Risalah Memulai, Dakwah Melanjutkan

Dakwah adalah satu kata yang hanya bertemu dalam Al‑Quran, artin­ya mengajak. Ajakan dakwah adalah kepada Allah melalui ajaran Islam.

Al‑Quran menjelaskan secara tuntas kata‑kata dakwah ini sebagai suatu  ahsan qaulan yang bermakna ucapan yang baik (ihsan). Bila lebih jauh kita mengartikan, ihsan itu adalah bahwa: “Kamu men­yembah Allah seakan kamu lihat Allah di depanmu. Tetapi, kamu tidak akan mungkin bisa melihat Allah itu di depanmu, namun kamu harus yakin bahwa Allah senantiasa melihatmu.”  Begitulah rumusan ihsan menurut Rasulullah.

Seorang anak gembala berdialog dengan Umar ibn Khattab ra, di tengah‑tengah kambing gembalaannya yang diajuk khalifah untuk menjual atau memberikan sekor saja dari ribuan gembalaannya, dengan imbalan yang sangat memadai. Si anak gembala menampik ajakan khalifah ini dengan alasan sederhana, bahwa tugasnya hanya menggembala yang tidak punya wewenang sebagai pemilik.

Umar mendesak, karena pemiliknya jauh dan tak terlihat, rasa tidaklah salah kalau dia mengambil manfaat dari kesempatan yang tengah terbuka itu.

Anak gembala itu menjawab tangkas, “Benar pemiliknya tak berada di sini. Pemiliknya juga tak mungkin menghitung berapa jumlah gembalaan yang ada. Pemiliknya bisa saja aku tipu. Tetapi fa aina Allah? (bagaimana dengan Allah?). Apakah Dia juga tidak melihat?”

Anak gembala ini terlepas dari sikap korupsi dan kolusi, hanya dengan sifat ihsan (lihat Athar Shahabi).

Seorang dai, dalam setiap qaulan‑nya ataupun fi’lan‑nya, yakni perkataan dan perbuatannya, senantiasa akan berbekas, manakala diwarnai oleh sifat‑sifat ihsan tersebut.

Inilah kiat dakwah Rasulullah saw.

Dakwah kepada Islam bermakna dakwah kepada mengamalkan syariat Islam. Setiap umat Islam tidak dapat tidak mempunyai kewajiban asasi, yakni melaksanakan syariat Islam sebagai tuntutan Allah dan tuntunan dienul Islam.

Al‑Quran menegaskan, hendaklah kamu menjadi satu umat yang ber­dakwah, mengajak kepada Islam (al‑khairi) serta menyuruh dengan yang ma’ruf (yakni yang haq dari Allah), kemudian tegas melarang dari yang mungkar (yang jelas diharamkan oleh syariat).

Dakwah bukanlah kepandaian semata, dengan ukuran intelektualita ataupun kepintaran retorika (berpidato). Dakwah adalah contoh, perbuatan nyata yang diikut oleh umat dakwah dalam membentuk suatu tatanan yang disebut khaira ummah, yakni ummat yang berkua­litas sepanjang zaman.

Itulah umat pilihan, yang menjadi beban dan tugas dai membentukn­ya bila belum terbentuk, dan tugas dai pula membinanya dan meme­liharanya, bila umat itu sudah terbentuk.

Tiada pilihan lain, kuncinya terletak kepada kesadarn dan kere­laan setiap dai mengikut uswah yang telah ditinggalkan Rasulullah saw. Inilah maknanya Risalah memulai, risalah memulai, dakwah melanjutkan.

Semoga Allah senantiasa meredhai kita.

MEMBANGUNKAN POTENSI UMAT

Masjid Almunawarah Kampung Bali I No.56 Tanah Abang  Jakarta, adalah tempat pertemuaan anatara umat dan pemimpinnya. Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Pebruari 1967, telah berdiri  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).  Lembaga ini didirikan oleh para ulama dan tokoh-tokoh Islam  dalam bentuk Yayasan dan Mohammad Natsir dipercayakan sebagai Ketua Umum.

DDII didirikan dengan semangat jihad dalam bentuk moderat (bapirau), selepas kebangkrutan politik Nasakom  orde lama.. DDII diharaapkan sebagai penampung aspirasi keluarga besar Bulan Bintang,  sesuai dengan  apa ayang pernah diucapakan  oleh  Ketua Umumnya : Dahulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui dakwah.  Bubarnya partai Masyumi  adalah salah satu korban politik orde lama, karena menurut Persahi waktu itu secara yuridis formil dan yuridis materil ,Masyumi tidak beralasan untuk dibubarkan. Dalam rangka menumbuhkan kembali potensi umat yang sudah terkoyak-koyak pada masa peralihan dari orde baru ke orde lama, barisan harus dirapatkan kembali sesuai dengan Firman Allah SWT : “ Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan Nya dalam barisan yang teratur, seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa berjuang di jalan Allah itu harus bersatu dalam organisasi yang kokoh kuat, sehingga tumbuhlah potensi umat yang kuat pula.. Maka untuk menhimpun kembali potensi keluarga besar yang sudah bercerai berai itu,  haruslah dengan kerja keras melalui tahap-tahap kegiatan  sebagai berikut :

I. KEGIATAN KONSERVASI

Mencari dan mengajak kembali semua tokokh-tokoh dan           pemimpin umat (stok lama) dserta keluarga besar dari seluruh tingkat. Usaha konversi  tidak boleh terhenti  sampai selesai, agar tidak terjadi proses “pembusukan”. Proses ini terlihat menggejala pada sebahagian anggota keluarga yang sempat uzlah atau hanyut bersama arus zaman.

II. KEGIATAN RE-INTEGRASI

Dari kegiatan konservasi yang pasif, supaya segera dilanjutkan  dengan usaha  re-integrasi  yang aktif., yaitu kegiatan menghimpun kembali  anggota keluarga yang sudah berserakan. Pada preode ini akan ada yang mengeluh : Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Sepertinya mereka sedang menunggu gong perobahan yang belum tentu kapan akan berbunyi, dan siapa yang akan memukul gong tersebut.  Usaha re-integrasi meliputi tiga bidang :

1.   Bidang re-integrasi umat ;

2.   Bidang re-integrasi pemimpin ;

3.   Bidang re-integrasi kader.

A. Re-integrasi umat :

Akibat korban politik orde lama, yang paling dirasakan oleh umat adalah penderitaan kehidupan rohani, disamping penderitaan kehidupan materi. Walaupun pada hari ini penderitaan kehidupan  materi sudah mulai agak sembuh, namun penderitaan kehidupan rohani terasa semakin parah, sehingga usaha untuk membangunkan potensi umat semakin berat. Kemana obatnya mau dicari?  Tidak usah

dicari kemana-mana,  karena salah satu obat penderitaan rohani  adalah dengan meluruskan niat. Namun perlu diingat bahwa nawaitu orang yang berpindah perahu dengan anggapan bahwa perahu yanag dahulu sudah kandas, berbeda dengan nawaitu orang yang berpindah perahu, akan tetapi masih  mau memikirkan nasib umat. Biarlah bertukar lambangnya asal tidak bertukar jiwanya., insya Allah ia tidak akan bernafas keluar badan (tidak bergayut).

B. Re-integrasi pemimpin :

Pemimpin umat masih banyak, tapi yang langka itu adalah pemimpin panutan. Ulama tidak langka, yang langka adalah ulama kharismatik. Kharisma seorang ulama atau pemimpin antara lain ditentukan oleh : Satu kata dengan perbuatan, punya prinsip/pendirian hidup, selalu berorientasi kepada kebenaran, dan selalu memikirkan nasib umat. Pemimpin  yang dibutuhkan di zaman ini ialah yang mampu melakukan re-integrasi umat dan berkemampuan tampil  sebagai : Konseptor, Organisator, Administrator, Penyandang/Pengumpul dana. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah pimpinan kolektif, bukan pimpinan yang terletak pada satu tangan.

C. Re-integrasi kader :

Pada setiap zaman ada rijalnya. Bagaikan pertunjukan seni pentas, babak demi babak akan beralih, pemain bisa berganti, bahan cerita selalu bertukar,  namun khittah tidak boleh berobah. Mempersiapkan kader sebagai pemain di pentas sejarah, antara lain perlu dilakukan :

1. Mempersiapkan jiwa kader (sejak dini) ;

2. Melengkapkan pengalaman mereka ;

3. Mencetuskan cita-cita

4. Menggerakkan dinamika ;

5. Menghidupkan self disiplin berlandaskan iman dan taqwa.

Menggarap lima poin tersebut bukanlah pekerjaan sambilan, akan tetapi dihadapi secara serius dengan meneyediakan waktu yang cukup memadai.. Untuk mengujudkannya perelu diperhatikan dua hal :

1.  Perlu diakui bahwa para kader sekarang sudah mengecap berbagai lapangan ilmu   pengetahuan  dengan berbagai disiplin ilmu. Namun sekali-kali tidak  boleh ditolerir setiap sikap yang melecehkan iman dan taqwa. Jangan menghalalkan segala cara. Serahkan kepada mereka penji-panji perjuangan, akan tetapi jangan sampai panji-panji itu terinjak oleh kaki orang yang membawanya.

2. Para kader sudah mampu mengurai berbagai teori sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka kuasai. Kita butuh kepada teori namun yang lebih dibutuhkan lagi adalah kemampuan berkecimpung ditengah-tengah umat, sehingga umat mengaggap bahwa yang berkecimpung itu adalah anak kandungnya. Memang para sarjana itu melek buku, akan tetapi sebahagian mereka buta kepada buku masyarakat. Membaca kitab masyarakat tidak dijumpai di bangku kuliah. Mereka harus memahami denyut jantung masyarakat yang pada gilirannya, mereka akan berurat di hati masyarakat itu. Jangan salah memilih kader, karena yang akan dapat mencetuskan api adalah batu api, bukan batu apung. Maka ditengah-tengah dinamika masyarakat tersebut lakukanlah serah terima antara generasi yang akan pergi dengan generasi pelanjut. Patah tumbuh hilang barganti.

III. KEGIATAN KONSOLIDASI DAN POLARISASI

Terhadap kepada kelompok-kelompok masyarakat (umat, pemimpin dan kader) yang sudah terintegrasi tersebut  segera di lanjutkan dengan usaha konsolidasi (menyatukan yang sudah terkumpul). Selanjutnya ditingkatkan dengan usaha polarisasi (saling mengkutub bagaikan magnet). Terakhir lakukanlah usaha koordinasi bagi kegiatan yang sejenis. Satukan pahan dan langkah,  diatur pembagian pekerjaan, dengan wajah, khitthah dan strategi yang satu, sehingga accu umat tidak pernah kosong. Selama accu umat selalu terisi, itulah yang dinamakan umat yang berpotensi.

Dalam menggarap semua kegiatan tersebut diatas jangan lupa bahwa :

1.   Re-integrasi merupakan aktivitas awal yang harus dipersiapkan secara matang.

2.   Setiap aktivitas perlu bimbingan.

3.   Bimbingan selalu berpedoman kepada rencana yang sudah dipersiapkan.

4.   Rencana atau program mengandung fakta dan data yang akurat.

Setiap akan memulai suatu pekerjaan apalagi kerja besar, Bapak Mohammad Natsir pernah berpesan :

– Yang sulit kerjakan sekarang;

– Yang tidak mungkin kerjakan besok, Insya Allah;

– Yang mudah serahkan kepada orang lain.

Kejayaan juga yang kau idamkan,

Jalan mencapai kau tempuh tidak,

Betapakah kapal akan berlayar di tanah kering.

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: