PEDOMAN PEMULIHAN TENAGA TERPELANTING [1]

 

 

Ada ratusan ribu, kalau tidak milyunan, tenaga-tenaga yang terpelanting sekarang ini. Ada puluhan ribu yang sudah gugur. Banyak tenaga-tenaga yang invalid. Ada pula yang masih dalam tahanan. Puluhan ribu rumah yang terbakar hangus.

Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang sedang direncanakan oleh “yang berwajib” untuk menyalurkan  tenaga-tenaga yang terpelanting itu, dan lain-lainnya, timbul pertanyaan, apakah kita boleh pasif saja sambil menunggu-nunggu apa yang akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” ?

Jawabnya ; tidak !

Tidak boleh kita pasif. Pertanggung jawab moral kita tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, baik dibidang sipil atau dibidang militer tadinya.

Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani  kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedang teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.

Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat kita lakukan dibidang ini? Sedangkan kita tidak mempunyai apa-apa. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa.

Memang.  Tetapi ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpim dari orang ‘awam.

Makanya kita dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal. Kita memiliki dan seharusnya memiliki;

a. Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

b. Daya-pikir dan daya-cipta

c. Cara hidup yang bersih

d. Akhlak dan budi pekerti yang baik.

e. Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa umumnya

f. Ras setia kawan yang telah pernah  terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup, khususnya.

Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uap atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri mereka yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi mereka selama ini.

Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya.  Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.

Kalau ini sudah kita sadari, maka kita dapat membagi-bagi tenaga-tenaga masyarakat yang sedang terpelanting menderita itu dalam berbagai golongan yang kita harus dengan berbagai cara pula.

Apa macam golongan itu ? Ada ;

A. Pelajar dan Mahasiswa

B. Bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil dan Militer.

C. Bekas pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah).

D. Tani, pedagang kecil dan buruh kecil

E. Mereka yang invalid

F. Keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang gugur.

G. Mereka yang masih dalam tahanan

H. Mereka yang kehilangan rumah

Bagaimana menghadapi masing-masing golongan tersebut ?

 

 

 

 

Tata – cara ;

Penyelenggaraan usaha-usaha tersebut diatas memerlukan beberpa hal, baik yang bersifat psychologis  ataupun technis;

1. Buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” kita bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan ini. Tunjukkan minat kepada keadaan mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Andaikata pun kita belum dapat memberikan bantuan kepada mereka sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril kita harus berikan.

Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri agar kita ketika itu, dengan hati yang lebih lega.

Hati yang lebih lega dan kembali berisi harapan niscaya akan menambah himmah mereka untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan mereka dan menghindarkan diri mereka pada perbuatan-perbuatan yang menyalahi hukum Syar’iy atau duniawi. Sekali-kali jangan mereka meninggalkan kita dengan bermacam-macam perasaan, yang mematahkan hati mereka untuk menjumpai kita kembali.

2. Untuk kelancaran usaha pemulihan, diperlukan cara pencatatan yang sederhana dari mereka yang bertebaran itu, mengenai namany, alamatnya, kecakapannya dan lain-lainnya. Catatan-catatan semacam itu diperlukan untuk memudahkan hubungan menghubungkan mereka dengan bermacam-macam bidang pekerjaan, sewaktu-waktu kita mengetahui terbukanya sesuatu kesempatan bekerja atau sumber pencaharian, yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka.

3. Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan informasi dengan mempertajam mata dan telinga dengan hubungan korespondensi untuk mengetahui dimana  ada, atau akan ada kesempatan penyaluran tenaga-tenaga tersebut baik dalam ataupun di luar daerah.

4. Ada seseorang telah terbuka kesempatan penyalurannya dalam suatu bidang pekerjaannya, janga lupa ;

a. meamanatkan kepadanya, supaya dia benar-benar membuktikan kesungguhannya dan senantiasa mempertinggi mutu pekerrjaannya dibidang yang akan ditempuhnya itu.  Dia harus membuktikan bahwa dia adalah salah seorang dari golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hidup, seperti kejujuran dan budi akhlak-akhlak pekerti yang baik.

b. Memesankan kepadanya, supaya bila apabila dia sudah mendapat sumber pencahariannya, jangan dia sendiri tenggelam di dalamnya. Akan tetapi di samping pekerjaannya, hendaklah dia berusaha sedapat mungkin, merintiska jalan bagi teman-teman yang masih bertebaran.

5. Tunjukkan minat kepada usaha-usaha yang telah atau sedang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok berupa perusahaan sendiri, umpamanya dibidang pertanian, peternakan atau perusahaan kecil dan sebagainya. Mereka ini termasuk golongan yang berani merintis dan mempunyai inisiatif.

Gembirakan semangat bekerja mereka dan berilah  dorongan kepada perusahaan kecil yang diselenggarakan dengan tenaga sendiri atau bersama itu. Kumpulkan bahan-bahan mengenai tata kerja dan pengalaman mereka masing-masing yang dapat pula dipergunakan sebagai pedoman bagi teman-teman mereka yang ingin menempuh bidan itu pula.

6. Di dalam beberapa hal, dalam pekerjaan semacam ini mungkin diperlukan menghubungi instansi-instansi resmi. Tidak usah ragu-ragu atau khawatir bila untuk ini diperlukan menghubungi instansi-insntansi itu. Hubungi mereka secara sopan, zakelijk dan correct, dengan tidak menggadaikan martabat pribadi.

Ada dua cara yang dimanapun juga tidak akan mendapatkan penghargaan, yakni ; cara sembrono yang tak tahu aturan, dan cara pengemis yang mintak-mintak dikasihani.

 

Penutup,

1. Barangkali timbul pertanyaan; Kalau begitu macamnya usaha-usaha yang harus diselenggarakan mengingat teman-teman yang banyak itu, lalu bagaimana kita sendiri ?

Jawabnya; Sudah tentu masing-masing kita perlu mengusahakan  agar dapur tetap berasap. Ini kewajiban kita sebagai kepala keluarga. Tetapi dalam pada itu, sudah menjadi pembawaan bagi seorang pemimpin bila ia hendak dianggap sebagai pemimpin bahwa dia terus memikirkan dan mengikhtiarkan kesejahteraan bagi umat yang dipimpinnya, di samping itu berusaha memenuhi kewajiban terhadap diri dan rumah tanggannya sendiri dengan sesatpun tidak memutuskan harapan atau ma’unah dan kerahiman Ilahi dalam keadaan bagaimanapun.

Amal dan ikhtiar kita dalam dua bidang kewajiban ini senantiasa  sejalan dan berjalin. Terkadang-kadang titik berat itu mungkin berkisar-kisar di antara dua bidang itu, menurut tuntutan keadaan disesuatu waktu. Tetapi kedua-duanya tetap terjalin, dalam bagaimanapun juga.

Malah justeru di sa’at serba sulit itulah Umat menghajatkan benar bahwa para pemimpin mereka  dapat dirasakan berada ditengah-tengah mereka dalam suka dan duka, dalam arti; tetap bersama-sama menghadapi persoalan mereka walaupun mereka tahu bahwa para pemimpin mereka itu tidak bisa, dengan serta merta, mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami.

“KAMU HANYA AKAN DAPAT PERTOLONGAN (DARI ILAHI) DENGAN, (MENOLONG KAUM YANG LEMAH DI ANTARA KAMU”[2],

Ini adalah Sunnatullah.

 

“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANG GUNGAN JAWAB ATAS PIMPINANNYA”[3].

Bukanlah begitu peringatan Rasul ?

 

2. Pemikiran-pemikiran (idea) yang tersebut pada pasal-pasal diatas itu belumlah komplet dan limitatif, yakni

tidaklah terbatas hingga itu saja. Satu dan lainnya dikemukakan sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Kita percaya kepada pengalaman-pengalaman daya pikir daya cipta masing-masing kita yang sama-sama menghadapi kesempurnaan lagi dalam praktiknya, sambil berjalan.

Mungkin pula dari apa yang tersebut diatas timbul pendapat seolah-olah apa yang dikemukakan itu adalah barang lama, tidak ada yang baru.

Syukurlah kalau ternyata itu semua adalah hal-hal yang sudah lama dikerjakan orang, dan lantaran itu tentu, kitapun dapat mengerjakannya, asal mau.

Yang sudah terang ialah, bahwa barang yang lama itu tetap bagi kita akan baru, selama kita tidak atau belum kerjakan.

Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan kita ialah ;

– Yang mudah  sudah dikerjakan orang

– Yang sukar kita kerjakan sekarang

– Yang “tak mungkin” kita kerjakan besok

– Dengan mengharapkan hidayat Ilahi.

 

“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

 

TANYA DAN DO’A[4]

 

Tentang hidup di desa ini

Dari dahulu sampai kini

Banyak, cerita ku dengar

Dan pengalaman dan penderitaan dirasa

Hidup dilingkungan bahan bertimbun

Terlena dibuai nyanyian alam

Alpa menggali aneka guna

Meranalah hidup hampir tak punya,

 

 

Dini hari …………….

Dalam upacara ini …………

Berdegup jantungku merangkum tanya

Munajat jiwaku memohon do’a.

Adakah ini mula masanya

— Desauan air sungai ngalau dicelah celah batu ini

Bertukar derum mesin diruang pabrik

— Lambaian bambu mendaduhkan daun-daun ini

Berganti cerobong tinggi mengepulkan asap,

— Gerobak bemo, pedati kayu, ditarik insan mandi keringat

Bertukar rupa truk, dan gerbong menyilang siur,

— Punggung membungkuk meranting tulang mendukung derita

Menjelma manusia manusia baru

Makmur bahagia …….


[1] Pesan Pak Natsir, kepada pemimpin di tengah umat, setelah keluar dari masa sulit, ditulis di Padang Sidempuan pada Pertengahan November 1961,

[2]Innama tunsharuuna wa turzaquuna bi dhu’afaaikum” (Al Hadist).

[3] Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar.

[4] Ditulis oleh Ridha, nama samaran Buchari Tamam, di Balingka.

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: