Category Archives: Minangkabau

Jangan Diganggu Identitas ummat

Jangan Diganggu Identitas Kami  ….….[i]

  1. Seringkali kita mendengar bahwa apa yang disebut “Kristenisasi” di Indonesia adalah semata-mata satu “isu”, dalam pengertian bahwa itu hanya omongan yang dibikin-bikin.

Tetapi, kita umat Islam yang berada dilapangan, dikota-kota, ataupun didesa-desa, dipinggir-pinggir pantai ataupun dikaki-kaki gunung, bukan saja mengetahui, akan tetapi merasakan dan mengalami sehari-hari bagaimana meningkatnya kegiatan missi dan zending Katolik ataupun Protestan dari dalam dan luar negeri dalam usaha mereka melakukan expansi agama mereka di tanah air.

Bukan saja dikalangan apa yang dinamakan “suku terasing”, akan tetapi juga malah semakin meningkat didaerah-daerah mayoritas Islam dan dipusat-pusat kebudayaan Islam, seperti daerah ACEH, MANDAILING, MINANG KABAU, JAWA BARAT, SULAWESI, AMUNTAI, KALIMANTAN SELATAN, KALIMANTAN TIMUR, SAMBAS, KALIMANTAN BARAT dll, dimana kegiatan-kegiatan itu sudah merupakan aksi pemurtadan/proselytisme Ummat Islam kepada agama Kristen dengan bermacam-macam cara.

2.         Maka dokumentasi yang dikumpulkan oleh PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT ini, hanyalah menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah,  dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten  Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini

Coraknya bermacam, hakekatnya sama: Riak pemurtadan menumpangi gelombang pembangunan.

3.         Bagi kita ummat Islam, sebenarnya hal ini sudah berulang kali diperingatkan oleh Allah S.W.T, antara lain sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Baqarah 109:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sudah menjadi keinginan dari kebanyakan ahli kitab mengembalikan kamu kepada kekufuran sesudah kamu beriman.” (QS.2, Al-baqarah : 109).

Dan surat Al-Baqarah 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلآ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan tidaklah akan senang kaum Yahudi dan Nashara kepadamu sebelum engkau menurut agama mereka” (Al-Baqarah 120).

Kewajiban kita ialah supaya masing-masing kita tanpa kecuali benar-benar memelihara diri dan keluarga kita daripada terjerumus dalam kekufuran. sebagaimana peringatan Ilahi dalam Surat At-Tahrim ayat 6 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan     keluargamu dari api neraka” (At-Tahrim 6).

Tiap-tiap rumah tangga Islam harus menjadi benteng dari agama dan keimanan, untuk kita dan keturunan selanjutnya.

4.         Kepada pihak missi dan zending yang berdatangan dari luar negeri ke Indonesia ini dengan kekayaan materi yang melimpah-limpah, dengan bekerjasama yang rapat dengan missi dan zending dalam negeri untuk melakukan expansi agamanya tanpa pilih bulu, rasanya tidak ada kata-kata yang dapat kita ucapkan lagi. Pada “Musyawarah Antar Agama” tanggal 30 November 1967 kami telah menawarkan satu tata cara hidup antar agama (modus vivendi) yang dapat menjamin kesatuan bangsa dan tanah air dalam Negara yang mempunyai bermacam-macam agama (multi Religius) ini.

Intisarinya ialah supaya “agama yang satu jangan menjadikan agama   lain menjadi sasaran propagandanya.” Akan tetapi modus-vivendi ini tegas-tegas ditolak, baik oleh pihak Protestan ataupun Khatolik.

5.         Dalam pada itu baru-baru ini terdengar oleh kita Amanat Bapak PRESIDEN SUHARTO yang ibarat seteguk air yang menyejukkan hati dimusim kering. Yaitu yang menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang beraneka agama ini, agar betul-betul sama-sama saling tenggang rasa dan hormat menghormati satu sama lain.

Kita dengarkan dan junjung tinggi Amanat beliau yang diucapkan secara ikhlas dan sungguh-sungguh pada peringatan Isra’dan Mi’raj tanggal 16 Agustus 1974 yang baru lalu itu.

Beliau berkata pada penutup pidato anatara lain sbb:

“…………………………………………….                                     Saudara-saudara;

Demi untuk berhasilnya pembangunan itu, maka harus diusahakan betul-betul agar supaya terpeliharanya suasana hidup rukun, tenggang rasa dan hormat menghormati diantara sesama ummat beragama, sesama penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama-sama membangun masyarakat.

Dengan tidak mengurangi Universilnya ajaran agama masing-masing marilah kita kembangkan sikap keagamaan yang luhur, sehingga penghayatan dan penyiaran agama di Indonesia ini dilakukan dengan cara yang tidak menyinggung perasaan, dengan memperhatikan lingkungan adat kebiasaan serta tata kesopanan. Marilah kita pupuk rasa hormat menghormati dan percaya mempercayai dan marilah kita hindarkan perbuatan-perbuatan yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Untuk jangan sampai mengganggu perasaan golongan lain, maka dalam penyiaran dalam agama itu harus kita usahakan agar jangan sampai ditujukan kepada orang yang sudah beragama……….”

Demikianlah Amanat Bapak PRESIDEN SOEHARTO sesuai benar dengan sari -pati rencana “ Piagam Antar Agama” yang dianjurkan oleh wakil-wakil Islam dalam Musyawarah Antar Agama bulan November tahun 1967.

6.                  Dalam pada itu, kita ummat Islam memang cukup diberi perbekalan oleh agama kita, agar pandai-pandai menempatkan diri dalam satu masyarakat dimana ada bermacam aliran agama:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang bimbang dan ragu-ragu. Masing-masing golongan mempunyai arah (sendiri) yang ditujunya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebajikan. (QS. 2, Al-Baqarah : 147-148).

لآ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama, dan (orang-orang) yang tidak mengusir kamu keluar dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang berlaku adil “. (QS. Al-Mumtahanah 8).

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Yang Allah larang kamu jadikan sahabat, hanyalah orang-orang yang menyerang kamu didalam (urusan) agama dan mengusir kamu keluar dari kampung kamu dan membantu (pengusir-pengusir) mengeluarkan kamu; dan barangsiapa yang menjadikan mereka sahabat, maka mereka itu adalah orang-orang salim”. (QS.Al-Mumtahanah 9).

Ringkasnya:

  • Kami sadar bahwa, bumi Allah ini diisi oleh bermacam-macam aliran faham dan agama. Kami tidak dibenarkan menyisihkan diri dari masyarakat campuran itu, malah kami harus berkecimpung didalamnya dan berlomba-lomba dalam menegakkan kebajikan untuk ummat manusia tanpa diskriminasi.
  • Yang tidak bisa kami persahabati hanyalah mereka yang memusuhi agama kami (Islam) dan ingin merobah aqidah dan identitas kami.
  • Sekedar perlainan agama tidak menghalangi kami untuk berbaik budi dan hidup rukun dengan sesama manusia yang bukan beragama Islam.

7.         Akan tetapi kita tak bisa bertepuk sebelah tangan.

Oleh karena itu kita berseru dengan segala kerendahan hati kepada Bapak-bapak para Pejabat Negara, para Anggota-anggota Dewan-dewan Perwakilan di pusat dan didaerah, agar sesuai dengan Amanat Presiden yang telah berulang kali kita dengar itu sudi kiranya mengambil kebijaksanaan untuk meyakinkan missi dan zending asing dan tidak asing supaya mereka pandai pula membatasi diri.

Janganlah mereka menganggap kami orang Islam ini sekalipun miskin-miskin dan tidak sepintar mereka sebagai orang-orang pagan atau animis yang perlu mereka mandi-nasranikan pula lebih dahulu untuk “mempercepat proses Pembangunan Negara”.

Atau, bila ada yang sedang mencari sesuap-pagi sesuap-petang, harus dimandi-nasranikan dulu, makanya dapat diterima sebagai penjaga malam atau pegawai administrasi dirumah sakit zending mereka (Baptist, Bukittinggi).

Kami sudah beragama

Beragama Islam!

Jangan diganggu identitas kami!

Kami mengharapkan mudah-mudahan dengan kerjasama yang erat antara para Alim-Ulama Islam dan para pejabat yang berwenang dibidang ini, akan tercapailah stabilitas kerukunan hidup antar-agama di Tanah air yang sama-sama kita cintai ini.

Agar jangan :

akibat menompangnya “riak aksi pemurtadan” pada “gelombang pembagunan negara”, gelombangnya pecah ditengah, sebelum mencapai pantai harapan …………………………..……… … … …

Na’uzubillahi min zhalik!

Mudah-mudahan allah melindungi kita dari keadaan demikian!

Amiin !

Wassalam,

DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA

dto

Mohammad Natsir


[i] Berkenaan dengan masaalah Pasaman ini, Dewan Dakwah Sumatera Barat mengeluarkan sebuah dokumen dihantar oleh Mazni Salam Sekretaris DDII Perwakilan Sumbar berupa Dokumentasi Gerakan Kristenisasi di Pasaman Barat, dengan judul “Kristenisasi dan Transmigrasi di Sumatera Barat”, dengan surat pengantar No.428/II-C/PDDI/7/1974 tertanggal Bukittinggi 4 Juli 1974. Bapak DR. Mohamad Natsir memberikan kata pengantar dokumen tersebut, sekalian merupakan taushiyah dakwah bagaimana langkah dalam menghadapi gerakan salibiyah ini. Antara lain beliau berkata, “Maka dokumentasi yang dikumpulkan oleh PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT ini, hanyalah menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah,  dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten  Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini”.(Kristenisasi dan Transmigrasi di Sumatera Barat, DDII Sumbar, Kata Pengantar, Jakarta, 1974).


GERAKAN SALIBIYAH … “ibarat duri dalam daging …”

Transmigrasi dan Missionaris Ibarat Duri Dalam Daging

Menompang Riak Dengan Gelombang

Gerakan Salibiyah memboncengi program transmigrasi

di Pasaman, khususnya Kinali – Pasaman Barat,

S

emenjak tahun 1953 Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Tengah telah mengatur penempatan para transmigrasi. Kedatangan warga transmigrasi dari luar Sumatera, umumnya dari Pulau Jawa dan Suriname, ditempatkan didaerah Kecamatan Pasaman dalam Kabupaten Pasaman. Sejak awal telah diterima oleh penduduk Pasaman sebagai saudara dalam sesuku. Berat akan sepikul ringan akan sejinjing.  Penempatan mereka diatas tanah-tanah ulayat penduduk Kecamatan Pasaman, berdasarkan penyerahan hak tanah oleh Ninik Mamak negeri yang bersangkutan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman. “Inggok mancangkam, tabang basitumpu. Dima bumi di pijak di sinan langik di junjung”. Artinya menerima, mengikuti dan mematuhi semua ketentuan adat secara kulturis yang berlaku di daerah Pasaman tersebut. Persyaratan-persyaratan tertentu (tertulis), diantaranya dicantumkan,

1.      Penyerahan tanah diperuntukkan sebagai penampungan bagi warga negara Indonesia, yang berasal dari daerah lain (transmigrasi).

2.      Bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu tunduk kepada ketentuan adat-istiadat yang berlaku ditempat mereka ditempatkan, dengan  pengertian bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu dianggap sebagai kemenakan (dalam hubungan hukum adat yang berlaku, yang tentu saja adat Minangkabau yang beragama Islam).

Diatas dasar perpegangan ini, Ninik Mamak dalam Nagari-nagari di Kecamatan Pasaman, secara berturut-turut telah menyerahkan tanah ulayat mereka dengan kerelaan membangun bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia melalui Pemerintah Daerah. “Sejak tahun 1953 tercatat penyerahan tanah ulayat masyarakat, antara lain pada bulan Mei 1953 sebagian Ulayat TONGAR AIR GADANG, Ulayat KAPAR (PD. LAWAS), dan tanggal 9 Mei 1953 Ulayat KOTO BARU (MAHAKARYA). Tahun 1961 – 26 September 1961 dari Ulayat KINALI BUNUT Alamanda, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1964 – 25 April 1964, sebagian Ulayat KINALI LEPAU TEMPURUNG, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1965, AIR RUNDING, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Tahun 1957, KOTA RAJA, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Terdahulu dari ini, yaitu di tahun 1953 telah terjadi pula penyerahan tanah DESA BARU sebagai daerah kolonisasi (transmigrasi) dalam kenegarian BATAHAN Kecamatan Sungai Beremaas”.

Semua surat-surat penyerahan tanah-tanah disebutkan :

A.Untuk transmigrasi

B.Pendatang-pendatang (transmigrasi) tersebut menjadi kemenakan (dalam hubungan adat-istiadat), dengan menuruti adat-istiadat setempat (yang tentu saja beradat Minangkabau yang bersendi syara’ – agama ISLAM).

Masuknya Transmigrasi ke Pasaman

Periode tahun 1953 – 1956

Berdasarkan penyerahan tanah dari Pucuk Adat beserta Ninik Mamak dalam Kenegarian Kapar dan Lubuk Koto Baru Kecamatan Pasaman dan Kenegarian Lingkung Aur (Mei 1953), maka mulailah berdatangan para transmigrasi, yang terdiri dari :

Padang Lawas/Kapar …………. dari Jawa

Koto Baru/Mahakarya ……….. dari Jawa

Tongar/Air Gadang   ………….. dari Suriname

Dalam surat penyerahan tanah kepada Pemerintah Daerah Pasaman yang diterimakan oleh Ketua Dewan Pemerintahan Daerah Kab. Pasaman (SJAHBUDDIN LATIF DT. SIBUNGSU) tercantum persyaratan antara lain ….”Orang-orang yang didatangkan itu untuk masuk lingkungan adat-istiadat dan Pemerintahan Kenegarian dimana mereka berdiam, (Kapar atau Lingkung Aur), sehingga berat  sepikul ringan sejinjing dengan rakyat asli Kenegarian yang bersangkutan” ……….[i]

Pada umumnya semua pendatang transmigrasi itu semuanya sedari mula datang mengakui beragama Islam. Sehingga pada waktu itu didatangkan guru-guru agama Islam mereka mengikuti dengan baik. Pada masa ini hubungan antara orang-orang transmigrasi dengan penduduk asli berlangsung baik, rapat dan serasi. Dapat dibuktikan dalam bentuk hubungan  baik, sampai akhir tahun 1956.

Periode tahun 1957 – 1960

Para transmigran yang pada mulanya mengaku beragam Islam di permulaan tahun 1957, kemudian ternyata didalamnya menyelusup pula orang-orang Kristen, seperti ditemui : Padang Lawas/Kapar, Koto Baru/Mahakarya (26 Kepala Keluarga), Tongar/Air Gadang (22 Kepala Keluarga).

Pada tahun 1957 keluarga transmigrasi yang beragama Kristen mulai memperlihatkan aktifitas diantaranya meminta Kepala Kantor Transmigrasi Seksi Kapar di Koto Baru untuk dapat memberi izin mendirikan rumah ibadah umat Katholik didaerah tersebut. [ii]

Namun pada tanggal 30 Nopember 1957, Kepala Negari Kapar (Dulah) bersama dengan Pucuk Adat (Daulat Yang Dipertuan) dan Ninik Mamak (Dt. Gampo Alam) yang dikuatkan oleh Alim Ulama (Buya Tuanku Sasak) serta Cerdik Pandai, mengirimkan pernyataan kepada Kepala Kantor Transmigrasi Seksi Kapar, bahwa “permintaan umatr Katholik tersebut didalam lingkungan ulayat (tanah adat) Koto Baru dan Kapar tidak diizinkan (tidak dibolehkan)”.

Diantara alasan-alasan yang dikemukakan :

a. “Agama Katholik adalah tidak sesuai dengan Agama  Islam, yang telah kami pakai dan amalkan”. [iii]

Kemudian ketegasan dari seluruh pemuka masyarakat Pasaman sesungguhnya telah dapat terbaca dalam pernyataan mereka yang menyebutkan sebagai berikut ;

“Kami segala pemangku adat, alim-ulama, cerdik-pandai tetap kami tidak setuju, apalagi negeri kami ini dusun, bukanlah kota, kalau dikota kami tidak berkeberatan sedangkan masyarakat Transmigrasi sudah menurut adat, dan berkorong berkampung ………….”.[iv]

Pernyataan masyarakat dan Pemangku Adat beserta Pemerintahan Negeri Koto Baru yang tegas dan keras ini, menyebabkan usaha Kristen tersebut tidak memperlihatkan gerak yang aktif sampai dengan tahun 1960.

Periode Tahun 1961 – 1962

Pada tanggal 26 September 1961, Kerapatan Adat Negari Kinali, yang ditanda tangani oleh 27 Ninik Mamak,  3 orang Alim Ulama, 3 orang Cerdik-pandai mewakili 100 anggota kerapatan, atas nama seluruh penduduk Kinali, mempermaklumkan rencana Pemerintah menempatkan Transmigrasi dalam daerah Kinali. Disusul menyerahkan sebidang tanah untuk penampungan itu kepada Pemerintah Negara Republik Indonesia tanpa ganti rugi, dengan batas-batas :

1.      ….”dari muara Batang Pianagar ke Pangkalan Bunut

2.      dari Pangkalan Bunut sampai kemuara Sungai Balai

3.      dari Muara Sungai Balai sampai ke tanda Batu (sepanjang 1 Km),

4.      dari tanda batu sampai kekampung Barau,

5.      dari kampung Barau ke kampung Teleng,

6.      dari Basung Teleng, sampai ke muara Batang Tingkok

7.      dari muara Batang Tingkok ke muara Batang Timah,

8.      dari muara Batang Timah kanan hilir Batang Masang sampai ke Aur Bungo Pasang,

9.      dari Aur Bungo Pasang ke Muaro Batang Bunut,

10.  dari Muaro Batang Bunut ke Muaro Batang Pianagar” ….[v]

Penyerahan tanah tersebut dikuatkan dengan syarat, bahwa, “orang-orang transmigrasi itu adalah sama-sama warga negara yang pada azasnya mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan penduduk asli negeri Kinali terhadap Pemerintah dan adat istiadat setempat” [vi].

Sehubungan dengan penyerahan tanah ini, Gubernur Propinsi Sumatera Barat (Kaharoeddin Dt. Rangkayo Basa) mengeluarkan surat pernyataan tgl. 30 September 1961 No. 62-Trm-GSB-1961 untuk menjamin penyelenggaraan transmigrasi sebaik-baiknya dalam daerah Sumatera Barat, dan dalam keputusan angka 4 menyatakan:

…..”Orang-orang bekas transmigrasi diwajibkan mentaati segala peraturan umum dan daerah serta adat-istiadat setempat”.[vii]

Pada tahun 1962, kedaerah Lepau Tempurung/Kinali didatangkan pula warga transmigrasi yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kesemuanya sejak awal datang menyatakan beragama Islam.

Maka, mereka dapat diterima sesuai dengan adat-istiadat penduduk setempat, sebagai saudara dalam sesuku.

PASAMAN (1953 – 1974)  “  ibarat duri dalam daging .. “

Selama 21 tahun sebagai daerah TRANSMIGRASI  Menjadi sasaran operasi SALIBIYAH,

Kabupaten Pasaman di tahun 1974 adalah Kabupaten yang terletak berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli/Sumatera Timur (ujung Utara dari Sumatera Barat). [viii]

Mata Pencaharian penduduk umumnya bertani dan ber-dagang sebagai pencaharian sambilan. Sedikit sekali menjadi buruh.[ix]

KEHIDUPAN KE-AGAMAAN penduduk Kabupaten Pasaman, adalah I S L A M.  Umumnya penduduk asli beragama ISLAM. Pengikut KRISTEN terdapat didaerah PANTI RAO, dengan data tahun 1974 , (a). H.K.B.P (HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN) di Panti, sebanyak 200 orang, (b). Katholik di Panti Rao, berjumlah 60 orang, (c). Advent/Pantekosta di Panti/Rao, sebanyak 25 orang, dan Gereja Bethel  Indonesia. Jumlah itu, dari tahun ke tahun bertambah seiring dengan pertambahan penduduk, dan derasnya arus pendatang.

Di KECAMATAN PASAMAN, juga terdapat pengikut agama Katholik [x], yang berada didaerah-daerah (a). Mahakarya Koto Baru, 90 Kepala Keluarga, (b). Sumber Agung /Kinali , 15 kepala Keluarga, (c). Alamanda/Bunut Kinali, 17 kepala keluarga.

Selain itu ada juga pengikut Protestan di  Kinali,  terdapat 3 Kepala Keluarga dan Tongar, sebanyak 7 Kepala Keluarga.         Padahal sebelumnya di daerah Pasaman ini seluruh penduduknya beragama Islam.  Pembangunan GEREJA ditemui didaerah Kampung II Mahakarya Koto Baru, Gereja Katholik KELUARGA KUDUS, Daerah Alamanda/Bunut Kinali, Gereja Katholik, dan dikawasan Sumber Agung/Kinali, Gereja Protestan/Pantekosta [xi]

Di Panti juga terdapat Gereja H.K.B.P. Panti, Gereja Katholik Panti, Gereja Advent/ Pantekosta dan Bethel Indonesia. Selain itu didapati pula RUMAH-RUMAH GURU INJIL di Kinali dan Koto Baru sebanyak 9 buah. [xii]

Kegiatan dan USAHA MISSIONARIS SALIBIYAH di Pasaman Barat umumnya dapat dipantau dari

A. Mendirikan Sekolah-Sekolah Dasar (S.D) YAYASAN PRAYOGA PADANG, proyek Keuskupan Padang/Pastoran Katholik Pasaman di

1.      Kampung I Mahakarya, Koto Baru, 1 buah = 350 murid  [xiii]

2.      Sumber Agung Kinali,  1 buah = 150 murid. [xiv]

3.      Alamanda ,  1 buah = 140 murid. [xv]

4.      Pujorahayu ,  1 buah = 110 murid

5.      O p h i r,  1 buah = 100 murid. [xvi]

6.      P a n t i ,  1 buah = 190 murid.[xvii]

7.      Panti H.K.B.P, 1 buah =   90 murid [xviii]

B.  Balai PENGOBATAN, yang terdapat di daerah-daerah Koto Baru (Maha Karya).[xix]

C.  Lain-lain tempat dengan cara kunjungan ke-rumah-rumah dan di Panti (dalam perencanaan oleh Katholik.

D.    MENDIRIKAN S.M.P di Koto Baru/Mahakarya dan  Panti.

E.     PENDUDUK ASAL PENGANUT AGAMA

1.    Protestan (H.K.B.P) , di Panti, pendatang dari Tapanuli

2.    Katholik , di Panti, pendatang dari Tapanuli, di Koto Baru dan Kinali, transmigrasi Jawa/Suriname

3.    Protestan (G.P.I.B) di Kinali, Pendatang  dari Tapanuli

F.   PASTOR DAN PENDETA

1. Koto Baru dan Kinali (PASTORAN KATHOLIK PASAMAN) berpusat di Mahakarya/Koto Baru Simpang III Kecamatan Pasaman.

a.  Pastor Corvini Filiberto – berdiam disini selama 10   tahun asal Italia, Kepala Pastoran Katholik Pasaman.

b. Pastor ZANANI, datang ke Pasaman tahun 1972, merangkap sebagai “dokter” pada Balai Pengobatan Keluarga Kudus Simpang III Koto Baru (ITALIA)

c. Pastor Monaci Ottorino , mewakili Pastor Corvini Filiberto, penghubung tetap dengan Uskup Bergamin S.X., asal ITALIA, dan bertugas mengkoordinir sekolah-sekolah Katholik di Pasaman antara lain S.D. Setia Budi (Ophir), S.D. Keluarga Kudus (Koto Baru/Mahakarya) dan S.D. Teresia (Panti).

2. Katholik di Panti, selalu didatangi dan diawasi oleh Keuskupan Padang.

3. Bethel Indonesia dan Pantekosta Panti, Pendeta di kun-jungi dari Brastagi (Tapanuli Utara).

4. Protestan (H.K.B.P) di Panti, Pendetanya dari Tapanuli (Padang Sidempuan/Pematang Siantar).

KRONOLOGIS GERAKAN SALIBIYAH PASAMAN

PANTI

1.   Sebelum tahun 1950

Antara Panti dan Rao, sepanjang 20 Km dan Lebar 5 Km kiri kanan jalan raya Medan – Bukittinggi, ditahun-tahun sebelum 1950 adalah merupakan daerah hutan belukar besar.

Pada beberapa tempat, disela-sela oleh dusun-dusun/kampung-kampung kecil dan  ditempati penduduk dengan adat istiadat Minang dan agama  Islam.

2.   Tahun 1952

Pada tahun ini mulai berdatangan penduduk asal Sipirok   Tapanuli Selatan, dengan maksud mengolah tanah-tanah menjadi persawahan perladangan. Dengan pengakuan tali hubungan adat yang berlaku, yakni “hubungan mamak dan kemenakan” sesuai dengan adat yang berlaku dan agama yang dianut (Islam), pendatang-pendatang mendapatkan tanah-tanah yang mereka butuhkan dengan surat menyurat secara baik.

3.    Tahun 1953.

Oleh Ninik Mamak (Basa 15) diserahkan tanah ulayat seluas   20×5 Km kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman, untuk kemudian dengan diatur oleh Pemerintah Daerah Kab. Pasaman sebagai tempat penampungan pemindahan penduduk dari daerah-daerah lain diluar Kab. Pasaman dengan surat-surat yang lengkap.

Salah satu persyaratannya ialah mereka yang datang itu langsung menjadi “kemenakan” dari Ninik Mamak Panti dan mengikuti adat-istiadat setempat.

Dengan demikian berbondong-bondonglah datang ke Panti penduduk asal Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara, adakalanya kedatangan mereka diluar pengaturan pemerintah daerah, sehingga pada tahun 1956 sudah menjadi ramai dan hutan-hutan sudah dibuka jadi perkampungan dan persawahan.

4.   Tahun 1957

Tanggal 1 Februari 1957, Kanun Simatupang (salah seorang pendatang dari Tapanuli tahun 1957) yang bertempat tinggal waktu itu dinegari Suka Damai Kecamatan Rao, telah menyerahkan sebidang tanah perumahan kepada Gerson Simatupang yang waktu itu bertempat tingal dinegeri Cengkeh Panti.

Dalam penyerahan itu ditekankan sekali bahwa tanah itu tidak buat pergerejaan.

Pada bulan Agustus 1957 itu terbetiklah berita diiringi dengan kegiatan penganut-penganut Kristen yang berdatangan dari Tapanuli untuk mendirikan gereja di Panti. [xx]

Pada tanggal yang sama (5-8-1957), pernyataan Ninik Mamak Panti itu dikuatkan oleh Ninik Mamak dan Anggota DPRN Panti yang ditanda tangani oleh 19 orang Ninik Mamak dan Anggota DPRN yang ditunjukkan kepada Kepala kantor Urusan Agama Kab. Pasaman di Lubuk Sikaping dengan suratnya No. 001/1957 tgl. 5-8-1957 yang berisi keberatan berdirinya gereja dalam tanah ulayat Panti. [xxi]

Terbukti kemudian dengan peristiwa-peristiwa yang mengiring kegiatan penyebaran agama Kristen telah menyelusup jauh ke Panti. [xxii]

Peristiwa diatas menyebabkan kemarahan masyarakat dan Ninik Mamak Panti, yang menilai sebagai suatu pelanggaran dari perjanjian pertama bahwa tanah-tanah yang diolah di Panti tidak dibenarkan untuk mendirikan bangunan-bangunan Kristen apalagi Gereja. Pada tanggal 8 September 1957 Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai dan Pemuda-pemuda dan Sukadamai mengadakan rapat bersama dan memberikan keputusan bahwa orang-orang yang mungkir janji dari perjanjian pertaama sewaktu mula datang kedaerah Panti, harus meninggalkan kampung Panti dalam tempat satu minggu; dan putusan Ninik Mamak ini dikuatkan oleh Wali Negari Panti (Dt. Bagindo Sati) dan juga ditanda tangani oleh orang-orang yang telah melanggar janji tersebut (Jabalingga dkk). [xxiii]

Selanjutnya bertubi-tubi pembelaan dating dari Pendeta-pendeta HKBP dari Sipirok (Tapanuli Selatan) dan Padang, tetapi Pemerintah tetap berpendirian pada melarang untuk/demi keamanan pada umumnya.

5.    Tahun 1962

Pada tanggal 28 Agustus 1962, Bupati KDH Kab. Pasaman (Djohan Rivai) memanggil Catur Tunggal Kab. Pasaman, Kepala-kepala Kantor dalam Lingkungan Dep. Agama di Kab. Pasaman, Anggota-anggota DPRD-GR Kab. Pasaman dan Tokoh-tokoh Partai Politik dalam Daerah Tk. II Pasaman, untuk membicarakan “permohonan umatr Katholik untuk mendirikan gereja didaerah Kab. Pasaman”.  Rapat yang diadakan di Kantor Kogem Lubuk Sikaping itu, menyimpulkan pendapat-pendapat beberapa putusan, antara lain :

a. Bahwa perjanjian-perjanjian dengan Transmigrasi dahulu hanya yang beragama Islam;

b. Untuk mencapai keamanan, sementara pendirian gereja dll sebagainya ditangguhkan.

Sebagai realisasi dari keputusan rapat tersebut, maka pada tangal 8 September 1962 Kepala Kantor Urusan Agama Daerah Tk. II Pasaman (Baharoeddin Saleh) mengirimkan surat kepada Catur Tunggal Kab. Pasaman, yang berisi menguatkan putusan tgl. 28-8-62 bahwa “belum dapat menyetujui permohonan umat Katholik hendak mendirikan Gereja dan lain-lain sebagainya didaerah Kabupaten Pasaman ini ….”.[xxiv]

Walaupun demikian, pembelaan dari pihak Gereja H.K.B.P dan protes dari penduduk setempat, dan kadang-kadang memanas sampai terjadi perkelahian-perkelahian dan terpaksa dihadapi oleh aparat-aparat pemerintah dan alat-alat negara berdiri jugalah akhirnya Gereja H.K.B.P di Kampung Cengkeh Panti yang sudah menjadi persoalan sejak tahun 1956. [xxv]

Sejak tahun 1952 disaat datangnya penduduk Tapanuli (Sipirok) ke daerah Panti pada mulanya hanya yang beragama Islam saja.

Tanpa disadari oleh penduduk setempat pihak-pihak kristiani berusaha mengirimkan tenaga ke Panti, dengan berbagai cara dan  tekanan.

Hingga sekarang dirasakan keretakan hubungan antara pendusuk asli yang umumnya beragama Islam dengan  penduduk pendatang (Tapanuli) yang jumlah sudah menjapai 70 % dari seluruh penduduk Panti.

Sungguhpun diantara pendatang-pendatang itu banyak juga yang beragama Islam dengan memegang teguh perjanjian dengan Ninik mamak Panti ditahun 1953 , namun kerukunan sedarah dan sedaerah adalah merupakan peluang yang baik dan menjadi landasan yang kuat bagi berkembangnya kerukunan di Panti khususnya.

6.    Kedatangan Missi Asing Pendorong Gerakan Salibiyah

Periode tahun 1963 – 1966.

Seakan sudah diatur dari tempat asal warga transmigrasi, bahwa untuk Sumatera Barat, pertama-tama harus menyatakan beragama Islam, walaupun sebenarnya didalam rombongan transmigrasi terdapat pula yang beragama diluar Islam (seperti Katholik) sebagai selundupan.

Pada tahun 1963, mulai berkunjung kedaerah transmigrasi Pastor dari Padang. Maksudnya meninjau dan melihat keadaan perkembangan orang-orang transmigran di TONGAR dan KOTO BARU (Mahakarya). Kunjungan itu pada mulanya tidak menjadikan kecurigaan dan perhatian yang serius dari masyarakat setempat. Kedatangan Pastor dari Keuskupan Padang berlanjut setiap tahun sampai tahun 1966, dan mendatangi rumah-rumah keluarga-keluarga yang beragama Katholik, dan yang tersembunyi.

7.    Tahun 1973

Tahun ini berdiri suatu kampung ditepi Sungai Sampur Panti, dengan nama KAMPUNG MASEHI. Diatas tanah yang diserahkan oleh Ninik Mamak; Panti dahulunya kepada keluarga pendatang dari Tapanuli juga yang pada mulanya seluruhnya beragama Islam. Namun kemudian diketahui (1973) bahwa diantara penduduk itu terdapat 50 buah rumah jemaah kristen dan merekalah yang memberi nama kampung tersebut Kampung Masehi.

MASUKNYA KATHOLIK KE PANTI

Di samping jemaat Protestan/H.K.B.P (Huria Kristen Batak Protestan), terdapat pula beberapa diantaranya jemaat Gereja Katholik dibawah asuhan/pengawasan Keuskupan Padang, hal ini terbukti setelah berulang kali Pastor-pastor Katholik dari Keuskupan Padan secara teratur mengunjungi Jemaat Katholik di Panti.[xxvi]

Tahun 1970

Pada tanggal 10 Mei 1970, M.NICOLAS SINAGA (Katekis Katholik Panti) bertempat tinggal di Banjar II Kamp. Cengkeh Panti, mengajukan permohonan kepada Bupati/KDH Kab. Pasaman untuk mendirikan Gereja Katholik di Panti, yang menurut alasannya bahwa umatr Katholik di Panti sudah beranggotakan 14 buah Rumah Tangga, dan atas anjuran Uskup Padang supaya ditempat itu didirikan Gereja Katholik. [xxvii] Pendirian Gereja ini tidak dibenarkan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pasaman. Tetapi nyatanya Gereja itu berdiri juga. [xxviii] Persoalan ini bertahun-tahun kemudian ber-kembang terus menjadi “kasus Pasaman” yang sampai sekarang terlah berlalu tiga dasawarsa masih belum terselesaikan.

Sejak tahun 1967, jauh sebelum riak gerakan salibiyah di Pasaman ini makin keras menghempas kehidupan kerukunan ditengah kehidupan umat Islam di Minangkabau, dengan filosofi adat basandi syara’, dan syara’ basandi kitabullah.[xxix]

Atas prakarsa Menteri Agama R.I, diadakan musyawarah antara pemuka agama di  Jakarta. Pokoknya diusahakan supaya terpelihara kerukunan antar umat beragama. Baru ditahun 1969, pemerintah merasa perlu lebih bersungguh‑sungguh mengatur lalu lintas pergaulan antar umat beragama dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 01/MDN/MAG/1969 tentang pelaksanaan tugas aparatur pemerintah dalam menjamin ketertiban dan kelancaran pelaksanaan pengembangan dan ibadat agama oleh pemeluk‑ pemeluknya.

Pada tahun 1978 disusul dengan Surat Keputusan Men­teri Agama No. 70/1978 tentang pedoman penyiaran agama.

Surat Keputusan Menteri Agama No. 77/1978 tentang bantuan luar negeri kepada lembaga keagamaan di  Indonesia.

Semua pemuka Islam yang hadir dalam musyawarah, sejak pertama kalinya tanggal 30 November 1967 di Jakarta itu, menyetujui saran pemerintah.

Sedang pemuka‑pemuka agama Kristen, baik yang Katholik maupun yang Protestan, menolak saran pemerintah itu.

Dengan demikian, musyawarah gagal mencapai maksudnya. [xxx]

Pasaman diakhir tahun 1999, dalam menapak kealaf baru di awal abad keduapuluh satu telah berkembang menjadi zamrud hijau ditengah Sumatera Barat. Berpuluh ribu hektar lahan, yang tadinya kosong dan rimba belanatara, telah dibuka menjadi perkebunan sawit.

Masyarakat pendatang  dari luar yang tidak bisa dikontrol lagi. Baik yang bertalian dengan adat, keyakinan agama maupun moral kehidupan mereka. Gereja mulai tumbuh, penaka jamur dimusim hujan. Pendatang hidup sebagai buruh, pekerja dan penanam modal. Dalam menghadapi kenyataan ini, sudah pasti akan selalu timbul problematika-problematika dakwah baru, yang sangat global.

Akankah, berhenti tangan mendayung ???.


Catatan Kaki

[i] Dokumen tgl. 9 Mei 1953.

[ii] Pada tanggal 14 Nopember 1957 dengan surat edaran No. Bb./55/10 meminta  kepada Kepala Negari Kapar dan Ninik Mamak Kapar untuk memberikan keizinan.

[iii] Bahkan oleh masyarakat dan pemukanya di Pasaman Barat itu disebutkan tekad yang jelas seperti ;

1. Selanjutnya  jikalau saudara-saudara dari warga transmigrasi didatangkan ke-ulayat tanah (adat) Koto Baru/Kapar Kecamatan Pasaman umumnya terlebih dahulu kami mengadakan rapat dengan  Bapak Bupati Syahbuddin Latif Dt. Sibungsu beserta DPD Kab. Pasaman Abd. Munir Dt. Bandaro Bara, Haji Latif, Rusli, Wedana A.I. Dt. Bandaro Panjang dan Camat Dt. Jalelo, dihadapan Ninik Mamak Koto Baru/Kapar  Air Gadang dan Buya Tuanku Sasak cucu kemenakan kami  Ninik Mamak dalam Kecamatan Pasaman. Umumnya dengan kata lain, akan tunduk dibawah adat dan agama, yang telah kami pakai dari nenek moyang kami.

2.   Diwaktu peresmian (penyerahan) saudara-saudara warga transmigrasi sudah ada Bapak Gubernur Ruslan Mulyoharjo telaha memberi nasehat kepada seluruh warga transmigrasi, supaya mereka menyesuaikan dengan masyarakat disini. Pepatahnya “dimana tanah diinjak disitulah langit dijunjung”, adat diisi lembago dituang, arti  kata mereka disini menurut adat dan agama yang telah ada.

3.   Dengan perjanjian inilah baru kami terima saudara-saudara itu, menjadi cucu anak kemenakan kami dan duduk didalam ulayat adat kami.

4.   Andai kata kalau tidak sesuaidengan perjanjian itu istimewa akan mendirikan, agama selain agama Islam tidak diizinkan, mungkin  mendatangkan kejadian yan tidak diingini, apalagi ia untuk mendirikan satu rumah teruntuk kepada rumah Katholik (buat beribadah umatr Katholik).

[iv] kutipan dokumen Pemda Pasaman tgl. 30-11-1957).

[v] Kutipan dokumen kerapatan Adat  Negari Kinali No. 01/KANK/1961 tgl. 26 September 1961, di atas meterai Rp. 3,- 1953).

[vi] Ibid.

[vii] kutipan dokumen pernyataan Gubernur KDH Prop. Sumbar tgl. 30 Sept. 1961 No. 62/Trm/GSB/1961 dari salinan M.J. Jang Dipertuan).

[viii] Data tahun 1974, Luasnya : 764.000 H.A, Penduduk : 285.000 Jiwa, terdiri dari 8 Kecamatan (termasuk Perwakilan Camat di Panti), dengan jumlah Nagari  51 buah

Penduduk dari Kabupaten Pasaman ini terdiri dari : a. Asli Minang : 77 % = 220.000 Jiwa, b. Tapanuli  : 25 % =  45.000 Jiwa, c. Jawa : 8 % =  20.000 Jiwa.

Tahun 1974 itu, penduduk transmigrasi Asal Jawa tersebut tersebar di Kecamatan  Pasaman – Kinali.

Agama,

(a).Asli Minang, 100 % beragam Islam,

(b).berasal dari Tapanuli, pada mulanya datang dengan pengakuan beragama Islam, terakhir di Panti ditemui banyak beragama Kristen/Katholik/HKBP,

(c).Asal Jawa, pada mulanya datang dalam rombongan transmigrasi terdaftar beragama Islam, akan tetapi ke nyataannya di Koto Baru dan Kinali terdapat pula penganut Katholik sebagai pendatang-pendatang yang diselundupkan dalam rombongan transmigrasi dan merupakan basis bagi Kristenisasi di Pasaman.

[ix] Sekarang ditahun 2000, penduduk Pasaman sudah banyak menjadi buruh perkebunan  seiring dengan berkembangnya daerah Pasaman Barat menjadi perkebunan sawit yang luas.

[x] Menurut catatan/Laporan Wali Negari Kotobaru Kecamatan Pasaman, Agustus 1973, jumlah penganut agama Katholik di daerah ini terdiri dari (1). Mahakarya ………… 342 orang, (2). Pujorahayu ………..    17 orang, (3). Ophir …………….       38 orang, (4).Jambak ……………      16 orang

[xi] Padang tanggal 12-2-1974 jemaah Gereja Protestan Indonesia Bahagian Barat (G.P.I.B) telah mendirikan sebuah Gereja ukuran 5 x 9 Meter2  dengan nama GEREJA CINTA KASIH DALAM TUHAN.

[xii] Di Koto Baru ini terdapat pula Dewan Komisi Gereja Katholik Kab. Pasaman/Gereja Keluarga Kudus Pasaman dan di tempat ini pula Pastoran Katholik Pasaman dibawah pimpinnan Pastor Corvini Filiberto.

[xiii] Menurut laporan SDKK jumlah murid-murid SD ini bulan Januari 1974 sebanyak 55 murid dengan 17 orang Guru dibawah pimpinan Herman Sugiyono C.

[xiv] SD keluarga Kudus Sumber Agung, dibawah pengawasan Pastor Monaci Ottorino.

[xv] Di desa Alamanda pada objek Transmigrasi Kinali Kabupaten Pasaman sejak tanggal 13 Mei 1965 s/d 11 April 1972 (selama 7 tahun) telah berdiri filial S.D. Kinali ( yang pada mulanya berstatus S.D. Katholik Bunut/Alamanda) dibawah pimpinan Slamet Haryadi, dengan  jumlah Klas I s/d Kelas IV  dan jumlah murid 140 orang.

Pada tanggal 11 April 1972 sekolah tersebut diresmikan menjadi S.D. Induk Negeri Alamanda dengan Keputusan Gubernur KDH Sumbar c/q tgl. 22 Maret  1972, dengan guru-guru sbb : 1. Sabiruddin (gol II/b) selaku Kepala Sekolah, 2. Slamet Haryadi (gol I/d), 3. Ismanto (gol. I/d), 4. Sutrisno (gol. I/d), 5. Sujatni (gol. I/d) dan Sumadi (ex SPG) sebagai tenaga sukarela). Peresmian sekolah ini dilakukan oleh pemegang Pim. Kabin P.D.P.L.B. Wilayah Kecamatan Pasaman.

[xvi] Di Ophir oleh Yayasan Prayoga Padang telah didirikan S.D Katholik pada tanggal 3-2-70 dengan nama S.D Sugio Pranoto, dan pada tanggal 27-9-71 diganti nama dengan S.D SETIA BUDI

Yayasan Prayoga, adalah suatu Yayasan yang langsung berada dibawah pengawasan Uskup Mgr. Raimondo Bergamin s.x.

[xvii] Di Panti, juga oleh Yayasan Prayoga Padang mulai tahun ajaran 1973, dengan pemberitahuan Pengurus Yayasan Prayoga Padang tgl. 21 Maret1973 No. 08/Pem/31/’73 yang ditanda tangani oleh A. Margono S.H. (Sekretaris Yayasan Prayoga Padang).

[xviii] Atas desakan Ninik Mamak dan Pemuka Masyarakat Panti, akhirnya sekolah tersebut ditutup.

[xix] Balai Pengobatan ini diadakan di Pastoran Gereja Katholik Keluarga Kudus Simpang III Koto Baru Kecamatan Pasaman dibawah pimpinan Pastor (sekaligus merangkap dokter) ZANANI.

[xx] Maka tanggal 5 Agustus 1957 itu 29 orang Ninik Mamak mewakili seluruh rakyat sekitar Panti mengirim pernyataan keberatan dengan berdirinya gereja dinegeri Panti, kepada Bupati KDH Kab. Pasaman. Dalam surat pernyataan itu diingatkan kembali peristiwa yang terjadi tahun 1956, yakni keluarnya seluruh rakyat Rao Mapat Tunggul menuju  Panti sebagai protes keras dari berdirinya gereja tersebut, dan supaya kejadian ini tidak berulang kembali.

[xxi] Namun walaupun demikian, Gerson Simatupang yang pada bulan Februari 1957 telah menerima tanah dari Kanun Simatupang dengan persyaratan tidak untuk pendirian gereja, sebenarnya sejak semula telah berniat bahwa diatas tanah itu nantinya akan dibangun secara berangsur-angsur gereja HKBP untuk Panti.

[xxii] Pada tanggal 17 Agustus 1957 telah datang ke Panti  pimpinan Gereja Protestan terdiri dari E. Manalu dari Kantor Urusan Agama (Bhg. Kristen/Protestan) sum. Tengah di Bukittinggi, Dominos A. Ritonga (Kepala Gereja HKBP Wilayah Tapanuli Selatan) dan Wilmar Pohan Situa (Imam Gereja di Padang Sidempuan), dalam pengurusan berdirinya Gereja di Panti. Rencana sesungguhnya ialah untuk memulai upacara sembahyang di Gereja Panti pada hari Ahad tanggal 18 Agustus 1957, yang menyebabkan timbulnya kemarahan penduduk Panti, dan akhirnya pada tanggal 19-8-1957 rombongan tersebut berangkat meninggalkan Panti menuju Padang Sidempuan mengingat faktor-faktor keamanan. Pada tanggal 24 Agustus 1957, Gerson Simatupang, B. Hutapea, T. Hutabarat dan M. Pasaribu atas nama seluruh warga Panti yang beragama Nasrani dan Panitia Pembangunan Berdirinya H.K.B.P. Panti Rao telah mengirim surat permohonan kepada Bupati/Kepala Pemerintahan Kab. Pasaman di Lubuk Sikaping, yang isinya meminta izin mendirikan Gereja H.K.B.P. di Panti.

[xxiii] Lebih tegas lagi, pada tanggal 16 Oktober 1957 Bupati KDH Kab. Pasaman (Bupati Marah Amir) mengeluarkan surat No. 6448.b/VIII/3 sebagai balasan dari permohonan Panitia Pembangunan Gereja HKBP Panti yang berisi “Tanah tempat mendirikan Gereja itu masih dibebani dengan hak-hak tanah yang tunduk kepada Hukum Adat (persoonlijke-rechten), dalam hal mana kerapatan adat Negari Panti pada tgl. 11-9-1957 telah memberikan pernyataan dengan putusan, bahwa mereka sangat keberatan serta tidak mengizinkan mendirikan Gereja di Panti;” sebagai pertimbangan-pertimbangan lain”, untuk menjaga keamanan”, bersama ini kami sampaikan kepada saudara, bahwa smentara waktu ini kami sampaikan kepada saudara, bahwa sementara waktu kami tidak dapat mengabulkan permohonan saudara itu untuk mendirikan Gereja di Panti”.

[xxiv] Pendapat inipun disampaikan pula kepada kepala kantor Urusan Agama Daerah Tingkat I Sumbar di Padang (No.47/R/A.I/1-62 tgl.10-9-1962), dan sebagai bahan pertimbangan diingatkan kembali peristiwa terganggunya keamanan di Panti yang pernah terjadi tahun 1956 dan 1957.

Maka pada tgl. 1 Oktober 1962, dengan surat No. 289/R/R.I/1/62,  kepala Kantor Urusan Agama Daerah Tingkat I Sumbar di Padang (d.t.o, H. DJAMALOEDDIN), memberikan penggarisan sbb :

….” Maka dari itu demi untuk menjaga persatuan Nasional dan keamanan serta ketertiban umum dan tidak mengurangi perhormatan kepada Dasar Negara Pancasila dan kebebasan beragama, maka kami berpendapat seperti berikut :

a. Kami dapat menyetujui putusan rapat Pasaman tgl. 28-8-1962

b. Akan mendatangkan kerugian besar bagi kaum beragama dan bagi daerah itu sendiri kalau Gereja didirikan dalam daerah itu ….”.

[xxv] Pendirian Gereja H.K.B.P. di Panti ini, diatas tanah yang berasal dari milik AHAD Glr. TENGAH JALO (tinggal di Kampung Sungai Jantan Panti) yang dijualnya kepada KANUN SIMATUPANG (asal Tapanuli, tinggal di Kampung Air Tabit Panti) berupa sebidang kebun kulit manis seluas 41 M5, dengan surat jual beli tanggal 24 Desember 1953, tanah mana yang terletak di hilir pasar Panti yang juga dikenal Kampung Cengkeh Panti. Kemudian pada tanggal 1 Februari 1957 menyerahkan tanah tersebut kepada Gerson Simatupang sebagai tanah untuk perumahan dan tidak boleh untuk tempat gereja, akan tetapi pada tanggal 28 Agustus 1957 Gerson Simatupang cs (yang nyatanya adalah missi kristen dari HKBP) mengajukan permohonan kepada Bupati KDH Kab. Pasaman untuk mendirikan diatas tanah tersebut sebuah Gereja, yang ditentang oleh seluruh masyarakat dan pemerintah daerah, namun sampai sekarang (1974) tetap berdiri. Pada tahun 1962 itu, jumlah jemaat H.K.B.P. nyata sekali bertambahnya yang berdatangan dari Tapanuli, sebagai daerah yang berbatasan dengan Panti. Tidak jarang terjadi, bahwa pesatnya gerakan ditopang oleh alat-alat negara yang beragama Kristen/H.K.B.P. Sehingga tanpa mengindahkan larangan-larangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pasaman (baik Bupati, Camat maupun Wali negari Setempat) dan bahkan dengan kawalan kekerasan. Ditahun 1962 itu masyarakat masih dicengkam rasa takut yang berlebihan.

[xxvi] Pada tahun 1973 ini mereka mengajukan pula permohonan kepada Pemerintah Daerah Kab. Pasaman untuk mendirikan gereja di Kampung Masehi (Gereja HKBP ke II). Seperti juga pada masa-masa yang telah berlalu Pemerintah daerah Kab. Pasaman tidak pernah memberikan keizinan. Protes dari segenap lapisan masyarakat dan penduduk Panti, tetap bergulir karena tidak memenuhi segala syarat-syarat. Dirasakan oleh penduduk bahwa pembangunan gereja didaerah ini akan berakibat jauh. Terutama  terganggunya keamanan dan kerukunan sesama penduduk yang telah terjalin selama ini. Walaupun demikian, tanpa keizinan dari pemerintah daerah, pihak kristen (HKBP) tidak ambil peduli dan  tetap mendirikan gerejanya. Kondisi ini selamanya akan merupakan duri dalam daging bagi masyarakat di Pasaman.

[xxvii] Gereja Katholik itu akan dibangun diatas tanah seluas 20 x 30 M dengan besar bangunan 6 x 12 M5 terletak di Kampung Cengkeh Panti, yang berasal dari tanah yang dikuasai oleh JANANGGAR HARAHAP yang bertempat tinggal di Kampung Cengkeh Panti, dan telah diserahkan hak penguasaannya kepada M. NICOLAS SINAGA pada tanggal 16 Januari 1970.

[xxviii] Sejak bulan Januari 1968, M. NICOLAS SINAGA telah pernah mengajukan permohonan yang sama kepada Camat Perwakilan Panti, yang pada waktu tidak dapat diladeni oleh Camat berhubung karena penduduk Panti tidak dapat menerima. Pada tanggal 28 Februari  1968 Perwakilan Dep. Agama Prop. Sumatera Barat (Bahagian Katholik) menguatkan disamping Gereja juga akan dibangun Poliklinik, Sekolah dan Tempat Peribadatan Katholik, dimana surat tersebut ditanda tanggal M.B. Simanjuntak (Perwk. Dep. Agama Prop. Sumbar).

[xxix] Dewan Dakwah meminta prakarsa dari Menteri Agama Republik Indonesia supaya sama-sama menjaga keutuhan masyarakat yang di ancam oleh kerasnya gerakan salibiyah ini.

[xxx] Dr.Anwar Haryono SH, “Indonesia Kita, Pemikiran Berwawasan Iman-Islam”, Cetakan Pertama, Jakarta Rabi’ul Akhir 1416 H/Agustus 1995, Hal 198 ‑ 199).


Membentengi Aqidah Umat


Menciptakan Masyarakat Tamaddun

Satu tema menarik menciptakan masyar­akat tamaddun (beradab). Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban Barat.

Konsep ini mulai di fikirkan dan di rancang oleh beberapa politisi dunia. Terutama oleh beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi ditengah masyarakat yang ada dengan problematika sosial dan pribadi yang tengah bergumul didalamn­ya. Konsep membentuk masyarakat semacam ini sangat sejalan dengan salah satu konsepsi pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir yang telah dirancang sejak tahun 1930-an yang lalu, dan menjadi perwujudan masa kini. Berawal dari konsepsi tentang kesehatan manusia, membaginya atas empat bahagian,

1.      kesehatan fisik.

2.      kesehatan jiwa.

3.      kesehatan ide (pemikiran),

4.      kesehatan sosial masyarakat disekitarnya.

Keempat bentuk empat kesehatan masyarakat tersebut berada dalam ruang lingkup yang sama (integratif) yang memiliki interrelasi satu sama lain.

Interrelasi ini berada dalam ruang lingkup pemikiran Islam. Sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau” terhadap segala bentuk pemikiran yang ada.

Sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau”, dia tidak mengalami gesekan‑gesekan pemikiran dan mengambil segala bentuk pemikiran konstruktif dan meninggalkan pemikiran destruktif.

Kepentingannya terletak kepada kemampuan   aplikasi dari segala ide atau pemikiran yang dilaksanakan. Sejalan dengan perkembangan dunia global. Dan dapat pula dikemukakan bahwa pengertian globalisasi diantaranya di artikan sebagai ruang lingkup pemikiran yang bisa dilaksanakan di tengah masyara­kat.[i]

Relevansi pengertian globalisasi dalam konteks pemahaman ajaran Islam dapat terlihat dari adanya interaksi antara pemahaman ajaran agama Islam dengan Aspek Globalisasi kehidupan yang terjadi di dunia saat ini [ii].

Dalam sebuah proses globalisasi, ajaran agama Islam sanggup bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya, tanpa harus menggadaikan prinsip dasar ajaran Wahyu Allah yang menjadi landasan agama Islam.

Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari‑hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya. Tetapi semestinya bersifat inklusif untuk bisa dipahami oleh semua orang.

Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan semua prob­lematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap lapisan ma­syarakat yang ada mulai dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut.

Pemikiran Mohamad Natsir sedari awalnya merupakan pemikiran ahlul salaf yang berada di tengah‑tengah sebagai upaya penjelmaan umat pertengahan (umathan wasathan). Suatu tatanan masyarakat yang kokoh iman dan berakhlak mulia seperti yang dikemukakan ajaran Al Qur’an.

Sebagai pemikiran aplikatif terhadap problematika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupa­kan sebuah kebutuhan mutlak yang diharapkan masyarakat saat ini.

Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan dilahirkan oleh kesenjangan antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut. Kesenjangan ini, teratasi oleh pembentukan masyarakat self help, self­less help dan mutual help di atas.

Upaya menjembatani kesenjangan hanya bisa dilakukan melalui amal nyata dengan “Berorientasi kepada ridha Allah SWT.” Dalam proses globalisasi ini, hanyalah produk‑produk, termasuk idea, pemikiran dan wacana yang dapat bersaing pada tingkat pasaran dunialah yang akan mampu memenangkan persaingan besar pasar [iii].

Suatu keyakinan sangat objektif bahwa setiap ajaran Islam, pasti mampu memberikan jalan keluar (solu­si) terhadap problematika sosial umat manusia. Ajaran agama Islam berada dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut,  adalah mereka orang‑orang yang beriman. Apatisme politik dan bersikap menjadi “pengamat diam” tanpa ada keinginan dan usaha untuk ikut berperan aktif dalam setia perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang selalu mengalami perubahan hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan sikap yang jelas, antaranya ;

  • mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,
  • jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,
  • apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu,
  • jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata‑kata tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu saja setiap perubahan, baik itu bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini.

Setiap orang yang beriman semestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhu­bungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya. Sikap hidup menjemput bola, bukan menunggu bola merupakan sikap hidup yang sangat didorongkan untuk dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Sikap dinamik sangat diperlukan untuk mengantisipasi selemah‑lemah iman, dan sikap dinamik pula yang menjadi kata‑kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi. Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam tiga cara hidup  yakni,

  • bantu dirimu sendiri (self help),
  • bantu orang lain (self less help), dan
  • saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini mengandung ajaran untuk setiap orang supaya tidak selalu tergantung kepada orang lain.

Ketergantungan akan menempat­kan orang terbawa kemana‑mana oleh mereka yang menjadi tempat bergantung. Tujuan yang jelas sebagai kerangka ibadah dan pembentengan aqidah.

Apalagi tatkala umat tengah berada dalam jihad menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.

Berencanalah Dengan Baik Dalam Berhadapan Dengan Setiap Gerakan Salibiyah Yang Terencana [iv]

Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya  untuk memikirkannya lebih mendalam. Apalagi untuk membicarakannya dengan taman-teman kita secara bertenang. Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab “bakorong-ketek”.

1.      Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.

2.      Fihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi beaja pembangunan tidak ada.

3.      Akibatnya : fihak masyarakat merasa tidak puas oleh karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.

4.      Di Bukittinggi ada agen dari missie asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saya. Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam. Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti ditengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat”itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daja upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5.      Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken…

Dipulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu.

Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katholik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis ditengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.

6.      Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.

Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :

  1. Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan.
  2. Fihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.
  3. Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7.      Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu.

Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya. Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya !

Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.      Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?

Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:

a.                Rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,

b.               Soal asrama untuk tentara,

c.                Soal kekurangan rumah sakit yang bermutu lebih baik.

Yaitu dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam.

Atau setidaknya-tidaknya peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya.

Tapi apabila yang aneh ini kit a laksanakan akan besar sekali manfaatnya.

Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat memperer at hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjukkan jalan alternatif yang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missie-missie asing itu :

“Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita coba-coba sama-sama pikirkan.

Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir. Dan bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern. Dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dsb, dsb…

Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal.

Yakni asrama yang mencukupi syarat (kalaupun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh  Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut. Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat dikumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.

Kata dari orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.

Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama. Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana.

Saya ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was………..

W a s s a l a m,  Mohammad Natsir


Catatan Kaki

[i]      Globalisasi menurut American Herritage Dictionary, adalah the policy making something worldwide in scope or application.

[ii] DR.Sidek Baba, Wakil Rektor Universitas Islam Malaysia Kuala Lumpur menyebutnya dalam Seminar Kebangkitan Peranan Generasi Baru Asia (Re-Awakening Asia) pada tanggal 21-23 Juli 1997 di Pekanbaru, bahwa pemahaman ajaran Islam memiliki interaksi yang jelas dalam kehidupan global masa kini.

[iii] Persaingan pasar tersebut ditentukan oleh speksifikasi produk yang menjadi unsur “kepercayaan” (trust), seperti yang diungkapkan oleh penulis sejarah Francis Fukuyama, pria Jepang yang lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat dan menduduki Dekan di George Mason Universi­ty, Washington baru‑baru ini di Jakarta. Berbeda dengan Francis Fukuyama yang mengemukakan  tesis kesejar­ahan telah berakhir saat ini (The End of History), maka agama Islam, menurut pemahaman Bapak Mohamad Natsir diantaranya mengemukakan bahwa, adanya tesis kesejarahan pada setiap saat dan tempat (wa tilka al-ayyamu nudawilu-haa baina an-naas).

[iv] Surat Bapak DR. Mohamad Natsir yang ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo dan Buya Fachruddin HS. Datuk Majo Indo, bertarikh Djakarta, 20 Juli 1968, adalah merupakan pengamatan Pak Natsir serta pengalaman-pengalaman berdasarkan data-data tentang Gerakan Salibiyah yang sangat terencana.

BAI’ATUL QURBA[1]

 

Bai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan terus berkelanjutan sebagai pesan dari “pemimpin”,

 

1). Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”[2]

2). Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru, tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru-tiru. Tetapi memang kepandaian-kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.

Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, apalah artinya kepadaian-kepandaian seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar dan yang semacam itu.

Dalam pada itu, secepat-cepat terbangnya pesawat jet dia tidakkan bisa, tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali.

Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyai undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani.

Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.

 

3). Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Tetapi kecenderungan penduduknya, di bidang ekonomi ialah kepada mencahari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian  mereka. Padahal sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang.

Ini seringkali “dilupakan” pula.

 

Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, (amaliyah) sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan  pribadi mereka sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang.

Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform”.

Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu, tetapi memang begitulah hakekatnya.

 

4). Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Baru saja Irian Barat menjadi Wilayah R.I. belum apa-apa di Kotabaru sudah ada “Restoran Padang”.

Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar.

Kita bicara saja dengan beberapa orang yang mempunyai modal, kita terangkan saja umpamanya bahwa pertanian dan peternakan yang menghasilkan barang-barang untuk keperluan sandang dan pangan adalah mempunyai harapan baik bila benar-benar dijadikan obyek usaha. Apalagi bila diiringi dengan penyempurnaan cara pengolahannya.

Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yag terus berkembang dan penghematan devisa. Mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah  secara besar-besaran, memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain.

Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini.

Nanti orang kampung  sekitarnya bisa pula menerima upah dalam perusahaan secara besar-besaran itu.

Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat.

“Penasehat” dengan honorarium yang lumayan. Tak usah turut bekeja payah-payah. Nama awak saja yang dimasukkan dalam formasi management. Dengan itu dapatlah pula dikurangi anslah pajak C.V ataupun perseroan. Upayanya begitu, ini kalau ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata-mata.

5). Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik.

Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa ini dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus”.            Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

a.  hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;

b. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);

c.  keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;

d.  ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;

e.  keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a;

Ini wijhah yang hendak di tuju.

Ini shibgah yang hendak di pancangkan ;

Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.

 

6). Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.

Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing.

Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu.

Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak..

Semoga di jauhkan Allah jualah kita semua dan keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan, Amin !

Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan pada angka (4) tadi itu, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali, agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata, dengan mempergunakan jalan-jalan yang kita rintiskan ini. Asal hal-hal yang semacam itu lekas-lekas dapat dipintasi, Insya Allah mereka akan masuk shaf kembali ;

“kok io kito ka-badun sanak juo ……….!”

 

7). Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap. Akan tetapi rasa bahagian kia yang tertinggi, ialah apabila kita dapat melihat bahwa itu hanyalah salah satu dari  ribuan dapur yang berasap karenanya.

Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah.

Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar. Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini.

 

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing, senantiasa akan membimbing kita dalam  menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Nya jua, Amin!. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.

B i s m i l l a h !

Dari sini kita mulai !

Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi, semakin terasa kesulitan yang harus dilalui.

Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ;

“rasa  berpantang putus asa,

bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati,

dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai,

yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.


[1] Pesan Pak Natsir dari Batu Malang, 1963.

[2] QS. Al-Ankabut, ayat 69.


PROSES KRISTALISASI ISLAM DAN POLITIK

 

Gagasan Soekarno dalam bentik Demokrasi Terpimpin. Demokrasi gaya baru ini telah membawa Soekarno kepuncak kekuasaan yang memmang sedah lama ia dambakan, karena fondasi tidak kokoh,sistim itupulalah yang akhirnya membawanya ke jurang kehancuran politik untuk selamanya, dia terkubur bersama sistim yang diciptakanya.

Sekitar enam setengah bulan sistim ini beroperasi dalam sejarah kontemporer Indonesia, Secara politik umat Islam tidak saja berbeda pandangan, bahkan berpecah-belah berhadapan sistem yang diciptakan Soekarno.Budaya politik Indonesia yang sedang dikembangkan pada waktu itu adalah budaya politik otoriter dengan Soekarno, PKI, dan pimpinan tertiggi angkatan darat sebagai pemain utamanya.[1]

 

Demokrasi Terpimpin dalam prakteknya adalah sistem politik dengan baju Demokrasi tapi minus demokrasi.[2]

 

Pembentukan Dewan Nasional yang dapat ditafsirkan orang sebagai kekuatan Ekstraparlemen, Soekarno hendak merubah sistem ketatanegaraan Indonesia sampai kedasarnya. Cara-cara berfikir dan bertindak yang tidak Konstitusional ini seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Presiden yang telah disumpah secara konstitusional.

Pembentukan Dewan Nasional memang tidak jelas dasar hukumnya. Oleh sebab itu, negarawan-negarawan seperti,Hatta, Pak Natsir dan Syahrir telah mengecam pembentukan Dewan yang tidak punya dasar konstitusi ini.[3]

 

Roeslan Abdoelgani mengusulkan agar pidato kenegaraan Presiden 17 Agustus 1959 dijadikan Monifento politik (Manipol) yang kemudian berkembang menjadi Manipol-USDEK (UUD1945,sosialisme Indonesia, Demokrasi ala Indonesia, Ekonomi Terpimpin dan Keadilan Sosial) yang kesemuanya menjadi landasan dasar bagi pelaksanaan Demokrasi Terpimpin.(ibid hlm. 454)

Kemudian dijadikan mata kuliah wajib di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Pada bulan-bulan pertama perlaksanaan Demokrasi Terpimpin terlihat proses kristalisasi yang cepat antara pendukung dan penentang terhadap demokrasi gaya baru ini. Siapa yang mendukung  dibiarkan hidup, sedangkan yang menentang harus disingkirkan.[4]

 

Masyumi memilih jalan martir ketimbang menyerah, sekalipun jalan ini ternyata di kemudian hari mempunyai akibat-akibat yang jauh bagi pembangunan demokrasi politik di Indonesia. Sekiranya Masyumi dapat lebih sabar dan tidak “Tenggelam”dalam arus idealisme martir, barang kali sistem demokrasi tidak akan tersingkir begini parah dalam sejarah modren Indonesia.[5]

 

Secara garis besar,ada dua kelompok partai Islam pada masa itu. Kelompok pertama, Masyumi yang memandang keikutsertaan dalam sistem politik otoriter sebagai penyimpangan dari ajaran Islam.Kelompok kedua, Liga Muslim (NU,PSII dan Perti), berpandangan bahwa turut serta dalam sistem Demokrasi Terpimpin adalah sikap realistis dan pragmatis.[6]

 

Di mata Masyumi sistem Demokrasi Terpimpin akan membawa bencana bagi bangsa dan negara. Karena itu move

Soekarno harus dilawan, apapun akibatnya.

Semangat inilah yang saya istilahkan sebagai “Idealisme Martir” Masyumi yang mempunyai resiko politik yang sangat besar bagi golongan modernis muslim Indonesia.

Masyumi sebagai cagar Demokrasi tampaknya tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi Soekarno dan sistemnya, sekalipun denga sisa-sisa tenaga yang tak seimbang.

Harapan Masyumi bahwa rakyat akan berpihak kepada Demokrasi, tidak kepada sistem otoriter, ternyata sia-sia.

Sementara itu, PKI yang sangat lihai dalam manipulasi politik, berpihak sepenuhnya pada sistem Soekarno. Semua orang pun tahu salah satu tujuan tahtik PKI itu adalah untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya, dan yang terbesar adalah Masyumi. (Untuk mengikuti pandangan politik PKI terhadap Revolusi Indonesia, baca apendiks III. Di situjelas sekali bahwa tujuan PKI berkoloborasi dengan Soekarno antara lain untuk melumpuhkan kekuatan”kepala batu”. Masyumi di mata PKI merupakan salah satu yang dimaksud).[7]

 

Golongan modernis, khususnya Masyumi, tidak patut lagi hidup pada Era Demokrasi Terpimpin. Masyumi harus dikorbankan “demi Revolusi”. Sikap penguasa seperti inilah yang sudah lama di rindukan PKI. Sebagai kekuatan politik yang terlatih, PKI tentu berucap: “Mengapa kesempatan emas ini tidak dimanfaatkan?” Adapun Liga Muslimin di mata PKI, sekalipun juga musuh, tidak sesukar menghadapi kekuatan “kepala Batu”.[8]

 

Memang, bila di lihat dari sudut paham keagamaan di Indonesia, PSII termasuk kelompok modernis. Tapi dalam kenyataan, tdak ada jaminan bahwa sesama penganut modernisme Islam akan sesalu bersatu dalam satu perahu dalam berpolitik. Apakah fenomena ini adalah bayangan ketidak dewasaan umat Islam dalam berpolitik.[9]

 

Saya menelusuri kembali logika Revolisi Soekarno dalam kaitanya dengan pertai-partai Islam. Menurud Mohammad Roem, Logika Revolusi” ialah….. harus ditarik garis yang tegas antara sahabat dan musuh Revolusi.” Masyumi dan pimpinan-pimpinannya dimasukan dalam katagori musuh Revolusi dan kare itulah harus di singkirkan. (Mohammad Roem, pelajaran dari sejarah, Surabaya: Documenta, 1970, hlm. 9.)

Dengan gaya santai dan lucu, Roem menulis:

Sebelum kami dibawa ke Madiun selam dua bulan St.Syahrir

Prawoto, dan saya ditahan di sebuah rumah di Kemayoran Baru. Di situ “logika Revolusi” menganggu pikiran kami masing-masing.Tidak bagi kami sendiri dan keluarga kami umumnya. Bagi kami sendiri Lgika Revolusi sama dengan “sewenang-wenang”, dari yang “berkuasa”: yang meskipun tidak disangka-sangka, tidak jarang terjadi diriwayat manusia.

Tapi ada salah seorang dari keluarga St. Syahrir yang belumdapat mendudukan Logika Revolusi itu yaitu Buyung, anaknya yang paling muda berumur 5 tahun. Untuk Prawoto

anaknya yang paling muda berumur 7 tahun. Bagi saya sendiri, Bu Karto, ibu mertua, umur 79 tahun. Begitulah dalam dua bulan pertama itu, Kami ber tiga menderita bingung memikirkan seorang keluarga Buyung, Bas dan Ibu Karto, yang kalau mencari Logika Revolusi tidak akan mampu menemukan jawabannya.(bid. Ejaan disesuaikan dengan EYD).

 

Tidaklah sewenang-wenang penguasa terhadap

lawan-lawan politik, menurut Roem, adalah bagian yang menyatu dengan logika Revolusi Soekarno. “Soekarno tidak orisinil”, tulis Roem seterusnya.[10]

 

Tidak mampu menarik pelajaran dari sejarah merupakan sisi lemah dari kesadaran moral manusia, tidak terkecuali—bahkan mungkin terutama—penguasa yang haus kekuasaan. Kekuasaan tampa wawasan moral yang tajam akan bermuara pada kesewenang-wenangan. Tindakan sewenang- wenang itulah yang diderita sebagaian besar lawan politik Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin.[11]

 

Bukankah Pak Natsir sebagai perdana mentri juga restu Soekarno, John Coast, warga Inggris seorang yang bemoral tinggi. (John Coast, “Ada saat genting dan saat piknik di zaman Revolusi”, Tempo,no. 45, th. XVII (9 Januari 1988), hlm. 107, berdasarkan tuturan A. Dahanan dan Mohammad Cholid).[12]

 

Setelah Pak Natsir mengantikan Soekitman sebagai Ketua umum Masyumi pada tahun 1949, Pengaruhnya dalam partai memang terasa sangat besar. Hal ini tidak meherankan karena ia berkulifikasi sebagai intelektual dan kia sekaligus.

Bahwa Pak Natsir adalah seorang tokoh modernis yang tidak selalu dapat diterima budaya pesantren tradisional, juga merupakan fenomena lain yang harus di pertimbangkan bila orang berbicara tentang pemisahan NU dari Masyumi pada tahun 1952. Setelah pucuk pimpinan Masyumi tergengam di tangan Pak Natsir dan kelompoknya, tampaknya di mata Soekarno rumusanya menjadi: Natsir = Masyumi dan Masyumi = Pak Natsir.

Maka bila Pak Natsir turut dalam pemberontakan daerah, berarti Masyumi terlibat pula. Suatu rumusan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dari sudut pandangan yuridis frmal, tapi itulah yang menjadi kenyataan sejarah. Dan terhadap kenyataan ini. Seorang sejarawan tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengakuinya sebagai suatu kenyataan.

Masyumi di mata Soekarno adalah rival politik yang sangat menggangu. Sampai akhir 1950-an, Pak Natsir tetap tak terkalahkan oleh kelompok Soekiman untuk menduduki jabatan ketua umum partai itu. Pak Natsir dan kelompoknya memang sangat kritis terhadap move-move politik Soekarno sebelum dan selama priode Demokrasi Terpimpin.[13]

 

Pak Natsir pernah menilai sistem itu dengan mengatakan:

….bahwa segala-galanya akan ada didalam Demokrasi Terpimpin itu kecuali Demokrasi. Segala-galanya mungkin ada, kecuali kebebasan jiwa. Segala-galanya mungkin ada kecuali kehormatan dan martabat pribadi manusia. Dalam istilah biasa semacam itu kita namakan satu diktatur swenang-wenang. (Dikutip dari Yusuf Abdullah Puar,”Trias Politika RI Sering digugat”, Panji Masyarakat, no.250, th. XX

(juli 1978), hlm. 23. Garis miring dengan aslinya).

 

Sebagai orang yang merasakan benar betapa “panasnya” sistem Demokrasi Terpimpin, Pak Natsir tentu mempunyai hak sepenuhnya untuk menilai sistem itu. Apabila sejak peristiwa

“patah arang” antara Soekarno dan Pak Natsir pada awal tahun 1951, lontaran kritik semacam itu adalah wajar belaka, sekalipun berakibat buruk bagi Masyumi.

Keputusan Presiden No. 200/1960 yang diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1960, maka pada tanggal 13 September 1960, Pimpinan partai Masyumi menyatakan partainya bubar untuk memenuhi ketentuan-ketentuan dalam keputusan Presiden. Hilangnya Masyumi dan PSI dari pelataran sejarah modren Indonesia, dapat diartikan sebagai robohnya pilar-pilar demokrasi dan merapuhnya Indonesia sebagai negara hukum yang dengan gigih di perjuangkan.[14]

 

Oleh mendiang kedua partai tersebut. Mehilangnya Masyumi dari peredaran sejarah, bagi umat berarti sempurnanya proses kritastalisasi di kalangan partai-partai Islam dalam menghadapi dominasi politik Soekarno. Sampai berakhirnya sistem Demokrasi Terpimpin pada tahun1965, sebagai umat di bawah pengaruh yang sangat kuat dari sayap pesantren telah menjalankan politik akomodasi dengan sistem yang baru itu, yang juga di dasarkan atas justifikasi-justifikasi agama.

Sebagaimana yang tidak jarang terjadi sepanjang sejarah Islam di permungkaan bumi. Karena manusia mudah sekali melupakan masa lampau, maka fenomena serupa tidak tertutup kemungkinan akan terulang kembali. Mungkin karena bercermin pada kenyataan ini, orang sering mengatakan bahwa sejarah itu berulang,sekalipun tidak ada corak yang benar-benar sama.

Sikap Masyumi melawan Soekarno dapat ditafsirkan seperti seorang yang membunturkan kepalanya ke tembok tebal. Tapi, itulah yang dipilihnya demi Demokrasi dan negara hukum.[15]

 

 

 

 

Kepada Fi‑atin Qalilatin

Cukup Allah Tempat Berlindung

 

Telah bertingkah guruh dan petir

Seakan kilat akan menyambarmu

Telah menghitam awan di hulu

Seakan gelamat hendak melandamu

 

Telah berdendang lagu dan siul

Seakan rayuan membawamu hanyut

Tegakkan kepalamu dini hari…!

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar waLillahil hamd

Hanya Allah Yang Maha Besar

Kepada‑Nya pulang puji dan syukur

Kembalilah kamu ke dalam hidayat dan taufiq‑Nya

 

Pancangkan Petunjuk Ilahi dalam kalbumu

 

Cukuplan Allah bagimu tempat berlindung

Dialah yang akan menegakkan pendirianmu

dengan perolongan langsung daripada‑Nya

dan kekuatan Mukminin sama seiman

 

Innahu la yakhliful mie’aad

 

Mohammad Natsir, 30 Maret 1961

(Judul asli: Minal Aidin wal Faizien)


[1] ibid hal 45-46

[2] ibid hal 47

[3] ibid hal  49

[4] ibid hal 50

[5] ibid hal 51

[6] ibid hal 52

[7] ibid hal 54

[8] ibid hal 54-55

[9] ibid hal 55

[10] ibid hal 56

[11] ibid hal 57

[12] ibid hal 72

[13] ibid hal 73

[14] ibid hal 75

[15] ibid hal 76-77


KETIKA PAPA BERCERITA by : Ritrina

KETIKA PAPA BERCERITA 2 by : Ritrina

oleh Rina Ritrina pada 10 Januari 2011 jam 13:57

(Telah dipublish di Rantaunet)

 

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Adidunsanak Palanta nan mulie,

 

Cerita Papa yang kembali saya ceritakan kepada adidunsanak palanta yang mana sebagai  buah tangan dari kepulangan ke tanah air seorang pejuang PRRI di tahun 2011 ini yaitu salah seorang pemancang tiang bedirinya komunitas milis (Rantaunet) kita ini, siapa lagi kalau bukan Mak Ngah Sjamsir Sjarief.

 

Selamat menikmati…

 

KETIKA PAPA BERCERITA 2

By : Ritrina

 

Melanjutkan cerita pertemuan Papa (H. Djasri S) dan Mak Ngah (Sjamsir Sjarief) nan bamukim di ‘tapi riak nan badabue’ di Santa Cruz California yang mana Mak Ngah sambil pulang ke kampung halaman beliau di Biaro Bukittinggi Sumbar.  Mereka bernostalgia kembali mengenai masa-masa perang PRRI dibawah asuhan para penegak kebenaran, yang mana salah satunya adalah Pak Imam (alm. Buya Moh. Natsir) dalam didikan sama di Universitas Rimba Raya.

 

Hari Kamis pagi Mak Ngah me-sms Papa untuk mengajak pergi ke Kumpulan. Kumpulan adalah salah satu tempat Pak Imam tinggal di dalam rimbanya yang dikenal dengan sebuah komplek persembunyian dengan nama ‘Gang Kenanga’ seperti yang telah penulis ceritakan di seri pertama. Jam 9 pagi mereka janjian untuk bertemu di daerah Simpang By Pass Manggis Bukittinggi untuk kemudian naik angkot yang bertujuan ke Kumpulan. Ketika sudah ketemu di sana dan naik ke mobil angkutan itu, Mak Ngah me-sms penulis mengabarkan acara mereka hari itu.

 

Sebenarnya Mak Ngah ingin menelusuri tempat persembunyian Pak Imam di dalam rimba disana, dengan bantuan Papa yang dulunya bertugas sebagai kurir Pak Imam dan keluarga. Hanya medan yang akan mereka lalui entah sudah tambah berat atau bagaimana, makanya Papa memutuskan untuk merubah keinginan Mak Ngah menjadi acara ziarah. Mak Ngah yang duduk di bagian depan mobil sedangkan Papa duduk di bagian belakang membuat mereka tidak bisa bercerita langsung. Papa mengirimkan kertas bertuliskan perubahan rencana itu persis halnya anak sekolahan minta contekan.  Mak Ngah yang tidak begitu mengetahui lika liku kampung yang setengah abad yang lalu telah dia tinggalkan, menyerahkan keputusan ke Papa. Akhirnya mereka bersepakat untuk menziarahi kuburan Kolonel Dahlan Djambek di daerah Aia Kijang tepatnya di sebuah kampung yang bernama Lariang.

 

Di simpang Aia Kijang mereka berhenti untuk kemudian menyambung kendaraan umum ke daerah Lariang.  Kamis adalah ‘hari pakan’ di daerah Kumpulan sehingga transportasi lumayan lancar untuk masuk ke kampung-kampung di pelosok nagari Sumatera Barat ini. Menuju Lariang jalan yang dilalui lumayan mendaki. Setibanya di Makam Kolonel Dahlan Djambek ini mereka berziarah mengirim doa. Ilalang maninggi disana sini menyaingi tembok pekuburan Sang Kolonel yang meninggal ditembaki tentara Soekarno di kala subuh sekitar September 1961.

 

Menurut cerita orang kampung Lariang, Sang Kolonel berumur 36 tahun masa itu, masih muda gagah. Dia dan anak buahnya bermalam di kampung itu di sebuah rumah di pinggir kampung. Sampai sekarang rumah itu masih dipertahankan bentuk aslinya dan tidak dirubah-rubah. Konon kabarnya Sang Kolonel yang berhasil ditangkap di rumah itu tidak bisa tertembus peluru. Anak buahnya yang terus menerus ditembaki oleh Tentara Soekarno telah hancur berantakan kepala dan tubuhnya karena ditembaki berulang-ulang. Rata-rata kepala mereka pecah karena ditembaki terus-menerus itu. Kain sarung yang dipakai oleh Sang Kolonel penuh dengan lubang tembakan. Namun yang tembus ke badannya di sekitar dada hanya satu tembakan saja.

 

Cerita dari mulut ke mulut orang kampung Lariang menceritakan bahwa Sang Kolonel kabarnya memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga peluru tidak mempan menembus badannya. Ketika melihat anak buahnya sudah berserakan berserpihan manganak darah dan benak di subuh buta itu, Sang Kolonel memutuskan untuk ikut gugur bersama anak buahnya. Sehingga kain sarung yang dipakainya hancur penuh tembakan tetapi yang menembus dadanya hanya satu tembakan. Satu tembakan yang diijinkan dia untuk membuat dia gugur bersama anak buahnya yang sudah duluan gugur. Sang Kolonel belum mau menyerah sebagaimana halnya Kolonel Ahmad Husen yang telah duluan menyerah di awal tahun 1961 itu. Menurut Papa dan Mak Ngah, banyak diantara pejuang yang tidak tahan hidup di dalam Rimba, sehingga ditawari pengampunan, jadi cepat menyerah. Ditambah lagi dengan adanya pengkhianat perjuangan. Syukur Alhamdulillah tempat Pak Imam tidak bisa terdeteksi oleh tentara Soekarno karena orang kampung yang selalu berpihak ke perjuangan beliau, sehingga tetap selamat sampai menyerah di September 1961 itu, Alhamdulillah…

 

Makam Kolonel Dahlan Djambek sudah ditembok dan dipagar . Rumah tempat kejadian penangkapan itu masih bisa diziarahi. Hanya saja jalan menuju ke tempat tersebut lumayan rusak dan mendaki. Seperti halnya situs-situs sejarah di negeri kita lainnya, Pemakaman inipun kurang terawat. Dimana tempat itu disemaki oleh ilalang yang meninggi. Butuh sentuhan kepedulian dari para penerus cita-cita perjuangan.

 

Selepas siang para pejuang senja ini kembali ke pasar Kumpulan untuk  shalat dan makan. Papa memilih menu gulai ikan rayo asam durian, sedangkan Mak Ngah memilih ikan goreng. Sementara mulut mereka terus saja bercerita tentang masa-masa yang tidak akan pernah mereka lupakan tentang masa silam yang penuh kenangan. Mak Ngah mengajak Papa untuk ke kampung Malampah yang berjarak 30 km dari Pasar Kumpulan. Mengingat mereka hanya membawa ‘badan’ saja, Papa mengurungkan niat Mak Ngah tersebut karena beberapa pertimbangan. Diantaranya mereka tidak membawa persiapan sekiranya nanti harus bermalam di perjalanan. Lain waktu perlu perencanaan yang matang untuk menapak tilasi perjalanan setengah abad silam tersebut.

 

Perjalanan tersebut harus diakhiri dengan berangkat kembali menuju Kota Bukittinggi. Papa mengantar Mak Ngah sampai di simpang By Pass untuk seterusnya Mak Ngah bisa kembali ke Biaro. Rupanya orangtua satu ini belum puas dengan kejadian sehari itu sehingga beliau meneruskan jalan ke Hotel Pusako untuk berenang sebagaimana hobinya sejak dulu. Ohya Kawan, Mak Ngah adalah sosok tua yang bersemangat mengalahkan yang muda. Di setiap ulang tahun beliau, selalu berenang mengitari kolam renang sebanyak usia yang telah dilalui. Bila sekarang usia beliau memasuki 76 tahun artinya beliau telah beranang di hari ulang tahunnya 75 lap di kolam renang di Santa Cruz California sana. Orang Melayu cakap ; Boleh tahaaaannn… Dato’ satu nie.. Sungguh luar biasa untuk kakek-kakek seusia beliau itu.

 

Menurut Papa, Mak Ngah  sangat ingin untuk pergi ke Gang Kenanga. Sehingga Papa telah melakukan persiapan untuk acara napak tilas tersebut. Seorang kawan yang seperjuangan dulu yang bergelar Datuak Tumangguang telah beliau hubungi. Mereka siap untuk menjadi penunjuk jalan menuju Gang Kenanga sebab beliau tinggal di Kumpulan tepatnya di kampung Durian Kunik. Berkemungkinan bila acara itu jadi, maka akan memakan waktu 2 harian. Jika diriku ini tidak ‘takabek’ di Rantau ini, tentunya akan bernyanyi riang mengiringi langkah orang-orang tua ‘jagoan  ini. Seperti yang sering kugeluti waktu kecil masuk hutan untuk memetik pohon-pohon cengkeh yang mulai berbuah di kebun di tengah ‘rimbo’ Manduang dulu itu.

 

Batam, 10 Januari 2011

Ritrina

 

Note : Akan sangat bagus pabila Perkumpulan Pecinta Alam Bukittinggi bisa ikut dalam acara napak tilas ini, daripada mendaki Merapi atau Singgalang yang telah ‘pasa’ bagi mereka selama ini.

 

KETIKA PAPA BERCERITA 3

by Rina Ritrina on Tuesday, 11 January 2011 at 16:10

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Para pembaca budiman,

 

Tulisan ini saya buat untuk bahan cerita bersambung dengan Da Andiko Sutan Mancayo, mudah-mudahan bisa menjadi karya sastra yang diminati sebab berlatar belakang sejarah kehidupan di masa lampau para pejuang kebenaran di masa orangtua kami masih muda gagah sebagai (Tentara) Pelajar. Izin untuk membuat cerita ini menjadi cerbung atau novel sekalipun telah saya dapatkan. Saya sangat beruntung memiliki Papa yang selalu mensupport anaknya terutama saya si Bungsunya.

 

Selamat menyimak…

 

KETIKA PAPA BERCERITA 3

By : Ritrina (Rina Permadi)

 

 

Nama Papa H. Djasri Sjamsuddin yang lahir 03 September 1937 yang kata2 Sjamsuddin diambil dari nama ayah beliau, H. Sjamsuddin seorang tokoh ulama di daerah Tilatang Kamang. Baliau adalah Angku Imam di Musajik di kampung kami di Desa Kaluang Kenagarian Tilatang Kamang Kab. Agam yang mana  kini masuk wilayah Kota Bukittinggi. Sahingga banyak yang berkainginan basuamikan beliau sahingga nenek kami berjumlah empat  orang. Istri yang tertua adalah Ibu dari Papa yang bernama Kinan. Kalo ditambah ‘ti’ maka jadi nama yang keren ala jaman sekarang menjadi Kinanti J.

 

Papa  masuk SR (Sekolah Rakyat) di desa Kaluang tamat tahun 1952 salama 6 tahun trus melanjutkan ke SMP swasta Simpang Ampek Pekan Kamis setahun trus berhenti sebab beliau ingin membuat ijazah negeri SR dengan ikut ujian ke Padang Gamuak Tarok Bukittinggi. Setelah lulus dan ijazah didapatkan, dilanjutkan ke SMP 6 Simpang Lambau di depan SMA 1 Gajah Tongga selama 2 tahun trus pindah ke Batusangkar ke SMP 2  Negeri Batusangkar tamat di tahun 1955. Melanjutkan ke SMA Negeri Batusangkar trus pindah ke Bukittinggi. Masuk SMA ‘B’ Bukittinggi yang tempatnya di SMA 2 Bukittinggi sekarang di seputaran lapangan kantin. Nah ketika di SMA itulah sekitar kelas 2 pecah perang PRRI. Sewaktu itu Papa hanya mendengar tentang kondisi yang bagolak tu dari radio yang pake batere besar sepuluh biji. Jadi untuk sekedar mendengar radio jadi mahal di masa itu.

 

Sebagaimana para pelajar seusia Papa di masa itu, kebanyakan mereka langsung bergabung menjadi tentara dibawah komando Kolonel Ahmad Husen. Sekitar tahun 1958 dan Papa bergabung dengan Brimob 5149 Padang Panjang yang bermarkas di Kampung Katiagan di lereng Gunung Merapi yang mengarah ke Kota Padang Panjang. Papa masih ingat senjata yang dipegang dia waktu itu adalah Jungle Pop Or US. Mereka bergerilya masuk ke dalam kota Padang Panjang mengincar markas Tentara Soekarno.

 

Bila terlihat musuh di selisip rumah orang maka akan sama-sama sembunyi, tidak ada perang yang membabi buta. Sepertinya mereka segan menembak dan pihak Tentara Pelajar inipun segan untuk menembak. Sungguh perang yang santun. Jikapun ada terjadi pembantaian atau tembak menembak biasanya musuh tidak terlalu jelas atau balasan serangan yang menyebabakan korban. Bila sama-sama jelas terlihat yang satu dipojok rumah yang satu dan yang lain di pojok rumah satunya lagi, maka akan sama-sama mundur. Kompi Papa waktu itu adalah Brigadir Muchtar Djamal. Berada di Padang Panjang itu mulai dari akhir 1958 sampai 1959.

 

Tahun 1960 Papa pindah ke Combad  Suayan di daerah Suliki Kab. 50 Kota dan bertugas disana selama 4 bulan. Meneruskan tugas ke Aia Kidjang di daerah Kumpulan perbatasan Bukittinggi dan Lubuak Sikaping Pasaman. Ketika bergerak ke daerah Bonjo di Pasaman, Papa bertemu dengan Pak Imam (Buya Moh. Natsir) dimana Papa tergabung dalam Pasukan Khusus yaitu Pasukan Teritorial Bonjol yang berjumlah 10 orang.  Waktu itu yang menjadi wali Nagari di daerah tersebu adalah Mamak Angku Yarnani yang berpusat di Koto Kaciak Kumpulan.

 

Saat inilah Papa bisa bertemu dengan Pak Syafruddin Prawiranegara yang pada saat itu sebagai Presiden RPI (Republic Persatuan Indonesia) perubahan nama dari PRRI. Bertemu di suasana Upacara Bendera. Pak Syafruddin waktu itu tidak begitu faham upacara militer diiringi dan dipandu oleh Kolonel Dahlan Djambek dimana Upacara Bendera itu benar-benar dibuat seperti layaknya Upacara Bendera sebuah Negara yang berdaulat. Sewaktu itu Pak Syafruddin tinggal di Koto Tinggi Suliki. Hampir semua kesatuan hadir di Upacara Bendera Milter saat itu, Papa mengenang.

 

Pak Imam sewaktu bersembunyi di daerah itu membutuhkan staff untuk keperluan kurir logistic.  Entah karena melihat Papa yang bisa dipercaya atau karena track record Papa selama menjadi tentara pelajar dalam kurun waktu perang itu, maka terpilihlah beliau untuk ikut di rombongan Pak Imam di Gang Kenanga di dalam rimba di aliran Batang MAsang itu. Papa mulai bertugas di bulan Januari 1961. Bertugas untuk keluar masuk rimba tanpa sedikitpun meninggalkan jejak sehingga diperlukan ketelitian dalam perjalanan. Sedapat mungkin tidak ada bekas jejak yang ditinggalkan. Bila di sungai harus berjalan di dalamnya sehingga tidak ada jejak yang membekas baik di pinggir sungai atau di batu-batu yg bertebaran di sungai-sungai pedalaman Sumatera itu.

 

Perjalanan Papa terkadang harus dilakoni sendiri seperti membawa senjata bantuan Amerika. Mengirim surat-surat yang ditulis Pak Imam untuk dikirimkan ke Amerika sebagai Negara yang membantu perjuangan RPI kala itu. Sebab sama-sama tidak setuju dengan komunis. Namun dikala itulah Papa bertemu suka dukanya berjalan sendirian di Rimba Sumatera itu. Yang paling sering melihat dua mata bersinar terang si Inyiak Rimba alias Harimau Sumatera. Pernah juga dari atas pohon yang sangat lurus dan tinggi, turun seperti hendak mengejar seekor Gorila hitam yang sangat besar ke bawah namun tepat tinggal beberapa meter dari tanah, si Gorila telah lenyap tanpa bekas.

 

Begitu juga dengan nasib mujur bertemu beberapa pohon durian di tengah rimba yang berbuah lebat dan di tanah penuh dengan durian yang berjatuhan karena baru dilanda angin kencang. Beliau pilih yang besar dan bagus dan langsung disantap ditempat, namun hanya sanggup menghabiskan delapan buah yang wangi ranum. Akibatnya dia mabuk durian dan jadi kapok untuk makan durian sampai saya beli durian ketika masa saya bersekolah di Bukittinggi. Dia makan durian sambil bercerita tentang durian yang dia makan sewaktu di rimba Kumpulan di zaman bagolak.

 

Saya tidak akan menulis banyak tentang Gang Kenanga dimana di tempat ini Buya Moh Natsir bersembunyi bersama keluarga dan rombongannya. Hal ini sudah saya ungkapkan detail di tulisan saya ‘Ketika Papa bercerita bag. 1’. Hanya sedikit saya singgung tentang keterangan Papa yang berusaha mengingat-ingat waktu di Gang Kenanga ini antara januari 1961 s/d Sept 1961 Pak Imam menulis naskah buku yang berjudul Capita Selecta 3, dimana saya lihat di sebuah Blog Buya Mas’oed Abidin, naskah Capita Selecta 3 ini tidak diterbitkan.

Sebab apa alasannya tidak diterbitkan naskah tersebut tidak ada keterangan di blog tersebut.

 

To Be Continued

 

Batam, 11-1-11

Rina Permadi

 

  • Masoed Abidin ZAbidin Jabbar

    Ananda Rina, yang ditulis Rang Gaek atau Pak Natsir itu adalah saran kepada Pemerintah RI pimpinan Soekarno melalui Jendral Abdul Harris Nasution tentang bagaimana menyelesaikan bekas anggota PRRI secara nasional, agar tidak menjadi beban s…osial masyarakat Indonesia.

    Hebatnya beliau (Rang Gaek, panggilan kami terhadap Pak Natsir, sebab ada beberapa panggilan terhadap beliau itu, ada dengan panggilan ‘Pak Imam’ (bagi pencinta Masyumi), Abah (bagi anak anak beliau di Jabar), ‘Pak Natsir’ (umum panggilan kekerabatan), ada ‘Abu Fauzie’ ini panggilan khusus yang hanya diketahui beberapa anak anak beliau tertentu saja, sekali lagi hebatnya beliau tidak menulis bagaimana semestinya pemerintah memperlakukan beliau agar bebas, tetapi beliau menyarankan bagaima seharusnya pemerintah menyelesaikan kemelut PRRI agar tidak menjadi beban sosial masyarakat Indonesia.

    Yang ditulis Pak Natsir itu banyaknya 42 halaman diketik oleh Pak Buchari Tamam, Mazni Salam dan juga Buya sekali sekali, diketik, dikoreksi, diketik lagi, dikoreksi lagi, berkali-kali sampai pas untuk konsumsi penguasa, tanpa harus mengemis merendah diri, inilah khasnya konsepsi Pak Imam itu.
    Judulnya adalah “Mengumpulkan Kerikil Kerikil Terpelanting”, yang kelak dimasukkan kedalam Capita Selecta 3 sampai hari ini …

    Buya juga mengutip kembali tulisan itu di dalam Buku yang sedang Buya ulangi mengeditnya dengan judul “Hidpkan Da’wah Bangun Negeri (HDBN), Taushiyah Da’wah Mohamad natsir”, buku ini sudah diberi pengantar oleh Prof.Madya Siddiq Fadzil dari UKM Malaysia sejak Ramadhan 1330 H yang lalu, sayang masih belum dapat Buya terbitkan sampai hari ini …

    Pak Natisr selama di Padang Sidempuan Sept 1961 itu ditempatkan di sebelah rumah Kolonel Bahari Effendi Siregar (Komandan Koren 22 Kawal Samudera), tersimpal maksud tersembunyi dengan halus mengawasi sekaligus membatasi gerak beliau, karena beliau tinggal dalam kompleks Korem itu, walau bebas didatangi siapapun.

    Disinilah beliau ditemui oleh Mas Hardi dan utusan Jenderah Abdul harris Nasution, dan juga oleh teman teman dari Masyumi dari seluruh tanah air.
    Begitu bbanyaknya tamu beliau setiap harinya, akhirnya beliau selesai merampungkan pesan untiuk pemerintah RI itu, maka beliau dipindahkan ke Batu Malang dan berakhir di Wisma Keagungan di Jakarta sebelum semua tahanan politik ini dibebaskan 1967, yang beliau mulai dengan mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pada Pebruari 1967 di Masjid Al Munawwarah, Kampung Bali II, Tanah Abang Bukit, Jakarta Pusat itu.

    Pelajaran berharga, bagi pejuang tidak ada masa yang disebut berhenti.

    Termakasih ananda Rina ..
    Wassalam Buya HMA

  • Evy Nizhamul

    Wah .. rina.. kalau begitu JUDUL kisahnya harus lebih spesifik, jika ingin dijadikan sastra sejarah. Mungkin bagus juga di Manuang-manuangkan untuk menemukan judulnya agar lebih spektakuler.
    Banyak Mamak mamak Rina nan ka maagieh judul nan… rancak…

    Selamat menulis

    Wassalam,

  • Rina Ritrina

    Assalamu’alaikum Buya,
    Kato Papa waktu di Rimbo tu nan mangetikkan Capita Selecta 3 tu adolah seorang anak mudo bakulik putiah barasiah berasal dari Sunda, tapi Papa lupo namo anak mudo tu, waktu itulah pak Imam mangarang buku tu dek Papa ma…ncaliak an Pak Imam mandiktekan ka Anak Mudo tu. Berarti naskah tu alah salasai baru diedit ulang baliak sasudah manyarah, oleh Buya dan 2 editor yang Buya sabuikkan tu. Kebetulan Papa kenal jo Pak Buchari Tamam dan Pak Mazni Salam, kaduonyo itu Urang Awak kecek Papa. Trus di Sept 1961 waktu turun dari Rimbo, Pak Imam ditempatkan di Rumah milik Inyiak Datuak Palimo Kayo, rumah yang barado di Seputaran Jambu Aia kiniko, rumah kayu bakandang nan dibawahnyo ado batabek ikan.
    Tarimo kasih banyak informasi Buya..
    Mudah2an Buya sehat salalu..
    Wassalam
    Ananda

Mohamad Natsir, “Empat Cata Pemimpin Pulang”

 

Pemimpin Pulang

 

Empat cara pulang bagi Pemimpin

dari Perjuangan.

 

Dia pulang dengan kepala tegak,

membawa hasil perjuangan.

 

Dia pulang dengan kepala tegak,

tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku,

atau lebih dari itu,

riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan

bagi para Mujahidin seterusnya.

 

Dia pulang.

Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal

di Medan Jihad.

Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup

dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim,

serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya.

 

Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai,

hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul.

Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur.

Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang

Entah pabila umat itu akan bangkit kembali,

mungkin akan diatur  oleh Ilahi dengan umat yang lain,

yang lebih baik, nanti

 Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip

.

Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.

Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah.

Ia belum pulang.

 

                  Mohamad Natsir   

                         Medan Djihad, 24 Agustus 1961 M/ Maulid  1381 H.

 


 

 

 

Bab – Satu

 

TASYAKUR NIKMAT

 

 

 

 

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat.

 

       Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini.

       Apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.

       Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

       Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu:

 

 

 

 

 

       Dan Ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-KU), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS.14, Ibrahim : 7).

       Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri. Yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

       Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan. Yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah.

       Baru saja merasakan luka-luka terkoyaknya perang saudara semasa rezim Soekarno, selama 3½ tahun lamanya.

       Banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak pula keruntuhan yang harus dibangun.

       Langkah-langkah yang digariskan itu, tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

·        penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

·        perumahan rakyat yang hangus terbakar

·        sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

·        luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

·        kehancuran pendidikan agama.

 

       Nopember 1961, terjadi lagi satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor.

       Dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan.

       Sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang diberi nama Yayasan Tunas Harapan.

       Kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.

       Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat, walau dengan segala akibat yang harus dilalui.

       Para pemimpin umat itu, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.

       Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan di Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, maka Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang.

       Bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat.

       Terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar dari Bapak Mohamad Natsir, berupa taushiyah yang akan diperpegangi.

       Dengan pedoman yang telah digariskan secara rinci oleh Bapak Mohamad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan. Maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut.

       Menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.

       Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan. Segi psikologis, masyarakat kita masih diliputi oleh rasa takut. Dan dengan alas an didalilkan demi untuk menjaga keamanan yang bersangkutan.

       Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, telah pula berhasil.

       Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung. Secara timbal balik dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung) itu.

       Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakan PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halaman, negerinya itu.

       Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya. Untuk mendorong kembali kehidupan rakyat. Menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan.

       Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu.

       Yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Pak Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).

       Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohamad Natsir  terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk. Yang selalu digoreskan Beliau, walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”.

       Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin lain seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, Duski Samad, dan banyak lagi yang lainnya.

       Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak Mohamad Natsir disambut baik. Tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan. Tetapi juga oleh berbagai kalangan.

       Lahirnya suatu pandangan yang sama, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada rajinnya tangan dan tumbuhnya usaha-usaha di rumah tangga”.

       Dengan memulai program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan kerajinan tangan dan home-industri. Waktu itu tahun 1962.

       Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing.

       Berbekal amanat (taushiyah) supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat.

       Dimasa itu Bapak Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

       Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid. Pertemuan itu membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni merawat sutera alam dan membuat tikar mendong harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat.

       Gerakannya perlu dilaksanakan melalui kursus dan latihan.

       Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka. Di ikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

       Bayangan masa depan mulai menyeruak penuh harapan. Sungguhpun ketika itu, nafas masih berhembus di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI. Namun dari sudut ke sudut hati setiap peserta, telah merayap suatu keyakinan bahwa setiap usaha akan berhasil bila diiringi kesungguhan.

       Barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar. Kadang kala, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

       Semboyan kita ialah :

¨     Yang  m u d a h sudah dikerjakan orang

¨     Yang  s u k a r  kita kerjakan sekarang

¨     Yang  tak mungkin          kita kerjakan besok

¨     Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

 

 

 

 

 

       Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah diantara kita yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan mendapat  keberuntungan“. (QS.6, Al An’am : 135).

       Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak Mohamad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting.

       Sedari dulu di pertengahan November 1961.

       Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria. Dirasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanita-wanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

       Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga, seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura. Dan juga pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang. Termasuk pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor. Terutama oleh kalangan “bundo kandung”, kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis.

       Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan. Mengembangkan penanaman sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash[1], di tengah mana Bapak Mohamad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta. Bibit yang dikirimkan tersebut disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga.

       Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar akan mendatangkan hasil yang melegakan. Apalagi bila disertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang“.

       Taushiyah ini, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima. Diterima sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’.[2]

       Dan seorang keluarga yang menerima pesan itu, antaranya Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru. Beliau mengungkapkan taushiyah tersebut dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..“. Pesan itu, akhirnya merupakan buhul yang kian saat makin erat, sebagai modal utama untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepada Fiatin Qalilatin[3]

 

“ Minal ‘Aidin Wal Fa-izien”

 

 

Telah bertingkah guruh dan petir,.

Seakan kilat hendak menyambarmu,

Telah Menghitam awan di hulu,

Seakan gelamat hendak melandamu.

 

Telah berdendang lagu dan siul,

Seakan Rayuan membawamu hanyut,

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil hamd”.

 

Hanya Allah Yang Maha Besar

Kepada Nya pulang puji dan syukur,

Kembalilah kamu kedalam Hidayat dan Taufiq Nya.

Di sana letak Pangkalan merebut Kejayaanmu.

 

Pancangkan Petunjuk Ilahy dalam Kalbumu,

“Cukuplah Allah bagimu tempat berlindung

Dia-lah yang akan menegakkan pendirianmu,

Dengan pertolongan langsung dan pada Nya”,

‘ Dan Kekuatan Mukminin sama se-iman’ 

 

“Iannahu laa yukhliful mie-‘aad !

“Minal ‘aidin Wal Faa-izin !”

 

 

Mohamad Natsir


 


[1] Rumah Tahanan para pemimpin umat di Batu Malang, Ambarawa, atau Wisma Keagungan di Jakarta.

[2] Bai’atul qurba, adalah bai’at kekeluargaan dalam memelihara Iman dan Persaudaraan, sebagai modal utama menjaga keutuhan bangsa.

[3] Fiatin Qalilatin, adalah istilah Kitab Suci Al Quran untuk menyebutkan kelompok terpilih dan teruji ketangguhannya (selected minority). Silected minority (fiah qalilah) bila teguh dalam memegang prinsip, Insya Allah akan mampu menghadapi kekuatan yang lebih besar (fiah katsirah)., tentu saja dengan idzin Allah. Kuncinya adalah Iman dan Persaudaraan yang ikhlas sesama. Kepedulian bersama, sesungguhnya lebih mulia dari hanya kepentingan diri sendiri. 


Pejuang tak pernah mati, walau disanjung atau terbunuh, dia berjuang untuk bangsanya, mereka tak pernah meminta tanda jasa. Lihat Tan Malaka demikian juga Natsir. Keduanya adalah penghulu ninik mamak di Minangkabau, yang satu bergelar Datuk Tan Malako dari Luhak Limopuluah Koto, dan seorang lagi bergelar Datuk Sinaro Panjang dari Maninjau Luhak Agam.

[R@ntau-Net] KOMPAS => Debat Tan Malaka, Darurat Perang Jenderal Sudirman

Sunday, August 3, 2008 6:46 PM
From:

Add sender to Contacts

To:
RantauNet@googlegroups.com
Membaca artikel Sabam Siagian, “Tentang Tan Malaka” (Kompas, 12/7) yang menanggapi tulisan saya, “Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional” (Kompas, 7/07), ada hal-hal yang ingin dikesankan mantan Dubes RI untuk Australia itu.

Pertama, politik diplomasi Syahrir seolah tak bermasalah bagi TNI dan pejuang sehingga kombinasi politik diplomasi dan pertahanan disimpulkan telah melahirkan Indonesia merdeka.

Kedua, negara memiliki legitimasi mengeksekusi Tan Malaka atas nama keadaan darurat perang guna “memikul wibawa penuh Panglima Besar Letjen Sudirman”.

Dwitunggal

Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik menyatakan, dwitunggal tidak hanya satu pasang—Soekarno-Hatta—tetapi ada dua pasang lagi: Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Sudirman. Saya ulas pasangan ketiga, Tan Malaka-Sudirman.

Bagi Tan Malaka, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah harga mati. Kompromi para pemimpin politik menghadapi Belanda adalah naif dan melelahkan. Maka, Tan Malaka bersama 139 organisasi (Masyumi, PNI, Parindra, PSI, PKI, Front Rakyat, PSII, tentara, dan unsur laskar) menggelar Kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto, 4-5 Januari 1946. Sudirman hadir sebagai unsur tentara.

Setelah mempelajari gagasan Tan Malaka, kongres yang dilanjutkan di Solo, 15-16 Januari, dengan 141 organisasi mengesahkan rancangan Tan Malaka yang disebut “Minimum Program”.

Program itu untuk mengatasi aneka masalah, seperti pertentangan antara pimpinan negara dan pemuda/rakyat, konflik antarpejuang, dan sikap Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda di Indonesia. Sebutlah itu konsolidasi para pejuang. Kehadiran Sudirman dalam kongres itu adalah poin utama hubungan politik Tan Malaka-Sudirman. Tan Malaka mencatat ucapan Sudirman saat itu, “Lebih baik kita di atom daripada merdeka kurang dari 100 persen.”

Sudirman dikenal tegas, melindungi anak buah, dan tidak kenal kompromi. Ketidaksetujuannya pada diplomasi tergambar pada sikap tetap bergerilya daripada menyerah meski kesehatan Sudirman sakit parah. Sikap menyerah Soekarno dan Hatta kepada Belanda oleh sebagian orang dinilai cara taktis menghadapi diplomasi internasional. Namun, itulah yang membedakan kedua pasang pemimpin itu. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan adalah 100 persen dan bagi Sudirman “tentara tidak kenal menyerah”.

Bagi keduanya, tidak ada lagi penjajahan Belanda dengan segala siasatnya. Perundingan adalah siasat Belanda seperti terjadi dalam hasil Perjanjian Linggarjati dan Renville. Dan Belanda tetap menekan pemerintah dengan Agresi Militer I (13 Juli 1947) dan II (18 Desember 1948). Akibatnya, TNI harus hijrah dari satu tempat ke tempat lain, meninggalkan kantong pertahanan, yang amat menjengkelkan Sudirman.

Saat di pemerintahan pengungsian Yogyakarta muncul kemelut antarpemimpin, saat itu juga terjadi penangkapan terhadap kelompok Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng yang dilakukan Pesindo (kelompok Syahrir) pada 17 Maret dan 16 Mei 1946. Hubungan dwitunggal itu berlanjut saat Sudirman menugaskan Mayjen Sudarsono membebaskan tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng: Tan Malaka, Adam Malik, Chairul Saleh, Muwardi, Abikusno, M Yamin, Sukarni, dan lainnya. Semua dibebaskan. Atas perintah lisan Sudirman, Mayjen Sudarsono menangkap Sutan Sjahrir dan dilepaskan 1 Juli 1946 karena campur tangan Soekarno.

Tuduhan kudeta lalu diarahkan ke kelompok Tan Malaka saat terjadi peristiwa 3 Juli 1946, di mana Mayjen Sudarsono mendatangi Soekarno-Hatta di Yogya, mendesak agar memecat Syahrir. Soekarno-Hatta menolak dan Amir Syarifuddin (Menteri Pertahanan) menangkap Tan Malaka/Persatuan Perjuangan termasuk Mayjen Sudarsono.

Meski tuduhan kudeta tidak terbukti di Mahkamah Agung Militer, dan Jenderal Sudirman ikut bersaksi. Tidak adanya pembelaan Sudirman kepada Tan Malaka dan kawan-kawan merupakan tanda tanya. Namun, ini tidak dapat ditafsirkan Sudirman meninggalkan teman-temannya. Kemungkinan, Sudirman tunduk kepada sumpah prajurit, patuh kepada Panglima Tertinggi APRI Soekarno dan pengaruh intelektual Hatta.

Tak sekeji itu

Saya tidak percaya uraian Sabam bahwa karena pengumuman Darurat Perang Panglima Besar Sudirman, maka Surachman dan Sukotjo mengeksekusi Tan Malaka (21 Februari 1949). Sudirman tidak sekeji itu. Juga tidak diyakini, Hatta bagian komplotan itu. Diyakini, yang terjadi adalah panafsiran berbeda di antara faksi-faksi tentara di lapangan. Juga penafsiran legalisme Sabam tentang kegiatan Tan Malaka yang menjadikan dirinya Pemimpin Revolusi Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap dan dibuang ke Sumatera. Dikesankan, Tan Malaka seolah mengesampingkan peran Pemerintahan Darurat RI (PDRI).

Saya tidak yakin semua pemimpin pejuang di lapangan tahu telah dibentuk PDRI begitu Soekarno-Hatta ditangkap. Adalah masuk akal jika inisiatif Tan Malaka mengambil alih pimpinan (jika Sabam benar) untuk menghindari kekosongan kekuasaan berdasar Testamen Politik Soekarno, Oktober 1945 (“…jika saya tiada berdaya lagi, saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka….”), tindakan Tan Malaka sah menurut logika hukum.

Bung Sabam perlu tahu, TB Simatupang dan dr J Leimena sempat tergugah mengisi kekosongan kekuasaan itu karena tidak tahu bahwa sudah terbentuk PDRI di Sumatera. Komunikasi radio RI saat itu amat terbatas.

Catatan lain adalah pemerintahan Hatta tidak menunjukkan tanggung jawabnya jika benar itu sebuah eksekusi terhadap Tan Malaka. Tan Malaka bukan hewan, dia pemimpin dan pejuang mendahului Hatta dan Soekarno. Rezim bahkan sengaja menutupi kematian Tan Malaka. Ada yang menyebut Tan Malaka dibunuh di pinggir kali lalu dihanyutkan, dan sebagainya. Hingga kini, negara tampak tak ingin mengungkap temuan Harry Poeze tentang kuburan Tan Malaka di Selopanggung, Kediri. Jika negara tidak bertanggung jawab bukankah itu sebuah pembunuhan?

Setelah terjadi pembunuhan terhadap Tan Malaka, Hatta memberhentikan Sungkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur dan Surachmat sebagai Komandan Brigade karena kesembronoan mengatasi kelompok Tan Malaka. Agaknya, fakta ini pula yang mendorong Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional, 28 Maret 1963.

Oleh ZULHASRIL NASIR, Guru Besar UI
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/26/01292431/darurat.perang.jenderal.sudirman


Pandangan Peneliti LIPI sebagai pandangan ilmuan pendendam

Supaya lebih jelas dan tidak keliru atas tulisan Asvi Warman Adam saya
postingkan tulisannya di kompas tanngal 17 Juli 2008 , diambil dari
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/17/00452911/natsir.pahlawan

—-

Natsir Pahlawan Nasional Jul 20, ’08 10:25 AM
Oleh Asvi Warman Adam

Tanggal  17 Juli 2008, tepat 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Kali
ini,  peringatan tidak hanya mengenang pemikiran dan kepribadian tokoh
yang bersih dan konsisten, tetapi ada usul untuk mengangkatnya sebagai
pahlawan nasional.

Mohammad  Natsir  berjasa  mengembalikan  bentuk  pemerintahan federal
menjadi  negara  kesatuan. Ia yang prihatin dengan proses disintegrasi
negara-bangsa  berpidato  pada  sidang  DPR Republik Indonesia Serikat
(RIS) tanggal 3 April 1950 yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir.

Negara kesatuan

Ia  mengusulkan  agar  RIS  melebur  kembali  menjadi  negara kesatuan
Republik  Indonesia.  Atas  jasanya,  Soekarno  meminta  Natsir  untuk
membentuk kabinet yang pertama dari negara kesatuan Republik Indonesia
(1950-1951).  Dalam  pemilu  pertama  1955,  ia  berprestasi  memimpin
Masyumi  (Majelis  Syuro  Muslimin  Indonesia)  meraih suara nomor dua
terbanyak setelah PNI (Partai Nasional Indonesia).

Jika  kita  berbicara  tentang  etika  politik,  itu sudah ditunjukkan
Natsir.  Ia  bisa  berdebat  sengit dengan Ketua PKI DN Aidit di dalam
sidang,  setelah  itu berbincang ringan sambil meminum secangkir kopi.
Kehidupan   yang   asketis  juga  dijalani  politikus  Muslim  kaliber
internasional ini.

Bila kita kini melihat mobil- mobil mewah diparkir di pelataran gedung
DPR,  Natsir  menolak  ketika  seorang pengusaha memberi hadiah sebuah
mobil  Chevrolet Impala yang saat itu tergolong mentereng. Padahal, di
rumahnya hanya ada sebuah mobil tua, De Soto.

Ia   berpolitik  secara  santun  dan  berdakwah  tanpa  kekerasan.  Ia
politikus  yang  hidup  bersahaja.  Ia  santun  terhadap  Soekarno dan
bersikap  correct  terhadap  Soeharto.  Pada awal Orde Baru ia berjasa
mengirim   nota  kepada  Tunku  Abdurrachman  dalam  rangka  pencairan
hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Ia  mengontak Pemerintah Kuwait agar mau menanamkan modal di Indonesia
dan  meyakinkan  pemerintahan  Jepang  tentang  kesungguhan  Orde Baru
membangun  ekonomi.  Ironisnya, imbalan yang diberikan penguasa adalah
larangan baginya untuk kembali ke pentas politik.

Pahlawan nasional?

Masalahnya,  layakkah  ia  diangkat  sebagai  pahlawan nasional? Dalam
kriteria  pahlawan  nasional ada klausul, orang itu tidak pernah cacat
dalam  perjuangannya.  Selama  Orde  Baru kriteria itu digunakan tanpa
ukuran  yang  jelas.  Kabarnya  Sanusi Hardjadinata, tokoh PNI, mantan
Menteri   era  Soekarno  dan  Gubernur  Jawa  Barat  saat  berlangsung
Konferensi  Asia-Afrika  (KAA)  di Bandung tahun 1955, ditolak menjadi
pahlawan nasional karena pernah menandatangani Petisi 50.

Alasan  itu  terasa berlebihan karena petisi yang dikeluarkan 50 tokoh
nasional  tahun  1980  itu  merupakan  sikap  kritis  atas  pernyataan
Presiden  Soeharto yang otoriter terhadap mereka yang mencoba mengubah
Pancasila  dan UUD 1945. Natsir menandatangani petisi itu, juga Sanusi
Hardjadinata, Hugeng, Ali Sadikin, SK Trimurti, dan banyak tokoh lain.
Alasan   ini  seyogianya  tidak  digunakan  untuk  menolak  pencalonan
pahlawan nasional.

Petisi   jelas   berbeda   dengan   pemberontakan,  meskipun  Soeharto
menanggapi   dengan   tindak   kekerasan   senada.   Sebenarnya,  yang
memberatkan   Natsir   adalah   keterlibatannya   dalam   Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958 dan meningkat dengan
pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) tahun 1960 yang terdiri
dari  10  negara bagian seperti Republik Islam Aceh dan Republik Islam
Sulawesi Selatan (Audrey dan George Kahin, 1997: 381)

Sjafruddin Prawiranegara

Tahun  lalu,  Sjafruddin  Prawiranegara  juga  diproses  sebagai calon
pahlawan nasional. Namanya lolos seleksi Badan Pembina Pahlawan Pusat.
Namun,  usulan  ini  kandas di tangan Presiden. Tampaknya keterlibatan
Sjafruddin  Prawiranegara  dalam sebuah pemberontakan tetap tidak bisa
ditolerir kepala negara.

Padahal, Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa besar terhadap negara.
Apa  jadinya  Indonesia  bila  Sjafruddin  tidak  memimpin  Pemerintah
Darurat  Republik Indonesia (PDRI), pemerintahan gerilya yang bergerak
di  Sumatera.  Tentu  terjadi  kevakuman  pemerintahan,  atau republik
mengalami mati suri sesaat.

Saat  ini,  pemerintah hanya menetapkan terbentuknya PDRI sebagai hari
bela  negara.  Selain  bintang  jasa  tertinggi yang diterima, namanya
diabadikan  pada  dua  gedung  yang berseberangan di Jl Budi Kemuliaan
Jakarta  (di  kompleks  Bank  Indonesia  dan  satu  lagi di Departemen
Pertahanan karena Sjafruddin pernah memimpin kedua instansi ini).

Warga Minangkabau tentu bangga bila pemangku adat Mohammad Natsir yang
bergelar  Datuk  Sinaro Panjang menjadi pahlawan nasional. Namun, bila
ketentuan menegaskan, tokoh yang terlibat pemberontakan tidak memenuhi
syarat,  dengan  jiwa  besar  harus menerimanya. Bukankah Natsir telah
mendapat   penghargaan  Bintang  Republik  Indonesia  Adipradana  yang
diberikan  semasa pemerintahan Habibie. Meski itu bukan gelar pahlawan
nasional
,  biarlah  asketisme  hidupnya senantiasa dikenang masyarakat
dan  kebersahajaan beliau menjadi contoh bagi kita semua terutama para
pemimpin di negeri ini.

Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI

 

 

R@ntau-Net] Re: Moh. Natsir dan Urang Awak

Tuesday, August 5, 2008 2:46 AM
From:

Add sender to Contacts

To:
RantauNet@googlegroups.com
Warga Minangkabau tentu bangga bila pemangku adat Mohammad Natsir yang
bergelar  Datuk  Sinaro Panjang menjadi pahlawan nasional. Namun, bila
ketentuan menegaskan, tokoh yang terlibat pemberontakan tidak memenuhi
syarat,  dengan  jiwa  besar  harus menerimanya. Bukankah Natsir telah
mendapat  penghargaan  Bintang  Republik  Indonesia  Adipradana  yang
diberikan  semasa pemerintahan Habibie. Meski itu bukan gelar pahlawan
nasional
,  biarlah  asketisme  hidupnya senantiasa dikenang masyarakat
dan  kebersahajaan beliau menjadi contoh bagi kita semua terutama para
pemimpin di negeri ini.

Kata-kata pemberontakan itu yang harus diluruskan, saya rasa sebagai seorang peneliti, beliau harusnya jangan hanya terpaku dari data yang ada. Apalagi saat ini di butuhkan tokoh2 sekaliber Moh Natsir. Bayangkan banyak tokoh yang diangap berjasa oleh rejim Orde Baru yang diberi gelar pahlawan, hal ini karena sudut pandang nya berbeda dan sesuai dengan koridor dari orde baru tersebut. Sedangkan saat ini adalah rejim Reformasi, dimana keterbukaan merupakan sebuah amunisi untuk mencari kebenaran ataupun pembenaran. Jaadi saya rasa peneliti jangan hanya terpaku dari produk dan materi2 yang ada saat ini, semestinya sebagai peneliti eliau harus berani menyuarakan hal-hal yang tidak pernah terungkap oleh sepak terjangnya bengawan Moh Natsir yang selama ini terbelenggu oleh rejimnya orde baru.

 
Saatnya lah sekarang penulis sekaliber Asvi Marwan Adam dapat mengungkap kebesaran daari Moh Natsir sekaligus kontribusinya yang besar bagi republik tercinta ini. Ini bukan karena beliau sebagai putra minang, tetapi tokoh kita ini sangat layak untuk diperjuangkan menjadi pahlawan nasional.
 
Saya rasa saatnya sekarang ini para peneliti Minang terutama nan mudo2 untuk dapat menghasilkan kajian2 tentang profil2 hebat Minang nan kurang terangkat optimal di kancah nasional.  Apalagi kalangan muda ini tidak terjebak oleh rejimnya orde baru dan dapat melihat tampa dibebani oleh masa orde baru tersebut.
 
 
 
Nanang
anak muda yg prihatin

Tidak semua anak bangsa Indonesia senang kepada Pahlawan yang telah berjasa menjadikan Indonesia menjadi NKRI. Termasuk tidak senang kepada M.Natsir yang telah mempertahankan NKRI dengan Mosi Integralnya. Banyak anak bangsa yang menggugat agar Natsir tidak diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Satu bentuk pemikiran yang salah. Semua terjadi karena ada hasutan dari pihak lain. Atau, karena kepentingan politik belaka…… Inilah sebuah kebodohan sejarah yang amat nyata.

 
Selasa, 05 Agustus 2008
Oleh : Gusti Asnan, Sejarawan, Dosen Fakultas Sastra Unand
Harian Kompas tanggal 17 Juli 2008 yang lalu menurunkan tulisan Asvi Warman Adam (selanjutnya AWA) yang berjudul ”Natsir Pahlawan Nasional?”. Intisari dari tulisan tersebut adalah ketidaksetujuan AWA jika Moh Natsir diangkat menjadi pahlawan nasional. Alasannya Moh Natsir terlibat dalam PRRI dan RPI.

Kompas nampaknya memberi apresiasi yang tinggi kepada tulisan itu. Penempatan artikel tersebut pada posisi teratas pada halaman 6 membuktikan adanya penghargaan yang tinggi dari harian terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia tersebut terhadap gagasan AWA. Sebelumnya, jarang sekali, atau hampir tidak pernah tulisan AWA ditempatkan pada posisi seperti itu.

Namun terlepas dari fenomena di atas, tulisan AWA tersebut menarik untuk dicermati. Pertama, tulisan itu diturunkan pada saat puncak perayaan 100 Tahun Moh Natsir. Kedua, tulisan itu terbit pada saat hampir semua orang mengungkapkan pengabdian, kebesaran, keluhuran, ketulusan, kerendahhatian, serta semua sikap dan perilaku positif Moh Natsir.

Ketiga, tulisan dilontarkan pada saat Moh Natsir (kembali) diusulkan untuk menerima anugerah gelar pahlawan nasional. Keempat, tulisan itu dibuat oleh seorang sejarawan yang berasal dari Minangkabau, daerah asal Moh Natsir. Kelima, hampir tidak ada argumen bantahan dari penulis lain (terutama urang awak) terhadap pendapat AWA.

Urang awak akhir-akhir ini kurang atau tidak begitu memberikan apresiasi yang tinggi pada Moh Natsir. Hanya segelintir urang awak yang serius dan dengan hati yang tulus-ikhlas menghargai sosok, yang ketokohannya diakui tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional. Urang awak yang dimaksud di sini mencakup berbagai unsur masyarakat, terutama kaum cerdik-pandai daerah dan para pejabat atau petinggi (eksekutif dan legislatif) daerah.

AWA yang urang awak, sebagai salah seorang sejarawan terkemuka di Indonesia akhir-akhir ini dengan tegas mengatakan ketidaksetujuannya pada penganugerahan gelar pahlawan kepada Moh Natsir. Keterlibatan Moh Natsir dalam PRRI dan RPI dijadikannya nila untuk ”menghambat” penghargaan yang selayaknya diterima Moh Natsir.

Sayangnya, hampir tidak ada kaum cerdik-cendekia daerah (Minangkabau/Sumatera Barat) yang mengemukakan caunter argumen terhadap pernyataan AWA di atas. Sehingga dapat dikatakan bahwa hampir semua cerdik-cendekia daerah  setuju dengan pendapat AWA di atas.

Warga daerah dan pemerintah daerah juga kurang mendukung kegiatan ”Peringatan 100 Tahun Moh Natsir”. Buktinya terlihat dari pengalaman ”panitia lokal” di Alahan Panjang, negeri kelahiran Moh Natsir yang telah dua kali menunda kegiatan ”Peringatan 100 Tahun Moh Natsir (17 Juli dan 31 Juli)” di negeri itu karena kekurangan atau ketiadaan dana. Panitia tidak mendapatkan bantuan dana yang cukup dari para donatur, termasuk dari pemerintah daerah. Padahal dana yang dianggarkan untuk acara itu tidak begitu besar bila dibandingkan dengan sejumlah acara yang diadakan di hotel-hotel berbintang di kota Padang atau Bukittinggi dengan para pembicara dari luar daerah.

Acara yang akan digelar panitia lokal tersebut sebetulnya sangat menarik. Menarik karena panitia mengagendakan acara pemaparan ketokohan Moh Natsir yang bisa dijadikan sebagai sumber insiprasi dan suri-teladan bagi pelajar, generasi muda, dan bahan yang akan disampaikan para guru kepada para murid, serta diisi dengan diskusi mengenai berbagai persoalan yang hadir dalam perjalanan hidup Moh Natsir (termasuk keterlibatannya dalam PRRI dan RPI yang oleh sebagian kalangan, termasuk AWA dikatakan sebagai tindakan pemberontakan). Menarik karena akan diikuti oleh para pelajar (SLTP dan SLTA), generasi muda, serta para guru dari daerah Alahan Panjang dan sekitarnya. Singkat kata, acara yang digagas panitia lokal tersebut sebetulnya sangat strategis dan tepat sasaran.

Strategis dan tepat sasaran., maksudnya, lebih ditujukan kepada peserta yang ”mau mendengar” dan ”akan menjadi orang” di masa depan. Tidak seperti kebanyakan acara yang diadakan di hotel berbintang di Kota Padang atau Bukittinggi, yang para pesertanya telah menjadi ”orang”, yang lebih suka didengar pembicaraannya daripada mendengarkan pembicaraan orang lain.

Sebetulnya, kurangnya dukungan urang awak bukan hanya untuk Moh Natsir dan acara ”Peringatan 100 Tahun Moh Natsir” saja. Hampir semua acara seperti itu yang diadakan di daerah ini mengalami hal yang sama. Banyak sekali panitia yang menggagas acara seperti itu yang pontang-panting dan panik menghadapi sikap urang awak yang sangat rendah apresiasinya terhadap acara seperti itu. Kalaupun acara tersebut terlaksana, maka pelaksanaannya tidak maksimal.

Kiranya ”tamparan” yang dilakukan AWA dalam harian Kompas 17 Juli di atas dapat menjadi bahan koreksian bagi urang awak untuk lebih menghargai ”harta pusaka” miliknya. Moh Natsir adalah berlian milik urang awak yang tidak terkira nilainya. Namun anehnya, orang lain menghargai mutu manikam tersebut, tetapi urang awak kini malah menyepelekannya.

Sudah saatnya penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang jaya di masa lampau diungkapkan dalam sikap dan perilaku yang nyata dari urang awak masa kini (termasuk mendukung peringatan terhadap para tokoh tersebut), tidak hanya dalam kata-kata semata. Hargailah mereka dan jadikanlah mereka sebagai sumber insiprasi dan teladan, terutama pada saat negeri dan bangsa, serta masyarakat kita sekarang kekurangan sosok-sosok yang pantas diteladani.

Bila penghargaan itu tidak kita berikan, maka bersiap-siaplah menunggu hujatan dan pelecehan orang mengenai tokoh-tokoh milik kita. Tempo hari Tuanku Imam Bonjol yang dihujat oleh Mudi Situmorang, dan sekarang Moh Natsir oleh AWA. Esok hari akan disusul oleh… dan hari berikutnya akan disusul lagi oleh…Wallahu’alam bissawab. (***)

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.