MASJID – JAMAAH – UKHUWWAH


 

Makmurkan Masjid kembali,

Tegakkan Jamaah dari sana ![1]

 

Seringkali bila kita berkata kepada orang yang sudah biasa apa yang disebut berpolitik, berorganisasi dan berlambang “Memakmurkan Masjid”, mereka sambut denga sikap skeptis dan dingin, sebab bunyinya kurang menarik, persoalannya tidak diraskan aktuil, tidak vital bila dihubungkan denga apa yang mereka namakan “perjuangan”.

Sebenarnya maka mereka ini bersikap begitu oleh karena sudah lama terkurung dengan tidak sadar barangkali dalam cara berpikir yang konvensional dan statis.

Pada hal, sesungguhnya kepada Umat Islam, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewariskan justeru Masjid itu sebagai lambang pembina potensi umatnya.

Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusuhan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh derita.

Masjid bukanlah semata-mata tempat shalat, kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat.

 

Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun jamaah.

Islam tidak  dapat tegak tanpa jamaah.

Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah.

Yang satu “muamalah maal khalqi”.

 

Ini kaji “ alif – baa – taa”.

Yang sudah terang perintah.

Bahwa perintah :

 

 

Adalah perintah wajib

 

Masyarakat Islam memikul jamaah yang dikenakan langsung oleh jamaahnya/agamanya.

Maka Masjid adalah warisan Rasul, sebagai penangkalan bagi Umat Islam untuk membina jamaahnya. Menambah pngertian, mempertinggi kecerdasan, dan akhlaq budi pekerti, mendinamikan jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota jamaahnya, dalam menghadapi pokok-pokok persoalan hidup.

Malah dari Masjid dan Langgar yang berjiwa hidup dan dinamis sebagai pusat, dapat diberikan bimbingan yang menaikkan taraf kemakmuran hidup oleh para ahli yang mencintai umat.

Soalnya penghidupan mereka, kebanyakannya, soal yang sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman dan pupuk, soal mempertinggi hasil bumi, soal tambak, tebat ikan, dan kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan yang belum berganti, soal sapi yang belum berobat, soal atap tiris yang belum disisip, soal anak yang belum sekolah …, Soal-soal yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan sistem ekonomi yang hebat-hebat, sistem pesawat udara jet-jet tanpa landasan tempat naik dan turunnya.

 

Dengan masjid yang berjiwa hidup sebagai pusat pembinaan umat, pusat  pembinaan jamaah, akan dapatlah Umat Islam memelihara “Izzah” kepribadian umat dalam berkecimpung dalam masyarakat ramai yang berbagai corak, ibarat ikan dilaut memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin; dapat pula jamaah Islam itu berlomba-lomba dengan jamaah lainnya menegakkan kebenaran dan keadilan dan menyumbangkan kebajikan bagi masyarakat umum.

 

Itu fungsi Masjid,

Itu kewajiban Umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan macam manapun.

Bina Jamaah melalui Masjid …..,

Hidupkan Masjid kembali, nanti, masjid akan memancarkan hidup kepada umat.

Akan beberapa puluh ribu benar jumlah gedung-gedung kebudayaan, markas-markas organisasi dengan mulanya, stadion-stadion dengan lapangannya, dinegeri ini.

Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertabur-tabur dinegeri ini.

Tinggal; mengisi dan menghidupkannya.

Bukan sekedar memperindahnya untuk diperagakan dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marme berukir-ukir, menyimpan mayat tak bernyawa di dalamnya.

Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal dan kekayaannya yang menjadi sumber kekuatannya.

Bukankah masjid yang hidup itu, kepada Umat Muhammad di amanatkan untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain dari kepada Allah.[2]

 

Sudah lupakah kita bahwa ;

“ Hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah,

“ orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari

“ kemudian, serta menegakkan shalat dan mengeluarkan

“ zakat, dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah;

“maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang terpimpin”,[3]

Ini tuntutan yang diterima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini.


[1] Kayutaman di Padang Panjang tanggal 18/6/1968

[2] (Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid sebagai lembaga risalah yang hidup dan dinamis sebagai pusat pembinaan umat dan pembentukan kader).

[3] QS. At- Taubah, ayat 18.

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: