Selamat Jalan Pak Natsir, Khadimul Ummah

 

 

 Selamat jalan Pak Natsir

 

 

 

Oleh : H Mas’oed Abidin

 

Bumi Minangkabau, tepatnya Kampung Jambatan Baukia Alahan Panjang, negeri dingin di balik Gunung Talang Solok menjadi saksi kelahiran Pembawa Hati Nurani Umat, tokoh yang mendunia, pemikir dan pemimpin politik. Mohamad Natsir, lahir pada 17 Juli 1908. Putra Sutan Sari Pado dan Khadijah yang kemudian menjadi tokoh internasional dari berbagai segi : agama, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan, keteladanan, pemikiran, bahkan menjadi kajian ilmiah dalam berbagai seminar, simposium, skripsi, thesis disertasi para doktor berbagai disiplin ilmu.[1]

Masa kanak-kanak beliau lalui di tengah pergolakan pemikiran para tokoh besar pembaharu dari Ranah Minang. Belajar di pendidikan dasar Sekolah Belanda.

Mohamad Natsir kecil dengan tekun mengikuti gebrakan para tokoh besar di negerinya.  Dari usia delapan tahun (1916) sampai 15 tahun (1923) Bapak Mohamad Natsir remaja menggali kekayaan para ulama itu di HIS Adabiyah Padang dan Madrasah Diniyah Solok.

Bapak Mohamad Natsir aktif dalam Jong Islamiten Bond Padang sewaktu melanjutkan pendidikan ke MULO Padang tahun 1923. Dan kemudian, masih dalam jalur pendidikan Belanda, beliau melanjutkan pendidikan ke AMS (A2) di Bandung. Bapak Mohamad Natsir secara formal mengikuti pendidikan barat di sekolah-sekolah Belanda.

 

Pemimpin Dunia Terkejut

 

Berita wafatnya Bapak DR. Mohamad Natsir cukup mengejutkan.           

Tidak hanya dirasakan oleh para da’i di lapangan dakwah, juga oleh para politisi dan para pemimpin dunia.     

Takeo Fukuda, Mantan Perdana Menteri Jepang, beralamat di 4 – 4 – 3 Shimbashi Minato Ku Tokyo, mengirimkan ucapan belasungkawa dari Tokyo bertanggal 8 Pebruari 1993 sebagai berikut,

 

Kepada

Yang Mulia

Keluarga besar Dr. Muhamad Natsir

di Jakarta,

Kata Belasungkawa,

Dengan sedih kami menerima berita kehilangan besar dengan meninggal dunianya DR. MOHAMAD NATSIR.

Ketika menerima berita duka tersebut terasa lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima, karena kita kehilangan pemimpin dunia, dan pemimpin besar dunia Islam.

Peranan beliau masih sangat diperlukan dalam mengkordinasikan dunia yang stabil.

Saya banyak belajar dari beliau ketika beliau berkunjung ke Jepang disaat saya menjabat Menteri Keuangan. Beliaulah yang meyakinkan kami di Jepang tentang perjuangan masa depan pemerintahan orde baru di Indonesia yang bersih dan sejahtera, bersamaan dengan cita-cita beliau untuk menciptakan dunia Islam yang stabil, adil sejahtera dengan kerjasama Jepang.

Kini beliau sudah tiada. Walaupun keberadaan beliau masih sangat kita perlukan, tetapi Tuhan telah mengambil kembali beliau untuk beristirahat.

Dengan penuh kesedihan izinkan saya atas nama kawan-kawan beliau di Jepang menyampaikan Kata Belasungkawa atas kepergian teman kami pemimpin dunia yang disegani, Doktor Muhamad Natsir.

 

Kami yakin kepergian beliau dengan ketenangan karena telah banyak murid-murid beliau yang setia diharapkan meneruskan perjuangan suci beliau.

Kami yang berduka cita,

Takeo Fukuda. 

 

Bersama-sama tokoh ummat yang secita-cita Mohamad Natsir mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Pebruari 1967.

Pengabdian di bidang dakwah ini bukan semata dalam makna simbol tetapi  secara substantif dan komprehensif baik lisan, tulisan dan amaliah sosial bil hal dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Memang Dewan Da’wah banyak menghidupkan dakwah Islam pada masyarakat  suku  terasing dan daerah terisolir serta di  pemukiman  transmigrasi. Untuk keperluan pergerakan dakwah ini, Mohamad Natsir tidak pernah lelah untuk  menggembeleng  kader-kader  Islam  dengan sangat ikhlas, agar selalu berjuang  untuk  kemulian  dan ketinggian  Islam. Mohamad Natsir mengganggap  kader  pemimpim tak bisa dicetak  hanya  dalam  satu malam.

Pemimpin  tidak bisa dicetak  oleh  kursus, tidak  ada  universitas pemimpin, dan tidak pula ada ijazah pemimpin. Pemimpin tidak bisa  di SK kan. Pemimpin  tumbuh di lapangan, setelah berinteraksi dengan tantangan di dalam masyarakat. Pemimpin harus lahir  dari kandungan ummat itu sendiri. Lahir dari lapangan. Mohamad Natsir percaya  bahwa kader ummat dalam jumlah yang terbatas tetap ada. Para pemimpin umat lebih banyak hadir tanpa dibesar-besarkan dan gembar gembor. Pemimpin itu harus  berakar  ke bawah  dan berpucuk ke atas.

 

 

 

Mohamad Natsir ditengah-tengah Ibu Badan Penyantun Rumah Sakit Ibnu Sina Yarsi Sumbar di Padang, ketika kunjungan ke Sumbar. Mohamad Natsir menyempatkan melihat perkembangan Rumah Yatim Budi Mulia di Ranah Padang. Beliau memang menjadi  pemimpin tempat bertanya dari berbagai kalangan.

 

Inilah pemimpin yang  diidamkan  masyarakat. Proses itu  lahir sendiri dalam suatu perjalanan sejarah.

Calon-calon pemimpin diuji oleh keadaan  dan  tantangan dalam masyarakatnya. Ujian itu ada yang baik dan ada yang  buruk. Ujian atas kebaikan misalnya mendapat kesenangan harta dan  pangkat. Bila seorang pemimpin lulus dari berbagai ujian kehidupan akan punya berlipat kekuatan dan berdampak poisitif yang tinggi. Sebaliknya bila gagal, maka yang menanggung derita adalah diri, keluarga dan masyarakat. Inilah arti sebuah ujian, bertalian keistiqahaman seorang pemimpin atau pendakwah di medan dakwah.

 

 

Sebaliknya, ketika ada ujian terhadap keburukan misalnya penderitaan atau kekurangan  harta, mesti harus dapat dihadapi dengan keteguhan hati dan tidak pernah sesaatpun lepas dari naungan dan ma’unah dari Allah SWT.

Maka, yang akan beruntung adalah diri sendiri, disamping itu keluarga dan juga umat ikut berbahagia. Bila seorang pemimpin gagal menghadapi segala penderitaan, dan sempat menggadaikan diri demi secuil kesenangan, maka yang akan menderita pertama sekali  adalah diri yang akan ditinggalkan umatnya dan tidak terlalu mengganggu keluarga dan lingkungan.  Hal itu disampaikannya pada acara syukuran 80 tahun  Natsir yang dilaksanakan rekan dan sahabat pada 17 Juli 1988.[2]

 

 

Mohamad Natsir dengan para du’at yang melanjutkan gerakan dakwah di bidang kesehatan dan pendidikan di Sumbar dan Riau

 

 

Mohamad Natsir yang pernah  diberi gelar penghormatan  Doktor Kehormatan  oleh  salah satu Univeristas di Malaysia  tak  pernah sepi dari  perjuangan kepentingan bangsa  Indonesia  dan  izzul Islam wal Muslimuun diseluruh dunia. Beliau mendapat julukan dari umat sebagai, «hati nurani dan pemandu ummat».

Sepanjang hanyatnya Mohamad Natsir telah menghasilkan karya tulis di dalam berbagai aspek pemikiran. Karya tulisnya yang sudah diterbitkan sebanyak 60 buah, diantaranya ;

1.      Fiqhud Dakwah, (Jakarta: DDII, t.t.) Cet. IV.

2.      Surat-surat Mohamad Natsir dari tanggal 17 Juli-15 Agustus 1958. (T.T. : T.P., t.t.)

3.      Bahaya Takut, Jakarta : Media Dakwah, 1991.

4.      Capita Selecta I, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), Cet. III.

5.      Capita Selecta II, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Pustaka Pendis, 1957).

6.      Capita Selecta III, (Naskah Belum Diterbitkan).

7.      Fiqhud Dakwah, Djedjak Risalah dan Dasar-Dasar Dakwah, Malaysia : Polygraphic Press, 1981.

8.      Selamatkan Demokrasi Berdasarkan Jiwa Proklamasi dan UUD  1945, (T.T.: Forum Silaturrahmi 45, 1984).

9.      Islam dan Akal Merdeka, (Jakarta: Media Dakwah, 1988), Cet. III.

10.  Azaz Keyakinan Kami. (T.T.).

11.  Islam sebagai Dasar Negara, (T.T. : Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957).

12.  Revolusi Indonesia, (Bandung: Pustaka Jihad, T.T.). 13. Demokrasi di Bawah Hukum, (Jakarta: Media Dakwah, 1407/1987), Cet. I.

 

13.  Pendidikan, Pengorbanan Kepemimpinan, Primordialisme, dan Nostalgia, (Jakarta: Media Dakwah, 1987), Cet. I.

14.  Normalisasi Konstitusional, (Jakarta: Yayasan Kesadaran    Berkonstitusi, 1990).

15.  Islam di Persimpangan Jalan, T.T.

16.  Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya  yang   Konstitusioanl, T.T.

17.  Mempersatukan Umat, (Jakarta: CV Samudra, 1983), Cet. III.

18.  Dunia Islam dari Masa ke Masa, (Jakrta: Panji Masyara­kat, 1982).

19.  Islam sebagai Ideologi, (Jakarta: Penyiaran Ilmu, T.T.).

20.  Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah,  (Jakarta: Girimukti  Pusaka, 1988).

21.  Percakapan antara Generasi, Pesanan Perjuangan Seorang Bapak,   (Malaysia: Dewan Pustaka Islam, 1991).

22.  Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam, (Medan:T. P, 1951).

23.  Some Observations Concerning the Role of Islam in National and International Affairs, (Ithaca New York : Departement of  Far   Eastern Studies, Cornell University, 1954), Penerbitan XVI.

24.  The Role of Islam in the Promotion of National Resil­ience, (Jakarta: T.P., 1976).

25.  Membangun di Antara Tumpukan Puing dan Pertumbuhan, (Djakarta : Kementerian Penerangan RI, 1951). 

26.  Marilah Shalat, Jakarta : Media Dakwah, 1981.

27.  Mencari Modus Vivendi antara Umat Beragama di Indonesia, (Jarta: Media Dakwah, 1983).

28.  Asas Keyakinan Agama Kami,(Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah, 1984).

 

29.  Bahaya Takut, (Jakarta: Media Dakwah, 1991).

30.  Kumpulan Khutbah Idul Fithri/Adhha, (Jakarta: Media Dakwah,1978).

31.  Kumpulan Khutbah Hari Raya, (Jakarta : Media Dakwah, 1975).

32.  The New Morality, (Surabaya: Perwakilan DDII, 1969).

33.  Tinjauan Hidup, Widjaja, Djakarta, 1957.

34.  Kom Tot Het Gebed (Marilah Shalat), (Jakarta: Media Dakwah, 1981).

35.  Keragaman Hidup Antar Agama, Djakarta : Hudaya, 1970.

36.  Hidupkan Kembali Idealisme dan Semangat Pengorbanan, Djakarta : Bulan Bintang, 1970.

37.  Gubahlah Dunia dengan Amalmu, Sinarilah Zaman dengan Imanmu, Djakarta : Hudaya, 1970.

38.  Kubu Pertahanan Mental dari Abad ke Abad,(Surabaya: T.P., 1969).

39.  Tauhid untuk Persaudaraan Universal, (Jakarta: Suara Masjid, 1991).

40.  Hendak ke mana Anak-anak Kita Dibawa oleh PMP,(Jakarta: Panji  Masyarakat, 1402 H.).

41.  Islam dan Akal Merdeka,(Tasikmalaja: Persatoen Islam bg. Penjiaran, 1947).

42.  Islam Mempunyai Sifat-sifat yang Sempurna untuk Dasar Nega ra, (Jakarta: T.P., 1957).

43.  Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat, (Jakarta: Bulan bintang, 1980).

44.  Dakwah dan Pembangunan,(Bangil: Al-Muslimun, 1974).

45.  Tolong Dengarkan Pula Suara Kami,(Jakarta: Panji Ma­syarakat,   1982).

46.  Buku PMP dan Mutiara yang Hilang,(Jakrta: Panji Masyar­akat, 1982).

 

47.  Di Bawah Naungan Risalah, (Jakarta: Sinar Hudaya, 1971).

48.  Ikhtaru Ihdas Sabilain, Addinu wa la al-Dinu, (Jeddah: Al-dar al-Saudiyah, 1392 H.).

49.  Islam sebagai Ideologi, ( Jakarta :  Penyiaran Ilmu, t.t.).

50.  Islam dan Kristen di Indonesia, (Bandung: Pelajar Bulan Sabit, 1969).

51.  Pancasila akan Hidup Subur Sekali dalam Pangkuan Islam, (Bangil: T.P., 1982).

52.  Cultur Islam, (Bandung: T.P., 1936).

53.  Dari Masa ke Masa,(Jakarta: Yayasan Fajar Shadiq, 1975).

54.  Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat,(Jakarta: Bulan Bintang, 1980).

55.  Bersama H.A.M.K. Amarullah, Islam Sumbergia Bahagia, (Bandung: Jajasan Djaja, 1953).

56.  Dengan nama samaran A. Moechlis, Dengan Islam ke Indonesia Moelia, (Bandung: Persatuan Islam, Madjlis Penjiaran, 1940).

57.  Agama dan Negara dalam Persfektif  Islam (Kumpulan Karangan), Penyunting, H. Endang Saifuddin Anshari dan LIPPM (Jakarta: 1409-1989, belum diterbitkan /masih monograph).

58.  Asas Keyakinan Agama Kami, (Jakarta: DDII, 1982).

59.  Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya yang Konstitusional, (Jakarta: TP, 1985).

60.  World of Islam Festival dalam Persepektif sejarah (Jakarta : Yayasan Idayu, 1976).

 

 

Masih dalam suasana 100 tahun M Natsir, dari padang kini kita baca…..
 
Menyusuri Jejak Masa Kecil M Natsir

 
Oleh: Febrianti/PadangKini.com

NATSIR menatap selembar foto hitam-putih itu lekat-lekat dan lama, selembar foto yang menggambarkan sebuah rumah beratap limas dengan halaman yang luas, dengan sungai yang jernih mengalir di sampingnya dan jembatan kayu jati yang berukir di atasnya.

Seolah ingin mengenang masa kecil dalam foto itu nun jauh di Lembah Gumanti yang permai di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, dari atas tempat tidurnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta,  Natsir lama menatap foto itu.

Ini diceritakan Hamdi El Gumanti, 60 tahun, salah seorang pengurus Dewan Dakwah Islamiyah di Jakarta semasa itu. Hamdi juga cucu Sutan Rajo Ameh di Alahan Panjang,  pemilik rumah tempat Natsir dilahirkan.

“Seminggu sebelum wafat Pak Natsir memaggil saya dan meminta saya tolong carikan foto rumah masa kecilnya di Alahan Panjang, saya kaget, sebelumnya Pak Natsir tidak pernah seperti itu,” kata Hamdi.

Hamdi bergegas berangkat dari Jakarta ke Alahan Panjang dan membongkar album yang ada di rumah Jembatan Berukuir. Foto yang diinginkan Natsir ketemu dan ia segera terbang ke Jakarta memberikan foto itu pada Natsir. Tiga hari kemudian, 6 Februari 1993, Natsir meninggal.

Di masa tuanya, Natsir memang beberapa kali pernah ingin bernostalgia masa kecilnya di Sumatera Barat, tetapi tidak pernah kesampaian.

Menurut Hamdi, di Jakarta pada tahun 70-an,  Natsir pernah dekat dengan pamannya Hamdi yang bernama Syahrul Kamal. Mereka bersepakat akan akan  pulang kampung ke Alahan Panjang, tapi batal karena Syahrul Kamal keburu meninggal.

Pada 1991, saat berkunjung ke Padang dan Bukittinggi Natsir juga sempat ingin bernostalgia mengunjungi tempat-tempat masa kecilnya seperti di Alahan Panjang, Solok, dan Maninjau, namun itu juga batal. Hal ini diceritakan Aisyah Rahim Natsir, putri Natsir yang kelima.

“Saat itu saking bersemangatnya Bapak meresmikan Islamic Center di Padang, naik tangga sampai ke lantai 4, lalu jantungan, akhirnya nggak jadi, padahal Bapak sepertinya ingin bernostalgia, ia mengatakan pada kakak saya ingin ke Alahan Panjang, Solok dan ke Danau  Maninjau, ke Maninjau saja tidak sempat, Bbapak hanya sempat lewat di Solok, dan Bapak menunjuk di dekat jembatan Solok itu dulu sekolah,” kata Aisyah.

Natsir dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang. Daerah yang dikenal dengan Lembah Gumanti itu adalah dataran tinggi yang subur dengan kebun-kebun kopi dan kebun sayur, serta sawah yang luas. Berhawa dingin dan kerap hujan karena berada di Gunung Talang.

Di Alahan Panjang ini pemandangan alam amat indah, selain perkebunan yang subur, juga dilingkupi dua danau yang dijuluki Danau Kembar yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah. 

Tak Banyak yang Tahu
M.Natsir kecil dulunya lahir di sebuah rumah yang besar yang terletak di dekat Jembatan Berukir, Alahan Panjang 17 Juli 1908. Saat menetap di Alahan Panjang karena menjadi pegawai Belanda di pemerintahan setingkat kecamatan di Alahan Panjang, Ayah M. Natsir, Mohamad Idris Sutan Saripado tinggal di rumah seorang saudagar kopi kaya di Alahan Panjang, Sutan Rajo Ameh.

“Mungkin kakek saya Sutan Rajo Ameh bersahabat dengan Mohamad Idris Sutan Saripad, Bapaknya Pak Natsir sehingga mereka diajak tinggal di rumah itu,” kata Hamdi, cucu Sutan Rajo Ameh yang juga lahir di rumah itu.

Di rumah besar itu, Keluarga Sutan Rajo Ameh bersama istrinya Siti Zahara dan anak-anaknya tinggal di bagian kiri rumah. Sementara  ayah Mohammad Idrus Saripado dan Istrinya Khadijah bersama anaknya menempati rumah bagian kanan.

Menurut Hamdi, rumah itu berhalaman luas, di sisi kirinya mengalir Batang Hiliran Gumanti (batang artnya sungai) yang berair jernih. Airnya berasal dari Danau Diatas dan mengalir terus ke hilir. Di atas sungai itu ada jembatan dari kayu jati yang penuh ukiran yang dibangun Belanda.

“Ketika itu tempat paling indah di Alahan Panjang mungkin di rumah kakek saya, di sampingnya ada sungai dengan jembatan yang berukir dan di depannya ada lapangan yang hijau ditumbuhi rumput dan dipagari pohon pinang,” kata Hamdi.

Di belakang rumah kelahiran Natsir saat ada kolam ikan dan taman kecil yang tetata apik, karena Sutan Rajo Ameh amat suka menata taman dan duduk di kursi malas menghadap ke kolam ikan.

Di sebelah kolam ikan ada sungai Batang Hiliran Gumanti yang sebagian kecil airnya  dialirkan ke kincir air untuk menumbuk padi.  Itu adalah satu-satunya kincir air penumbuk padi  yang ada di Alahan Panjang semasa itu. Sayangnya rumah kelahiran Natsir terbakar saat  agresi Belanda pada 1947 tinggal di Indonesia. Rumah besar itu terbakar kena bom.

“Kata almarhum nenek saya Siti Zahara, waktu kecil ini Pak Natsir orangnya lugu, jujur dan punya sifat yang sejak kecil sudah kelihatan akan jadi pemimpin, selain itu Natsir juga suka dengan segala hal yang rapi, merapikan kamar tidurnya, dan suka membantu mencuci piring,” kata Hamdi.

Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga ke surau, belajar mengaji.  urau itu tidak jauh dari rumahnya, di depan lapangan. Namanya Surau Dagang yang didirikan oleh pedagang dari nagari-nagari di sekitar Alahan Panjang. Pedagang ini berjualan tiap pekan di Pasar Perserikatan Alahan Panjang tak jauh dari surau itu.
Menurut Hamdi, surau itu dulunya dari kayu, lantainya bambu dan atapnya dari daun rumbia, kini sudah berubah menjadi Masjid Al Wusta.

Dijaga Penjaga Buta
Tidak banyak yang  tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang, karena orang-orang segenerasi dengan Natsir apalagi generasi di atas Natsir sudah tidak ada lagi. Apalagi Natsir di Alahan Panjang hanya pada masa sebelum masuk Sekolah Rakyat (SR) di Kota Solok.

Kini Alahan Panjang tidak banyak berubah. Lembah Gumanti berhawa dingin. Ladang sayuran dan kebun kopi masih terhampar luas, karena Alahan Panjnag termasuk sentra pemasok sayuran untuk Sumatera Barat dan Riau.

Namun tempat kelahiran Natsir agak berubah. Rumah kelahiran Natsir yang terbakar telah dibangun lagi pada 1957. Walaupun cukup besar tapi kalah luas dibandingkan rumah yang pernah ditempati Natsir.

Di samping kiri rumah  masih mengalir Batang Hiliran Gumanti dengan airnya yang masih jernih, di atasnya ada jembatan namun tidak lagi jembatan kayu jati yang berukir, telah diganti jembatan beton, walaupun nama jalan di depan rumah itu tetap Jembatan Berukir.

Di dalam rumah masih ada satu set kursi rotan milik Sutan Rajo Ameh, semasa ayah Natsir tinggal di rumah itu, juga ada kursi malas dari kayu jati, serta lemari yang penuh peralatan dari kuningan, peninggalan zaman Natsir saat di rumah itu.

Kolam ikan di belakang rumah sudah tidak ada lagi, kincir air dibelakang rumah dekat rumpun bambu masih ada, namun tidak lagi digunakan. Di seberang jembatan berukir tidak ada lagi lapangan hijau yang luas yang dinaungi barisan pohon pinang. Lapangan itu telah berubah menjadi terminal bus dan angkutan umum, letaknya bersebelahan dengan pasar Alahan Panjang.

Rumah itu dijaga seorang penjaga buta, Zulfikar. Ia adalah kerabat si pemilik rumah Hamdi El Gumanti yang mewarisi rumah itu dari ibunya. Hamdi sendiri tinggal di Jakarta.

“Saya dititipi rumah ini karena ini rumah kelahiran Pak Natsir, karena yang punya merantau semua ke Jakarta, tetapi saya tidak banyak tahu tentang beliau,” kata Zulfikar.

Ia sehari-hari bertugas memelihara rumah, menyapu, membersihkan halaman.

“Sudah banyak yang datang ke rumah ini, karena mereka ingin melihat rumahnya pak Natsir, pernah bupati, gubernur, beberapa  menteri dan pernah pula orang dari Arab yang datang dan numpang sholat di rumah ini karena tahu tempat ini rumah kelahiran Pak Natsir,” kata Zul.

Hamdi El Gumanti sang pemilik rumah mengatakan, tidak banyak lagi orang yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang.

“Yang tahu itu seangkatan nenek saya,dan itu tentu sudah meninggal semua, saya saja tahu cerita Natsir pernah di sana dari nenek , karena nenek saya umurnya sampai 103 tahun jadi saat saya SMA dan nenek tinggal di Jakarta bersama kami, di situlah beliau sering bercerita,” kata Hamdi El Gumanti.

Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai Kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang, Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah.

Tak lama berselang, dia pindah ke Solok. Dan ketika sang ayah pindah ke Makassar, Natsir kembali ke Padang tinggal bersama kakaknya. Di sana dia menamatkan pendidikan dasarnya sebelum akhirnya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onder­wijs (MULO) di Bandung.

Orang Maninjau
Di Danau Maninjua, jejak masa kecil Natsir juga kabur, orang lebih banyak mengenalnya sebagai sosok Natsir yang ikut memimpin perjuangan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). 

Kedua orang tua Muhammad Natsir berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam. Namun tidak diketahui apakah Natsir kecil pernah ke Maninjau. Turunan pihak ibu Natsir memiliki ‘rumah gadang’ di Maninjau. Letaknya di Kelok Satu, sekitar 200 meter dari tepian Danau Maninjau. Dari tempat  itu, Danau Maninjau terlihat jelas.

Di jalan Kelok Satu itu beberapa rumah tua dari kayu masih berdiri salah satunya rumah Roslinar, 64 tahun, kemenakan jauh Natsir dari keturunan kakak dari  ibu Natsir.

Rumah yang ditempati Roslinar bersebelahan dengan rumah yang disebut-sebut rumah Natsir.

Sebenarnya rumah Natsir itu adalah ‘rumah gadang’ milik suku dari pihak perempuan keluarga ibu Natsir. Dulunya rumah itu rumah kayu, namun pada 1990 dibangun menjadi rumah beton dengan atap seng model bagonjong. Di halaman rumah ditutupi paving blok dan dipagar besi. Rumah bercat kuning itu disewakan untuk kost siswa.

“Saya tidak tahu persis apakah saat kecil Pak Natsir pernah singgah ke rumah ini, karena ayah dan ibu Pak Natsir kan memang tidak pernah tinggal di Maninjau, yang jelas itu adalah rumah keluarga ibunya Pak Natsir,” kata Roslinar.

Di dalam rumah itu tidak ada selembar pun foto Nastir. Menurut Roslinar, karena pada masa PRRI semua foto Natsir dan keluarganya disembunyikan dalam plastik sehingga rusak.

“Saat PRRI dulu banyak tentara yang setiap hari ke rumah ini dengan senjata terkokang menanyakan Pak Natsir, jadi seluruh foto-fotonya dan keluarganya kami simpan jauh-jauh di dalam plastik disembunyikan, akhirnya rusak,” kata Roslinar.

Roslinar mengatakan Natsir pernah dua kali berkunjung ke rumah itu. Pertama semasa PRRI dan kedua pada 1980-an.

“Saat masa PRRI saya tidak terlalu ingat, karena masih kanak-kanak, tetapi saat 80-an lalu saya yang sibuk memasak dan jadi tuan rumah karena Pak Natsir datang dan berkumpul di rumah itu bersama sanak dan kemenakannya,” kata Roslinar.

Ia ingat, Natsir banyak bercerita ringan dengan sanak keluarganya, juga nasehat agar bila ingin maju harus mengutamakan pendidikan.

“Pak Natsir tidak menginap, beliau pulang ke Padang, saat pulang saya ditinggali uang Rp150 ribu, katanya untuk belanja di rumah, itulah terakhir kalinya Pak Natsir berkunjung ke rumah ini,” kata Roslinar.

Roslinar mengatakan, tidak tahu banyak tentang masa kecil Natsir. Ia adalah satu-satunya keluarga dari pihak ibu Natsir yang tinggal di Maninjau.
Sekitar 500 meter dari rumah  Natsir  kini berdiri sebuah perpustakaan yang dinamakan Perpustakaan Mohamad Natsir.

Perpustakaan ini didirikan 2005 lalu oleh Ikatan Perantau Maninjau di Jabodetabek.

Di dalam pustaka dengan luas 180 meter persegi itu cukup banyak koleksi buku. Di salah satu lemari terdapat 20-an buku karangam Natsir dan buku tentang Natsir yang disumbang keluarga M. Natsir untuk perpustakaan.

Selain itu juga ada buku-buku fiksi, sastra, buku anak-anak, dan majalah.
“Perpustakaan ini untuk semua umur, setiap hari paling sedikit 10 orang yang membaca di sini,” kata Santi, salah seorang penjaga pustaka.

Ia mengatakan, perpustakaan ini memakai nama M. Natsir karena untuk mengenang tokoh asal Maninjau itu.

“Ini kan daerah asalnya Pak Natsir, walaupun beliau tidak lahir di sini, tetapi beliau orang sini,” kata Santi.

Ia mengatakan, beberapa perantau asal Inggris tahun lalu pernah mengirimkan sumbangan buku-buku anak-anak satu kardus besar langsung dari Inggris. Selain itu mereka juga menyumbang satu perangkat komputer untuk perpustakaan itu.** 

 

 

 

Di Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Mohamad Natsir juga meninggalkan asset kekayaan ilmiah dengan hadirnya majalah Serial Media Dakwah, Suara Mesjid, Serial Khutbah Jum’at, majalah Sahabat untuk anak-anak serta Bulletin Dakwah sebagai penyiram hati umat yang sedang gersang rohani.

Pemikiran beliau masih tetap hidup ditengah umat, dibaca dan ditelaah oleh setiap generasi secara sambung bersambung.

 

 

Bertimbang terima dengan generasi yang akan menerima tongkat patah tumbuh hilang berganti, untuk melanjutkan usaha pembangunan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar dalam Musyawarah di Padang.

 

Bapak Mohamad Natsir telah meninggalkan pesan-pesan dakwah yang tidak akan kering menyirami setiap insan pendakwah di medan dakwah sepanjang masa.

 

Berpuluh khazanah intelektual dan ratusan artikel yang bernuansa dakwah telah ditulis beliau. Belum sempat diterbitkan.

Sebagai insan beliau telah dipanggil kehadirat Allah, pada hari Sabtu tanggal 6 Pebruari 1993 pukul 12.10 WIB bertepatan dengan 14 Sya’ban 1413 H di Ruang ICCU RSCM Jakarta. Dimakamkan di TPU Karet 7 Pebruari 1993 siang, dibawah deraian air mata dan siraman air hujan.

Selamat jalan Bapak Mohamad Natsir. Dibelakang bapak telah menunggu Natsir muda melanjutkan perjuanganmu yang harum semerbak. “Harimau mati meninggalkan belang, manusia pergi meninggalkan amal yang baik juga“.G

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]       Skripsi sarjana IAIN, Wirda Yati, SAg: Dinamika Dakwah Islam di Indonesia, Telaah Terhadap Pemikiran Bapak Mohamad Natsir.

[2]       Dalam bagian pada wawancara dengan Panji Masyarakat Juli  1988 itu,  Natsir  mengibaratkan kader pempimpin  itu  adalah  seperti harapan  Nabi Zakaria yang mendambakanm keturuan  yang  akhairnya Allah  mmemberikan keturuan Nabi Yahya. Natsir  optimis  lahirnya Yahya-Yahaya  baru.  Terutama menurutnya adalah dari  Kampus  dan dari  LSM serta kelompok-kelompok pengajian dan pesantren.   Yang penting  menutut  Natsir pada akhir 80-an itu,  tercipta  situasi yang kondusip yaitu kebebasan mengeluarkan pendapat atau  kebebasan beribicara.

 

 

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: