Membentengi Aqidah Umat


Menciptakan Masyarakat Tamaddun

Satu tema menarik menciptakan masyar­akat tamaddun (beradab). Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban Barat.

Konsep ini mulai di fikirkan dan di rancang oleh beberapa politisi dunia. Terutama oleh beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi ditengah masyarakat yang ada dengan problematika sosial dan pribadi yang tengah bergumul didalamn­ya. Konsep membentuk masyarakat semacam ini sangat sejalan dengan salah satu konsepsi pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir yang telah dirancang sejak tahun 1930-an yang lalu, dan menjadi perwujudan masa kini. Berawal dari konsepsi tentang kesehatan manusia, membaginya atas empat bahagian,

1.      kesehatan fisik.

2.      kesehatan jiwa.

3.      kesehatan ide (pemikiran),

4.      kesehatan sosial masyarakat disekitarnya.

Keempat bentuk empat kesehatan masyarakat tersebut berada dalam ruang lingkup yang sama (integratif) yang memiliki interrelasi satu sama lain.

Interrelasi ini berada dalam ruang lingkup pemikiran Islam. Sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau” terhadap segala bentuk pemikiran yang ada.

Sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau”, dia tidak mengalami gesekan‑gesekan pemikiran dan mengambil segala bentuk pemikiran konstruktif dan meninggalkan pemikiran destruktif.

Kepentingannya terletak kepada kemampuan   aplikasi dari segala ide atau pemikiran yang dilaksanakan. Sejalan dengan perkembangan dunia global. Dan dapat pula dikemukakan bahwa pengertian globalisasi diantaranya di artikan sebagai ruang lingkup pemikiran yang bisa dilaksanakan di tengah masyara­kat.[i]

Relevansi pengertian globalisasi dalam konteks pemahaman ajaran Islam dapat terlihat dari adanya interaksi antara pemahaman ajaran agama Islam dengan Aspek Globalisasi kehidupan yang terjadi di dunia saat ini [ii].

Dalam sebuah proses globalisasi, ajaran agama Islam sanggup bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya, tanpa harus menggadaikan prinsip dasar ajaran Wahyu Allah yang menjadi landasan agama Islam.

Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari‑hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya. Tetapi semestinya bersifat inklusif untuk bisa dipahami oleh semua orang.

Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan semua prob­lematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap lapisan ma­syarakat yang ada mulai dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut.

Pemikiran Mohamad Natsir sedari awalnya merupakan pemikiran ahlul salaf yang berada di tengah‑tengah sebagai upaya penjelmaan umat pertengahan (umathan wasathan). Suatu tatanan masyarakat yang kokoh iman dan berakhlak mulia seperti yang dikemukakan ajaran Al Qur’an.

Sebagai pemikiran aplikatif terhadap problematika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupa­kan sebuah kebutuhan mutlak yang diharapkan masyarakat saat ini.

Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan dilahirkan oleh kesenjangan antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut. Kesenjangan ini, teratasi oleh pembentukan masyarakat self help, self­less help dan mutual help di atas.

Upaya menjembatani kesenjangan hanya bisa dilakukan melalui amal nyata dengan “Berorientasi kepada ridha Allah SWT.” Dalam proses globalisasi ini, hanyalah produk‑produk, termasuk idea, pemikiran dan wacana yang dapat bersaing pada tingkat pasaran dunialah yang akan mampu memenangkan persaingan besar pasar [iii].

Suatu keyakinan sangat objektif bahwa setiap ajaran Islam, pasti mampu memberikan jalan keluar (solu­si) terhadap problematika sosial umat manusia. Ajaran agama Islam berada dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut,  adalah mereka orang‑orang yang beriman. Apatisme politik dan bersikap menjadi “pengamat diam” tanpa ada keinginan dan usaha untuk ikut berperan aktif dalam setia perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang selalu mengalami perubahan hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan sikap yang jelas, antaranya ;

  • mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,
  • jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,
  • apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu,
  • jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata‑kata tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu saja setiap perubahan, baik itu bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini.

Setiap orang yang beriman semestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhu­bungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya. Sikap hidup menjemput bola, bukan menunggu bola merupakan sikap hidup yang sangat didorongkan untuk dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Sikap dinamik sangat diperlukan untuk mengantisipasi selemah‑lemah iman, dan sikap dinamik pula yang menjadi kata‑kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi. Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam tiga cara hidup  yakni,

  • bantu dirimu sendiri (self help),
  • bantu orang lain (self less help), dan
  • saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini mengandung ajaran untuk setiap orang supaya tidak selalu tergantung kepada orang lain.

Ketergantungan akan menempat­kan orang terbawa kemana‑mana oleh mereka yang menjadi tempat bergantung. Tujuan yang jelas sebagai kerangka ibadah dan pembentengan aqidah.

Apalagi tatkala umat tengah berada dalam jihad menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.

Berencanalah Dengan Baik Dalam Berhadapan Dengan Setiap Gerakan Salibiyah Yang Terencana [iv]

Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya  untuk memikirkannya lebih mendalam. Apalagi untuk membicarakannya dengan taman-teman kita secara bertenang. Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab “bakorong-ketek”.

1.      Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.

2.      Fihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi beaja pembangunan tidak ada.

3.      Akibatnya : fihak masyarakat merasa tidak puas oleh karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.

4.      Di Bukittinggi ada agen dari missie asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saya. Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam. Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti ditengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat”itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daja upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5.      Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken…

Dipulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu.

Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katholik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis ditengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.

6.      Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.

Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :

  1. Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan.
  2. Fihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.
  3. Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7.      Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu.

Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya. Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya !

Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.      Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?

Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:

a.                Rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,

b.               Soal asrama untuk tentara,

c.                Soal kekurangan rumah sakit yang bermutu lebih baik.

Yaitu dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam.

Atau setidaknya-tidaknya peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya.

Tapi apabila yang aneh ini kit a laksanakan akan besar sekali manfaatnya.

Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat memperer at hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjukkan jalan alternatif yang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missie-missie asing itu :

“Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita coba-coba sama-sama pikirkan.

Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir. Dan bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern. Dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dsb, dsb…

Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal.

Yakni asrama yang mencukupi syarat (kalaupun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh  Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut. Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat dikumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.

Kata dari orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.

Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama. Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana.

Saya ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was………..

W a s s a l a m,  Mohammad Natsir


Catatan Kaki

[i]      Globalisasi menurut American Herritage Dictionary, adalah the policy making something worldwide in scope or application.

[ii] DR.Sidek Baba, Wakil Rektor Universitas Islam Malaysia Kuala Lumpur menyebutnya dalam Seminar Kebangkitan Peranan Generasi Baru Asia (Re-Awakening Asia) pada tanggal 21-23 Juli 1997 di Pekanbaru, bahwa pemahaman ajaran Islam memiliki interaksi yang jelas dalam kehidupan global masa kini.

[iii] Persaingan pasar tersebut ditentukan oleh speksifikasi produk yang menjadi unsur “kepercayaan” (trust), seperti yang diungkapkan oleh penulis sejarah Francis Fukuyama, pria Jepang yang lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat dan menduduki Dekan di George Mason Universi­ty, Washington baru‑baru ini di Jakarta. Berbeda dengan Francis Fukuyama yang mengemukakan  tesis kesejar­ahan telah berakhir saat ini (The End of History), maka agama Islam, menurut pemahaman Bapak Mohamad Natsir diantaranya mengemukakan bahwa, adanya tesis kesejarahan pada setiap saat dan tempat (wa tilka al-ayyamu nudawilu-haa baina an-naas).

[iv] Surat Bapak DR. Mohamad Natsir yang ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo dan Buya Fachruddin HS. Datuk Majo Indo, bertarikh Djakarta, 20 Juli 1968, adalah merupakan pengamatan Pak Natsir serta pengalaman-pengalaman berdasarkan data-data tentang Gerakan Salibiyah yang sangat terencana.

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: