“HIDUPKAN KEMBALI UKHUWWAH ISLAMIYAH” [1]

 

 

Sudah mulai agak janggal pula kedengarannya bila menyebut kaji ini. Kaji yang sudah begitu lama kita kunyah. Tetapi, yang masih sedikit sekali berjumpa pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan modern dengan alat-alat penghubungnya yang serba lengkap, automobil, kereta api, kapal terbang, tilpon, pers, radio, televisi, semua itu ternyata gagal dalam menghubungkan jiwa dan jiwa, dalam ikatan persaudaraan yang ikhlas dan hakiki.

Rupanya soalnya bukan soal alat. Soalnya terletak pada jiwa yang akan mempergunakan alat penghubung itu sendiri. Sebaik-baik alat pemotret tidak bisa memprodusir gambar seseorang yang tidak ada. Alat-alat komunikasi yang ultra modern yang dapat menyampaikan pesan kepada satu satelit di luar bumi dengan tekanan suatu knop saja, alat-alat semacam itu tidak mampu menghubungkan rasa muhibbah itu sendiri yang tidak ada.

Alat-alat komunikasi sebagai hasil dari teknik modern ini telah dapat memperpendek jarak sampai sependek-pendeknya. Akan tetapi jarak jiwa dan rasa manusia tidak bertambah pendek lantarannya. Malah sebaliknya yang seringkali kita jumpai. Hidup bernafsi-nafsi, siapa lu siapa gua, semakin merajalela.

Inilah problematik dunia umumnya sekarang ini, ditengah-tengah kemajuan material dan teknik yang sudah dapat dicapai manusia diabad XX ini.

Ini juga problematik yang dihadapi manusia Umat Islam khususnya.

 

Persoalan uchuwwah Islamiyah ini wajib kita memecahkannya dengan sungguh-sungguh, kalau benar-benar kita hendak menegakkan Islam dengan segala kejumbangannya kembali dinegara ini.

 

Bagi Umat Islam soal ini hanya dapat dipecahkan oleh Umat Islam sendiri, tidak boleh oran lain.

Dan jika tidak dipecahkan, maka yang salah ialah Umat Islam sendiri, terutama para pemimpinnya, bukan orang lain.

 

Menegakkan dan menyuburkan Ukhuwwah Islamiyagh tidaklah sangat bergantung kepada alat-alat modern, tidak pula kepada harta bertimbun-timbun.

Malah dikalangan kaum yang hidup sederhana itulah kita banyak berjumpa “suasana ukhuwwah” lebih dari kalangan yang serba cukup dan mewah.

Dan ….,

Sekiranya ukhuwwah itu dapat ditumbuhkan hanya dengan mendirikan bermacam-macam organisasi, dengan anggaran dasar dan kartu anggotanya, dengan semboyan-semboyan dan poster-posternya, semestinya ukhuwwah sudah lama tegak merata diseluruh negeri ini.

 

Sekiranya ukhuwwah Islamiyah dapat diciptakan dengan sekedar anjuran-anjuran lisan dan tulisan, semestinya sudah lama ukhuwwah Islamiyah itu hidup subur dikalangan Umat Islam, dan umat itu sudah lama kuat dan tegak.

Sebab sudah cukup banyak anjuran lisan dan tulisan yang dituangkan kepada masyarakat selama ini.

Ayat dan hadist mengenai ukhuwwah, sudah berkodi-kodi kertas, dilemparkan kedalam masyarakat dengan majalah-majalah, buku-buku dan surat-surat kabar, sudah hafal, dikunyah-kunyah dan dimamah orang banyak.

 

Kalau ukhuwwah Islamiyah belum kunjung tercipta juga, itu tandanya pekerjaan kita belum selesai.

Dan kalau usaha-usaha selama ini belum berhasil dengan memuaskan, itu tandanya masih ada yang ketinggalan, belum dikerjakan.

 

Rupanya soal ukhuwwah ini soal hati yang hanya dapat dipanggil dengan hati pula.

Sedangkan yang sudah terpanggil sampai saat sekarang  barulah telinga dan dengan kata. Oleh karena pihak pemanggil yang bisa berbicara barulah lidah dan pena-nya belum hati dan jiwanya.

 

Rupanya dan memang terbukti rahasianya menegakkan ukhuwwah Islamiyag terletak dalam sikap langkah dan perbuatan yang kecil-kecil dalam pergaulan sehari-hari, seperti yang ditekankan benar oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam dalam membina jamaah dan umat Islam yang pertama-tama, tegur sapa, memberi salam, dan menjawab salam, mengunjungi orang sakit yang sedang menderita, mengantarkan jenazah ke kubur, memperhatikan kehidupan sejawat, membujuk hati yang masygul, membukakan pintu rezeki bagi mereka yang terpelanting, membukakan pintu rumah dan pintu hati kepada para dhu’afa, dan amal-amal kecil yang semacam itu, kecil-kecil tapi keluar dari hati yang ikhlas dan penuh rasa persaudaraan.

Sedangkan kita selama ini lebih tertarik oleh cara-cara borongan, demonstratif, dengan berteras keluar, asal kelihatan oleh orang banyak.

 

Wal hasil, membangun kembali ukhuwwah Islamiyah memerlukan peninjauan dan penilaian kembali akan cara-cara yang sudah ditempuh sekarang.

  • dia memerlukan daya cipta dari pada pemimpin yang dapat berijtihad,
  • dan memerlukan para pekerja lapangan tanpa nama, tanpa mau dikenal khalayak ramai,
  • bersedia meniadakan diri.

 

Memakmurkan masjid kembali, menyusun jamaah, melalui itu, menegakkan ukhuwwah Islamiyah adalah kaji alf-baa-taa.

Bukan barang baru lagi ahli qiraat, tapi mungkin sekali kelalaian kita ini adalah lantaran berlaku seperti ahli qiraat yang asyik dengan nada dan irama suara, tapi lupa akan pokok-pokokonya “tajwid alif-baa-taa”.

Waktu belum kasip, asal mulai dari sekarang.

 

Sekarang ;

Jangan habis masa dengan mengunyah dan memamah apa-apa yang diperbuat dan tidak diperbuat orang lain.

Tak usah kita terombang-ambing, oleh pertanyaan-pertanyaan seperti : “Bila nanti orang membuka pasar, apakah kita akan turut berjual beli …?

Pertanyaan semacam ini baru pantas dipikirkan jawabnya oleh orang yang sudah memiliki modal atau barang yang akan diperdagangkan.

Adapun orang yang kantongya kosong, barang-barang pun tak punya, apakah yag akan diperjual-belikannya nanti biar pun orang membuka pasar …., Jangan-jangan dia seperti yang akan jadi barang dagangan orang lain ………,          Semogalah tidak akan berlaku sebagai yang dikeluhkan sya’ir ;

 

“ Maka berserulah situkang seru ;

“ Wahai manakah dia yang menyahuti seruan ini,

“ Yang diseru,

“ tak kunjung menyahut juga …..”.


[1] Kuliah Umum, dihadapan Mahasiswa IKIP Padang, 15 Juni 1968.

 

 

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: