Sekelumit perjalanan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia MERASAKAN LEZAT HUBUNGAN ROHANI

 

Hubungan jiwa antara pemimpin dan yang dipimpin tidak dijalin dengan suatu pidato jawaban yang panjang‑panjang, supaya sesuai gayung dengan sambut, seperti yang sering di dengar dalam acara‑acara resepsi. Akan tetapi melalui satu perhubungan rohani yang teguh dan ikhlas, yang terbit dari cita‑cita hendak bersama‑sama dalam kegembiraan dan kedukaan, hendak sesakit dan sesenang, hendak sehidup dan semati.

Berbahagialah seorang pemimpin yang mempunyai hubungan bathin seperti itu, dengan ummat yang dicintainya dan mencintainya. Beruntunglah pula satu umaat yang ditengah‑tengahnya ada pemimpin tempat mengarahkan perasaan suka di waktu senang, menunjukkan perasaan duka di zaman susah. Alangkah  lezatnya hubungan rohani semacam itu, hubungan rohani yang terbit dari se‑cita‑cita dan se‑aqidah.

Hubungan rohani yang seperti itu bertambah  dalam artinya dan tidak kurang kekuatannya bila datang marabahaya yang menimpa satu ummat. Sebab dalam  kenang‑kenangan ummat itu kesusahan yang sama diderita lebih dalam bekasnya daripada kesenangan yang sama‑sama dirasai.

Pertalian rohani yang seperti itu terbit dari satu hubungan yang rapat berdasar kepada sama harga menghargai. Timbul dari nasib yang satu, dari kebudayaan yang satu,  yang telah terjalin dan berlapis dalam sejarah ummat sampai menjadi satu pusaka lama harta bersama, aqidah yang sama  ‑  sama hendak diperlindungi dan dipertahankan.

Apabila cita‑cita dan pertalian rohani itu sudah menjadi ikatan yang dipertalikan oleh perjalanan  sejarah, maka waktu malapetaka datang menimpa tidak ada beban berat yang tak mungkin terpikul, tak ada korban besar yang tak mungkin direlakan oleh semua yang ada dalam ikatan, untuk memelihara keselamatan bersama untuk mencapai kejayaan bersama. Sungguh lezat  hubungan rohani yang seperti itu.

Luruskan Niat

Akan tetapi kelezatannya tidak mungkin dikecap selama belum lengkap syarat dan rukunnya, yaitu aqidah dan ukhuwwah. Suatu bentuk dan susunan hidup  berjamaah yang diredhai Allah yang dituntut oleh syari’at Islam, mengikuti jejak Risalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan tuntutan Kitabullah.

Kita sekarang merintis merambah jalan guna menjelmakan hidup berjamaah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khutbah alim ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia. Kita rintiskan dengan cara dan alat‑alat sederhana tetapi dengan api cita‑cita  yang berkobar‑kobar dalam dada kita masing‑masing.

Ini nawaitu kita dari  semula. Ia murah, tapi tak dapat dibeli. Ia dekat, tapi tak mungkin dicapai, sebelum terpenuhi bahan dan ramuannya. Tak mempan disorongkan dengan perintah halus atau yang semacamnya itu. Kita jagalah agar api nawaitu itu jangan padam atau berobah di tengah jalan. Kita ikatkan ukhuwwah yang ikhlas bersendikan Iman dan Taqwa. Maka, tidak seorang pun yang berpikirkan sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap  penjelmaan masyarakat yang semacam itu.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah dan kita kerjakan tetapi tujuan nawaitu nya kita anjak. Semoga dijauhkan Allah jualah kita semua dan  keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan. Amin.

 

Bulatkan Persaudaraan

Telah beberapa masa zaman berganti. Empat dasawarsa telah ditempuh. Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh pengalaman‑pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian tumbuhlah semangat dalam hati;

“rasa berpantang putus asa, bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati, dengan tekad tidak berhenti sebelum sampai, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

Dalam perjalanan di “rimbo masang”, sesudah semua orang turun meninggalkan tempat ijok, dalam keadaan sulit dan jumlah jamaah kecil hanya tujuh orang dalam perjalanan perjuangan menentang resiko untuk menghidupkan perjuangan, kebulatan tekad itu tumbuh dengan hasil musyawarah juga. Hanya dengan memelihara bulat persaudaraan dalam ikatan jamaah, baik sebagai perseorangan maupun untuk kesejahteraan masyarakat kita bersama seluruhnya.

Tidak aa tempat dalam hidup jamaah itu ber‑belakang‑belakangan, hidup dengan tidak indah meng‑indahkan antara satu dengan yang lain, apalagi hidup bertentangan, hidup berebutan, yang seorang mengharapkan untung atau merasa bangga atas kerugian orang yang lain. Tolong menolong adalah adat dunia yang hendak selamat! Bukan perebutan hidup yang harus menjadi pokok pangkal dari pada hidup berjamaah itu, melainkan berlomba‑lomba berbuat baik, membanyakkan manfaat bagi sesama manusia seperti tersebut dalam Hadist;

Sebaik‑baik manusia ialah orang yang paling banyak bermanfaat bagi sesama manusia“.

Adalah satu rahasia yang akan menyampaikan manusia kepada suatu kemenangan. Kemenangan itu adalah kelanjutan dan buah dari pada jihad, seperti beras menjadi buahnya batang padi. Mustahillah orang tiada menanam padi akan menemukan beras. Maka demikian pulalah mustahillah manusia yang tiada berjijad akan mendapatkan kemenangan.

Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan sebenar‑benarnya jihad! Dia telah memilih kamu. Tuhan tiada menjadikan sesuatu kesukaran dan kesempitan dalam agama! Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim. Allah telah menamai kamu sekalian orang‑orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al‑Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu. Dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (bahwa kamu adalah Muslim). Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. DIA adalah pelindungmu! Maka DIA lah sebaik‑baik Pelindung dan sebaik‑baik Penolong“. (QS. Al Hajj:78).

Kini telah datang waktunya bagi ummat menyingsingkan lengan bajunya bekerja sungguh‑sungguh, merampungkan  sekian banyak bengkalai yang belum jadi. Permulaan jadi adalah meninggalkan enggan dan nilai, menyalakan giat dan shabar memikul tugas kewajiban.

Maka ada baiknya bila seorang mengambil pelajaran dari kesulitan‑kesulitan dan kepayahan  yng telah diderita oleh kaum‑kaum yang telah lalu itu, dan memperhatikan bagaimanakah ikhtiar mereka menyelesaikan tiap‑tiap kesulitan itu, baik berhasil atau tidak. Dengan demikian kita akan lebih tenang berhadapan dengan bermacam‑macam arus dikeliling kita. Dan akan lebih teguh pendirian kita, bilamana pada satu masa berjumpa dengan gelombang yang mungkin datang menjelma pula pada tiap‑tiap zaman yang mendapat giliran dari Ilahi.

 

MULAI  DARI APA YANG BISA

Tokoh‑tokoh masyumi sudah dibebaskan dari penjara, tetapi tetap diawasi ketat. Media massa diminta supaya tidak menyiarkan pendapat tokoh‑tokoh Masyumi. Bagaimana menerobos blokade ini. Memanfaatkan forum‑forum khutbah, kuliah subuh, ceramah umumm, mengantisipasi perkembangan‑perkembangan aktual di dalam maupun di luar negeri.  Disiarkan melalui Brosur Da’wah yang diterbitkan oleh Sekretariat Dewan Dakwah.[1]

Dengan cara kerja seperti itu, tidak mengherankan kalau kadang‑kadang informasi Dewan Dakwah ke daerah,  lebih cepat ketimbang informasi pemerintah pusat. Orang banyak bertanya‑tanya, dari mana Dewan Dakwah punya dana. Kalau boleh terus  terang, kita tidak punya dana. Tetapi, itulah. Kalau kita mulai kita mulai mengerjakan sesuatu, ada saja orang yang membantu. Untuk memutar stensil kita numpang. Kemudian Persatuan Dagang Tanah Abang (Perpeta) menyumbang sebuah mesin stensil, Syamsuddin seorang dermawan mewakafkan sebuah mesin tik dan tape recorder, ada yang menyumbang kertas, menyumbang stensil, menyumbang tinta untuk mengoreksi, dan lain‑lain. Banyak modal terkumpul, semuanya betul‑betul dari ummat. Bapak Natsir selalu mengatakan, “Tiap‑tiap kita adalah dai pengemban tugas dakwah. Tukang becak yang muslim, mempunyai tugas dakwah. Ialah menjemput dan mengantar pulang ustadz dalam suatu pelaksanaan dakwah. Saudara merbot masjid mungkin buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi, tugas membersihkan masjid, mengurus air masjid, menjaga keamanan sandal, adalah termasuk pelaksanaan dakwah. Merbotlah yang mengurus semua itu. Dengan tugas itu, merbot menjadi dai. Yang jadi pejabat atau pegawai, dia adalah dai. Karena dengan kedudukannya, pelaksanaan  dakwa dapat berjalan lancar. Yang kaya, yang mendapat kekayaan dari Allah swt, mungkin tidak bisa naik mimbar, tetapi dengan infaknya dia menjadi dai”. MPRS akan bersidang. Kepada para anggota MPRS itu hendak disampaikan pengertian bahwa demokrasi itu hanya bisa hidup kalau dijalankan di bawah hukum. Pak Natsir berpidato tentang “Demokrasi di Bawah Hukum”. Naskah pidato tersebut kepada para anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Semesta (MPRS). Bagaimana cara membagikannya? Anak‑anak Pelajar Islam Indonesia  (PII). Biar kami yang mengantarkan ke penginapan para anggota MPRS.[2] antara lain dengan mobil salah seorang Wakil Ketua MPRS, Subchan Z.E.

Pidato Pak Natsir tersebut perlu rasanya disampaikan sebagai sumbangan pikiran dari Dewan Dakwah. Kepada seorang pengusaha ditawarkan. “Tolonglah Saudara menjadi dai. Dai untuk masalah politik yang tinggi”.

“Tolonglah cetak ini, 2000 eksemplar. Kepada para anggota MPRS. “Kalau begitu, saya biayai, selesai dicetak, berdatanglah para pemuda siap mengantarkan ke alamat‑alamat di tempat mereka menginap. Maka sampailah brosur kita ke tangan para anggota MPRS. Si kaya telah memberikan uangnya. Si pemuda pelajar memberi tenaganya.

 

Diwaktu itu, orang masih takut terlibat politik. Dewan Dakwah memperingatkan, terutama kepada para dai, “Kalau memang Saudara‑saudara merasa tidak perlu ikut berpolitik, biar tidak usah berpolitik. Tetapi saudara‑saudara jangan buta politik. Kalau Saudara‑saudara buta politik, Saudara‑saudara akan dimakan oleh politik. “Inilah juga di antara yang disampaikan oleh Dewan Dakwah. Dewan Dakwah selalu ikut memberikan sumbangan pemikiran. Rancangan Undang‑undang (RUU) Perkawinan, Pendidikan Moral  Pancasila (PMP), RUU Sistem Pendidikan Nasional, RUU Peradilan Agama. Dengan cara 24 jam, kita mengembangkan Dewan Dakwah. Otak Dewan Dakwah ini Pak Natsir, Buchari Tamam kepala dapurnya dan para pemuda sebaga tenaga lapangan. Dewan Dakwah juga melakukan pengaderan. Pembinaannya diserahkan kepada Ikatan Masjid Indonesia (IKMI). Kita sangat terkesan cara kerja Pak Natsir. “Yang mudah kita kerjakan sekarang. Yang sulit kita kerjakan besok. Yang mustahil kita kerjakan kemudian. “Jadi, Pak Natsir tidak pernah mengenal putus asa dalam me‑laksanakan program. Pak Natsir tak pernah memulainya degan berpikir tentang dana. Dia memulainya dengan membuat rencana. Mulai dulu, dari yang kecil. Kalau sudah dimulai, nanti akan bertemua dengan berbagai masalah.

Yang mula‑mula dikerjakan Dewan Dakwah hanyalah memperbanyak khutbah. Dengan itu Pak Natsir memulai kontak dengan teman‑teman di segala penjuru. Dana kegiatan ada dikantong pendukung, mereka akan ikhlas mengeluarkan kebulatan tekad untuk melaksanakan rencana. Faidzaa ‘azamta fatwakhal ‘ala Allah. Masalah‑masalah nasional yang semula kurang mendapat perhatian kita  angkat ke permukaan dengan cara positif. Dewan Dakwah datang dengan model alternatif seragam yang Islami.[3] Dewan Dakwah bukan organisasi politik, tetapi dari segi dakwah kita tidak dapat berpangku tangan. Selepas dari tahanan rezim Orde Lama, Pak Natsir mengunjungi berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dan sambutan yang diterima Pak Natsir, selalu meriah. Kenyataan‑kenyataan tersebut segera saja melenyapkan isu bahwa Pak Natsir telah kehilangan tempat di hati umat akibat peristiwa PRRI. Yang terjadi justru kebalikannya. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sampai sekarang dan insya Allah sampai kapanpun, tetap membangun umat, sesuai kemampuan maksimal yang kita miliki.

 

Beberapa Kegiatan

Usaha‑usaha yang telah digarap. Yang Pertama, mem‑perluas pengertian dakwah bahwa dakwah luas artinya. Mencakup selurus aspek kehidupan Q.S Al‑Anfal ayat 24.

Bapak Natsir sebagai ketua Dewan Dakwah mengungkapkan sejarah, bahwa dakwah pada hakikatnya ialah kelanjutan dari risalah Nabi Besar Muhammad SAW. Rasulullah diutus oleh Allah SWT kepada masyarakat manusia di dunia, tujuannya ialah untuk menggarap selurus aspek kehidupan. Yang kedua, mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan masyarakat. Dewan Dakwah datang mengingatkan kembali, masjid merupakan pusat pembinaan umat, sesuai fungsi masjid yang diteladankan oleh Rasulullah SAW. Dewan Dakwah memberi contoh dengan berkantor di masjid Al‑Munawarah. Dari sudut kecil itulah digarap semua kegiatan Dewan Dakwah.

Yang Ketiga, Dewan Dakwah memberi pengertian kepada jamaah bahwa tugas dakwah adalah fardhu ain bagi setiap muslim. Yang keempat, menggiatkan dan meningkatkan mutu dakwah. Dewan Dakwah berusaha meningkatkan mutu dan kegiatan dakwah. Ulama‑ulama dan dai dari daerah‑daerah diadakan diskusi untuk memperluas pengertian mereka tentang dakwah. Untuk membuka cakrawala pemikiran yang selama ini terbelenggu oleh ketakutan, tekanan komunis dan Orde Lama yang diktator. Untuk menggarap dakwah di daerah‑daerah rawan, seperti daerah transmigrasi dan daerah‑daerah ter‑belakang, disedikan para dai yang dilatih khusus antara sebulan sampai dua bulan di Pesantren Pertanian “Daarul Fallah”, Ciampea, Bogor, untuk meningkatkan pelajaran dan pendidikan agama bagi mahasiswa di perguruan‑perguruan tinggi, Dewan Dakwah menatar dosen‑dosen mata kuliah umum dengan maka kuliah agama Islam. Kita juga mencari kontak ke luar negeri untuk mendapatkan buku‑buku standar di bidang agama. Sesungguhnya upaya pengadaan perpustakaan Islam telah dirintis oleh Dewan Dakwah sejak 24 tahun yang lalu. Dewan Dakwah juga berpikir untuk menggerakkan dakwah bil hal. Dengan cara membangun masjid‑masjid sebagai markas perjuangan umat. Membangun madrasah‑madrasah, membangun rumah sakit di Sumatera Barat, di Jawa Tengah, di Riau, di Lampung. Lembaga‑lembaa pendidikan keterampilan Pesantren Pertanian “Darul Fallah” di Bogor. Lembaga Keterampilan di Batu Marta Sumatera Selatan. Yang kelima, meningkatkan usaha pembentengan/pembelaan akidah umat. Berkeliaran hama‑hama yang akan merusak dan mencuri tanaman kita. Hama yang kita maksud ialah berupa para penyebar agama selain Islam. Sekularisme, orientalisme, komunisme, marksisme, serta pemikiran‑pemikiran yang menyempal yang pada Islam Jamaah, Inkarussunah, Isa Bugis, Syi’ah, dan lain‑lain. Masalah al ghazwul fikr (perang pemikiran). Dewan Dakwah mengambil peranan khusus. Dijawab oleh Pak Rasjidi dengan tulisan, tampil pula Pak Natsir, Pak Zainal Abidin Ahmad, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Pak Bahder Djohan, Pak Deliar Noer dan Pak Daud Ali. Dilanjutkan lagi oleh generasi yang lebih muda para alumni Timur Tengah. Buah tangan mereka yang memperkaya khazanah perpustakaan Islam, melalui Dewan Dakwah. Walau secara berkecil‑kecil di markas Dewan Dakwah Pusat sudah ada beberapa penerbitan yaitu Media Dakwah, Suara Masjid, Sahabat, Bulletin Dakwah, Serial Khutbah Jum’at, lengkap dengan toko bukunya. Menghadapi perang pemikiran, Dewan Dakwah bahkan telah membentuk tim “Ghazwul Fikri”. Dalam soal difa’ (pembelaan) ini diawal Dewan  Dakwah mencanangkan jihad difa’, malah banyak yang menantang. Pada akhirnya banyak juga yang terbuka hatinya, dan mendukung apa yang dicanangkan Dewan Dakwah. Walaupun telah banyak korban jatuh, tetapi kesadaran tidak pernah terlambat, asal mau memburu ketinggalan.

Yang keenam, membangkitkan ukhuwah Islamiyah al’Alamiyah. Membangkitkan ukhuwah Islamiyah internasional. Di seluruh dunia ada umat Islam. Di lima benua ini ada umat Islam. Jumlahnya hampir seperempat penduduk bumi. Lebih kurang satu milyar. Membangkitkan kesadaran inipun dilakukan oleh Dewan  Dakwah dengan mengadakan perjalanan muhibbah ke negara‑negara Islam di seluruh dunia. Terutama ke Timur Tengah, ke Saudi Arabia, ke Kuwait, ke Libya, ke Irak, ke Palestina melihat langsung keadaan umat Islam di sana. Dewan Dakwah menggerakkan umat Islam Indonesia, mengumpulkan bantuan apa saja. Tumbuhlah rasa ukhuwah Islamiyah internasional, bagaimana nasib umat Islam di Indonesia?

Dewan Dakwah mengungkapkan kepada saudara‑saudara kita di belahan dunia lain, bagaimana ghazwul fikr yang tengah melanda umat Islam di Indonesia dewasa ini. Umat Islam yang masih terikat kebodohan. Disamping miskin sarana‑sarana dakwah, langkanya dai yang terampil, rumah sakit tempat penampungan pasien yang lemah yang sering jadi sasaran empuh missi dan zending. Dakwah paling sedikit telah mengirim 500 pelajar ke berbagai negeri di Timur Tengah. Beberapa ratusan masjid yang dibangun oleh Dewan Dakwah dengan bantuan saudara‑saudara kita di Timur Tengah, terutama dari Kuwait, dan Saudi Arabia. Inilah hasil ukhuwah Islamiyah internasional.

Waktu Kotobato, kota universitas Islam di Filipina Selatan dibakar habis oleh pasukan Presiden Ferdinan Marcos yang Katolik, kita kirimkan Qur’an itu untuk mengganti Qur’an yang terbakar di universitas Islam Filipina Selatan. Tumbuhlah lagi ukhuwah Islamiyah dengan tetangga kita di utara itu kita lakukan dalam membina ukhuwah Islamiyah internasional.

 

Menuju Ummat Teladan

Dewan Dakwah tidak hanya membangun hal‑hal yang kongkrit. Dewan Dakwah juga menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Dakwah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti rumuah sakit, pesantren, kebun‑kebun pecontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, kampus pendidikan, penerbitan, dan lain‑lain. Semuanya itu mempunyai jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan.

Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Dakwah. Padahal lembaga‑lembaga itu dibangun oleh Dewan Dakwah. Kalau kerja sama telah dapat kita wujudkan, keadaan  akan lebih menguntungkan. Yang telah memberi buah begitu besar kepada kaderisasi dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah kita mewujudkan kekeluargaan Dewan Dakwah dengan mengikat amal‑amal nyata yang telah sama‑sama kita bangun. Apa yang telah kita kerjakan bisa berkembang dengan sebaik‑baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Dakwah yang berupa ummat tauladan di Indonesia di  masa datang.

 

 

 

 

Tidak Hanya Timur Tengah

Waktu Kotobato, kota universitas Islam di Filipina Selatan dibakar habis oleh pasukan Presiden Ferdinan Marcos yang Katolik, kita kirimkan Qur’an itu untuk mengganti Qur’an yang terbakar di universitas Islam Filipina Selatan. Tumbuhlah lagi ukhuwah Islamiyah dengan tetangga kita di utara itu kita lakukan dalam membina ukhuwah Islamiyah internasional.

 

Menuju Ummat Teladan

Dewan Dakwah tidak hanya membangun hal‑hal yang kongkrit. Dewan Dakwah juga menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Dakwah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti rumuah sakit, pesantren, kebun‑kebun pecontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, kampus pendidikan, penerbitan, dan lain‑lain. Semuanya itu mempunyai jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan.

Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Dakwah. Padahal lembaga‑lembaga itu dibangun oleh Dewan Dakwah.

Kalau kerja sama telah dapat kita wujudkan, keadaan  akan lebih menguntungkan. Yang telah memberi buah begitu besar kepada kaderisasi dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah kita mewujudkan kekeluargaan Dewan Dakwah dengan mengikat amal‑amal nyata yang telah sama‑sama kita bangun. Apa yang telah kita kerjakan bisa berkembang dengan sebaik‑baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Dakwah yang berupa ummat tauladan di Indonesia di  masa datang.


[1]. Juru bicara kita waktu itu, selain Pak Natsir sendiri, ialah Pak H.M. Rasjidi, Pak Abdullah Salim, Pak Muchtar Lintang, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Buya Malik Ahmad, Kiai Taufiq, dan lain‑lain.

[2].  M.Natsir, Demokrasi di Bawah Hukum, Media Da’wah, Jakarta, Cetakan Pertama, 1407/1987, 29 halaman.

[3]. Uraian Mohammad Natsir tentang Q.S. Al‑Ankabut: 69, lihat antara lain Serial Media Dakwah No. 190 Ramadhan 1410/April 1990, halaman 36‑37.

 

 

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: