Mohamad Natsir, “Empat Cata Pemimpin Pulang”

 

Pemimpin Pulang

 

Empat cara pulang bagi Pemimpin

dari Perjuangan.

 

Dia pulang dengan kepala tegak,

membawa hasil perjuangan.

 

Dia pulang dengan kepala tegak,

tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku,

atau lebih dari itu,

riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan

bagi para Mujahidin seterusnya.

 

Dia pulang.

Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal

di Medan Jihad.

Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup

dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim,

serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya.

 

Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai,

hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul.

Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur.

Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang

Entah pabila umat itu akan bangkit kembali,

mungkin akan diatur  oleh Ilahi dengan umat yang lain,

yang lebih baik, nanti

 Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip

.

Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.

Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah.

Ia belum pulang.

 

                  Mohamad Natsir   

                         Medan Djihad, 24 Agustus 1961 M/ Maulid  1381 H.

 


 

 

 

Bab – Satu

 

TASYAKUR NIKMAT

 

 

 

 

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat.

 

       Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini.

       Apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.

       Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

       Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu:

 

 

 

 

 

       Dan Ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-KU), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS.14, Ibrahim : 7).

       Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri. Yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

       Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan. Yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah.

       Baru saja merasakan luka-luka terkoyaknya perang saudara semasa rezim Soekarno, selama 3½ tahun lamanya.

       Banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak pula keruntuhan yang harus dibangun.

       Langkah-langkah yang digariskan itu, tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

·        penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

·        perumahan rakyat yang hangus terbakar

·        sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

·        luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

·        kehancuran pendidikan agama.

 

       Nopember 1961, terjadi lagi satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor.

       Dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan.

       Sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang diberi nama Yayasan Tunas Harapan.

       Kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.

       Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat, walau dengan segala akibat yang harus dilalui.

       Para pemimpin umat itu, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.

       Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan di Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, maka Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang.

       Bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat.

       Terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar dari Bapak Mohamad Natsir, berupa taushiyah yang akan diperpegangi.

       Dengan pedoman yang telah digariskan secara rinci oleh Bapak Mohamad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan. Maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut.

       Menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.

       Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan. Segi psikologis, masyarakat kita masih diliputi oleh rasa takut. Dan dengan alas an didalilkan demi untuk menjaga keamanan yang bersangkutan.

       Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, telah pula berhasil.

       Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung. Secara timbal balik dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung) itu.

       Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakan PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halaman, negerinya itu.

       Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya. Untuk mendorong kembali kehidupan rakyat. Menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan.

       Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu.

       Yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Pak Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).

       Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohamad Natsir  terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk. Yang selalu digoreskan Beliau, walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”.

       Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin lain seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, Duski Samad, dan banyak lagi yang lainnya.

       Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak Mohamad Natsir disambut baik. Tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan. Tetapi juga oleh berbagai kalangan.

       Lahirnya suatu pandangan yang sama, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada rajinnya tangan dan tumbuhnya usaha-usaha di rumah tangga”.

       Dengan memulai program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan kerajinan tangan dan home-industri. Waktu itu tahun 1962.

       Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing.

       Berbekal amanat (taushiyah) supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat.

       Dimasa itu Bapak Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

       Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid. Pertemuan itu membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni merawat sutera alam dan membuat tikar mendong harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat.

       Gerakannya perlu dilaksanakan melalui kursus dan latihan.

       Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka. Di ikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

       Bayangan masa depan mulai menyeruak penuh harapan. Sungguhpun ketika itu, nafas masih berhembus di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI. Namun dari sudut ke sudut hati setiap peserta, telah merayap suatu keyakinan bahwa setiap usaha akan berhasil bila diiringi kesungguhan.

       Barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar. Kadang kala, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

       Semboyan kita ialah :

¨     Yang  m u d a h sudah dikerjakan orang

¨     Yang  s u k a r  kita kerjakan sekarang

¨     Yang  tak mungkin          kita kerjakan besok

¨     Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

 

 

 

 

 

       Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah diantara kita yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan mendapat  keberuntungan“. (QS.6, Al An’am : 135).

       Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak Mohamad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting.

       Sedari dulu di pertengahan November 1961.

       Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria. Dirasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanita-wanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

       Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga, seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura. Dan juga pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang. Termasuk pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor. Terutama oleh kalangan “bundo kandung”, kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis.

       Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan. Mengembangkan penanaman sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash[1], di tengah mana Bapak Mohamad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta. Bibit yang dikirimkan tersebut disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga.

       Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar akan mendatangkan hasil yang melegakan. Apalagi bila disertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang“.

       Taushiyah ini, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima. Diterima sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’.[2]

       Dan seorang keluarga yang menerima pesan itu, antaranya Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru. Beliau mengungkapkan taushiyah tersebut dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..“. Pesan itu, akhirnya merupakan buhul yang kian saat makin erat, sebagai modal utama untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepada Fiatin Qalilatin[3]

 

“ Minal ‘Aidin Wal Fa-izien”

 

 

Telah bertingkah guruh dan petir,.

Seakan kilat hendak menyambarmu,

Telah Menghitam awan di hulu,

Seakan gelamat hendak melandamu.

 

Telah berdendang lagu dan siul,

Seakan Rayuan membawamu hanyut,

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil hamd”.

 

Hanya Allah Yang Maha Besar

Kepada Nya pulang puji dan syukur,

Kembalilah kamu kedalam Hidayat dan Taufiq Nya.

Di sana letak Pangkalan merebut Kejayaanmu.

 

Pancangkan Petunjuk Ilahy dalam Kalbumu,

“Cukuplah Allah bagimu tempat berlindung

Dia-lah yang akan menegakkan pendirianmu,

Dengan pertolongan langsung dan pada Nya”,

‘ Dan Kekuatan Mukminin sama se-iman’ 

 

“Iannahu laa yukhliful mie-‘aad !

“Minal ‘aidin Wal Faa-izin !”

 

 

Mohamad Natsir


 


[1] Rumah Tahanan para pemimpin umat di Batu Malang, Ambarawa, atau Wisma Keagungan di Jakarta.

[2] Bai’atul qurba, adalah bai’at kekeluargaan dalam memelihara Iman dan Persaudaraan, sebagai modal utama menjaga keutuhan bangsa.

[3] Fiatin Qalilatin, adalah istilah Kitab Suci Al Quran untuk menyebutkan kelompok terpilih dan teruji ketangguhannya (selected minority). Silected minority (fiah qalilah) bila teguh dalam memegang prinsip, Insya Allah akan mampu menghadapi kekuatan yang lebih besar (fiah katsirah)., tentu saja dengan idzin Allah. Kuncinya adalah Iman dan Persaudaraan yang ikhlas sesama. Kepedulian bersama, sesungguhnya lebih mulia dari hanya kepentingan diri sendiri. 

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: