakanlah:
“Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah Islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.”_
(QS. Al-Hujurat: 14)

APA YANG MEMBUAT MEREKA DALAM KEGERSANGAN SEMACAM INI?
Al-Quran telah menerangkannya, karena kaum muslimin meningkat hingga level mukminin,

COBALAH DI  RENUNGKAN AYAT-AYAT
DI BAWAH INI;

Andaikan mereka benar-benar beriman, tentu Allah Ta’ala pasti akan memberi mereka menang ;     وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ   

Artinya ; “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang – orang  beriman (mukminin).”(QS. Ar-Rum: 47).

Andaikan mereka beriman tentu mereka yang paling berkedudukan tinggi di antara umat dan bangsa lain, sebagaimana dinyatakan atas dasar firman Allah Subhanahu Ta’ala; وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ   “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (mukminin).”  … (QS. Ali-Imran: 139).

Andaikan mereka beriman tentu tiada satu umat pun akan mampu menguasai mereka, berdasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala; وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk (menguasai) orang-orang yang beriman (mukminin).”  … (QS. An-Nisa’: 141).

Andaikan mereka beriman tentu Allah tidak akan membiarkan mereka di atas kondisi menyedihkan,Andaikan mereka beriman tentu Allah akan bersama dengan mereka dalam segala kondisi, berdasar firman Nya Allah Ta’ala : وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ “Dan sesunguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman.”  …. (QS. Al-Anfal: 19).

NAMUN KETIKA MEREKA MASIH PADA LEVEL MUSLIMIN, BELUM MENINGKAT HINGGA KE LEVEL MUKMININ YANG SESUNGGUHNYA atau MUKMININ HAQQAN,
Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala sebut dalam firman;
وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan kebanyakan mereka tidak beriman.”
(QS. Asy-Syu’ara)

Coba perhatikan, sesungguhnya Allah mengaitkan kemenangan, kekuasaan, dan meningkatnya kondisi kemenangan dan kesuksesan dengan MUKMININ HAQQAN mukminin sesungguhnya,
bukan hanya sekedar telah menjadi MUSLIMIN.

Semoga Allah merahmati serta mengampuni kita semua.

LANTAS SIAPAKAH ORANG BERIMAN HAQQAN ITU  …. ?
Jawabannya ada dalam Al-Qur’an, mereka lah;
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat , yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu.”
(QS. At-Taubah: 112)

MasyaAllah … Allah sandiri yang menjelaskan ciri Mukmin yang sebenarnya itu … “Mereka itulah orang beriman haqqan” – QS At-Taubah: 112

  1. At-Taaibun – Urang nan bertaubat
    Bukan orang nan tidak pernah salah. Tetapi orang nan langsung putar haluan bertaubat kepada Allah atas kesalahannya.
  2. Al-‘Aabidun – Orang nan menjaga ibadahnya teratur. Tidak cuma sholat 5 waktu saja, tetapi  hidupnya selalu menghidupkan ibadah. Bangun Subuh ibadah. Tahan lidah dari gunjingan dan marah itu ibadah. “Barani malawan katidakadilan” 👉 juga ibadah.
  3. Al-Haamidun – Urang nan memuji
    Dapat musibah: “INNALILLAH”. Dapat nikmat: “ALHAMDULILLAH”. Karena : “rencana Allah ndak pernah salah“. Disitu lah “pujian” nan sebenarnya.
  4. As-Saaaihun – Orang nan melawat/safar
    Ulama tafsir katakan : “safar” untuk mancari ilmu, untuk jihad melawan nafsu, adalah sedang “safar” dari “aslamna” manuju “aamanna”.
  5. Ar-Raaki’uun As-Saajidun – Orang nan ruku’ sujud
    Badan tunduk kepada Allah, hati pun tunduk karena “iman telah masuk kedalam hati“.
  6. Al-Aamiruun bil Ma’ruf Wan Naahuu ‘anil Munkar
    Nah tu dia “Berani malawan katidakadilan dan kemungkaran” … Mulai dari rumah sendiri : suruh anak shalat, cegah diri dari kesalahan.
  7. Al-Haafizhuuna Li Hududillah – Orang nan menjaga hukum Allah
    Hukum Allah nan paliang dekat itu adalah selalu  Jujur, Benar, Bertindak Betul, Bangun pagi, Shalat Subuh, Lemah lembut. Itu sdalah “hudud” yang mulai diterapkan di rumah gadang milik sendiri.

Jadi Orang beriman haqqan itu adalah orang yang tau “kegersangan”, dan berani “menindak”  nafsu, serta tidak pernah putus asa dari rahmat Allah … Dan puncaknya : “Wa basysyiril mu’minin”
“Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”
Allah sandiri yang mambarikan  kabar gembira … Bararti tetapkan berjalan di jalur 7 sifat itu, InsyaAllah akan  digembirakan oleh Allah.

Kita sama-sama minta kepada Allah : “Jadikanlah kami termasuk golongan itu, Ya Allah” 🤲

Wassalam
Buya MAbidin Jabbar
Buya Hma Majo Kayo Masoed Abidin Madjo Kayo bin Zainal Abidin Faqih Qadhi KG Imam Moedo bin Abdul Jabbar Inyiek Sinari GG TBS.


TENANGKAN HATI INSYA-ALLAH BAHAGIA

10 PESAN UNTUK MENENANGKAN HATI DI TENGAH GONCANGAN DAN PERANG!

  1. Yakinlah:
    Tidak ada bom yang jatuh, tidak ada konflik yang meletus, tidak ada kapal yang bergerak di laut atau rudal di langit, kecuali dalam pengetahuan Allah Yang tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Seluruh alam semesta ini berada di bawah kendali-Nya, bagaimana ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya?
  2. Tenanglah:
    Perang, gempa bumi, dan krisis ekonomi… bukan hal yang terjadi secara sia-sia atau kekacauan di luar kendali; itu adalah bagian dari pasukan tersembunyi yang disebut “tentara Allah”, yang bergerak atas perintah-Nya, bukan atas perintah raja dan presiden.
  3. Pahamilah:
    Kita mungkin tenggelam dalam berbagai analisis: Siapa yang menang? Siapa yang kalah? Siapa yang memiliki senjata terkuat?

Tetapi hikmah sejati lebih dalam daripada semua layar apa pun; Allah memiliki rencana yang tidak dapat dipahami oleh pikiran kita yang terbatas, namun rencana itu terlaksana secara tepat dan tidak pernah salah.

  1. Pikirkanlah:
    Ujian adalah saringan yang tidak mengecualikan siapa pun:
    Bangsa, pemerintahan, negara adidaya, dan individu biasa seperti Anda dan saya.

Ujian menyaring hati: Siapa yang bertawakal kepada senjata? Dan siapa yang bertawakal kepada Allah?

  1. Ingatlah:
    Dunia ini bukanlah istana putih tempat kita hidup dengan aman; melainkan, jalan berliku yang penuh rintangan. Kita diciptakan di atasnya untuk bekerja keras, untuk diuji, dan untuk dibina… kemudian untuk beristirahat di sana (akhirat), di mana tidak ada perang dan tidak ada penderitaan.
  2. Optimislah:
    Ketika bangsa-bangsa tersesat dalam perlombaan senjata, dan dikira keputusan ada di tangan negara ini atau kekuatan itu…
    Allah mengirimkan peringatan yang tampak keras di permukaan: perang, krisis, dan bencana… tetapi pada hakikatnya, itu adalah rahmat yang menyadarkan orang-orang yang lalai dan mengarahkan hati ke pintu langit.
  3. Renungkanlah:

Ujian ini mungkin merupakan pesan pribadi bagimu:

– Pesan cinta: Kembalilah kepada-Ku, Aku rindu mendengar suaramu di waktu sahur.

– Atau lonceng peringatan: Perbaikilah arah perjalananmu sebelum pintu tertutup.

  1. Beradablah:

Kita lemah, kita takut pada berita, kita bingung oleh meningkatnya ketegangan antar negara, kita runtuh karena berita kehilangan… Namun Dia tetaplah Yang Maha Pemberi, yang menciptakan kita dalam bentuk yang terbaik, dan menerima kita kapan pun kita kembali, betapapun banyak fitnah dunia ini telah mencemari kita.

  1. Bergembiralah:

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (Quran 4:19)

Kita mungkin membenci perang, ketakutan, dan harga tidak stabil… Tetapi dari rahim tribulasi ini, kesadaran baru bisa lahir, iman menjadi lebih dalam, dan tergerak kembali kepada Allah dengan jujur dan tidak bisa dibeli oleh seluruh kekayaan dunia.

  1. Maka bersabarlah.

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf: 87). Keputusasaan bukanlah pilihan bagi orang beriman. Sekalipun kawasan tersulut perang antara Iran dan Amerika Serikat, sekalipun api berkobar di berbagai negara kita, tetap saja ada jendela di hati orang beriman yang bernama: rahmat Allah, yang tidak pernah tertutup.

Syaikh Muhammad al-Ghazali

TAUSHIYAH
Sayyidina Ali bin Abi Talib karramAllahu wajhah Memberikan nasehat yang intinya antara lain ada beberapa.

Beliau telah berkata;
Simpanlah rahsiamu berdua sahaja dengan

1. Dirimu
2. Allah Subhanahu wa Ta’ala

Jagalah di dunia ini dua keredhaan

  1. Ibumu
  2. Bapamu

Mohonlah bantuan ketika susah dengan dua perkara
1. Sabar
2. Shalat

Jangan risau dua perkara ini
1. Rezeki
2. Ajal

Kerana keduanya berada di bawah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Dua perkara yang tak perlu diingati selamanya

  1. Kebaikanmu terhadap orang lain.
  2. Kesalahan orang lain terhadapmu.

Dua perkara yang jangan dilupakan selamanya

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
  2. Alam Akhirat tempat akhir tujuan hidup

Empat orang ini janganlah dijauhi

  1. Ibumu
  2. Ayahmu
  3. Saudara lelakimu
  4. Saudara perempuanmu

Empat perkara ini hendaknya selalulah berlindung kepada Allah daripada akibatnya

  1. Buntu ( fikiran)
  2. Sedih
  3. Lemah
  4. Kedekut cekil dan pelit

Empat orang ini janganlah berlaku kasar kepada mereka

  1. Yatim
  2. Miskin
  3. Fakir
  4. Orang Sakit

Empat perkara yang akan memperindah diri

  1. Sabar dengan iman kokoh.
  2. Tabah dan taat dengan syariat agama.
  3. Tinggi ilmu (spiritual & Fisikal)
  4. Dermawan

Empat orang yang hendaknya mesti didekati

  1. Orang yang Ikhlas
  2. Orang yang setia
  3. Orang yang Dermawan
  4. Orang yang jujur

Empat orang yang hendaknya jangan sekalikali dijadikan teman

  1. Tukang bohong
  2. Tukang curi/rasuah
  3. Tukang Hasut
  4. Tukang Adu domba

Empat orang ini jangan sampai ditahan kedermawanan mu terhadap mereka

  1. Isterimu
  2. anak2 mu
  3. Keluargamu
  4. Sahabatmu

Empat hal yang hendaknya mesti dikurangi

  1. Makan
  2. Tidur
  3. Malas
  4. Bicara berlebih2an/gosip

Empat hal yang jangan pernah putus

  1. Shalat
  2. Qur’an
  3. Zikir
  4. Silaturrahim

Semoga kita mampu mengarifinya dan dapat melaksanakan nya.
Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Wassalam BuyaHMA Buya Hma Majo Kayo Buya MAbidin Jabbar Buya Masoed Abidin


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai