Pandangan anak Tionghoa tentang Natsir dan Keberagaman Natsir
Jumat, 18 Juli 2008
Oleh : Mustofa Liem, Dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk Kesetaraan. WNI
asal Jatim di Singapura
Bangsa ini sedang memperingati 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Dalam
peringatan di aula MK, 15 Juli 2008, Wapres Jusuf Kalla mengungkapkan, figur
Natsir patut menjadi panutan para pemimpin Indonesia. Lalu, dia menunjuk
enam presiden dalam sejarah republik ini yang tidak saling berbicara satu
sama lain.
Bahkan, Natsir layak menjadi panutan bagi segenap anak bangsa. Sebab, dalam
kontak sosial atau relasi antarmanusia, persoalan perbedaan ideologi atau
politik, agama atau suku, tidak pernah menjadi pertimbangan bagi sosok yang
sebenarnya lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat,
tersebut. Natsir amat menonjol dengan penghargaan pada egalitarianisme atau
kesetaraan, sebagaimana hal itu diajarkan dalam Islam.
Sosok Sederhana
Sejak masa kanak-kanak, Natsir akrab dengan Islam. Mulai madrasah diniah di
Solok pada sore dan belajar mengaji Alquran pada malam di surau. Dia belajar
pada H Agus Salim, HOS Cokroaminoto, hingga Mohammad Abduh, tokoh pembaru
Islam asal Mesir. Sampai hari tuanya, Islam menjadi pegangan hidupnya. Pada
1987, Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic
Studies, London.
Pengetahuannya yang mendalam tentang Islam sebagai agama perdamaian sungguh
terimplementasi dalam hidupnya yang amat sederhana. Tidak heran, anak juru
tulis yang pernah ditolak masuk sekolah dasar Belanda itu layak dijadikan
suri teladan dalam hal kesederhanaan.
Sebagaimana diketahui, Natsir bersama Sukiman dan Roem dikenal sebagai
pendiri partai Islam Masyumi pada November 1945. Dalam Kabinet Syahrir I dan
II (1946-1947) dan dalam Kabinet Hatta 1948, Natsir ditunjuk sebagai menteri
penerangan.
Prof George Kahin, ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika, pernah
diterima oleh Menpen Natsir pada 1948 yang mengenakan pakaian
compang-camping. Menurut catatan guru besar Cornell University itu, beberapa
minggu kemudian, staf yang bekerja di kantor Menpen Natsir berpatungan
membelikannya sehelai baju yang lebih pantas.
Kesederhanaan itulah yang tidak menjerumuskan dirinya dalam ketamakan atau
hasrat untuk mengorupsi uang rakyat sebagaimana marak ditunjukkan para
pejabat akhir-akhir ini.
Sosok Multikultural
Bukan kesederhanaan itu saja yang menonjol. Sikap santunnya sungguh
menyentuh hati siapa saja. Tidak heran, Natsir dikenal sebagai politikus
dengan 1001 teman yang beragam. Misalnya, pascakembali ke negara kesatuan RI
pada 17 Agustus 1950, Natsir ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Soekarno
pada September 1950. Dia tak sungkan melibatkan unsur-unsur nonmuslim dan
nasionalis. Herman Johannes, tokoh Kristen dari Partai Indonesia Raya,
ditunjuk memimpin Departemen Pekerjaan Umum.
Natsir juga akrab dengan I.J. Kasimo dari Partai Katolik yang menjadi
pendukungnya saat mengajukan mosi kembali ke bentuk NKRI pada 3 April 1950.
Dengan Dipa Nusantara Aidit, Komite Comite Central Partai Komunis Indonesia,
Natsir bisa berdebat sangat panas di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat.
Tapi, di luar sidang, Natsir bisa akrab bahkan “menyeruput” kopi hasil
traktiran Aidit.
Bahkan apa yang ditunjukkan Natsir juga menjadi model bagi tokoh Masyumi
yang lain. Kiai Isa Ansari misalnya, biasa makan sate bersama Aidit dan
Njoto setelah terlibat dalam perbedaaan politik yang panas. Lalu, Mohammad
Roem dengan Oei Tjoe Tat, tokoh Tionghoa dan mantan menteri Kabinet Dwikora.
Menurut Amien Rais, tidak ada halangan bagi Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi
untuk bergaul dengan kalangan nonmuslim (Tempo, 20 Juli 2008, hal 88).
Kemudian, meski selama lima tahun (1950-1955) dominasi parpol Islam merajai
perpolitikan nasional, Natsir tegas mengakui Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia. Dalam pidato di Pakistan Institute of World Affairs, 1952, dia
membela Pancasila yang dinilai selaras dengan prinsip-prinsip Islam.
Merenungkan Natsir yang, antara lain, ikut menandatangani Petisi 50 pada
1980, memang banyak hal yang bisa kita timba. Maklum, dia punya banyak
peran, mulai politikus, pendidik, pendakwah, dan sebagainya. Namun, satu hal
yang perlu digarisbawahi, Natsir tidak alergi pada kemajemukan atau
perbedaan. Manusia bisa berbeda agama, suku, atau partai. Namun, semua punya
derajat sama di mata Sang Pencipta. Perbedaan pada lawan politik Natsir
bukan kendala. Perbedaan justru rahmat yang bisa dipakai untuk membangun
bangsa ini.
Apalagi, karakter utama bangsa ini adalah keberagaman atau kemajemukan. Saat
para pemimpin bangsa ini memberikan teladan buruk dengan tidak saling
menyapa, Natsir menjadi inspirasi segar bahwa perbedaan bukan barang haram.
Bahkan, kita harus belajar mengelola perbedaan itu untuk memberikan manfaat
yang sebanyak-banyaknya bagi kemajuan bangsa. Perbedaan bukan alasan untuk
memecah belah bangsa.
Jasad Natsir memang sudah dikebumikan pada 6 Februari 1993 di Tanah Kusir,
Jakarta. Namun, teladan dan nilai-nilai yang diyakini akan terus hidup dalam
hati para pengagumnya. Meski belum dianugerahi gelar pahlawan nasional,
Natsir adalah pahlawan sejati bangsa ini. (***)
Add comment Juli 18, 2008
Berencana Menghadapi Gerakan Salibiyah
Berencanalah dengan baik
dalam berhadapan dengan
gerakan Salibiyah terencana
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya untuk memikirkannya lebih mendalam. Apalagi untuk membicarakannya dengan teman-teman kita secara bertenang-tenang. Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab “bakorong-ketek“.[1]
1. Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.
2. Pihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi biaya pembangunan tidak ada.
3. Akibatnya, pihak masyarakat merasa tidak puas karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.
4. Di Bukittinggi ada agen dari missi asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saya.
Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristenisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materi dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka di tengah-tengah ummat Islam. Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti di tengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat” itu.
Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daya upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.
5. Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukakan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.
Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama? Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken…
Di pulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum!- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu. Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.
Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katolik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.
Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan, mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.
Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.
6. Kalau mereka berpikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat mengadu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :
· Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan.
· Pihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.
· Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang modern, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?
Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.
7. Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu.
Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya.
Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.
Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minangkabau secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya !
Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….
8. Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?
Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:
a) rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,b) soal asrama untuk tentara,
b) soal kekurangan rumah sakit yang bermutu lebih baik, ialah dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam.
Atau setidaknya-tidaknya peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.
Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya. Tapi apabila yang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali manfaatnya.
Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjukkan jalan alternatif yang lebih baik.
Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.
Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missi-missi asing itu :
“Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.
Haraplah hal ini kita coba-coba sama-sama pikirkan.
Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir.
Dan bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern. Dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dsb.
Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal. Yakni asrama yang mencukupi syarat (kalaupun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh Baptis itu).
Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut. Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat dikumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.
Kata dari orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.
Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih flexible. Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama. Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.
Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana.
Saya ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was.
Wassalam, Mohamad Natsir. G
[1] Surat Bapak DR. Mohamad Natsir yang ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo dan Buya Fachruddin HS. Datuk Majo Indo, bertarikh Djakarta, 20 Juli 1968, adalah merupakan pengamatan Pak Natsir serta pengalaman-pengalaman berdasarkan data-data tentang Gerakan Salibiyah yang sangat terencana.
Add comment Juni 9, 2008
Menjaga Kerukunan Umat
Memelihara
Kerukunan Umat
Oleh : H Mas’oed Abidin
|
|
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang diketuai Bapak DR. Mohamad Natsir, juga turut dirancang oleh Buya Datuk Palimo Kayo sejak didirikan pada bulan Pebruari 1967. Sebagai organisasi dakwah, maka kepada setiap unsur yang berperan dalam Dewan Da’wah selalu diajarkan supaya memanggil semua orang ke jalan Allah, dengan cara-cara yang diperingatkan supaya memanggil itu dengan hikmah (bijaksana).
Bil hikmah dalam satu masyarakat yang terdiri dari pemeluk-pemeluk berbagai agama, terasa sekali sangat mutlak diperlukannya.[1]
Sebagai telah diyakini bahwa Dakwah Islam adalah perombakan total sikap umat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat. Maka sebenarnya sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain, dakwah tidak akan pernah berhenti, tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap umat Muslim di mana pun mereka berada. Karena itu para pendiri Dewan Da’wah dengan sadar telah menetapkan gerakan dakwah berdasar kepada taqwa dan keredhaan Allah dan tujuan menggiatkan mutu dakwah Islamiyah di Indonesia.
Dalam melakukan kegiatan-kegiatan, Dewan Da’wah menempatkan diri sebagai penerus kegiatan-kegiatan dakwah sebelumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW.
Menerima tugas risalah, artinya adalah memanggil umat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatu hasanah. Bapak DR. Mohamad Natsir menyebutkan dengan ungkapan sederhana tapi padat arti ialah “risalah mengawali dan dakwah melanjutkan”.
Dewan Da’wah sadar benar walaupun tugas risalah Islamiyah yang dibawa Rasulullah SAW bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin). Namun sudah menjadi tabiat pembawaan, bahwa setiap risalah pasti menghadapi tantangan. Menghadapi tantangan itu, diperlukan jawaban-jawaban. Maka tugas dakwah senantiasa mengandung dua segi: bina’an wa difa’an. Pertama: membina mereka yang sudah muslim, baik yang sejak lahirnya, maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah Islamiyah. Kedua: membela Islam dan umatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam, bahkan yang melihat Islam sebagai rivalnya.
Di kala Bapak DR. Mohamad Natsir berkunjung ke Sumatera Barat pada Juni tahun 1968 itu, ada program pokok yang musti dilakukan.
Gerakan Kembali Tangan Umat
a. Melalui penguasaan keterampilan di desa-desa,
b. Dalam usaha membina kesejahteraan bersama,
c. Menghidupkan kembali ekonomi umat di desa-desa. Desa adalah benteng kota dalam artian perkembangan ekonomi yang sesungguhnya.
Keterampilan pertanian dan peternakan terpadu di Tanah Mati Payakumbuh dan pemanfaatan lahan wakaf umat di Rambah Kinali mulai digarap.
Tujuan utamanya tidak hanya sekedar untuk mendatangkan hasil secara ekonomis namun lebih jauh sebagai wadah pembinaan generasi muda yang tetap harus tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ , syara’ mamutuih, Adat memakai !”.
Adat dan syari’at memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif. Keduanya menyimpan kekuatan pendorong dan perangsang, force of motivation, menjadi tenaga penggerak, untuk mendinamisasi satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”, dan menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan, untuk mengembangkan kegiatan ekonomis, seperti menghindarkan pemborosan, dan selalu melihat jauh ke depan, yang akan merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.
Bapak DR.Mohamad Natsir sebagai seorang the political thinkers atau the political idea philosopher, senantiasa berupaya menggali dan memerankan sungguh-sungguh potensi yang dipunyai masyarakat kecil. Idea dan pemikiran politik Mohamad Natsir adalah berurat di hati umat.
Satu tema menarik: menciptakan masyarakat tamaddun (beradab). Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban liberal yang sekuler. Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi. Konsep membentuk masyarakat semacam ini sangat sejalan dengan salah satu konsepsi pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir dalam ruang lingkup pemikiran Islam. Ajaran agama Islam sanggup bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya, tanpa harus menggadaikan prinsip dasar ajaran Wahyu Allah yang menjadi landasan agama Islam.
Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari-hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya. Tetapi semestinya bersifat inklusif, untuk bisa dipahami oleh semua orang.
Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan semua problematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap lapisan masyarakat yang ada mulai dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut.
Pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir sedari awalnya berupaya menjelmakan umat pertengahan (umathan wasathan). Suatu tatanan masyarakat yang kokoh iman dan berakhlak mulia seperti yang dikemukakan ajaran Al Qur’an. Sebagai pemikiran aplikatif terhadap problematika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupakan sebuah keniscayaan. Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan hadir, karena kesenjangan antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut. Kesenjangan teratasi oleh pembentukan masyarakat self help, selfless help dan mutual help di atas.
Upaya menjembatani kesenjangan hanya bisa dilakukan melalui amal nyata dengan “Berorientasi kepada ridha Allah SWT.” Suatu keyakinan sangat obyektif bahwa setiap ajaran Islam, pasti mampu memberikan jalan keluar (solusi) terhadap problematika sosial umat manusia.
Ajaran agama Islam berada dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut, adalah mereka orang-orang yang beriman.
Apatisme politik dan bersikap menjadi “pengamat diam” tanpa ada keinginan dan usaha untuk ikut berperan aktif dalam setiap perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah-lemah iman (adh’aful iman).
Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi, yang selalu mengalami perubahan, hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan sikap yang jelas, antaranya ;
· mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,
· jangan pikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,
· apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu,
· jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.
Keempat kata-kata tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu saja setiap perubahan, baik itu bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini. Setiap mukmin mestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhubungan dengan kehidupan dunia luar dan di sekitarnya.
Sikap hidup menjemput bola, merupakan sikap hidup yang sangat didorongkan untuk dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Sikap dinamis sangat diperlukan mengantisipasi selemah-lemah iman, dan sikap dinamis pula yang menjadi kata-kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi.
Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam saling membantu dan tidak selalu tergantung kepada orang lain. Ketergantungan akan menempatkan orang terbawa hanyut ke mana-mana.
Maka menciptakan kekuatan ekonomi dalam masyarakat mesti diupayakan terus-menerus melalui penguatan rakyat kecil (people empowerment) yang menjadi tiang proses kompetisi dunia saat ini. Terutama di dalam menghadapi perkembangan era globalisasi. Maka tujuan dakwah adalah dalam kerangka ibadah dan pembentengan aqidah. Apalagi tatkala umat tengah mempertahankan diri menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.
DR. Mohamad Natsir mengemukakan dalam taushiyahnya bahwa membangun masyarakat besar hanya bisa dicapai dengan penguatan (to strength) melalui masyarakat kecil dan sederhana. Istilah yang pas untuk menjelaskan hal ini adalah melalui pembentukan cara hidup yang diajarkan agama Islam. Antara lain berdikari atau berdiri di kaki sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain (self help), kemudian membantu orang lain tanpa pamrih dengan ukuran ikhlas karena Allah SWT (selfless help), dan selanjutnya membentuk satu masyarakat yang saling membantu satu dan lainnya (mutual help).
Cara hidup ini merupakan konsepsi pemikiran Islami yang dikembangkan menjadi dasar pembentukan kerjasama di antara warga masyarakat. Bahkan bisa dikembangkan untuk solidaritas antar negara yang mendasari bentuk hubungan internasional yang mampu menciptakan tata perdamaian dunia.
Ketiga dasar tersebut merupakan dasar pembentukan masyarakat tamaddun (beradab), yang bukan hanya bersifat “kebangkitan ekonomi”, tetapi merupakan sesuatu yang bersifat moral (the moral renewance). Dalam “pembersihan moral” ini, maka peranan agama Islam menjadi penting.
Hidupkan Kembali Lembaga Puro, Tanamkan Ruhul Infaq
· Hidupkan kembali kebiasaan menabung dan berhemat dalam satu simpanan bernama puro.
· Juga menghidupkan kebiasaan berinfaq, bersedekah dan berzakat sebagai suatu usaha pelaksanaan syariat Islam,
· menghimpun dana dari umat yang berada untuk dikembalikan kepada umat yang lemah (dhu’afa).
Perhatian tidak dapat dipalingkan dari perlunya pembinaan para dhu’afa’ serta anak-anak yatim yang memerlukan uluran tangan setiap Muslim. Yang mereka perlukan bukan sekedar makanan dan pakaian akan tetapi adalah juga tempat berlindung dan sarana pendidikan. Memang sudah sejak lama sarana pembinaan anak yatim melalui panti-panti asuhan menjadi perhatian dari Badan-badan Dakwah Islam di tanah air. Tidak dapat dilupakan peran ke-gotong-royongan sebagai buah dari ajaran ta’awun sebagai inti aqidah tauhid.
Upaya yang dilakukan di antaranya untuk memberikan bantuan bea siswa terhadap anak-anak yatim, serta mencarikan Bapak angkat yang akan meng-kafil (membiayai) anak-anak yatim yang berprestasi dan juga mendirikan bangunan darul aitam.
Bertahun-tahun kemudian, membiayai anak yatim melalui lembaga puro atau mengidupkan ruhul infaq telah terbukti. Di antaranya bangunan Panti Asuhan Putera Bangsa Yayasan Budi Mulia Padang yang dilengkapi dengan sembilan lokal ruang belajar dan satu asrama bertingkat untuk anak-anak yatim, yang dimulai pembangunannya pada tahun 1992. Sungguhpun sampai sekarang Dewan Da’wah sebagai Yayasan belum mempunyai panti asuhan anak yatim secara khusus.
Hal ini tidaklah berarti bahwa Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia melupakan pembinaan anak yatim. Usaha ini dilakukan secara positif dengan berbagai gerak antara lain melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga-lembaga dakwah dalam dan luar negeri. Kemudian pada bulan September 1997 ditanda tangani piagam kerja sama pembinaan anak yatim tersebut antara Dewan Da’wah dengan Yayasan Budi Mulia di Padang.
Masih berkaitan dengan pembinaan anak yatim ini maka Dewan Da’wah secara intensif tetap berusaha ke arah penyediaan dana abadi yang secara jangka panjang mampu membiayai keperluan-keperluan anak yatim. Tentu, yang sangat mendesak terarah kepada anak-anak yatim yang berada di bawah Kafil Aitam Dewan Da’wah. Mulai Agustus 1996 dicoba mengusahakan ladang pembenihan bibit ikan untuk keperluan anak yatim di desa Bawan, Kec. Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan budidaya ikan air tawar sistem karamba di Desa Sigiran, Maninjau, yang juga hasilnya diperuntukkan 100% bagi keperluan anak yatim.
Usaha ini baru dalam langkah awal, namun juga berdampak terhadap pendidikan ekonomi pedesaan pada kalangan dhu’afa’ di sekitar proyek-proyek ekonomi yatim tersebut antara lain menerapkan sistem bagi hasil dengan para penduduk pedesaan dimaksud.
Apa yang digambarkan ini, semuanya berawal dari menghidupkan kembali puro, menggerakkan hati umat untuk ikut serta mengulurkan tangan membantu kaum yang lebih lemah (dhu’afa) dengan menanamkan ruhul infaq. G
Add comment Juni 9, 2008
Karya Tulis Mohamad Natsir,
Assalamu’alaiku warahmatullahi wa barakatuh,
Sebenarnya warisan pemikiran Pak Natsir melalui tulisan sangat banyak, tidak hanya 32 buku.
Sepanjang hanyatnya Mohamad Natsir telah menghasilkan karya tulis di dalam berbagai aspek pemikiran.
Karya tulis beliau yang sudah diterbitkan sebanyak 60 buah, di antaranya ;
1. Fiqhud Dakwah, (Jakarta: DDII, t.t.) Cet. IV.
2. Surat-surat Mohamad Natsir dari tanggal 17 Juli-15 Agustus 1958. (T.T. : T.P., t.t.)
3. Bahaya Takut, Jakarta : Media Dakwah, 1991.
4. Capita Selecta I, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), Cet. III.
5. Capita Selecta II, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Pustaka Pendis, 1957).
6. Capita Selecta III, (Naskah Belum Diterbitkan).
7. Fiqhud Dakwah, Djedjak Risalah dan Dasar-Dasar Dakwah, Malaysia : Polygraphic Press, 1981.
8. Selamatkan Demokrasi Berdasarkan Jiwa Proklamasi dan UUD 1945, (T.T.: Forum Silaturrahmi 45, 1984).
9. Islam dan Akal Merdeka, (Jakarta: Media Dakwah, 1988), Cet. III.
10. Azaz Keyakinan Kami. (T.T.).
11. Islam sebagai Dasar Negara, (T.T. : Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957).
12. Revolusi Indonesia, (Bandung: Pustaka Jihad, T.T.). 13. Demokrasi di Bawah Hukum, (Jakarta: Media Dakwah, 1407/1987), Cet. I.
13. Pendidikan, Pengorbanan Kepemimpinan, Primordialisme, dan Nostalgia, (Jakarta: Media Dakwah, 1987), Cet. I.
14. Normalisasi Konstitusional, (Jakarta: Yayasan Kesadaran Berkonstitusi, 1990).
15. Islam di Persimpangan Jalan, T.T.
16. Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya yang Konstitusioanl, T.T.
17. Mempersatukan Umat, (Jakarta: CV Samudra, 1983), Cet. III.
18. Dunia Islam dari Masa ke Masa, (Jakrta: Panji Masyara¬kat, 1982).
19. Islam sebagai Ideologi, (Jakarta: Penyiaran Ilmu, T.T.).
20. Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah, (Jakarta: Girimukti Pusaka, 1988).
21. Percakapan antara Generasi, Pesanan Perjuangan Seorang Bapak, (Malaysia: Dewan Pustaka Islam, 1991).
22. Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam, (Medan:T. P, 1951).
23. Some Observations Concerning the Role of Islam in National and International Affairs, (Ithaca New York : Departement of Far Eastern Studies, Cornell University, 1954), Penerbitan XVI.
24. The Role of Islam in the Promotion of National Resil¬ience, (Jakarta: T.P., 1976).
25. Membangun di Antara Tumpukan Puing dan Pertumbuhan, (Djakarta : Kementerian Penerangan RI, 1951).
26. Marilah Shalat, Jakarta : Media Dakwah, 1981.
27. Mencari Modus Vivendi antara Umat Beragama di Indonesia, (Jarta: Media Dakwah, 1983).
28. Asas Keyakinan Agama Kami,(Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah, 1984).
29. Bahaya Takut, (Jakarta: Media Dakwah, 1991).
30. Kumpulan Khutbah Idul Fithri/Adhha, (Jakarta: Media Dakwah,1978).
31. Kumpulan Khutbah Hari Raya, (Jakarta : Media Dakwah, 1975).
32. The New Morality, (Surabaya: Perwakilan DDII, 1969).
33. Tinjauan Hidup, Widjaja, Djakarta, 1957.
34. Kom Tot Het Gebed (Marilah Shalat), (Jakarta: Media Dakwah, 1981).
35. Keragaman Hidup Antar Agama, Djakarta : Hudaya, 1970.
36. Hidupkan Kembali Idealisme dan Semangat Pengorbanan, Djakarta : Bulan Bintang, 1970.
37. Gubahlah Dunia dengan Amalmu, Sinarilah Zaman dengan Imanmu, Djakarta : Hudaya, 1970.
38. Kubu Pertahanan Mental dari Abad ke Abad,(Surabaya: T.P., 1969).
39. Tauhid untuk Persaudaraan Universal, (Jakarta: Suara Masjid, 1991).
40. Hendak ke mana Anak-anak Kita Dibawa oleh PMP,(Jakarta: Panji Masyarakat, 1402 H.).
41. Islam dan Akal Merdeka,(Tasikmalaja: Persatoen Islam bg. Penjiaran, 1947).
42. Islam Mempunyai Sifat-sifat yang Sempurna untuk Dasar Nega ra, (Jakarta: T.P., 1957).
43. Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat, (Jakarta: Bulan bintang, 1980).
44. Dakwah dan Pembangunan,(Bangil: Al-Muslimun, 1974).
45. Tolong Dengarkan Pula Suara Kami,(Jakarta: Panji Ma¬syarakat, 1982).
46. Buku PMP dan Mutiara yang Hilang,(Jakrta: Panji Masyar¬akat, 1982).
47. Di Bawah Naungan Risalah, (Jakarta: Sinar Hudaya, 1971).
48. Ikhtaru Ihdas Sabilain, Addinu wa la al-Dinu, (Jeddah: Al-dar al-Saudiyah, 1392 H.).
49. Islam sebagai Ideologi, ( Jakarta : Penyiaran Ilmu, t.t.).
50. Islam dan Kristen di Indonesia, (Bandung: Pelajar Bulan Sabit, 1969).
51. Pancasila akan Hidup Subur Sekali dalam Pangkuan Islam, (Bangil: T.P., 1982).
52. Cultur Islam, (Bandung: T.P., 1936).
53. Dari Masa ke Masa,(Jakarta: Yayasan Fajar Shadiq, 1975).
54. Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat,(Jakarta: Bulan Bintang, 1980).
55. Bersama H.A.M.K. Amarullah, Islam Sumbergia Bahagia, (Bandung: Jajasan Djaja, 1953).
56. Dengan nama samaran A. Moechlis, Dengan Islam ke Indonesia Moelia, (Bandung: Persatuan Islam, Madjlis Penjiaran, 1940).
57. Agama dan Negara dalam Persfektif Islam (Kumpulan Karangan), Penyunting, H. Endang Saifuddin Anshari dan LIPPM (Jakarta: 1409-1989, belum diterbitkan /masih monograph).
58. Asas Keyakinan Agama Kami, (Jakarta: DDII, 1982).
59. Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya yang Konstitusional, (Jakarta: TP, 1985).
60. World of Islam Festival dalam Persepektif sejarah (Jakarta : Yayasan Idayu, 1976).
Itu tulisan Pak Natsir yang terkumpulkan di luar pidato, khutbah makalah, dan lain sebagainya.
Memang beliau adalah Khadimul Ummah.
Semoga Allah SWT mengampuni kesilapan-kesilapan beliau,
menerima amal ibadah beliau,
menempatkan beliau pada Jannah yang menjadi cita dan harapan setiap mukmin dan mujahid dakwah.
Amin.
Wassalam,
BuyaHMA
— In surau@yahoogroups.com, boes <boes@…> wrote:
>
> ….[tercatat disini 32 buku karangan Pak Natsir tentang Islam,
> suatu usaha yg sungguh2]……..————— cut —————
> wassalam
> bpes
>
Add comment Juni 9, 2008
Bai’atul Qurba, Pesan Dakwah Mohamad Natsir
BAI’ATUL QURBA
|
Bai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan, pesan “pemimpin”, 1) Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala : Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru. Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Dalam pada itu, perlu diingat bahwa secepat-cepat terbangnya pesawat jet, dia tidak akan bisa tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali. Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup. Yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Ini seringkali pula pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan. Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Kecenderungan penduduk di bidang ekonomi terfokus semata hanya kepada mencari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian mereka. Ini seringkali “dilupakan” pula. Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru. Memulai dari urat masyarakat itu sendiri. Umat yang mempunyai shibgah dengan corak kepribadian yang terang. Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform“. Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu. Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang efektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar. Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yang terus berkembang dan penghematan devisa, mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah secara besar-besaran. Bisa pula memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain. Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini. Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat dengan honorarium yang lumayan. Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian, maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam di kalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa (masyarakat lemah) ini dalam bentuk yang lain dari pada sekedar ; “meminta nasi bungkus”. Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah didukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan : hidup dan memberi hidup (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup; tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun); keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari dalam, bukan lantaran penggembalaan dari luar; ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ; keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a; Ini shibgah yang hendak dipancangkan ; Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan berkeberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah. Kita sekarang merintis. Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana. Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan. Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak…. Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan, untuk hanya kepentingan individu semata, demi memelihara diri sendiri-sendiri, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali. Agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata. “kok io kito ka badunsanak juo ……….!” Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi, dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap. Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar (Al Hadist). Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba“, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini …. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing. B i s m i l l a h ! Dari sini kita mulai !
Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi. Di sinilah letaknya ruhul jihad.
Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal. “ bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati, dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua“. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.
Semboyan kita adalah, Yang mudah sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang tak mungkin kita kerjakan beresok,
Dengan mengharapkan hidayah Ilahi, ” Katakanlah, Wahai Kaumku, Berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuanmu, Akupun berbuat ….” ! Bangunan SURAU – SOEKOE di masa doeloe yang dibangun sederhana, kokoh dengan misi Membina Umat Dakwah di Nagari-Nagari di Minangkabau TANYA DAN DO’A [1]
Tentang hidup di desa ini Dari dahulu sampai kini Banyak, cerita ku dengar Dan pengalaman dan penderitaan dirasa Hidup dilingkungan bahan bertimbun Terlena dibuai nyanyian alam Alpa menggali aneka guna Meranalah hidup hampir tak punya,
Dini hari …………….
Dalam upacara ini ………… Berdegup jantungku merangkum tanya Munajat jiwaku memohon do’a. Adakah ini mula masanya desauan air sungai ngalau dicelah celah batu ini bertukar derum mesin diruang pabrik lambaian bambu mendaduhkan daun-daun ini berganti cerobong tinggi mengepulkan asap, gerobak bemo, pedati kayu, ditarik insan mandi keringat bertukar rupa truk, dan gerbong menyilang siur, punggung membungkuk meranting tulang mendukung derita menjelma manusia-manusia baru makmur bahagia ……. Ridha (Buchari Tamam), Balingka, Nopember 1963. [1] Ditulis oleh Ridha, nama samaran Buchari Tamam.
1 comment April 22, 2008 Memelihara Ibadah, Memupuk Intelektual dan Menguatkan basis ekonomi di NagariPesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir
Oleh. H. Mas’oed Abidin Bapak Mohamad Natsir selalu mengingatkan akan bahaya sekularisma seperti tercermin pada Marxisme. Dewan Dakwah menyadari sungguh bahwa persoalan mendasar yang tengah dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia adalah masalah pendidikan. Salah satu modal yang dimiliki umat Islam Indonesia di bidang pendidikan adalah kesadaran dan keyakinan umat akan dienul Islam sebagai materi program pendidikan dan sebagai sumber nilai. Seiring dengan itu pertumbuhan perguruan tinggi dan kampus-kampus mengiringi perkembangan pembangunan bangsa, dengan sendirinya meminta peran aktif Dewan Dakwah untuk ikut memerankan fungsi dakwah kedalam lingkungan perguruan tinggi dimaksud. Di samping umat Islam Indonesia telah lama memanfaatkan lembaga lembaga Islam internasional di bidang keilmuan dan teknologi, telah terdapat pula sejumlah cendekiawan muslim Indonesia yang sudah lama berkomunikasi dengan cendekiawan muslim dunia. Sungguhpun potensi umat Islam Indonesia di bidang kegiatan pendidikan yang cukup luas, namun dirasakan adanya berbagai permasalahan, yang secara langsung maupun tidak menghambat tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Permasalahan tersebut meliputi, Di antara permasalah pendidikan, antara lain meliputi: Sejalan dengan itu para ahli di bidang agama semakin menyusut, baik mengenai jumlah maupun mutunya. Lembaga pendidikan, madrasah dan pesantren lebih banyak bersifat tradisional dan merupakan milik pribadi. Karena sifat “non institutionalnya”, maka proses pendidikan di lembaga lembaga tersebut lebih bersifat individual daripada umatik behavioral. Tujuan pendidikan kebanyakan terlalu umum, sehingga tidak dapat diukur. Kurikulum lebih bersifat diferensial, non-inte¬gratif, elitis, berorientasi dan “paket non komposit”. Di samping itu, alat alat bantu pelajaran yang amat minim, kepustakaan yang amat terbatas, sarana pembangunan, dan pembiayaan, sangat sulit mengatasinya. ***
Aspek hidup ekonomi suatu masyarakat tidak terlepas dari aspek hidup yang lainnya. Terciptanya stabilitas ekonomi, baik dalam bentuk kesempa¬tan kerja, stabilitas harga, dan keamanan ekonomi. Mengembangkan ekonomi bangsa secara berimbang untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang cepat dengan tingkat keadilan ekonomi pada semua lapisan masyarakat, terasa sangat sulit menciptakannya. Kemerosotan ekonomi dalam suatu kehidupan masyarakat, biasanya yang paling dahulu merasakan akibat paling parah, adalah masyarakat lapisan bawah, dhu’afak yang miskin dan lemah. Di negara kapitalis, modal menduduki posisi yang dominan. Agama Islam mendasarkan pengembang an dan peningkatan potensi ekonomi diri dan masyarakat, pada prinsip persamaan kedudukan. Prinsip perimbangan antara hak dan kewajiban, serta tuntutan hidup tolong menolong, memungkinkan dikurangi penderitaan kaum lemah dalam menghadapi goncangan ekonomi. Mengembangkan sikap kebersa¬maan dalam menikmati keuntungan dan menaggung kerugian (profit sharing dan risk sharing) dalam berbagai kegiatan ekonomi, baik sebagai produsen, distributor, maupun sebagai konsumen. Kalau sistem ekonomi kapitalistik lebih “berpihak” pada pemilik modal, pengusaha dan penguasa, maka sistem ekonomi sosialistik lebih “berpihak” pada buruh yang menjadi penguasa. Sangat mungkin sekali “sistem ekonomi Islami” berpotensi alternatif, untuk menyeimbangkan pemihakan kepada kesejahteraan kaum lemah atau dhu’afak. Kondisi perekonomian Indonesia, setelah masa orde Nasakom, Orde Lama dan Orde Baru, kemudian di masa petro-dollar menikmati manisnya minyak bumi mendekati masa akhir, mulai terasa oleh umat Indonesia masa sulit yang cukup serius. Sumber utama devisa negara makin menyusut jumlahnya. Sudah hampir empat dasawarsa undang-undang anti korupsi yang di dambakan oleh bangsa Indonesia masih menjadi angan-angan. Perkembangan ekonomi sangat terakit kepada variabel variabel ekonomis maupun non ekonomis. Sempitnya pasaran hasil produksi. Akibatnya, capital out put ratio tinggi dan matarantai pengaruh ke muka dan ke belakang kecil. Backward and foreward linkage terbatas. Fenomena ketenagakerjaan menampilkan pengangguran makin membengkak. Jumlah tenaga kerja kasar dan tidak terlatih non profesional amat banyak. Tenaga ahli terlatih amat terbatas. Angkatan kerja yang statis, dan etos kerja rendah. Sekalipun peranan pemerintah dalam bidang ekonomi, terutama bila diikuti perkembangannya sejak 1967, cukup dominan, tetapi kebebasan bersaing sektor swasta makin tajam. Sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak makin melemah, terutama sektor informal. Kerajinan rumah tangga di desa, industri kecil di kota, transportasi non mesin, mulai bangkrut. Fenomena yang ironik, kelompok besar makin kuat dan rakyat kecil makin lumpuh atau mati. Keterbatasan lapangan kerja di pedesaan mengakibatkan meningkatnya secara besar besaran urbanisasi, menambah pengangguran di kota, dan potensi di desa menjadi lemah. Upaya pemerintah Orde Baru meningkatkan keadilan ekonomi hanya sekedar semboyan. Sejak tahun 1982, peranan swasta bermodal besar makin dominan. Ekonomi umat banyak dalam bahaya. dengan fenomena ekonomi berbalut korupsi dan kolusi. Kritik yang ditujukan terhadap pelaksana negara selama tiga dasawarsa adalah longgarnya sistem kontrol dalam birokrasi. Umat Islam di Indonesia, memang merupakan bagian mayoritas rakyat Indonesia. Sektor ekonomi kuat dan menengah kuat justru umat Islam tidak berperan menentukan. Fihak pengusaha non pribumi banyak menguasai mata rantai ekonomi yang tidak terputus sejak dari impor sampai ke distribusi di desa, atau mulai dari peng-hasil dipedesaan sampai ke penguasaan eksport. Kehidupan rakyat banyak menjadi sangat lemah. Mulai tahun 1967 Dewan Dakwah memulai dengan usaha pelatihan kecil seperti dilaksanakan di Tanah Mati Payakumbuh dan pemanfaatan lahan wakaf umat di Rambah Kinali mulai di garap. Diharapkan sebagai wadah pembinaan dan pelatihan generasi muda. 1 comment April 16, 2008 Membentengi Aqidah UmatPesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir
Memelihara daerah dari bahaya gerakan Salibiyah berarti juga menjaga keutuhan nilai nilai adat yang terang terangan menyebut¬kan bahwa ranah ini adatnya bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabullah. Selain itu memelihara keutuhan ukhuwah hanya dimung¬kinkan dengan menghidupkan kembali nilai nilai “tungku tigo sajarangan” dalam melibatkan unsur unsur alim ulama ninik mamak dan para cendekiawan baik yang duduk dalam pemerintahan maupun yang ada di kalangan perguruan tinggi. Yang sangat diperlukan adalah menumbuhkan ulama dan pendakwah Islam yang beradat, dan menanamkan kembali rumpun orang adat yang ber-agama Islam, serta para cendekiawan yang beradat dan beragama Islam. Usaha ini menjadi sangat krusial dalam menciptakan tatanan masyarakat ber-adat, dengan adatnya bersendi syarak dan syarak bersendi Kitabullah (al-Quran). Dewan Dakwah melihat bahwa usaha umat Islam dalam membendung usaha usaha yang mendiskreditkan umat dan bahkan memurtadkan umat Islam dari agama mereka, adalah semata mata ber-sifat mempertahankan diri. 1. Tidak menyembah kepada selain Allah, dan tidak menyeku¬tukan Nya dengan sesuatu apapun. 2. Tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan, selain Allah. Jika mereka berpaling, saksikanlah bahwa kami adalah orang orang muslim. Sebagai Yayasan Islam, Dewan Dakwah mempunyai pedoman yang baku dalam segala hal, termasuk dalam hubungan antaragama, antara lain : 1. Islam dinyatakan sebagai agama di sisi Allah, namun Islam melarang pemaksaan dalam agama. 2. Islam mengajarkan, golongan Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam, sehingga umat Islam mengikuti agama mereka. 3. Akan didapati orang orang yang paling keras permusuhan¬nya kepada orang orang yang beriman, yakni orang orang Yahudi dan mereka yang menyekutukan Allah. Dalam kamus orang orang beragama, tidak ada pengertian semua agama adalah benar. Untuk menciptakan kerukunan itu, mutlak diperlukan kebijakan dari semua pihak yang dapat juga disebut semacam kode etik. Bila ingin membicarakan keberhasilan kaum Salibiyah dalam merebut hati umat Islam Indonesia, sering Bapak Mohamad Natsir bertanya : bukankah banyak pula umat mereka yang sadar lalu berbondong bondong masuk Islam?. Tanya yang berupa khabariah ini menyebabkan kita menoleh kepada soal itu. Ternyata memang ada benarnya dan memerlu-kan penggarapan khusus. Karena tidak ada pembinaan, sebagian mereka kembali murtad. Begitu juga di Mentawai ribuan orang masuk Islam, namun hal ini kurang dapat kita layani. Di pulau pulau terpencil di daerah Maluku banyak laporan dan permintaan pengislaman, pengarahan dan bantuan. Sahabat sahabat baru seperti ini, dapat kita lihat perkembangannya dengan adanya jama’ah Muhtadin di kota kota seperti : Yogya, Medan, Cilacap, Mentawai, Lampung dan lain lain, bahkan telah sampai kita adakan pertemuan silaturahmi di Cisalopa. Acara seperti ini biasanya dihadiri pula oleh Muhtadin dari Malaysia dan Brunei. Sebahagian instrukturnya ada yang diambilkan dari tenaga-tenaga ahli dakwah dari tamatan Timur Tengah. Usaha yang menampilkan peran dan gerak dari Muhtadin ini menarik perhatian dan minat dari berbagai pihak. Utamanya dari para Muhsinin dari Timur Tengah, sehingga responnya terlihat pada undangan-undangan untuk menunaikan ibadah haji bagi para muhtadin yang telah berprestasi. Seperti di tahun 1997 misalnya, 5 orang di antara mereka di undang untuk menunaikan ibadah haji dengan dari biaya lembaga Muhtadin dari Jeddah. Menyangkut permutadan umat Islam oleh kalangan Salibiyah yang pada dua dasawarsa terakhir sangat pesat dilakukan oleh mereka, maka Dewan Dakwah melihatnya sebagai suatu bahaya yang tidak hanya berakibat terhadap agama Islam, tetapi juga terhadap kerukunan nasional. Mengenai masalah ini Dewan Dakwah selalu menyampaikan pandangan-pandangannya secara terbuka kepada Pemerintah melalui Departemen Agama dan Departemen Dalam Negeri, dan juga diterbitkan catatan-catatan tentang fakta dan data oleh Media Dakwah. Soal yang sangat penting dan peka ini, dikemukakan oleh Dewan Dakwah melihat kenyataan kenyataan yang terjadi di lapangan, karenanya di-sampaikan secara jujur, adil dan terbuka. Pada tahun tahun terakhir ini terasa mulai dapat dipahami. Dewan Dakwah, walaupun bukan partai politik, namun melalui berbagai saluran konstitusional yang ada, dengan memberi¬kan pertimbangan pertimbangan kepada lembaga lembaga pemerintahan yang terkait. Dewan Dakwah melihat bahwa usaha umat Islam dalam membendung usaha usaha yang mendiskreditkan umat Islam dan bahkan memurtadkan umat dari agama mereka, adalah semata mata ber-sifat mempertahankan diri. Walaupun demikian, Dewan Dakwah senantiasa menyikapi setiap ada ajakan untuk menciptakan kerukunan hidup antar umat beragama, dengan sikap positif sesuai bimbingan Agama Islam, karena sebagai sesama pengatur agama yang bersumber dari Allah. Umat Islam diperintahkan untuk mengajak golongan lain kepada kalimatin sawa’, atau kata persamaan, yakni : 1. Tidak menyembah kepada selain Allah, dan tidak menyeku¬tukan Nya dengan sesuatu apapun. 2. Tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan, selain Allah. 3. Jika mereka berpaling, saksikanlah bahwa kami adalah orang orang muslim. Sebagai yayasan Islam, Dewan Dakwah mempunyai pedoman yang baku dalam segala hal, termasuk dalam hubungan anta¬r agama, antara lain : 1. Islam dinyatakan sebagai agama di sisi Allah, namun Islam melarang pemaksaan dalam agama. 2. Islam mengajarkan, golongan Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam, sehingga umat Islam mengikuti agama mereka. 3. Akan didapati orang orang yang paling keras per-musuhan¬nya kepada orang orang yang beriman, yakni orang orang Yahudi dan mereka yang menyekutukan Allah. Pandangan Dewan Dakwah mengenai soal yang sangat penting dan peka ini, karena berdasarkan kenyataan kenyataan dan disampaikan secara jujur, adil dan terbuka, pada tahun tahun terakhir ini terasa mulai dapat dipahami. Bukan saja oleh sesama golongan Islam, melainkan juga oleh golongan golongan masyarakat lainnya. Ketika Paus Johannes Paulus II berkunjung ke Indonesia 9 14 Oktober 1989, empat orang sesepuh umat : K.H. Masjkur, K.H. Rusli Abdul Wahid, Prof. Dr. H.M. Rasjidi, dan M. Natsir, menyampaikan surat terbuka melalui Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia dilampiri fakta dan data. Dewan Dakwah, sekali lagi, bukan organisasi kemasyarakatan, juga bukan partai politik. Dewan Dakwah bukan partai politik, Dewan Dakwah pun sangat menyadari keterbatasan keterbatasannya. Maka dari itu, kepada keluarga Dewan Dakwah yang tersebar di seluruh tanah air, Dewan Dakwah hanya dapat menyampaikan imbauan supaya mereka menjadi warga negara yang baik. 1 comment April 16, 2008 Jagalah Ibu Pertiwi, Jangan jatuh ke tangan Komunis….!!!Pesan Dakwah Mohamad Natsir,
Bapak Mohamad Natsir, dalam setiap pertemuannya dengan ahlul qurba yang juga merupakan inner circle dari perjuangan Islam dan harga diri umat di daerah. Selalu mendengarkan keluhan tentang pesatnya gerakan misionaris. Lebih lebih sejak masa orde lama telah terkondisi seakan akan memberi peluang kepada gerakan missionaris tersebut atas dukungan orang orang komunis (PKI) . Kondisi masyarakat yang runyam ini, menurut Bapak Mohamad Natsir hanya mungkin diperbaiki dengan amal nyata. Bukan dengan semboyan semboyan yang bisa memancing apatisme masyarakat atau melawan kebijakan penguasa di daerah. Bapak Mohamad Natsir menasehatkan supaya kaedah yang selama ini telah dimiliki oleh umat Islam, ukhuwah dan persatuan, mesti dihidupkan terus. Menumbuhkan Perwakilan Dewan Dakwah Karena itu tidak ada alasan untuk berpangku tangan. Tetapi, yang mesti diperbuat adalah, gerakkan juga apa yang bisa, dalam kerangka jihad mencari redha Allah. Umat Islam pun harus tahu, dan dapat menjawab setiap masalah umat sesuai dengan perkembangan zaman, antara lain ; Bagaimana keadaan kita umat Islam dewasa ini ? Semua pertanyaan itu, memerlukan jawaban berupa perbuatan nyata, yang lebih baik, dengan maksud dan tujuan untuk membangkitkan batang terendam. Pada tanggal 15 Juli 1968, dalam suatu pertemuan bersejarah yang dihadiri oleh hampir seluruh ulama Suma¬tera Barat. Para ulama tersebut tergabung dalam Majelis Ulama Sumatera Barat yang terang terangan anti komunis. Dalam ajaran Islam, Komunisme adalah kelompok dahriyyin atau atheis (golongan yang tidak mengakui adanya Tuhan). Komunisme adalah ajaran kafir, begitu aqidah Islam. Pertemuan itu juga diikuti oleh ninik mamak pemuka masyarakat yang datang berduyun duyun menyambut kehadiran pemimpin pulang. Antusias hadirin waktu itu terlihat secara spontan. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat diresmikan sebagai perwakilan pertama di daerah di luar DKI Jakarta. Kepengurusan pertama Dewan Dakwah di Sumbar di nakhodai para ulama kharismatik . Sederetan nama para pemimpin yang tidak diragui keistiqmahannya dan selalu berada di garis perjuangan Islam di Sumatera Barat ada dalam kepengurusan Dewan Dakwah di Sumatera Barat. Seperti Buya H. Mansur Daud Dt. Palimo Kayo, yang sudah tidak asing lagi dikenal oleh masayarakat Sumatera Barat ini. Buya Datuk, panggilan akrab masyarakat Minang kepada beliau adalah mantan Duta Besar RI di Irak. Buya Datuk terkenal sangat anti komunis. Memang semua penggerak pertama Dewan Dakwah di Sumbar adalah keluarga besar Bulan Bintang. Keadaan ini, tidak perlu dibantah. Mereka adalah pemimpin-pemimpin umat yang aktif dalam setiap gerak perjuangan Agama dan Bangsa, di Sumatera Barat dan dikenal diseluruh tanah air Indonesia. Jauh hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, mereka adalah pribadi pribadi yang sangat anti komunis. Di antaranya ada yang sudah berada pada barisan Perintis Kemerdekaan. Namun, masih ada saja kalangan yang berpandangan sinis. Tidak pelak lagi, mereka para pengurus Dewan Dakwah Sumatera Barat ini serta merta dicap sebagai kelompok orang orang “bekas pemberontak PRRI”. Padahal Pemerintah RI secara resmi telah mengeluarkan amnesti dan abolisi sejak tahun 1961 . Namun saat itu situasi terasa sangat menyakitkan. Dewan Dakwah dianggap sangat istiqamah sebagai kekuatan anti komunis. Beberapa kebijakan Dewan Dakwah menghadapi masalah masalah ekstern yang menyangkut segi aqidah dan muamalah dalam arti luas dijadikan prioritas utama program didaerah ini. Karena pendangkalan aqidah umat telah diupayakan berbagai pihak selama komunis berkuasa di era Soekarno. Amal nyata yang diprogramkan oleh Bapak Mohamad Natsir dan ditinggalkan untuk dikerjakan di Sumatera Barat merupakan program yang amat monumental. 1. Gerakkan kembali tangan umat melalui penguasaan keterampilan di desa desa sebagai usaha membina kesejahteraan bersama, artinya menghidupkan kembali ekonomi umat di desa desa. 2. Hidupkan kembali lembaga puro. Yakni kebiasaan menabung dan berhemat dalam satu simpanan bernama puro. 3. Hidupkan kembali Madrasah madrasah yang sudah lesu darah, karena kehabisan tenaga pada masa pergolakkan. Hidupkan masjid bina jama’ah dan tumbuhkan minat seluruh masyarakat untuk menghormati ilmu dan memiliki kekuatan Iman dan Tauhid, terutama memulainya dari kalangan generasi muda. 4. Perhatikan kesehatan umat dengan mendirikan Rumah Sakit Islam. Membangun Rumah Sakit Islam adalah ibadah karena ada suruhan untuk berobat bagi setiap orang yang sakit (hamba Allah). 5. Perhatikan nasib pembangunan masyarakat di Mentawai. Bila orang bisa berkata bahwa Mentawai ketinggalan sebenarnya yang disebut ketinggalan adalah kita yang tak mau memperhatikan mereka di Mentawai itu. Kelima program ini minta dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu, dan dapat diprioritaskan mana yang mungkin didahulukan. Walaupun sebenarnya kelima program utama dakwah ini tidak terpisah, karena seluruhnya merupa kan pekerjaan yang berkaitan sesamanya dan integral. Modal kita yang utama untuk mengangkat program ini adalah kesepakatan semua pihak dan dorongan mencari ridha Allah. Dari dorongan dorongan berbentuk taushiah tersebut pada mulanya, namun ujungnya membuah kan hasil nyata. Pada Oktober tahun 1969 Balai Kesehatan Ibnu Sina, merupakan cikal bakal Rumah Sakit Islam Ibnu Sina yang mengambil tempat di rumah Dr.M.Yoesoef dan rumah keluarga Dr.M.Djamil di Bukittinggi atau Sitawa Sidingin diresmikan. Peresmian beroperasinya Balai Kesehatan Ibnu Sina ini dilakukan oleh Proklamator Republik Indonesia Bapak Mohammad Hatta. Satu sejarah baru telah dimulai yakni mem-bangun balai kesehatan sebagai rangkaian dari suatu ibadah dan gerak dakwah. Keberadaan Balai Kesehatan ini disambut oleh seluruh lapisan masyarakat dari desa desa hingga ke kota, oleh pegawai sampai petani, dari ulama dan pejabat hingga pedagang dan perantau. Serta merta seluruh pihak pihak tersebut membuka puro (persediaan harta) menyalurkannya dengan ikhlas untuk berdirinya Balai Kesehatan Islam di Bukittinggi. Akhirnya menyebar ke Padang Panjang, Padang, Payakumbuh, Kapar di Pasaman Barat, Simpang Empat dan Panti dalam waktu yang sangat pendek hanya berjarak tiga tahun. Dan akhirnya, Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, berkembang menjadi rumah sakit umat. Apa yang diperbuat oleh Misi Baptis di Bukit-tinggi selama ini, telah dapat dijawab oleh umat Islam di daerah Sumatera Barat, dengan suatu amal nyata, yakni melalui program dakwah illallah, dalam bidang kesehatan. Seiring dengan itu, masalah pendidikanpun dihidupkan, dengan perhatian penuh, seperti terhadap lembaga pendidikan yang sudah ada, antara lain Sumatera Thawalib Parabek, Thawalib Padang Panjang, Diniyah Padang Pan¬jang, dan lainnya. Selain madrasah yang sudah ada, dihidupkan pula madrasah baru, seperti Aqabah di Bukittinggi. Pesantren, di samping kedudukannya sebagai lembaga pendidikan, juga merupakan lembaga kejamaahan. Ikatan ini, sifatnya lebih kuat. Sungguhpun ada juga perasaan “cemas” sebagai pengganti kata takut, kepada Dewan Dakwah sejak dari mula merupakan bayangan tanpa alasan. Suatu hal yang aneh memang bila dibandingkan dengan jumlah Umat Islam di daerah Sumatera Barat yang boleh dikata hampir 100%. Namun, masih ada saja di kala itu sebahagian kecil diantaranya, menjadi phobi dengan gerakan Islam. Sesudah Masyumi membubarkan diri, dan rehabilitasinya tidak diizinkan pemerintah, sebagian tokoh Masyumi mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Karena itu muncul anggapan, Dewan Dakwah adalah penerus Masyumi. Tujuan Masyumi sesuai dengan apa yang termaktub dalam anggaran dasarnya, yakni memperjuangkan terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia menuju keridhaan Allah. Sebagaimana Masyumi yang sangat terbuka, Dewan Dakwah pun pada prinsipnya selalu terbuka terhadap semua pemikiran. Biarlah masyarakat yang menilai. Yang penting, jangan terlampau cepat mengambil kesimpulan. Di samping kegiatan sosial, Dewan Dakwah juga mengikuti perkembangan politik, terutama yang berkaitan dengan agama. Sikap Dewan Dakwah dan perjuangannya sejak dilahirkan pada tahun 1967 sampai sekarang tetap istiqamah. Bila diperhatikan, perjuangan politik umat Islam di Indonesia terlihat bahwa peranan politik Islam mengalami penurunan yang konstan. Perekayasaan politik yang melumpuhkan peran an politik rakyat dan umat Islam khususnya terasa amat efektif sejak beberapa dasawarsa terakhir. Keberadaan Dewan Dakwah diterima oleh kalangan tua dan muda seba¬gai suatu kekuatan baru dalam memelihara kerukunan umat dan kejayaan agama. Segi pembinaan intern umat, menjadi perhatian utama Dewan Dakwah yang telah membuktikannya dengan amal nyata atau dakwah bil lisanil-hal. Untuk meningkatkan kualitas da’i secara berkala Dewan Dakwah melakukan pendidikan dan pelatihan pelatihan keter¬ampilan para da’i. Dalam melakukan amal amal nyata tersebut, Dewan Dakwah tidak bekerja sendiri. Berswadaya dan mandiri inilah yang ditanam kan kepada segenap keluarga besar Dewan Dakwah, sehingga dalam masya¬rakat timbul otoaktifitas yang kreatif. Dalam rangka melaksanakan tugas risalahnya, Dewan Dakwah senantiasa mengusahakan terciptanya iklim kerja sama yang serasi dengan menghormati pendirian dan identitas masing masing. Dewan Dakwah menyadari benar, diperlukan ukhuwah Islamiyah, baik secara formal maupun individual. Hanya sebahagian saja kalangan masyarakat yang tidak senang dengan kehadiran Dewan Dakwah. Bila ini dibiarkan berlalu, maka rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat menjadi terhambat. Gagasan dan gerak Dewan Dakwah menghidupkan kembali partisipasi umat secara ikhlas, dengan cara memulai dengan apa yang ada. Melihat usaha ini, mungkin mereka cemas seakan-akan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan mencungkil kembali luka lama yang mulai bertaut. Sebagai telah diyakini bahwa Dakwah Islam adalah perombakan total sikap umat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat. Maka sebenarnya sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain, Dakwah Islam tidak akan pernah berhenti. Karena itu para pendiri Dewan Dakwah yang terdiri dari para ulama dan zu’ama’ yang bemusyawarah di Masjid Al Munawwarah Kampung Bali Tanah Abang Jakarta Pusat pada awal 1967 dengan sadar telah memilih bentuk Yayasan dan karenanya tidak mempunyai anggota.
2 comments April 16, 2008 Hello world!Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging! 1 comment April 16, 2008 Halaman
ArsipBlogrollMetaTulisan Terakhir
Komentar Terakhir
Blog Stats
Klik tertinggi
Tulisan TeratasPengarangSpam Blocked | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||