Jangan Diganggu Identitas ummat

Jangan Diganggu Identitas Kami  ….….[i]

  1. Seringkali kita mendengar bahwa apa yang disebut “Kristenisasi” di Indonesia adalah semata-mata satu “isu”, dalam pengertian bahwa itu hanya omongan yang dibikin-bikin.

Tetapi, kita umat Islam yang berada dilapangan, dikota-kota, ataupun didesa-desa, dipinggir-pinggir pantai ataupun dikaki-kaki gunung, bukan saja mengetahui, akan tetapi merasakan dan mengalami sehari-hari bagaimana meningkatnya kegiatan missi dan zending Katolik ataupun Protestan dari dalam dan luar negeri dalam usaha mereka melakukan expansi agama mereka di tanah air.

Bukan saja dikalangan apa yang dinamakan “suku terasing”, akan tetapi juga malah semakin meningkat didaerah-daerah mayoritas Islam dan dipusat-pusat kebudayaan Islam, seperti daerah ACEH, MANDAILING, MINANG KABAU, JAWA BARAT, SULAWESI, AMUNTAI, KALIMANTAN SELATAN, KALIMANTAN TIMUR, SAMBAS, KALIMANTAN BARAT dll, dimana kegiatan-kegiatan itu sudah merupakan aksi pemurtadan/proselytisme Ummat Islam kepada agama Kristen dengan bermacam-macam cara.

2.         Maka dokumentasi yang dikumpulkan oleh PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT ini, hanyalah menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah,  dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten  Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini

Coraknya bermacam, hakekatnya sama: Riak pemurtadan menumpangi gelombang pembangunan.

3.         Bagi kita ummat Islam, sebenarnya hal ini sudah berulang kali diperingatkan oleh Allah S.W.T, antara lain sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Baqarah 109:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sudah menjadi keinginan dari kebanyakan ahli kitab mengembalikan kamu kepada kekufuran sesudah kamu beriman.” (QS.2, Al-baqarah : 109).

Dan surat Al-Baqarah 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلآ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan tidaklah akan senang kaum Yahudi dan Nashara kepadamu sebelum engkau menurut agama mereka” (Al-Baqarah 120).

Kewajiban kita ialah supaya masing-masing kita tanpa kecuali benar-benar memelihara diri dan keluarga kita daripada terjerumus dalam kekufuran. sebagaimana peringatan Ilahi dalam Surat At-Tahrim ayat 6 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan     keluargamu dari api neraka” (At-Tahrim 6).

Tiap-tiap rumah tangga Islam harus menjadi benteng dari agama dan keimanan, untuk kita dan keturunan selanjutnya.

4.         Kepada pihak missi dan zending yang berdatangan dari luar negeri ke Indonesia ini dengan kekayaan materi yang melimpah-limpah, dengan bekerjasama yang rapat dengan missi dan zending dalam negeri untuk melakukan expansi agamanya tanpa pilih bulu, rasanya tidak ada kata-kata yang dapat kita ucapkan lagi. Pada “Musyawarah Antar Agama” tanggal 30 November 1967 kami telah menawarkan satu tata cara hidup antar agama (modus vivendi) yang dapat menjamin kesatuan bangsa dan tanah air dalam Negara yang mempunyai bermacam-macam agama (multi Religius) ini.

Intisarinya ialah supaya “agama yang satu jangan menjadikan agama   lain menjadi sasaran propagandanya.” Akan tetapi modus-vivendi ini tegas-tegas ditolak, baik oleh pihak Protestan ataupun Khatolik.

5.         Dalam pada itu baru-baru ini terdengar oleh kita Amanat Bapak PRESIDEN SUHARTO yang ibarat seteguk air yang menyejukkan hati dimusim kering. Yaitu yang menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang beraneka agama ini, agar betul-betul sama-sama saling tenggang rasa dan hormat menghormati satu sama lain.

Kita dengarkan dan junjung tinggi Amanat beliau yang diucapkan secara ikhlas dan sungguh-sungguh pada peringatan Isra’dan Mi’raj tanggal 16 Agustus 1974 yang baru lalu itu.

Beliau berkata pada penutup pidato anatara lain sbb:

“…………………………………………….                                     Saudara-saudara;

Demi untuk berhasilnya pembangunan itu, maka harus diusahakan betul-betul agar supaya terpeliharanya suasana hidup rukun, tenggang rasa dan hormat menghormati diantara sesama ummat beragama, sesama penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama-sama membangun masyarakat.

Dengan tidak mengurangi Universilnya ajaran agama masing-masing marilah kita kembangkan sikap keagamaan yang luhur, sehingga penghayatan dan penyiaran agama di Indonesia ini dilakukan dengan cara yang tidak menyinggung perasaan, dengan memperhatikan lingkungan adat kebiasaan serta tata kesopanan. Marilah kita pupuk rasa hormat menghormati dan percaya mempercayai dan marilah kita hindarkan perbuatan-perbuatan yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Untuk jangan sampai mengganggu perasaan golongan lain, maka dalam penyiaran dalam agama itu harus kita usahakan agar jangan sampai ditujukan kepada orang yang sudah beragama……….”

Demikianlah Amanat Bapak PRESIDEN SOEHARTO sesuai benar dengan sari -pati rencana “ Piagam Antar Agama” yang dianjurkan oleh wakil-wakil Islam dalam Musyawarah Antar Agama bulan November tahun 1967.

6.                  Dalam pada itu, kita ummat Islam memang cukup diberi perbekalan oleh agama kita, agar pandai-pandai menempatkan diri dalam satu masyarakat dimana ada bermacam aliran agama:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang bimbang dan ragu-ragu. Masing-masing golongan mempunyai arah (sendiri) yang ditujunya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebajikan. (QS. 2, Al-Baqarah : 147-148).

لآ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama, dan (orang-orang) yang tidak mengusir kamu keluar dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang berlaku adil “. (QS. Al-Mumtahanah 8).

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Yang Allah larang kamu jadikan sahabat, hanyalah orang-orang yang menyerang kamu didalam (urusan) agama dan mengusir kamu keluar dari kampung kamu dan membantu (pengusir-pengusir) mengeluarkan kamu; dan barangsiapa yang menjadikan mereka sahabat, maka mereka itu adalah orang-orang salim”. (QS.Al-Mumtahanah 9).

Ringkasnya:

  • Kami sadar bahwa, bumi Allah ini diisi oleh bermacam-macam aliran faham dan agama. Kami tidak dibenarkan menyisihkan diri dari masyarakat campuran itu, malah kami harus berkecimpung didalamnya dan berlomba-lomba dalam menegakkan kebajikan untuk ummat manusia tanpa diskriminasi.
  • Yang tidak bisa kami persahabati hanyalah mereka yang memusuhi agama kami (Islam) dan ingin merobah aqidah dan identitas kami.
  • Sekedar perlainan agama tidak menghalangi kami untuk berbaik budi dan hidup rukun dengan sesama manusia yang bukan beragama Islam.

7.         Akan tetapi kita tak bisa bertepuk sebelah tangan.

Oleh karena itu kita berseru dengan segala kerendahan hati kepada Bapak-bapak para Pejabat Negara, para Anggota-anggota Dewan-dewan Perwakilan di pusat dan didaerah, agar sesuai dengan Amanat Presiden yang telah berulang kali kita dengar itu sudi kiranya mengambil kebijaksanaan untuk meyakinkan missi dan zending asing dan tidak asing supaya mereka pandai pula membatasi diri.

Janganlah mereka menganggap kami orang Islam ini sekalipun miskin-miskin dan tidak sepintar mereka sebagai orang-orang pagan atau animis yang perlu mereka mandi-nasranikan pula lebih dahulu untuk “mempercepat proses Pembangunan Negara”.

Atau, bila ada yang sedang mencari sesuap-pagi sesuap-petang, harus dimandi-nasranikan dulu, makanya dapat diterima sebagai penjaga malam atau pegawai administrasi dirumah sakit zending mereka (Baptist, Bukittinggi).

Kami sudah beragama

Beragama Islam!

Jangan diganggu identitas kami!

Kami mengharapkan mudah-mudahan dengan kerjasama yang erat antara para Alim-Ulama Islam dan para pejabat yang berwenang dibidang ini, akan tercapailah stabilitas kerukunan hidup antar-agama di Tanah air yang sama-sama kita cintai ini.

Agar jangan :

akibat menompangnya “riak aksi pemurtadan” pada “gelombang pembagunan negara”, gelombangnya pecah ditengah, sebelum mencapai pantai harapan …………………………..……… … … …

Na’uzubillahi min zhalik!

Mudah-mudahan allah melindungi kita dari keadaan demikian!

Amiin !

Wassalam,

DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA

dto

Mohammad Natsir


[i] Berkenaan dengan masaalah Pasaman ini, Dewan Dakwah Sumatera Barat mengeluarkan sebuah dokumen dihantar oleh Mazni Salam Sekretaris DDII Perwakilan Sumbar berupa Dokumentasi Gerakan Kristenisasi di Pasaman Barat, dengan judul “Kristenisasi dan Transmigrasi di Sumatera Barat”, dengan surat pengantar No.428/II-C/PDDI/7/1974 tertanggal Bukittinggi 4 Juli 1974. Bapak DR. Mohamad Natsir memberikan kata pengantar dokumen tersebut, sekalian merupakan taushiyah dakwah bagaimana langkah dalam menghadapi gerakan salibiyah ini. Antara lain beliau berkata, “Maka dokumentasi yang dikumpulkan oleh PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT ini, hanyalah menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah,  dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten  Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini”.(Kristenisasi dan Transmigrasi di Sumatera Barat, DDII Sumbar, Kata Pengantar, Jakarta, 1974).

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: