Natsir dan Pancasila

 

Menurut Mohamad Natsir, “Pancasila di anut sebagai dasar rohani, akhlak, dan susila oleh bangsa Indonesia”.

Masalah pokok adalah masalah tafsiran tentang Pancasila.

Tidak seorang pun, termasuk perumus Pancasila sendiri, yang berhak memonopoli tentang tafsirannya.

Oleh sebab itu, Mohamad Natsir berhak memberikan tafsiran nya pula.

Mohamad Natsir yakin tidak suatu perumus pun yang akan setuju dengan suatu perumusan tentang Pancasila yang berlawanan dengan ajaran agama Islam.

Menguraikan masalah ini lebih lanjut Mohamad Natsir mengatakan ;

Pancasila adalah peryataan dari niat dan cita-cita kebajikan yang harus kita laksanakan, terlaksananya di dalam negara dan bangsa kita.

Maka, apabila di tinjau dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu, adalah menegaskan kepada segala warga negara dan penduduk negara, dan dunia luar, bahwa sesunguhnya seorang manusia tidak akan dapat memulai kehidupannya menuju kebajikan dan keutamaan, kalau ia belum dapat meyadarkan dan mempersembahkan dirinya kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka, bagaimana AL QUR’AN akan bertentangan dengan sila pertama itu, Dalam pengakuan AL QUR’AN, Pancasila itu akan hidup subur.

Satu dengan yang lain tidak apriori bertentangan tapi tidak pula indentik (sama).

Berlainan soalnya, apabila sila itu hanya sebagai buah bibir, bagi orang-orang yang jiwanya skeptis dan penuh ironi terhadap agama.

Bagi orang ini dalam ayunan langkahnya yang pertama ini saja sudah lumpuh ….yang tinggal adalah kerangka Pancasila…..

Dan, ia (Mohamad Natsir) pun menyerukan kepada umat agar tidak mempertentangkan Pancasila dengan Islam.

Mohamad Natsir berkata ;

“di mata seorang muslim, perumusan Pancasila bukan kelihatan suatu barang asing yang berlawanan dengan ajaran Qur’an, dan ia (Mohamad Natsir) melihat dalamnya satu pencerminan dari sebagian yang ada pada sisinya. tapi ini tidak berarti bahwa Pancasila itu sudah identik atau meliputi semua ajaran Islam.

Selanjutnya Mohamad Natsir mengingatkan bahaya sekularisma seperti tercermin juga pada Marxisma.

Faham sekularisma tidak sejalan dengan pikiran bangsa kita yang beragama.

Mohamad Natsir juga tidak setuju dengan pendapat Soekarno yang menyatakan bahwa Pancasila adalah merupakan pemersatu bangsa, padahal kaum komunis tidak akan bisa menyetujui sila Ketuhanan Yang Maha Esa sunguhpun mereka meyokong Pancasila dalam konstituante.

Pancasila itu sendiri hanya akan berarti bila di kaitkan dengan isi suatu ideologi.

Tetapi karena Soekarno menempatkan Pancasila itu sendiri pada kedudukan netral terhadap semua ideologi, maka Pancasila itu kosong dari isi.

Pandangan kedua dari Mohamad Natsir, adalah pandangannya terhadap forum konstituante.

Mohamad Natsir mengatakan bahwa konstituante merupakan tempat mengeluarkan pendapat dan pikiran anggota secara lurus dan jujur, cerminan pemikiran yang hidup dalam masyarakat.

Mohamad Natsir berkata,

Kita mengarapkan agar gedung konstituante (sekarang adalah gedung DPR/MPR) ini dapatlah hendaknya merupakan satu “Sanctuary” yakni tempat aman dimana dapat di adakan konfrontasi antara ide dan ide, pendirian dan pendirian, yang walaupun berlaku secara tajam dan bebas sebagai pembawa tugas kita itu, tetapi tetap didalam suasana ibarat sebuah pulau yang aman tentram di tengah-tengah gelombang.

………hanya selama dalam ruangan konstituante (DPR/MPR) ini tetap hidup dan terjamin rasa bebas mengeluarkan pendapat, tanpa tekan-tekanan dalam bentuk apapun……selama itulah baiknya konstituante (DPR/MPR) ini ada bagi negara dan bangsa (Indonesia, pen)”.

Tentang konstituante (DPR/MPR), Mohamad Natsir berpendapat bahwa lembaga ini hendaknya dapat “menciptakan suatu UUD yang akan tahan uji oleh generasi anak cucu mendatang”.

Dalam hal ini Mohamad Natsir tampaknya terdorong oleh tanggung jawabnya pada generasi berikut serta keyakinannya pada Islam.

Mohamad Natsir berkata;

”…….Agama Islam yang juga mengatur mengenai ketatanegaraan dan masyarakat hidup ini…….. mempunyai sifat-sifat yang sempurna bagi kehidupan negara dan masyarakat dan dapat menjamin hidup keaneka ragaman atas saling menghargai antara pelbagai golongan dalam negara.”

Mohamad Natsir juga memperkuat pendapat Sjafrudin Prawiranegara dengan menunjuk pada sifat negatif dari komunisme dan kapitalisme, katanya :

“Komunisme dalam mencapai kemakmuran , menekan dan mem- perkosa tabiat hak-hak asasi manusia. Sedangkan kapitalisme, dalam memberikan kebebasan tiap-tiap orang, tidak mengindahkan peri kemanusiaan dan hidup dari pemerasan keringat orang lain dan membukakan jalan untuk kehancuran kekayaan alam”

 

Dan bagaimana dengan Ajaran Islam ?

Mohamad Natsir menjelaskan :

“ Islam mengakui hak dan kepribadian , memberikan kebebasan, bahkan mewajibkan kepada tiap-tiap orang supaya mencari rezeki sekuat tenaga, dan, — berlainan pula dengan kapitalisme, dimana ajaran Islam menekankan bahwa —  kekayaan yang di- dapat itu tidaklah boleh digunakan untuk kepentingan diri sendiri saja, tetapi harus juga di keluarkan untuk menolong sesama manusia, guna menciptakan kemakmuran bersama.

 

Catatan ;

Dalam hubungan dengan komunisme memang majelis Syuro Masjumi mengutuk komunisme itu sebagai kufur dan mereka yang secara sadar dengan yakin menyokong ideologi ini sebagai kafir. Pendapat ini merupakan salah satu keputusan Musyawarah (Kongres) Ulama Islam di Palembang 1955.***

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

2 responses to “Natsir dan Pancasila

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: