DALAM PELAYARAN YANG PANJANG, ADAKALANYA, NAHKODA HARUS BERPIRAU[1]

 

 

Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus.

Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat pampan  (depan), tetapi menyerong.

Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang sedang berpirau :

(1). Angin dan gulungan ombak tidak di songsong tepat terpampan. Akan tetapi arah perahu sekali-kali tidak boleh demikian rupa sehingga mudah terbelok melintang sejajar dengan gulungan ombak. Satu kali letak perahu begitu, dia akan terbalik digulung gelombang.

Kalau ada satu ketika gelombang terlampau besar, arus terlampau deras, angin badai berputar-putar, lebih baik sauh dibongkar, layar diturunkan berhenti ditempat sebentar, menunggu badai reda. Tidak ada badai yang tak pernah reda. Lebih banyaklah sementara itu taqqarub kepada Ilahi Rabbi, kepada Khaliq yang menjadikan segala sesuatu yang termasuk angin dan arus itu.

Bagi seorang Muslim ikhtiar dan do’a memang selalu sejalan berjalin, tidak boleh dipisahkan. Ini lebih baik dari pada melepaskan kendali dari tangan, dibiarkan perahu terombang ambing, menurutkan kemana angin dan arus menderas.

 

(2). Kemudi tidak boleh lepas dari tangan. Mata juru mudi dan nahkoda tidak boleh lepas dari mengawasi pedoman untuk menentukan arah, mengaasi kemana-kemana jurusan angin dan arus, mengawasi bintang yang jauh dilangit, untuk menentukan tempat agar jangan keliru memegang kemudi. Disangka awak masih berpirau, kiranya haluan terlongsong berkisar sulit pula membetulkannya kembali.

Awak perahu tidak boleh berhenti mendayug. Berhenti mendayung, sauh tidak boleh dipasanng berarti hanyut. Sebab angin dan arus tidak timbul suasana lesu, dan suasana masa bodoh, atau paniek, akan sukar pula membangkitkan mereka mendayung kembali. Mereka selalu asyik dan diasyikkan.

Jika dayung besar, sesuatu waktu dirasakan terlampau berat tukar dengan dayung yang lebih ringan yang sesuai dengan tangga mereka waktu itu. Namun berdayung terus berdayung. Agar jiwa mereka tetap besar harapan mereka tidak patah. Hati mereka harus terus dirawat.

Seorang nahkoda, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa berlayar sendiri. Kekuatannya terletak pada tenaga anak perahu. Diwaktu badai tidak bolehlah dia mendandani dirinya sendiri. Bila perlu dia juga harus bersedia dan bisa mennjadi juru bantu, turut  mendayung, menimba air, memanjat tiang memasang layar.

Nahkoda tidak boleh terlepas dari mata anak perahu. Mereka ini tidak boleh mendapat atau mendapat kesan, bahwa tempat kemudi kosong, tidak ada yang menunggui. Ini bisa menimbulkan putus harapan dan suasana paniek. Dalam keadaan seperti itu mudah sekali anak perahu yang sedang kehausan lantaran tidak sabar atau lantaran kejahilan mengorek dinding perahu supaya lekas-lekas mendapat air. Padahal airnya air bergaram, tidak dapat diminum melepaskan haus; sedangkan perahu bisa tenggelam lantaran berlobang dan membawa tenggelam semua penghuni perahu bersama-sama; bukan karena arus dan badai, tetapi karena nahkoda yang lalai.

 

(3). Tenaga berpirau yang pokok ialah tenaga dayung. Nakhoda yang mahir, di samping itu dapat mempergunakan angin yang datang menyerang dari samping, penambah tenaga dayung; kemahirannya terletak dalam memasang layar, dalam menentukan, mana layar yang harus dipasang mana yang harus diturunkan; kemana kemudi harus ditekankan, agar tenaga angin seperti itu dapat diambil manfaatnya, dengan tidak dikuatiri akan membelokkan arah.

 

(4). Berlayar bukan asal sekedar berlayar. Harus tentu-tentu tempat yang dituju. Harus tentu sifat muatan yang dibawa. Adapun bendera dan panji-panji, besar pula manfaatnya sebagai lambang dari tujuan yang hendak dicapai dan dari isi muatannya dibawa. Tak layak lagi bahwa simbolik mengandung kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam pada itu, kadang-kadang dimusim darurat, mengibarkan bendera lambang itu menimbulkan kesulitan. Dalam keadan yang semacam itu ijtihad Nakhodalah yang menentukan, disuatu keadaan, manfaat dan mudharatnya mengibarkan lambang ditiang tinggi itu.

Yang perlu dijaga ialah : (a). Jangan lakukan “tasyabbuh”. Tasyabbuh yang barangkali tadinya dimaksudkan untuk menyamar, akan tetapi kesudahannya mem bingungkan anak  perahu sendiri, dan menghancurkan kepribadian mereka. (b). Jangan ada “talbisul haq bil bathil” mencampur adukkan muatan yang baik  dengan yang buruk, nanti seluruh muatan jadi rusak.

(c}. Anak perahu dan para penumpang semuanya harus dilatih dan para Nakhoda melatih diri, sehingga mereka bisa bergerak ibarat ikan berenang dilaut, terus menerus dikelilingi air asin, tetapi dagingnya tetap tawar dan segar.

 

(5). Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk mencapai sesuatu tujuan yang bernilai tinggi. Tidak ada pelayaran tanpa resiko. Soalnya bukanlah ada resiko. Soalnya ialah mengambil resiko yang dapat dipertanggung jawabkan, setelah dibandingkan dengan tenaga yang ada, dan denga nilai yang hendak dicapai.

Bagaimana orang  bermain di pantai kalau ikut kepercikan air. Nakhoda selalu perlu ber-ijtihad, perlu mempergunakan daya ciptanya teman seperahu, untuk menghadapi keadaan sekelilingnya sewaktu-waktu.

Nakhoda harus menyadari harinya tidak berhenti. Harinya terus menuju ke “laruik sanjo”. Di samping itu, siapa yang tadinya “Rijalul ghad” (pemimpim masa lalu) sedangkan berkembang menjadi “rijalul yaum” (pemimpin masa kini). Hutang nakhoda ialah membimbing mereka itu, melapangkan jalan bagi mereka, melatih mereka sanggup bertanggung jawab dan pengalaman pahit.

 

(6). Beberapa rangkuman ayat dan hadist, yang dikemukakan dibawah ini, semoga dapat menjadi pegangan, dalam meeruskan “pelayaran” dan “berpirau” bila dipahamkan dan diambilkan api yang terkandung di dalamnya. “Beramallah kamu pada tempat kamu masing-masing. Akupun  adalah orang-orang yang juga beramal” Dengan ini sebagai landasan berpikir, silahkan ;  Jangan gugup,  Bismillah :  Layarkanlah terus perahu ini.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.

 

Medan Djihad, Agustus 1961


[1] Pesan Bapak Mohamad Natsir  1961, Padang Sidempuan.

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: