Pemimpin Pulang


Bapak DR.Mohamad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”, pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Wakil Presiden  Muktamar Alam Islami,  Ketua Umum Partai Masyumi yang dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960, selalu memesankan setiap pribadi pemimpin selalu teguh (istiqamah) dalam pendirian.

Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya menghidupkan jiwa umat, agar selalu terjaga ruhnya tetap hidup, Bapak Mohammad Natsir, mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis tentang kriteria pemimpin yang pulang itu. “Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan. Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.” Maka dia harus bersyukur kepada Allah, dengan selalu menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya. Dia tidak boleh berhenti.

Ada pula yang, “Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran), atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya”. Seorang pemimpin penjuang, semestinya memiliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya. Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.

Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin, terpaksa harus menyerahkan jasadnya. Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya. Karena itu, ada pemimpin,  “Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”. Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah. Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, berlindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.

Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati. Pemimpin yang sedemikian, kata Pak Natsir , serupa dengan ”Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul. Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur. Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang. Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti. Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”

Namun, ada pemimpin pejuang yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya. Mereka itu “Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang.” Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus. Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat depan, tetapi menyerong. Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar. Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya, walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang.. Pesan ini disampaikan beliau dalam satu ungkapan indah di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid    1381. Setahun setelah Masyumi membubarkan diri. Demikianlah suatu sunnatuillah di bebankan kepundak pejuang untuk selalu di ingat oleh  pemimpin pejuang.

Padang, Juni 1999.

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: