Pandangan anak Tionghoa tentang Natsir dan Keberagaman Natsir

Jumat, 18 Juli 2008
Oleh : Mustofa Liem, Dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk Kesetaraan. WNI
asal Jatim di Singapura
Bangsa ini sedang memperingati 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Dalam
peringatan di aula MK, 15 Juli 2008, Wapres Jusuf Kalla mengungkapkan, figur
Natsir patut menjadi panutan para pemimpin Indonesia. Lalu, dia menunjuk
enam presiden dalam sejarah republik ini yang tidak saling berbicara satu
sama lain.

Bahkan, Natsir layak menjadi panutan bagi segenap anak bangsa. Sebab, dalam
kontak sosial atau relasi antarmanusia, persoalan perbedaan ideologi atau
politik, agama atau suku, tidak pernah menjadi pertimbangan bagi sosok yang
sebenarnya lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat,
tersebut. Natsir amat menonjol dengan penghargaan pada egalitarianisme atau
kesetaraan, sebagaimana hal itu diajarkan dalam Islam.

Sosok Sederhana

Sejak masa kanak-kanak, Natsir akrab dengan Islam. Mulai madrasah diniah di
Solok pada sore dan belajar mengaji Alquran pada malam di surau. Dia belajar
pada H Agus Salim, HOS Cokroaminoto, hingga Mohammad Abduh, tokoh pembaru
Islam asal Mesir. Sampai hari tuanya, Islam menjadi pegangan hidupnya. Pada
1987, Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic
Studies, London.

Pengetahuannya yang mendalam tentang Islam sebagai agama perdamaian sungguh
terimplementasi dalam hidupnya yang amat sederhana. Tidak heran, anak juru
tulis yang pernah ditolak masuk sekolah dasar Belanda itu layak dijadikan
suri teladan dalam hal kesederhanaan.

Sebagaimana diketahui, Natsir bersama Sukiman dan Roem dikenal sebagai
pendiri partai Islam Masyumi pada November 1945. Dalam Kabinet Syahrir I dan
II (1946-1947) dan dalam Kabinet Hatta 1948, Natsir ditunjuk sebagai menteri
penerangan.

Prof George Kahin, ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika, pernah
diterima oleh Menpen Natsir pada 1948 yang mengenakan pakaian
compang-camping. Menurut catatan guru besar Cornell University itu, beberapa
minggu kemudian, staf yang bekerja di kantor Menpen Natsir berpatungan
membelikannya sehelai baju yang lebih pantas.

Kesederhanaan itulah yang tidak menjerumuskan dirinya dalam ketamakan atau
hasrat untuk mengorupsi uang rakyat sebagaimana marak ditunjukkan para
pejabat akhir-akhir ini.

Sosok Multikultural

Bukan kesederhanaan itu saja yang menonjol. Sikap santunnya sungguh
menyentuh hati siapa saja. Tidak heran, Natsir dikenal sebagai politikus
dengan 1001 teman yang beragam. Misalnya, pascakembali ke negara kesatuan RI
pada 17 Agustus 1950, Natsir ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Soekarno
pada September 1950. Dia tak sungkan melibatkan unsur-unsur nonmuslim dan
nasionalis. Herman Johannes, tokoh Kristen dari Partai Indonesia Raya,
ditunjuk memimpin Departemen Pekerjaan Umum.

Natsir juga akrab dengan I.J. Kasimo dari Partai Katolik yang menjadi
pendukungnya saat mengajukan mosi kembali ke bentuk NKRI pada 3 April 1950.
Dengan Dipa Nusantara Aidit, Komite Comite Central Partai Komunis Indonesia,
Natsir bisa berdebat sangat panas di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat.
Tapi, di luar sidang, Natsir bisa akrab bahkan “menyeruput” kopi hasil
traktiran Aidit.

Bahkan apa yang ditunjukkan Natsir juga menjadi model bagi tokoh Masyumi
yang lain. Kiai Isa Ansari misalnya, biasa makan sate bersama Aidit dan
Njoto setelah terlibat dalam perbedaaan politik yang panas. Lalu, Mohammad
Roem dengan Oei Tjoe Tat, tokoh Tionghoa dan mantan menteri Kabinet Dwikora.
Menurut Amien Rais, tidak ada halangan bagi Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi
untuk bergaul dengan kalangan nonmuslim (Tempo, 20 Juli 2008, hal 88).

Kemudian, meski selama lima tahun (1950-1955) dominasi parpol Islam merajai
perpolitikan nasional, Natsir tegas mengakui Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia. Dalam pidato di Pakistan Institute of World Affairs, 1952, dia
membela Pancasila yang dinilai selaras dengan prinsip-prinsip Islam.

Merenungkan Natsir yang, antara lain, ikut menandatangani Petisi 50 pada
1980, memang banyak hal yang bisa kita timba. Maklum, dia punya banyak
peran, mulai politikus, pendidik, pendakwah, dan sebagainya. Namun, satu hal
yang perlu digarisbawahi, Natsir tidak alergi pada kemajemukan atau
perbedaan. Manusia bisa berbeda agama, suku, atau partai. Namun, semua punya
derajat sama di mata Sang Pencipta. Perbedaan pada lawan politik Natsir
bukan kendala. Perbedaan justru rahmat yang bisa dipakai untuk membangun
bangsa ini.

Apalagi, karakter utama bangsa ini adalah keberagaman atau kemajemukan. Saat
para pemimpin bangsa ini memberikan teladan buruk dengan tidak saling
menyapa, Natsir menjadi inspirasi segar bahwa perbedaan bukan barang haram.
Bahkan, kita harus belajar mengelola perbedaan itu untuk memberikan manfaat
yang sebanyak-banyaknya bagi kemajuan bangsa. Perbedaan bukan alasan untuk
memecah belah bangsa.

Jasad Natsir memang sudah dikebumikan pada 6 Februari 1993 di Tanah Kusir,
Jakarta. Namun, teladan dan nilai-nilai yang diyakini akan terus hidup dalam
hati para pengagumnya. Meski belum dianugerahi gelar pahlawan nasional,
Natsir adalah pahlawan sejati bangsa ini. (***)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/12772/114/

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: