MEMBINA UMMAT DARI BAWAH JANGAN BERHENTI TANGAN MENDAYUNG …,[1]

 

 

Sudah sama-sama kita sadari, bahwa YAYASAN KESEJAHTERAAN telah memilih bidang “pembinaan” sebagai lapangan usaha. Yakni pembinaan umat masyarakat desa, baik lahir ataupun batin. Perumusan ini amat sederhana kedengarannya tetapi pada hakekatnya, tidaklah begitu sederhana. Sebab ini berarti bahwa kita berusaha memanggil dan membawa serta masyarakat desa itu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Semua itu dalam rangka “pembinaan negara” dalam arti yang luas. Kalau kita sudah menyadari benar-benar hakekat tugas kita itu, maka titik tolak dan cara-cara usaha kita mempunyai suatu corak yang khas.

 

1. Satu dalil dalam ilmu ekonomi, mengatakan bahwa manusia sebagai manusia ekonomis (homo-economicus) umum melakukan kegiatan-kegiatan ekonomis dengan tujuan mencapai sebanyak-banyak hasil, guna memenuhi keperluan-keperluannya dengan “korban” yang sekecil mungkin. Begitu bunyi satu dalil atau stelling ekonomi yang terkenal.

Akan tetapi manusia bukan semata-mata homo economicus saja. Tetapi ia juga seorang homo methaphisicus atau homo religiousus. Ia mempunyai bermacam kepercayaan menganut bermacam nilai hidup yang seringkali dipandangnya lebih penting daripada memenuhi keperluan hidup materialnya semata-mata.

Manusia juga adalah makhluk ijtimaa’ie social being yang tak dapat tidak, hidup dalam suatu “rangka kemasyarakatan” social order, di mana dia terikat oleh ikatan-ikatan kulturil, sosial politik, adat-lembaga, atau cita-cita sosial yang tertentu.

Salah seorang Sarjana Ekonomi dalam satu ulasannya mengatakan antara lain[2]; “… perkembangan ekonomi itu bukanlah suatu proses yang semata-mata mekanis sifatnya. Tidaklah semata-mata sekedar usaha menghimpunkan beberapa unsur-unsur yang tertentu. Pada akhirnya suatu perkembangan ekonomi itu, adalah merupakan satu usaha manusia. Dan sebagaimana juga halnya dengan lain-lain usaha manusia, hasilnya, pada akhirnya, tergantung kepada kecakapan, mutu (kualitas) dan sikap jiwa dari manusia yang menyelenggarakan usaha itu sendiri”.

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat yang hendak kita panggil dan bawa serta untuk berusaha meningkatkan kesejahteraannya lahir dan batin itu, adalah masyarakat-agraris, masyarakat pertanian dengan segala sifat dan pembawaannya sebagai “masyarakat tani”.

Taraf hidup dalam sebagian terbesar dari desa-desa kita, lebih-lebih sebelum “pemulihan kemerdekaan” masih dekat sekali kepada gambaran masyarakat desa seperti yang dilukiskan oleh DR. MOHAMMAD HATTA dalam bukunya “Beberapa Fasal Ekonomi”, antara lain sebagai berikut ;

“ ….. Tanah adalah pokok penghasilan yang terutama. Pada tanah bergantung nasib manusia. Betul tak ada penghasilan yang jadi, kalau tidak dengan usaha manusia, tetapi pekerjaan manusia cuma sedikit bagiannya. Kerja manusia hanya mencangkul sedikit, menanam bibit dan mengatur banyak air yang perlu bagi tanamannya. Selanjutnya diserahkan kepada alam untuk membesarkanya bibit itu sampai menjadi buah.

Kalau bibit sudah ditanam, orang dapat mengetahui, apabila waktu menuai, apabila buah dapat dimakan. Itu diketahui berkat pengalaman. Kebiasaan menunggu berbulan-bulan akan hasil usaha bertanam dan kepastian bahwa saban tahun orang dapat mengharapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyebarkan hati dan menetapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyabarkan hati dan menetapkan perasaan. Oleh karena itu persekutuan dusun tenang rupanya, bersifat menanti. Semuanya, langkah dan waktu ditetapkan oleh alam. tidak ada pekerjaan yang harus dan diburukan.

Penghidupan beredar menurut irama yang sudah tentu. Dan tahun ketahun edaran ekonomi tetap, tidak berubah-ubah.

Memang ada yang mengganggu ketetapan itu. Misalnya musim kemarau, musim penyakit dan bahaya perang, yang memusnahkan beberapa jiwa. Tetapi selainnya menunggu, segala marabahaya itu menetapkan kembali keadaan yang lama. Jiwa yang bertambah dari tahun ke tahun disapunya kembali. Oleh karena itu neraca penghidupan masyarakat serupa lagi dengan keadaan semula sebelum bertambah umatnya.

Sebab itu pula segala marabahaya itu dirasai orang sebagai satu fatum, “takdir” yang tak dapat dihindarkan.

Kepercayaan akan takdir seperti itu memperkuat perasaan menyerahkan nasib yang sudah tertentu, menimbulkan keyakinan bahwa yang ada itu, tidak dapat diubah-ubah. Demikianlah keadaannya penghidupan jiwa di dusun. Alam dan tempat, menjadi alat pengasuh perasaan kuno, perasaan menyerah dan perasaan sabar.”

Demikian DR. MOHAMMAD HATTA. Beliau memaparkan ini beberapa belas tahun yang lalu.

Tetapi pada umumnya apa yang digambarkan oleh Bung Hatta itu masih merupakan satu gambaran yang karakteristik atau ciri umum dari masyarakat pedesaan kita, boleh dikatakan di seluruh tanah air.

Maka apabila sekarang kita hendak membangun perikehidupan masyarakat desa kita yang demikian, tidaklah dapat kita menutup mata dari keadaan yang nyata itu.

Agar atas pengetahuan kita tentang “kekayaan alam” yang ada, pengetahuan kita tentang “tingkat kecerdasan” umat, tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam unsur “non-ekonomis” itu, dapatlah kita menggariskan rencana usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan “approach”nya kata orang sekarang.

Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada umumnya berada dalam alam “statis-tradisionil” itu dengan bermacam-macam cara. Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi yakni dengan pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC. Ada yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit. Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern.

Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”.

Caranya; “ modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”.

Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :

(Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh

(Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat desa terlibat hutang yang tak terbayar.

(Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi “besi tua”.

Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur manusianya.

Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.

Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka akan bingung dan patah semangat.

Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik.

Membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan dan dinamikanya. Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seimbang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’a nya.

Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia” inilah jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah dibidang apapun.

 

“Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.

Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya.

 

2. Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam persoalan yang harus diatasi.

Antara lain ;

Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya entah di bidang sandang ataupun pangan.

Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.

Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced means of production), misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang yang semuanya diperlukan untuk proses produksi.

Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar, pembeli alat-alat penghasil itu.

Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan tetapi disimpan, lalu digunakan untuk produksi selanjutnya.

 

Dengan lain perkataan; apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang”, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada masa yang akan datang. Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar pula.

Bagaimana pentingnya penumpukkan modal bagi suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya, dapat kita rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya. Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan. Ini mengakibatkan kita sedikit, atau tidak sama sekali dapat memupuk modal ini, juga mengakibatkan hasil produksi kecil tak mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup merosot, dan ekonominya tak mungkin berkembang. Jadi ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari taraf yang rendah, ialah :

a.  memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.

b. menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

Sering persoalan yang tumbuh ialah, bagaimana kita membawa umat dan masyarakat desa itu kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”, dan bagaimana supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (waste).

 

Alhamdulillah dalam masyarakat kita tidaklah ada unsur-unsur non ekonomis yang mengakibatkan pemborosan secara besar-besaran.

Tidak ada umpamanya masalah sacred cow dan sacred monkey seperti di India umpamanya, di mana rakyat Hindu yang merupakan mayoritas mempunyai kepercayaan yang mendalam bahwa sapi adalah hewan yang suci tak boleh disembelih. Kira-kira 80 juta ekor sapi, atau kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah sapi di India itu, yang kekuatannya tidak dimanfaatkan lagi dalam proses produksi seperti membajak, penghela pedati, atau sapi perahan tidak boleh disembelih tetapi harus dipelihara dan diberi makan selama hidupnya.

Demikian pula ada kepercayaan mayoritas rakyat India bahwa “monyet” atau “kera” pun adalah binatang yang suci. Dibeberapa daerah monyet demikian berkembang biaknya sehingga menjadi gangguan besar bagi tanam-tanaman dan menimbulkan kerugian-kerugian yang tak kecil, bagi perkebunan-perkebunan. Sungguhpun demkian  monyet tersebut tidak boleh dibunuh.

Para sarjana Ekonomi India dan pemimpinnya sudah menyadari betapa besarnya “economic waster” yang ditimbulkan oleh itu semua. Akan tetapi mereka sampai sekarang tidak atau belum mengatasinya. Dan Nehru semasa hidupnya pernah menghadapi protes-protes yang pedas dari rakyat India, ketika ia mengupas persoalan sacred monkey” itu secara rasionil, dan mengemukakan idea untuk mengekspor monyet-monyet itu hidup-hidup ke luar negeri, di mana monyet-monyet itu dapat dimanfaatkan kulitnya sedangkan India mendapat devisa yang diperlukan untuk pembentukan modal. Mengenai masalah sacred cow, Nehru ataupun para pemimpin politik dan ekonomi India lainnya, tidak pernah berani menyinggungnya. Malah memberi perlindungan atas sacred cow ditempatkan dalam Undang-undang Dasar Negara India sendiri.

Jelaslah sudah, bahwa kepercayaan yang hidup dalam masyarakat seperti ini merugikan Gross National Produkct (GNP) India, dan merintangi pemupukan modal. Akan tetapi dalam hal ini pemimpin India yang bertanggung jawab berhadapan dengan suatu kepercayaan agama yang sudah berurat berakar pada masyarakat India, mengelakkan konfrontasi dengan mereka, berdasarkan pertimbangan bahwa suatu percobaan untuk memberantasnya secara radikal, niscaya akan berakibat negatif yang akan mencetuskan kekacauan dan kerusakan-kerusakan terus menerus, dan akan mengakibatkan macetnya pembangunan ekonomi.

Di Indonesia kita tidak menjumpai masalah-masalah seperti tersebut di atas. Di Pulau Bali, di mana mayoritas rakyatnya beragama Hindu-Bali, tidak ada masalah sacred cow ataupun sacred monkey. Malah sapi Bali terkenal sebagai sapi sembelihan, dan di Bali sendiri ada Canning Industry, yang menghasilkan Corned Beef.

Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan (waste) besar-besaran boleh dikatakan tidak ada.

Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besar-besaran yang terjadi bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang kesekian, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.

Namun masih ada kemungkinan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau perjudian massal dalam bermacam-macam bentuknya, seperti hwa-hwe dan lain-lainnya, yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya.

Inilah yang sangat perlu diawasi.

Selain dari pada itu, sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita di sini pada umumnya masih tetap tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

Kedua-duanya memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif, mengandung pendorong dan perangsang, force of motivation, tenaga penggerak untuk mendinamisser satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”. Menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan, dan yang semacam itu merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

 

GALI DARI AJARAN ISLA M

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju, antara lain:

 

1. Keseimbangan

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ;

a) “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

b) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”.  (Hadist).

 

2. Self help

Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”,  dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain :

c) “Kamu ambil seutas tali, dan  dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”.  (Hadist).

Diperingatkan bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah :

d). “Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran (keengkaran)”  (Hadist).

3.   Tawakkal

Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa;

e) Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.

f) “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. (Atsar dari Shahabat).

Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang, tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.

4.   Kekayaan Alam

g) “Di arahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.[3]

Kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna [4]

menghasilkan buah bermacam rasa.[5]

Kepada alam hewan dan ternak serba guna dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.[6]

Kepada perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.[7]

Kepada lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah), dan supaya kamu pandai bersyukur”.[8]

Kepada bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.[9]

 

5.   Time – Space – Consciousness

h.  “Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingan nya waktu yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.[10]

i.  “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. [11]

j.  “Dibandingkan kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah ini” dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit”[12] dan Dia lah yang menjadikan bumi mudah untuk kamu gunakan.

Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.[13]

Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. [14]

 

6.   Jangan Boros [15]

k.  “Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri,agar jangan melewati batas, dan berlebihan ;[16]

“Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.[17]

 

Kalau disimpulkan ;

Alam ditengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia, dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan oleh manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada ilahi, serta menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Dan ini semua adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.

Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, tak dapat tidak merupakan sumber dorongan bagi kegiatan penganutnya, juga di bidang ekonomi, yang bertujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).

“Hasil yang nyata” dari dorongan-dorongan tersebut tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa penganutnya itu sendiri, kepada tingkat kecerdasan yang mereka capai dan kepada keadaan umum di mana mereka berada.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:

 

1).  Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh

Ka karang rancam ma-aruih

Ka pantai ombak mamacah

Jiko mangauik kameh-kameh

Jiko mencancang, putuih – putuih

Lah salasai mangko-nyo sudah

 

2).  Caranya:

Senteng ba-bilai,

Singkek ba-uleh

 

Ba-tuka ba-anjak

Barubah ba-sapo

 

Anggang jo kekek cari makan,

Tabang ka pantai kaduo nyo,

Panjang jo singkek pa uleh kan,

mako nyo sampai nan di cito,

 

Adat hiduik tolong manolong,

Adat mati janguak man janguak,

Adat isi bari mam-bari,

Adat tidak salang ma-nyalang,

(basalang tenggang.)

 

Karajo baiak ba-imbau-an,

Karajo buruak bahambau-an,

Panggiriak pisau sirauik,

Patungkek batang lintabuang,

Satitiak jadikan lauik,

Sakapa jadikan gunuang,

Alam takambang jadikan guru.

 

Jiko mangaji dari alif,

Jiko babilang dari aso,

Jiko naiak dari janjang,

Jiko turun dari tanggo.

 

Pawang biduak nan rang Tiku,

Tandai mandayuang manalungkuik,

Basilang kayu dalam tungku,

Disinan api mangko hiduik.

Handak kayo badikik-dikik,

Handak tuah batabua urai,

Handak mulia tapek-i janji,

Handak luruih rantangkan tali,

Handak buliah kuat mancari,

Handak namo tinggakan jaso,

Handak pandai rajin balaja.

Dek sakato mangkonyo ado,

Dek sakutu mangkonyo maju,

Dek ameh mangkonyo kameh,

Dek padi mangkonyo manjadi.

Nan lorong tanami tabu,

Nan tunggang tanami bambu,

Nan gurun buek kaparak

Nan bancah jadikan sawah,

Nan munggu pandan pakuburan,

Nan gauang katabek ikan,

Nan padang kubangan kabau,

Nan rawang ranangan itiak.

Alah bakarih samporono,

Bingkisan rajo Majopahik,

Tuah basabab bakarano,

Pandai batenggang di nan rumik.

 

 

Latiak-latiak tabang ka Pinang

Hinggok di Pinang duo-duo,

Satitiak aie dalam piriang,

Sinan bamain ikan rayo.

 

 

3).  Kemakmuran :

 

Rumah gadang gajah maharam,

Lumbuang baririk di halaman,

Rangkiang tujuah sajaja,

Sabuah si bayau-bayau,

Panenggang anak dagang lalu,

Sabuah si Tinjau lauik,

Birawati lumbuang nan banyak,

Makanan anak kamanakan.

Manjilih ditapi aie,

Mardeso di paruik kanyang.

 

4).  Perhatian :

Ingek sabalun kanai,

Kulimek balun abih,

Ingek-ingek nan ka-pai

Agak-agak nan ka-tingga

 

 

Teranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha pembangunan itu.

 

N U C L E A R :

 

Lah masak padi ‘rang singkarak,

masaknyo batangkai-tangkai,

satangkai jarang nan mudo,

 

Kabek sabalik buhus sontak,

Jaranglah urang nan ma-ungkai,

Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.

Melupakan atau mengabaikan ini, mungkin lantaran menganggapnya sebagai barang kuno yang harus dimasukkan kedalam museum saja, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Membangun kesejahteraan dengan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusia nya, sehingga menjadi homo ekonomikus, sebagaimana yang kita lihat sekarang sedang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan dapat dimulai setiap waktu. Tidak menunggu sampai datangnya kredit luar negeri, atau kapital asing yang akan mendirikan pabrik-pabrik modern di negeri kita lebih dulu. Tidak.

Sebab dia dimulai dengan apa yang ada.

Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.

Ibarat orang mengaji dia memulai dari alif. Sesudah itu baa, kemudian taa, dan seterusnya. Selangkah demi selangkah – step by step – thabaqan ‘an thabag.

Dia mulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat pedesaan itu. Kepada kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam dirinya masing-masing.

 

Yakni :daya observasinya yang bisa dipertajam

daya pikirnya yang bisa ditingkatkan

daya gerak nya yang bisa didinamiskan,

daya ciptanya yang bisa diperhalus,

daya kemauannya yang bisa dibangkitkan.

 

Dia mulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help kata orang sekarang  sesuai dengan peringatan Ilahi.

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….”

Cukupkan dari yang ada …

Telapak tangan….

Di sini kita melihat peranan hakiki dari Sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani.

Dalam hubungan peringatan ulang tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang, Pak Natsir mengatakan:

 

“Tadi pagi, kita sudah melihat Pameran Yayasan Kesejahteraan dari hasil usaha masyarakat pedesaan. Amat sederhana. Tidak dapat dibandingkan dengan Pameran Jakarta Fair yang sekarang juga di Jakarta itu. Bila kita melihat barang-barang yang sederhana itu, marilah kita coba melihat dibelakang barang-barang itu, pula perkembangan potensi pribadi, dari manusia-manusia yang telah melalui process, harap cemas kegagalan, dinamika-dinamika daya cipta yang berkembang penuh dengan, suka-duka, dengan cucuran keringat, seringkali tetesan air mata, dalam menghadapi kesulitan yang serasa tak dapat diatasi, menghadapi kegagalan-kegagalan yang hampir membawa hanyut kedalam putus asa silih berganti dengan gertaman gigi, didorong oleh cita-cita dan kemauan untuk berjalan terus sampai berhasil…

“Jangan berhenti tangan mendayung,

nanti arus membawa hanyut” …..

Begitu bunyi suara hati mereka. Itu yang ada dibelakang hasil lahiriyah yang dipameran itu. Mereka masih mengaji alif-baa-taa. Kemauan mereka akan melanjutkan kaji khatam

 

Memang pada permulaan, terasa lambat kaji beralih, dari reka kereka berangsur-angsur. Disatu saat kaji self help (menolong diri sendiri) beralih kepada kaji mutual help, tolong-menolong, bantu-membantu, dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun kata ahli agama. Sesuai dengan anjuran Ilahi :

“Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan.

Dari taraf ini berangsur-angsur kepada take-off kata orang sekarang. Dimana ibarat mesin sudah hidup, baling-baling sudah berputar pesawatnya mulai bergerak, meluncur di atas landasan, naik berangsur-angsur semakin lama semakin tinggi.

Kalau sudah demikian maka akan sampailah ke taraf ketiga, yaitu taraf yang biasa kita namakan selfless help yaitu dimana kita sudah dapat memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan apa-apa.

Itulah taraf ihsan yang hendak kita capai sesuai dengan maqam yang tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup duniawi ini oleh seorang Muslim dan masyarakat Muslimah.

Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi;

“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan).

 

Satu kemajuan Insya Allah akan terwujud dengan semboyan:

“Mulai dengan melatih diri sendiri, mulai dengan alat yang ada, mencukupkan dengan apa yang ada. Yang ada itu adalah cukup untuk memulai.

Kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau infaq fii sabilillah dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa.

“Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. [18]

Itu tujuan yang hendak kita capai

Begitu khittah yang hendak kita tempuh.

Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil.

Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”. Dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya.

 

Pak Natsir memperingatkan pula tentang kekuatan moral yang dimiliki.

Saudara telah menanamkan “nawaitu” dalam diri Saudara masing-masing untuk membina umat dalam masyarakat desa yang sudah Saudara-Saudara ketahui kekuatan, baik kekuatan ataupun kelemahan di dalamnya.

Saudarapun telah bersama-sama dengan mereka mengalami suka dan duka, manis dan pahitnya.”

Pernah ditahun 1946, setahun sesudah proklamasi, rombongan kami (kata Pak Natsir), disambut di Bukittinggi dengan pantun :

“Mandaki ka gunung Marapi,

Manurun ka Tabek  Patah,

Nampak nan dari Koto Tuo,

Lah barapo kali musim baganti,

Lah urang awak bana nan mamarintah,

Nasib kami baitu juo”. [19]

Maka jawablah pantun itu dengan “amal”, dengan Syi’ir posisie kucuran keringat dan perasan otak. Kalau kadang-kadang hendak berpantun juga, pelepaskan lelah, jawabkan saja ;

Ba-ririk bendi di Indarung

Mandaki taruih ke Tinjau Lauik

Jan baranti tangan mandayuang,

Nanti aruih mambao hanyuik”.[20]4)

Bismillah …..

Kembangkan layar bahtera kecil saudara-saudara menuju pulau harapan. Kami do’akan bersama-sama ;

 

Tukang nan tidak mambuang kayu,

Nan bungkuak kasingka bajak,

Nan luruih katangkai sapu,

Satangkok kapapan tuai,

Nan ketek pa pasak suntiang [21]

 

Anak urang Padang Mangateh,

Nak lalu ka Payokumbuah,

Namun nan singgah iko ka ateh,

Bijo barandang nan ka tumbuah. [22]

Mamutiah cando riak danau,

Tampak nan dari muko-muko,

Batahun-tahun dalam lunau,

Namun nan intan bakilek juo.[23]

 

Bekerjalah ….. ,

Bismillah …… -


[1] Disampaikan dalam pidato Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang 15 Juni 1968, Gedung Bagindo Aziz Chan Padang

[2] Richard T. Gill, “Economic Development, Past and Present”…. the point of that economic development is not a mechanical process; its not simple adding up of assorted factors. Ultimately it is a human enterprises. And, like all human enterprises is out-come will depend finally on the skill, quality and attitudes of the men who undertake it”.

[3]

[4]

[5]

[6]

[7]

[8]

[9]

[18] (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

[19]Ada keluhan sebahagian masyarakat yang putus asa, melihat kondisi yang kurang enak, dilihat dari sudah sering kalinya pergantian zaman (penjajahan) bahkan sudah bangsa kita sendiri yang memegang pemerintahan, akan ttapi perubahan yang dinanti belum juga terlihat. Pesimismee keadaaan ini tidaklah sejalan dengan tuntutan aqidah agama (tauhid) dan kaedah-kaedah adat.

 

[20] Jawaban yang tepat adalah “jangan berhenti tangan mendayung agar arus tidak membawa hanyut”.

[21] Artinya, tukang yang ahli tidak pernah membuang-buang kayu, kalau bertemu yang bengkok bisa dimanfaatkan untuk bajak peluku tanah, kalau ada yang lurus tapi kecil dimanfaatkan untuk tangkai sapu, lebih kecil lagi bisa untuk alat penuai padi atau anai-anai, yang lebih kecil lagi bisa untuk pasak sunting yang bermanfaat sekali dikala perhelatan “anak daro”. Jadi, seorang yang arif lebih menitik beratkan kepada manfaat sesuai dengan kondisi yang ada.

[22] Artinya, masa depan itu akan ada perubahan yang cepat, begitu cepat sehingga kadang-kadang yang terjadi di luar dugaan sama sekali, sehingga tidak mustahil terjadi apa yang musykil terlihat hari ini. Antara lain sebagai diungkapkan dalam kemajuan teknologi “tampang” yang sudah direndang itulah yang akan tumbuh”. Dalam bentuk negatif saja bisa bertemu yang selama ini ditolak karena sudah menjadi kebiasaan orang banyak maka yang salah sudah dianggap betul.

[23] Artinya, dalam situasi sedemikian perlu adanya benteng-benteng jiwa berbentuk sikap istiqamah sebagai suatu ciri-ciri khusus (mumay yizaat) dari orang-orang yang beriman, yakni Akhlaqul kharimah sebagai buah dari keyakinan agama yang hak. Dimana, betapun yang bernuansa intan walau tersimpan di dalam lumpur, cahayanya tetap cahaya intan juga.

 

About Buya Masoed Abidin

H Mas'oed Abidin, lahir di Kotogadang, Bukittinggi, tanggal 11 Agustus 1935, Pendidikan di Surau Rahmatun Niswan Kotogadang, Thawalib Lambah Lihat semua pos milik Buya Masoed Abidin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: