Jagalah Ibu Pertiwi, Jangan jatuh ke tangan Komunis….!!!

Pesan Dakwah Mohamad Natsir,
Hidupkan Dakwah Bangun Negeri

Jagalah Ibu Pertiwi,
Jangan Jatuh di Pangkuan Komunis

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Bapak Mohamad Natsir, dalam setiap pertemuannya dengan ahlul qurba yang juga merupakan inner circle dari perjuangan Islam dan harga diri umat di daerah.

Selalu mendengarkan keluhan tentang pesatnya gerakan misionaris. Lebih lebih sejak masa orde lama telah terkondisi seakan akan memberi peluang kepada gerakan missionaris tersebut atas dukungan orang orang komunis (PKI) .

Kondisi masyarakat yang runyam ini, menurut Bapak Mohamad Natsir hanya mungkin diperbaiki dengan amal nyata.

Bukan dengan semboyan semboyan yang bisa memancing apatisme masyarakat atau melawan kebijakan penguasa di daerah.

Bapak Mohamad Natsir menasehatkan supaya kaedah yang selama ini telah dimiliki oleh umat Islam, ukhuwah dan persatuan, mesti dihidupkan terus.

Menumbuhkan Perwakilan Dewan Dakwah
Di antaranya dengan membentuk perwakilan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di daerah Tk.I propinsi Sumatera Barat yang diresmikan sendiri oleh Bapak Mohamad Natsir di Gedung Nasional Bukittinggi .

Karena itu tidak ada alasan untuk berpangku tangan.
Jangan hanya berdiri dipinggir jalan, dengan melipat tangan sambil menghitung-hitung apa yang dibuat atau tidak dibuat oleh orang yang lalu-lalang.

Tetapi, yang mesti diperbuat adalah, gerakkan juga apa yang bisa, dalam kerangka jihad mencari redha Allah.

Umat Islam pun harus tahu, dan dapat menjawab setiap masalah umat sesuai dengan perkembangan zaman, antara lain ;

Bagaimana keadaan kita umat Islam dewasa ini ?
Apa yang dihadapinya ?
Apa yang berlaku disekelilingnya ?
Apa modalnya untuk menghadapi semua itu ?.

Semua pertanyaan itu, memerlukan jawaban berupa perbuatan nyata, yang lebih baik, dengan maksud dan tujuan untuk membangkitkan batang terendam.

Pada tanggal 15 Juli 1968, dalam suatu pertemuan bersejarah yang dihadiri oleh hampir seluruh ulama Suma¬tera Barat. Para ulama tersebut tergabung dalam Majelis Ulama Sumatera Barat yang terang terangan anti komunis.

Dalam ajaran Islam, Komunisme adalah kelompok dahriyyin atau atheis (golongan yang tidak mengakui adanya Tuhan). Komunisme adalah ajaran kafir, begitu aqidah Islam.

Pertemuan itu juga diikuti oleh ninik mamak pemuka masyarakat yang datang berduyun duyun menyambut kehadiran pemimpin pulang.

Antusias hadirin waktu itu terlihat secara spontan.
Tidak ada satu kursipun yang kosong, tak ada tempat yang lowong yang tak diisi. Banyak hadirin yang berdiri bahkan ada yang hanya dapat duduk di lantai.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat diresmikan sebagai perwakilan pertama di daerah di luar DKI Jakarta.

Kepengurusan pertama Dewan Dakwah di Sumbar di nakhodai para ulama kharismatik .

Sederetan nama para pemimpin yang tidak diragui keistiqmahannya dan selalu berada di garis perjuangan Islam di Sumatera Barat ada dalam kepengurusan Dewan Dakwah di Sumatera Barat.

Seperti Buya H. Mansur Daud Dt. Palimo Kayo, yang sudah tidak asing lagi dikenal oleh masayarakat Sumatera Barat ini.

Buya Datuk, panggilan akrab masyarakat Minang kepada beliau adalah mantan Duta Besar RI di Irak.
Juga adalah mantan Ketua Umum Masyumi Sumatera Tengah.

Buya Datuk terkenal sangat anti komunis.
Tahun 1968 Buya Datuk Palimo Kayo telah menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Sumbar, hingga akhir hayat beliau.

Memang semua penggerak pertama Dewan Dakwah di Sumbar adalah keluarga besar Bulan Bintang. Keadaan ini, tidak perlu dibantah.

Mereka adalah pemimpin-pemimpin umat yang aktif dalam setiap gerak perjuangan Agama dan Bangsa, di Sumatera Barat dan dikenal diseluruh tanah air Indonesia.

Jauh hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, mereka adalah pribadi pribadi yang sangat anti komunis.

Di antaranya ada yang sudah berada pada barisan Perintis Kemerdekaan.

Namun, masih ada saja kalangan yang berpandangan sinis.
Kalangan itu melihat bahwa di antara pengurus pertama Dewan Dakwah Sumatera Barat yang diresmikan tersebut.

Tidak pelak lagi, mereka para pengurus Dewan Dakwah Sumatera Barat ini serta merta dicap sebagai kelompok orang orang “bekas pemberontak PRRI”.
Istilah yang dihidupkan oleh PKI di tahun 1960 an.

Padahal Pemerintah RI secara resmi telah mengeluarkan amnesti dan abolisi sejak tahun 1961 .

Namun saat itu situasi terasa sangat menyakitkan.
Kembali ke pangkuan Ibu Perti¬wi, di saat Ibu Pertiwi berada “di pangkuan komunis”.
Karena itu khusus untuk daerah Sumbar, kehadiran Dewan Dakwah disambut sebagai suatu harapan “yang akan mampu menjawab tantangan”.

Dewan Dakwah dianggap sangat istiqamah sebagai kekuatan anti komunis.
Sebenarnya, fenomena yang berkembang di zaman itu bisa sangat mendukung keberadaan Dewan Dakwah di Sumatera Barat, karena jelas jelas seiring dengan misi Orde Baru, sebagai orde anti komunis di Indonesia.

Beberapa kebijakan Dewan Dakwah menghadapi masalah masalah ekstern yang menyangkut segi aqidah dan muamalah dalam arti luas dijadikan prioritas utama program didaerah ini.

Karena pendangkalan aqidah umat telah diupayakan berbagai pihak selama komunis berkuasa di era Soekarno.

Amal nyata yang diprogramkan oleh Bapak Mohamad Natsir dan ditinggalkan untuk dikerjakan di Sumatera Barat merupakan program yang amat monumental.
Ada lima program pokok yakni:

1. Gerakkan kembali tangan umat melalui penguasaan keterampilan di desa desa sebagai usaha membina kesejahteraan bersama, artinya menghidupkan kembali ekonomi umat di desa desa.
Desa adalah benteng kota dalam artian perkembangan ekonomi yang sesungguhnya.

2. Hidupkan kembali lembaga puro. Yakni kebiasaan menabung dan berhemat dalam satu simpanan bernama puro.
Juga menghidupkan kebiasaan berinfaq, bersedekah dan berzakat sebagai suatu usaha pelaksanaan syariat Islam, menghimpun dana dari umat yang berada untuk dikembalikan kepada umat yang lemah (dhu’afak).

3. Hidupkan kembali Madrasah madrasah yang sudah lesu darah, karena kehabisan tenaga pada masa pergolakkan. Hidupkan masjid bina jama’ah dan tumbuhkan minat seluruh masyarakat untuk menghormati ilmu dan memiliki kekuatan Iman dan Tauhid, terutama memulainya dari kalangan generasi muda.

4. Perhatikan kesehatan umat dengan mendirikan Rumah Sakit Islam.
Bila kita terlambat memikirkan kesehatan umat maka orang lain akan mendahuluinya, bisa bisa terjadi nantinya jalan di alih orang lalu.

Membangun Rumah Sakit Islam adalah ibadah karena ada suruhan untuk berobat bagi setiap orang yang sakit (hamba Allah).
Gerakan ini berarti juga memfungsikan para ahli di bidangnya yang keislamannya sama bahkan tidak diragukan.

5. Perhatikan nasib pembangunan masyarakat di Mentawai.
Mentawai itu adalah daerah kita dan semestinya kitalah yang amat berkepentingan dalam membangunnya.

Bila orang bisa berkata bahwa Mentawai ketinggalan sebenarnya yang disebut ketinggalan adalah kita yang tak mau memperhatikan mereka di Mentawai itu.

Kelima program ini minta dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu, dan dapat diprioritaskan mana yang mungkin didahulukan.

Walaupun sebenarnya kelima program utama dakwah ini tidak terpisah, karena seluruhnya merupa kan pekerjaan yang berkaitan sesamanya dan integral.

Modal kita yang utama untuk mengangkat program ini adalah kesepakatan semua pihak dan dorongan mencari ridha Allah.
Begitu di antara pesan dakwah Bapak Mohamad Natsir, yang di ingatkan kepada pemimpin pemimpin umat di kala itu.

Dari dorongan dorongan berbentuk taushiah tersebut pada mulanya, namun ujungnya membuah kan hasil nyata.

Pada Oktober tahun 1969 Balai Kesehatan Ibnu Sina, merupakan cikal bakal Rumah Sakit Islam Ibnu Sina yang mengambil tempat di rumah Dr.M.Yoesoef dan rumah keluarga Dr.M.Djamil di Bukittinggi atau Sitawa Sidingin diresmikan.

Peresmian beroperasinya Balai Kesehatan Ibnu Sina ini dilakukan oleh Proklamator Republik Indonesia Bapak Mohammad Hatta.

Satu sejarah baru telah dimulai yakni mem-bangun balai kesehatan sebagai rangkaian dari suatu ibadah dan gerak dakwah.

Keberadaan Balai Kesehatan ini disambut oleh seluruh lapisan masyarakat dari desa desa hingga ke kota, oleh pegawai sampai petani, dari ulama dan pejabat hingga pedagang dan perantau.

Serta merta seluruh pihak pihak tersebut membuka puro (persediaan harta) menyalurkannya dengan ikhlas untuk berdirinya Balai Kesehatan Islam di Bukittinggi.

Akhirnya menyebar ke Padang Panjang, Padang, Payakumbuh, Kapar di Pasaman Barat, Simpang Empat dan Panti dalam waktu yang sangat pendek hanya berjarak tiga tahun.

Dan akhirnya, Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, berkembang menjadi rumah sakit umat.

Apa yang diperbuat oleh Misi Baptis di Bukit-tinggi selama ini, telah dapat dijawab oleh umat Islam di daerah Sumatera Barat, dengan suatu amal nyata, yakni melalui program dakwah illallah, dalam bidang kesehatan.

Seiring dengan itu, masalah pendidikanpun dihidupkan, dengan perhatian penuh, seperti terhadap lembaga pendidikan yang sudah ada, antara lain Sumatera Thawalib Parabek, Thawalib Padang Panjang, Diniyah Padang Pan¬jang, dan lainnya.

Selain madrasah yang sudah ada, dihidupkan pula madrasah baru, seperti Aqabah di Bukittinggi.
Di samping, madrasah madarasah Islam yang tumbuh dari masyarakat di desa. Madrasah dan pesantren, adalah salah satu bentuk lembaga kejamaahan non formal, yang khas Indonesia.

Pesantren, di samping kedudukannya sebagai lembaga pendidikan, juga merupakan lembaga kejamaahan.
Hal ini karena pesantren mempunyai kemampuan mengikat santrinya, dan mempunyai ikatan dengan umat atau masyarakat, ditingkat “grassroot” atau lapisan bawah.

Ikatan ini, sifatnya lebih kuat.
Seringkali melebihi ikatan pada organisasi formal.
Kalau kampus merupakan ikatan jamaah pada tingkat ‘elitis intelektual’, jama’ah pesantren mampu mengikat umat, pada tingkat ‘populis awami’.

Sungguhpun ada juga perasaan “cemas” sebagai pengganti kata takut, kepada Dewan Dakwah sejak dari mula merupakan bayangan tanpa alasan.
Hanya, tidak lebih sebagai suatu trauma psikologis semata atas pernah terjadinya pergolakan daerah (PRRI) dan pandangan yang kurang ilmiah terhadap Masyumi.

Suatu hal yang aneh memang bila dibandingkan dengan jumlah Umat Islam di daerah Sumatera Barat yang boleh dikata hampir 100%.

Namun, masih ada saja di kala itu sebahagian kecil diantaranya, menjadi phobi dengan gerakan Islam.
Kebetulan dijalankan oleh orang orang yang kata mereka adalah ex. Masyumi atau Keluarga Besar Bulan Bintang.

Sesudah Masyumi membubarkan diri, dan rehabilitasinya tidak diizinkan pemerintah, sebagian tokoh Masyumi mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Karena itu muncul anggapan, Dewan Dakwah adalah penerus Masyumi.
Salah paham terhadap Masyumi dan Dewan Dakwah memang selalu ada.

Tujuan Masyumi sesuai dengan apa yang termaktub dalam anggaran dasarnya, yakni memperjuangkan terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia menuju keridhaan Allah.

Sebagaimana Masyumi yang sangat terbuka, Dewan Dakwah pun pada prinsipnya selalu terbuka terhadap semua pemikiran.

Biarlah masyarakat yang menilai.
Kita memiliki kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, lisan mau pun tulisan.
Masalahnya barangkali, sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh sesuatu pemikiran.

Yang penting, jangan terlampau cepat mengambil kesimpulan.
Ini yang perlu dilempangkan.

Di samping kegiatan sosial, Dewan Dakwah juga mengikuti perkembangan politik, terutama yang berkaitan dengan agama.

Sikap Dewan Dakwah dan perjuangannya sejak dilahirkan pada tahun 1967 sampai sekarang tetap istiqamah.

Bila diperhatikan, perjuangan politik umat Islam di Indonesia terlihat bahwa peranan politik Islam mengalami penurunan yang konstan.

Perekayasaan politik yang melumpuhkan peran an politik rakyat dan umat Islam khususnya terasa amat efektif sejak beberapa dasawarsa terakhir.
Nampaknya proses pembangunan yang sangat berorientasi pada aspek ekonomi dan sangat pragmatik, secara langsung maupun tidak langsung, telah berpengaruh pada proses penumpulan pandangan ideologis masyarakat Indonesia.

Keberadaan Dewan Dakwah diterima oleh kalangan tua dan muda seba¬gai suatu kekuatan baru dalam memelihara kerukunan umat dan kejayaan agama.

Segi pembinaan intern umat, menjadi perhatian utama Dewan Dakwah yang telah membuktikannya dengan amal nyata atau dakwah bil lisanil-hal.

Untuk meningkatkan kualitas da’i secara berkala Dewan Dakwah melakukan pendidikan dan pelatihan pelatihan keter¬ampilan para da’i.

Dalam melakukan amal amal nyata tersebut, Dewan Dakwah tidak bekerja sendiri.
Dewan Dakwah, dalam hal hal tersebut, hanya bertindak sebagai generator atau motivator yang membangkitkan kesadaran umat dan masyarakat setempat supaya dapat berbuat baik dan bermanfaat bagi lingkungannya.

Berswadaya dan mandiri inilah yang ditanam kan kepada segenap keluarga besar Dewan Dakwah, sehingga dalam masya¬rakat timbul otoaktifitas yang kreatif.

Dalam rangka melaksanakan tugas risalahnya, Dewan Dakwah senantiasa mengusahakan terciptanya iklim kerja sama yang serasi dengan menghormati pendirian dan identitas masing masing.

Dewan Dakwah menyadari benar, diperlukan ukhuwah Islamiyah, baik secara formal maupun individual.

Hanya sebahagian saja kalangan masyarakat yang tidak senang dengan kehadiran Dewan Dakwah.

Bila ini dibiarkan berlalu, maka rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat menjadi terhambat.

Gagasan dan gerak Dewan Dakwah menghidupkan kembali partisipasi umat secara ikhlas, dengan cara memulai dengan apa yang ada.

Melihat usaha ini, mungkin mereka cemas seakan-akan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan mencungkil kembali luka lama yang mulai bertaut.

Sebagai telah diyakini bahwa Dakwah Islam adalah perombakan total sikap umat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat.

Maka sebenarnya sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain, Dakwah Islam tidak akan pernah berhenti.
Dan, tetap akan merupakan kewajiban fardhu ‘ain bagi setiap umat Muslim dimana pun mereka berada.

Karena itu para pendiri Dewan Dakwah yang terdiri dari para ulama dan zu’ama’ yang bemusyawarah di Masjid Al Munawwarah Kampung Bali Tanah Abang Jakarta Pusat pada awal 1967 dengan sadar telah memilih bentuk Yayasan dan karenanya tidak mempunyai anggota. 


QR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam “Dakwah Komprehensif” oleh H. Mas’oed Abidin

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

2 responses to “Jagalah Ibu Pertiwi, Jangan jatuh ke tangan Komunis….!!!

  • Jagalah Ibu Pertiwi, Jangan jatuh ke tangan Komunis….!!! « Mohamad Natsir’s Weblog « blog Buya Mas’oed Abidin

    […] Ibu Pertiwi, Jangan jatuh ke tangan Komunis….!!! « Mohamad Natsir’s Weblog Jagalah Ibu Pertiwi, Jangan jatuh ke tangan Komunis….!!! « Mohamad Natsir’s Weblog Diterbitkan […]

  • Badrut Tamam Gaffas

    Bahaya Merah Komunisme bukan berarti kita benci dengan saudara kita yang berbeda paham dan ideologi, mereka juga bagian dari anak bangsa yang perlu untuk dihargai jika mereka dalam berinteraksi sosial dan politik mengedepankan cara – cara yang baik, santun dan elegan.
    namun hendaknya kita senantiasa waspada betapa tangan – tangan merah komunisme dimanapun dibelahan dunia ini berjuang dengan konfrontasi, dialektika – mempertentangkan kelas, memajukan massa secara massive yang bisa memantik kebrutalan dan anarkisme dan menghalalkan cara – cara intimidasi, penculikan dan paling menyukai terjadinya chaos sehingga keadaan transisional inilah yang menguntungkan tangan – tangan merah untuk bangkit mencengkeran dunia dengan kekuatan merahnya …memerah totalkan nusantara adalah agenda kaum merah dan kita harus terus tegak sebgai Laskar – laskar Hijau yang berjuang dari ummat – oleh ummat dan untuk ummat

    Benar ………
    Beda keyakinan tidaklah menjadikan kita harus berpisah jauh.
    Berbeda tujuan itulah yang membawa kita berubah langkah dan arah.
    Wassalam,
    Buya HMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: