BAI’ATUL QURBA[1]

 

Bai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan terus berkelanjutan sebagai pesan dari “pemimpin”,

 

1). Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”[2]

2). Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru, tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru-tiru. Tetapi memang kepandaian-kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.

Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, apalah artinya kepadaian-kepandaian seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar dan yang semacam itu.

Dalam pada itu, secepat-cepat terbangnya pesawat jet dia tidakkan bisa, tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali.

Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyai undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani.

Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.

 

3). Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Tetapi kecenderungan penduduknya, di bidang ekonomi ialah kepada mencahari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian  mereka. Padahal sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang.

Ini seringkali “dilupakan” pula.

 

Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, (amaliyah) sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan  pribadi mereka sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang.

Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform”.

Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu, tetapi memang begitulah hakekatnya.

 

4). Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Baru saja Irian Barat menjadi Wilayah R.I. belum apa-apa di Kotabaru sudah ada “Restoran Padang”.

Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar.

Kita bicara saja dengan beberapa orang yang mempunyai modal, kita terangkan saja umpamanya bahwa pertanian dan peternakan yang menghasilkan barang-barang untuk keperluan sandang dan pangan adalah mempunyai harapan baik bila benar-benar dijadikan obyek usaha. Apalagi bila diiringi dengan penyempurnaan cara pengolahannya.

Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yag terus berkembang dan penghematan devisa. Mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah  secara besar-besaran, memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain.

Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini.

Nanti orang kampung  sekitarnya bisa pula menerima upah dalam perusahaan secara besar-besaran itu.

Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat.

“Penasehat” dengan honorarium yang lumayan. Tak usah turut bekeja payah-payah. Nama awak saja yang dimasukkan dalam formasi management. Dengan itu dapatlah pula dikurangi anslah pajak C.V ataupun perseroan. Upayanya begitu, ini kalau ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata-mata.

5). Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik.

Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa ini dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus”.            Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

a.  hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;

b. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);

c.  keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;

d.  ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;

e.  keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a;

Ini wijhah yang hendak di tuju.

Ini shibgah yang hendak di pancangkan ;

Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.

 

6). Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.

Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing.

Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu.

Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak..

Semoga di jauhkan Allah jualah kita semua dan keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan, Amin !

Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan pada angka (4) tadi itu, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali, agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata, dengan mempergunakan jalan-jalan yang kita rintiskan ini. Asal hal-hal yang semacam itu lekas-lekas dapat dipintasi, Insya Allah mereka akan masuk shaf kembali ;

“kok io kito ka-badun sanak juo ……….!”

 

7). Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap. Akan tetapi rasa bahagian kia yang tertinggi, ialah apabila kita dapat melihat bahwa itu hanyalah salah satu dari  ribuan dapur yang berasap karenanya.

Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah.

Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar. Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini.

 

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing, senantiasa akan membimbing kita dalam  menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Nya jua, Amin!. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.

B i s m i l l a h !

Dari sini kita mulai !

Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi, semakin terasa kesulitan yang harus dilalui.

Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ;

“rasa  berpantang putus asa,

bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati,

dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai,

yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.


[1] Pesan Pak Natsir dari Batu Malang, 1963.

[2] QS. Al-Ankabut, ayat 69.

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: