KETIKA PAPA BERCERITA by : Ritrina

KETIKA PAPA BERCERITA 2 by : Ritrina

oleh Rina Ritrina pada 10 Januari 2011 jam 13:57

(Telah dipublish di Rantaunet)

 

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Adidunsanak Palanta nan mulie,

 

Cerita Papa yang kembali saya ceritakan kepada adidunsanak palanta yang mana sebagai  buah tangan dari kepulangan ke tanah air seorang pejuang PRRI di tahun 2011 ini yaitu salah seorang pemancang tiang bedirinya komunitas milis (Rantaunet) kita ini, siapa lagi kalau bukan Mak Ngah Sjamsir Sjarief.

 

Selamat menikmati…

 

KETIKA PAPA BERCERITA 2

By : Ritrina

 

Melanjutkan cerita pertemuan Papa (H. Djasri S) dan Mak Ngah (Sjamsir Sjarief) nan bamukim di ‘tapi riak nan badabue’ di Santa Cruz California yang mana Mak Ngah sambil pulang ke kampung halaman beliau di Biaro Bukittinggi Sumbar.  Mereka bernostalgia kembali mengenai masa-masa perang PRRI dibawah asuhan para penegak kebenaran, yang mana salah satunya adalah Pak Imam (alm. Buya Moh. Natsir) dalam didikan sama di Universitas Rimba Raya.

 

Hari Kamis pagi Mak Ngah me-sms Papa untuk mengajak pergi ke Kumpulan. Kumpulan adalah salah satu tempat Pak Imam tinggal di dalam rimbanya yang dikenal dengan sebuah komplek persembunyian dengan nama ‘Gang Kenanga’ seperti yang telah penulis ceritakan di seri pertama. Jam 9 pagi mereka janjian untuk bertemu di daerah Simpang By Pass Manggis Bukittinggi untuk kemudian naik angkot yang bertujuan ke Kumpulan. Ketika sudah ketemu di sana dan naik ke mobil angkutan itu, Mak Ngah me-sms penulis mengabarkan acara mereka hari itu.

 

Sebenarnya Mak Ngah ingin menelusuri tempat persembunyian Pak Imam di dalam rimba disana, dengan bantuan Papa yang dulunya bertugas sebagai kurir Pak Imam dan keluarga. Hanya medan yang akan mereka lalui entah sudah tambah berat atau bagaimana, makanya Papa memutuskan untuk merubah keinginan Mak Ngah menjadi acara ziarah. Mak Ngah yang duduk di bagian depan mobil sedangkan Papa duduk di bagian belakang membuat mereka tidak bisa bercerita langsung. Papa mengirimkan kertas bertuliskan perubahan rencana itu persis halnya anak sekolahan minta contekan.  Mak Ngah yang tidak begitu mengetahui lika liku kampung yang setengah abad yang lalu telah dia tinggalkan, menyerahkan keputusan ke Papa. Akhirnya mereka bersepakat untuk menziarahi kuburan Kolonel Dahlan Djambek di daerah Aia Kijang tepatnya di sebuah kampung yang bernama Lariang.

 

Di simpang Aia Kijang mereka berhenti untuk kemudian menyambung kendaraan umum ke daerah Lariang.  Kamis adalah ‘hari pakan’ di daerah Kumpulan sehingga transportasi lumayan lancar untuk masuk ke kampung-kampung di pelosok nagari Sumatera Barat ini. Menuju Lariang jalan yang dilalui lumayan mendaki. Setibanya di Makam Kolonel Dahlan Djambek ini mereka berziarah mengirim doa. Ilalang maninggi disana sini menyaingi tembok pekuburan Sang Kolonel yang meninggal ditembaki tentara Soekarno di kala subuh sekitar September 1961.

 

Menurut cerita orang kampung Lariang, Sang Kolonel berumur 36 tahun masa itu, masih muda gagah. Dia dan anak buahnya bermalam di kampung itu di sebuah rumah di pinggir kampung. Sampai sekarang rumah itu masih dipertahankan bentuk aslinya dan tidak dirubah-rubah. Konon kabarnya Sang Kolonel yang berhasil ditangkap di rumah itu tidak bisa tertembus peluru. Anak buahnya yang terus menerus ditembaki oleh Tentara Soekarno telah hancur berantakan kepala dan tubuhnya karena ditembaki berulang-ulang. Rata-rata kepala mereka pecah karena ditembaki terus-menerus itu. Kain sarung yang dipakai oleh Sang Kolonel penuh dengan lubang tembakan. Namun yang tembus ke badannya di sekitar dada hanya satu tembakan saja.

 

Cerita dari mulut ke mulut orang kampung Lariang menceritakan bahwa Sang Kolonel kabarnya memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga peluru tidak mempan menembus badannya. Ketika melihat anak buahnya sudah berserakan berserpihan manganak darah dan benak di subuh buta itu, Sang Kolonel memutuskan untuk ikut gugur bersama anak buahnya. Sehingga kain sarung yang dipakainya hancur penuh tembakan tetapi yang menembus dadanya hanya satu tembakan. Satu tembakan yang diijinkan dia untuk membuat dia gugur bersama anak buahnya yang sudah duluan gugur. Sang Kolonel belum mau menyerah sebagaimana halnya Kolonel Ahmad Husen yang telah duluan menyerah di awal tahun 1961 itu. Menurut Papa dan Mak Ngah, banyak diantara pejuang yang tidak tahan hidup di dalam Rimba, sehingga ditawari pengampunan, jadi cepat menyerah. Ditambah lagi dengan adanya pengkhianat perjuangan. Syukur Alhamdulillah tempat Pak Imam tidak bisa terdeteksi oleh tentara Soekarno karena orang kampung yang selalu berpihak ke perjuangan beliau, sehingga tetap selamat sampai menyerah di September 1961 itu, Alhamdulillah…

 

Makam Kolonel Dahlan Djambek sudah ditembok dan dipagar . Rumah tempat kejadian penangkapan itu masih bisa diziarahi. Hanya saja jalan menuju ke tempat tersebut lumayan rusak dan mendaki. Seperti halnya situs-situs sejarah di negeri kita lainnya, Pemakaman inipun kurang terawat. Dimana tempat itu disemaki oleh ilalang yang meninggi. Butuh sentuhan kepedulian dari para penerus cita-cita perjuangan.

 

Selepas siang para pejuang senja ini kembali ke pasar Kumpulan untuk  shalat dan makan. Papa memilih menu gulai ikan rayo asam durian, sedangkan Mak Ngah memilih ikan goreng. Sementara mulut mereka terus saja bercerita tentang masa-masa yang tidak akan pernah mereka lupakan tentang masa silam yang penuh kenangan. Mak Ngah mengajak Papa untuk ke kampung Malampah yang berjarak 30 km dari Pasar Kumpulan. Mengingat mereka hanya membawa ‘badan’ saja, Papa mengurungkan niat Mak Ngah tersebut karena beberapa pertimbangan. Diantaranya mereka tidak membawa persiapan sekiranya nanti harus bermalam di perjalanan. Lain waktu perlu perencanaan yang matang untuk menapak tilasi perjalanan setengah abad silam tersebut.

 

Perjalanan tersebut harus diakhiri dengan berangkat kembali menuju Kota Bukittinggi. Papa mengantar Mak Ngah sampai di simpang By Pass untuk seterusnya Mak Ngah bisa kembali ke Biaro. Rupanya orangtua satu ini belum puas dengan kejadian sehari itu sehingga beliau meneruskan jalan ke Hotel Pusako untuk berenang sebagaimana hobinya sejak dulu. Ohya Kawan, Mak Ngah adalah sosok tua yang bersemangat mengalahkan yang muda. Di setiap ulang tahun beliau, selalu berenang mengitari kolam renang sebanyak usia yang telah dilalui. Bila sekarang usia beliau memasuki 76 tahun artinya beliau telah beranang di hari ulang tahunnya 75 lap di kolam renang di Santa Cruz California sana. Orang Melayu cakap ; Boleh tahaaaannn… Dato’ satu nie.. Sungguh luar biasa untuk kakek-kakek seusia beliau itu.

 

Menurut Papa, Mak Ngah  sangat ingin untuk pergi ke Gang Kenanga. Sehingga Papa telah melakukan persiapan untuk acara napak tilas tersebut. Seorang kawan yang seperjuangan dulu yang bergelar Datuak Tumangguang telah beliau hubungi. Mereka siap untuk menjadi penunjuk jalan menuju Gang Kenanga sebab beliau tinggal di Kumpulan tepatnya di kampung Durian Kunik. Berkemungkinan bila acara itu jadi, maka akan memakan waktu 2 harian. Jika diriku ini tidak ‘takabek’ di Rantau ini, tentunya akan bernyanyi riang mengiringi langkah orang-orang tua ‘jagoan  ini. Seperti yang sering kugeluti waktu kecil masuk hutan untuk memetik pohon-pohon cengkeh yang mulai berbuah di kebun di tengah ‘rimbo’ Manduang dulu itu.

 

Batam, 10 Januari 2011

Ritrina

 

Note : Akan sangat bagus pabila Perkumpulan Pecinta Alam Bukittinggi bisa ikut dalam acara napak tilas ini, daripada mendaki Merapi atau Singgalang yang telah ‘pasa’ bagi mereka selama ini.

 

KETIKA PAPA BERCERITA 3

by Rina Ritrina on Tuesday, 11 January 2011 at 16:10

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Para pembaca budiman,

 

Tulisan ini saya buat untuk bahan cerita bersambung dengan Da Andiko Sutan Mancayo, mudah-mudahan bisa menjadi karya sastra yang diminati sebab berlatar belakang sejarah kehidupan di masa lampau para pejuang kebenaran di masa orangtua kami masih muda gagah sebagai (Tentara) Pelajar. Izin untuk membuat cerita ini menjadi cerbung atau novel sekalipun telah saya dapatkan. Saya sangat beruntung memiliki Papa yang selalu mensupport anaknya terutama saya si Bungsunya.

 

Selamat menyimak…

 

KETIKA PAPA BERCERITA 3

By : Ritrina (Rina Permadi)

 

 

Nama Papa H. Djasri Sjamsuddin yang lahir 03 September 1937 yang kata2 Sjamsuddin diambil dari nama ayah beliau, H. Sjamsuddin seorang tokoh ulama di daerah Tilatang Kamang. Baliau adalah Angku Imam di Musajik di kampung kami di Desa Kaluang Kenagarian Tilatang Kamang Kab. Agam yang mana  kini masuk wilayah Kota Bukittinggi. Sahingga banyak yang berkainginan basuamikan beliau sahingga nenek kami berjumlah empat  orang. Istri yang tertua adalah Ibu dari Papa yang bernama Kinan. Kalo ditambah ‘ti’ maka jadi nama yang keren ala jaman sekarang menjadi Kinanti J.

 

Papa  masuk SR (Sekolah Rakyat) di desa Kaluang tamat tahun 1952 salama 6 tahun trus melanjutkan ke SMP swasta Simpang Ampek Pekan Kamis setahun trus berhenti sebab beliau ingin membuat ijazah negeri SR dengan ikut ujian ke Padang Gamuak Tarok Bukittinggi. Setelah lulus dan ijazah didapatkan, dilanjutkan ke SMP 6 Simpang Lambau di depan SMA 1 Gajah Tongga selama 2 tahun trus pindah ke Batusangkar ke SMP 2  Negeri Batusangkar tamat di tahun 1955. Melanjutkan ke SMA Negeri Batusangkar trus pindah ke Bukittinggi. Masuk SMA ‘B’ Bukittinggi yang tempatnya di SMA 2 Bukittinggi sekarang di seputaran lapangan kantin. Nah ketika di SMA itulah sekitar kelas 2 pecah perang PRRI. Sewaktu itu Papa hanya mendengar tentang kondisi yang bagolak tu dari radio yang pake batere besar sepuluh biji. Jadi untuk sekedar mendengar radio jadi mahal di masa itu.

 

Sebagaimana para pelajar seusia Papa di masa itu, kebanyakan mereka langsung bergabung menjadi tentara dibawah komando Kolonel Ahmad Husen. Sekitar tahun 1958 dan Papa bergabung dengan Brimob 5149 Padang Panjang yang bermarkas di Kampung Katiagan di lereng Gunung Merapi yang mengarah ke Kota Padang Panjang. Papa masih ingat senjata yang dipegang dia waktu itu adalah Jungle Pop Or US. Mereka bergerilya masuk ke dalam kota Padang Panjang mengincar markas Tentara Soekarno.

 

Bila terlihat musuh di selisip rumah orang maka akan sama-sama sembunyi, tidak ada perang yang membabi buta. Sepertinya mereka segan menembak dan pihak Tentara Pelajar inipun segan untuk menembak. Sungguh perang yang santun. Jikapun ada terjadi pembantaian atau tembak menembak biasanya musuh tidak terlalu jelas atau balasan serangan yang menyebabakan korban. Bila sama-sama jelas terlihat yang satu dipojok rumah yang satu dan yang lain di pojok rumah satunya lagi, maka akan sama-sama mundur. Kompi Papa waktu itu adalah Brigadir Muchtar Djamal. Berada di Padang Panjang itu mulai dari akhir 1958 sampai 1959.

 

Tahun 1960 Papa pindah ke Combad  Suayan di daerah Suliki Kab. 50 Kota dan bertugas disana selama 4 bulan. Meneruskan tugas ke Aia Kidjang di daerah Kumpulan perbatasan Bukittinggi dan Lubuak Sikaping Pasaman. Ketika bergerak ke daerah Bonjo di Pasaman, Papa bertemu dengan Pak Imam (Buya Moh. Natsir) dimana Papa tergabung dalam Pasukan Khusus yaitu Pasukan Teritorial Bonjol yang berjumlah 10 orang.  Waktu itu yang menjadi wali Nagari di daerah tersebu adalah Mamak Angku Yarnani yang berpusat di Koto Kaciak Kumpulan.

 

Saat inilah Papa bisa bertemu dengan Pak Syafruddin Prawiranegara yang pada saat itu sebagai Presiden RPI (Republic Persatuan Indonesia) perubahan nama dari PRRI. Bertemu di suasana Upacara Bendera. Pak Syafruddin waktu itu tidak begitu faham upacara militer diiringi dan dipandu oleh Kolonel Dahlan Djambek dimana Upacara Bendera itu benar-benar dibuat seperti layaknya Upacara Bendera sebuah Negara yang berdaulat. Sewaktu itu Pak Syafruddin tinggal di Koto Tinggi Suliki. Hampir semua kesatuan hadir di Upacara Bendera Milter saat itu, Papa mengenang.

 

Pak Imam sewaktu bersembunyi di daerah itu membutuhkan staff untuk keperluan kurir logistic.  Entah karena melihat Papa yang bisa dipercaya atau karena track record Papa selama menjadi tentara pelajar dalam kurun waktu perang itu, maka terpilihlah beliau untuk ikut di rombongan Pak Imam di Gang Kenanga di dalam rimba di aliran Batang MAsang itu. Papa mulai bertugas di bulan Januari 1961. Bertugas untuk keluar masuk rimba tanpa sedikitpun meninggalkan jejak sehingga diperlukan ketelitian dalam perjalanan. Sedapat mungkin tidak ada bekas jejak yang ditinggalkan. Bila di sungai harus berjalan di dalamnya sehingga tidak ada jejak yang membekas baik di pinggir sungai atau di batu-batu yg bertebaran di sungai-sungai pedalaman Sumatera itu.

 

Perjalanan Papa terkadang harus dilakoni sendiri seperti membawa senjata bantuan Amerika. Mengirim surat-surat yang ditulis Pak Imam untuk dikirimkan ke Amerika sebagai Negara yang membantu perjuangan RPI kala itu. Sebab sama-sama tidak setuju dengan komunis. Namun dikala itulah Papa bertemu suka dukanya berjalan sendirian di Rimba Sumatera itu. Yang paling sering melihat dua mata bersinar terang si Inyiak Rimba alias Harimau Sumatera. Pernah juga dari atas pohon yang sangat lurus dan tinggi, turun seperti hendak mengejar seekor Gorila hitam yang sangat besar ke bawah namun tepat tinggal beberapa meter dari tanah, si Gorila telah lenyap tanpa bekas.

 

Begitu juga dengan nasib mujur bertemu beberapa pohon durian di tengah rimba yang berbuah lebat dan di tanah penuh dengan durian yang berjatuhan karena baru dilanda angin kencang. Beliau pilih yang besar dan bagus dan langsung disantap ditempat, namun hanya sanggup menghabiskan delapan buah yang wangi ranum. Akibatnya dia mabuk durian dan jadi kapok untuk makan durian sampai saya beli durian ketika masa saya bersekolah di Bukittinggi. Dia makan durian sambil bercerita tentang durian yang dia makan sewaktu di rimba Kumpulan di zaman bagolak.

 

Saya tidak akan menulis banyak tentang Gang Kenanga dimana di tempat ini Buya Moh Natsir bersembunyi bersama keluarga dan rombongannya. Hal ini sudah saya ungkapkan detail di tulisan saya ‘Ketika Papa bercerita bag. 1’. Hanya sedikit saya singgung tentang keterangan Papa yang berusaha mengingat-ingat waktu di Gang Kenanga ini antara januari 1961 s/d Sept 1961 Pak Imam menulis naskah buku yang berjudul Capita Selecta 3, dimana saya lihat di sebuah Blog Buya Mas’oed Abidin, naskah Capita Selecta 3 ini tidak diterbitkan.

Sebab apa alasannya tidak diterbitkan naskah tersebut tidak ada keterangan di blog tersebut.

 

To Be Continued

 

Batam, 11-1-11

Rina Permadi

 

  • Masoed Abidin ZAbidin Jabbar

    Ananda Rina, yang ditulis Rang Gaek atau Pak Natsir itu adalah saran kepada Pemerintah RI pimpinan Soekarno melalui Jendral Abdul Harris Nasution tentang bagaimana menyelesaikan bekas anggota PRRI secara nasional, agar tidak menjadi beban s…osial masyarakat Indonesia.

    Hebatnya beliau (Rang Gaek, panggilan kami terhadap Pak Natsir, sebab ada beberapa panggilan terhadap beliau itu, ada dengan panggilan ‘Pak Imam’ (bagi pencinta Masyumi), Abah (bagi anak anak beliau di Jabar), ‘Pak Natsir’ (umum panggilan kekerabatan), ada ‘Abu Fauzie’ ini panggilan khusus yang hanya diketahui beberapa anak anak beliau tertentu saja, sekali lagi hebatnya beliau tidak menulis bagaimana semestinya pemerintah memperlakukan beliau agar bebas, tetapi beliau menyarankan bagaima seharusnya pemerintah menyelesaikan kemelut PRRI agar tidak menjadi beban sosial masyarakat Indonesia.

    Yang ditulis Pak Natsir itu banyaknya 42 halaman diketik oleh Pak Buchari Tamam, Mazni Salam dan juga Buya sekali sekali, diketik, dikoreksi, diketik lagi, dikoreksi lagi, berkali-kali sampai pas untuk konsumsi penguasa, tanpa harus mengemis merendah diri, inilah khasnya konsepsi Pak Imam itu.
    Judulnya adalah “Mengumpulkan Kerikil Kerikil Terpelanting”, yang kelak dimasukkan kedalam Capita Selecta 3 sampai hari ini …

    Buya juga mengutip kembali tulisan itu di dalam Buku yang sedang Buya ulangi mengeditnya dengan judul “Hidpkan Da’wah Bangun Negeri (HDBN), Taushiyah Da’wah Mohamad natsir”, buku ini sudah diberi pengantar oleh Prof.Madya Siddiq Fadzil dari UKM Malaysia sejak Ramadhan 1330 H yang lalu, sayang masih belum dapat Buya terbitkan sampai hari ini …

    Pak Natisr selama di Padang Sidempuan Sept 1961 itu ditempatkan di sebelah rumah Kolonel Bahari Effendi Siregar (Komandan Koren 22 Kawal Samudera), tersimpal maksud tersembunyi dengan halus mengawasi sekaligus membatasi gerak beliau, karena beliau tinggal dalam kompleks Korem itu, walau bebas didatangi siapapun.

    Disinilah beliau ditemui oleh Mas Hardi dan utusan Jenderah Abdul harris Nasution, dan juga oleh teman teman dari Masyumi dari seluruh tanah air.
    Begitu bbanyaknya tamu beliau setiap harinya, akhirnya beliau selesai merampungkan pesan untiuk pemerintah RI itu, maka beliau dipindahkan ke Batu Malang dan berakhir di Wisma Keagungan di Jakarta sebelum semua tahanan politik ini dibebaskan 1967, yang beliau mulai dengan mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pada Pebruari 1967 di Masjid Al Munawwarah, Kampung Bali II, Tanah Abang Bukit, Jakarta Pusat itu.

    Pelajaran berharga, bagi pejuang tidak ada masa yang disebut berhenti.

    Termakasih ananda Rina ..
    Wassalam Buya HMA

  • Evy Nizhamul

    Wah .. rina.. kalau begitu JUDUL kisahnya harus lebih spesifik, jika ingin dijadikan sastra sejarah. Mungkin bagus juga di Manuang-manuangkan untuk menemukan judulnya agar lebih spektakuler.
    Banyak Mamak mamak Rina nan ka maagieh judul nan… rancak…

    Selamat menulis

    Wassalam,

  • Rina Ritrina

    Assalamu’alaikum Buya,
    Kato Papa waktu di Rimbo tu nan mangetikkan Capita Selecta 3 tu adolah seorang anak mudo bakulik putiah barasiah berasal dari Sunda, tapi Papa lupo namo anak mudo tu, waktu itulah pak Imam mangarang buku tu dek Papa ma…ncaliak an Pak Imam mandiktekan ka Anak Mudo tu. Berarti naskah tu alah salasai baru diedit ulang baliak sasudah manyarah, oleh Buya dan 2 editor yang Buya sabuikkan tu. Kebetulan Papa kenal jo Pak Buchari Tamam dan Pak Mazni Salam, kaduonyo itu Urang Awak kecek Papa. Trus di Sept 1961 waktu turun dari Rimbo, Pak Imam ditempatkan di Rumah milik Inyiak Datuak Palimo Kayo, rumah yang barado di Seputaran Jambu Aia kiniko, rumah kayu bakandang nan dibawahnyo ado batabek ikan.
    Tarimo kasih banyak informasi Buya..
    Mudah2an Buya sehat salalu..
    Wassalam
    Ananda

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

2 responses to “KETIKA PAPA BERCERITA by : Ritrina

  • Luqman Ar-Raahman Al-Shaleh

    Assalamu’alaikum…
    Sangat bermanfaat tulisan ini….
    Bisa belajar banyak dari blog anda…

    kunjungi blog saya
    http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/
    kasih komentar dan sarannya… Teirmakasih…

  • Ilin

    Ass. Saya senang kalau kampung orangtua saya bisa dikenal karna ada kuburan dahlan jambek,memang yg diceritakan anda sesuai dengan cerita orang2 tua dikampung ortu saya tersebut,mungkin yg saya lihat dulu memang keluarga dalang jambek yg ingin ziarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: