TAFSIR AT-TAUSHIATUL KHAMSAH


 

Kalau kita memperhatikan risalah “At Taushiatul Khamsah”, oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah :

 

Konservasi – yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang ada

Maksud konservasi itu untuk membukakan jalan bagi re-integrasi yakni “menghimpun yang tadinya berserakan”.

Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun.

Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan.

Begitu intisari dari “At Taushiatul Khamsah”, ….

 

1). Konservasi

Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balans

Alhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan.

Terutama ialah berkat adanya “anti toxine” lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh.

Bisa timbul pertanyaan ;

“apakah “utuh” itu ?

 

Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain?

Jika pada umumnya demikian, ini barulah “taraf minimal” sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu.

Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi.

Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa di kalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejala-gejala “ranun” itu.

Ada yang “uzlah”pasif

Ada yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus makshiyat 100%.

Ada yang hanya mengeluh;

Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini.

Lalu menunggu perkembangan keadaan. Kalau-kalau keadaan akan berubah.

Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan “keadaan sudah berubah”.

Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut.

Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita.

Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita.

Ini tentulah akan bergantung kepada :

– apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak.

Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif.

Re-integrasi dalam tiga bidang :

(1) bidang umat,

(2) bidang pemimpin,

(3) bidang kader.

 

2). Bidang Umat

A. Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi umat yang dipancarkan dari “lembaga risalah” warisan Rasul.

Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka  pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluran-saluran lain.

Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu.

Jangan kita lupakan bahwa yang paling  menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani.

Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu.

Untuk merawat luka “kehidupan rohani” itu,  kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada “lembaga risalah” yang hidup dan dapat memancarkan ….?

 

B. Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal.

Yang diperlukan bagi mereka ialah ;

(1).  perhatian dari pada kepala keluarga (jamaah), dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.

(2).  hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa “hubungan moril”.

(3).    menduduk-kan “nawaitu”nya,

Yang tersebut belakangan ini, “menduduk-kan nawaitu-nya” penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi.

Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas,   dengan seseorang yang  melaksanakan kegiatannya, walaupun  sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya.

Yang pertama merasa,  dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko.

Yang kedua merasa, masih merasa  dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu.

Pada umumnya, mendudukkan niat, memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan  idea di bidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada  keimanan.

Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik.

Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar  dalam kalbu masing-masing anggota  keluarganya.

Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup  suburkan rasa dan  kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga.

 

C. Sesungguhnya kita masih banyak  mempunyai saluran tenaga.

Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru…

Dan bisa pula ditambah dengan yang paling baru lagi.

Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain. Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh.

Di samping itu dimana  pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya.

 

 

 

3). Re-integrasi keluarga

Untuk itu re-integrasi di kalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak.

Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak kukunya yang sebenarnya.

Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan “tanda kutip”, dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentang, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi.[1]

Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha re-integrasi di bidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa.

Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsur-angsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu.

Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali.

Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita  paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun  kesal.

Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan “tanda kutip” itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, sebagaimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya.

Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ;

 

“ Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali” …..,

Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 – 99 ….., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia.

Silahkan ulangi mentelaahnya,

kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya ….,

 

Re-integrasi pada niveau (lingkungan/tingkatan) kepala keluarga adalah integrasi selektif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi.

Bukan untuk satu neveau golongan saja,         bukanla keseluruhannya bisa diganti dengan umat yang lebih baik,

Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu.

Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjadi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktor-faktor subjektif.

Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui.

Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu  daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang.

 

Satu dan lainnya dengan semboyan dan tekad;

“yang sulit kita kerjakan sekarang,

“yang tak mungkin, kita kerjakan beresok .….   Insya Allah,

“yang mudah sudah banyak orang lain menger jakannya

Jangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan.

Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan.

Dan di coba lagi maju selangkah,

dan begitu seterusnya ……

Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami.

Tak  perlulah disini “orang tua diajar pula memakan bubur lagi”.

Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif.

Re-integrasi aktif menghendaki aktifitas.

Aktifitas menghendaki bimbingan.

Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat.

Bimbingan harus berdasarkan rencana,

Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data  yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi  lokal,

interlokal (dan sentral dimana bisa) …..

 

 

4). Kader

Zaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya.

Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu.

Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan umat yang akan  lebih panjang  umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu.

Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan sebagai suatu “conditio sine quanon”, ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan.

Satu-satunya jalan itu, ialah ;

Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah.

Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan “zelf – disiplin” mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa.

Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisi-pengisi waktu yang kebetulan berlebih.

Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang “masuk agenda”, yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis.

Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan;

 

(A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh limaan) dulu, syukur.

Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter sebagai bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas – yang akan mereka jalankan itu.

Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h  dalam arti yang luas.

 

Apa yang kita lihat dan rasakn dalam “keadaan” sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan “dasar jiwa” bagi para calon pemimpin umat.

Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji “kalimat ilahi”, akan tetapi lantaran  dasar yang tidak kuat ditengah perjalanan, tertempuh jalan yang disebut “tujuan menghalalkan semua cara”.

Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.

 

(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi “sarjana”.

Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif.

Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan umat ialah “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah umat.

Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang “melek buku” tetapi “buta masyarakat”.

Sedangakn kemahiran membaca “kitag masyarakt” itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata-mata.

Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah umat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat dipelbagai bidang.

Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung umat, dan lambat laun berurat pada hati umat itu.

Makin pagi makin baik ……,

 

Maka ditengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses “timbang terima” secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti.

Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan “api” ialah batu api juga.

 

5). Konsolidasi & Polarisasi

Tenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang telah digiatkan lagi, kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu, hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama.

Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi “mangsa” atau terdesak dalam kompetisi antara bermacam-macam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah  sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh.

Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis.

Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga.

Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh.

Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain.

Kalau  belum bisa dalam bentuk  organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktu-waktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah  serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi “accu”  umat.

Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita.

Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu  disesuaikan dengan tujuan untuk  membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar BA, Drs dan sebagainya.

Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut.

Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman.

Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang efektif, agar jangan asal ramai  orang bershalat jamaah  saja.

Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya.

Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis  ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal.

Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu.

Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ;

Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, dan pembagian tugas menurut bidang masing-masing.

Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara.

Akhirul kalam

Sekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, sebagai landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah.

Adapun tafsri dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya.

Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya.

Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugas-tugas, pelaksanaan, balans, program lagi ….., dan begitu seterusnya.

Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu).

Ini sudah menjasdi sunnatullah,

laa tabdila likhalqillah …..,

Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ;

“  kejayaan jua yang kau  idamkan,

jalan mencapainya kau tempuh tidak,

Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering.

Bismillah …..

 


[1] (Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai  “salon politik” yang menjadikan pemimpin amateur).

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: