Seminar tentang Natsir di Univ. Islam Antar Bangsa di Kuala Lumpur, Malaysia
Januari 12, 2009
Seminar 100 Tahun M. Natsir di Malaysia
Laporan Afriadi Sanusi
Belum pernah ada acara seratus tahunan di Indonesia yang meriah dan dihadiri oleh peserta seramai ini kata seorang presenter dari Indonesia.
Pusat konvensyen Kolej Universiti Islam antarabangsa itu dipenuhi dengan peserta yang membludak sampai ke atas dan ada yang berdiri.
Makalah habis dan harus di cetak ulang, banyak yang tidak dapat tanda nama sebagai peserta, makanan kurang karena peserta terlalu banyak yang hadir dan di luar dugaan panitia.
Rasa beruntung saya hari ini karena dapat menghadiri acara seminar 100 Tahun M. Natsir walaupun mendapat sms dari kawan Muhammadiyah di hari-hari terakhir.
Ceramah pertama tentang M. Natsir disampaikan oleh Menteri Besar Selangor Tansri Abdul Khalid Ibrahim yang menceritakan panjang lebar tentang Natsir yang membuat saya malu sebagai orang Indonesia.
Di saat acara pembukaan dan pidato tentang Natsir disampaikan oleh Datuk Seri Anwar Ibrahim saya bertambah malu sekali.
Ternyata orang lain lebih mengenal dan menghargai Natsir sebagai tokoh yang dihormati daripada saya sebagai anak bangsa Indonesia dan berasal dari daerah yang sama dengan Natsir.
Saya melihat beberapa kawan Malaysia yang membuat thesis PhD juga hadir dan nampak berminat sekali dalam seminar itu.
Turut hadir adalah para saksi hidup dan pengkaji tentang M. Natsir, seperti oleh anak almarhum Ibu Asma Faridah Saleh, Prof Dr Redzuan Othman sebagai moderator, Dato` Dr Sidiq Fadzil dan pembicara antara lain oleh Prof Dr Laode M. Kamaluddin, Chrish siner Key Timu, Prof Madya Muhammad Nur Manuty, Syuhada` Bahari, Prof Dr Mohd Kamal Hasan, Dr Gamal Abdul Nasir Hj Zakaria dari Brunei dan ditutup dengan sebuah resolusi oleh Hj Ab.Halim Ismail dan Dato` Haji Mohd Adnan Isman.
Dengan tema “berdakwah di jalur politik dan berpolitik dijalur dakwah” para pemakalah menyampaikan keunggulan Natsir sebagai seorang pendakwah, politikus, ahli agama, pendidik dan sebagainya.
Menyinggung mengenai politik dakwah and kacau balaunya suasana perpolitikan Nasional saat ini, maka penulis teringat akan kepribadian Natsir yang dapat menyatukan Islam traditional, Islam modern dan berbagai kelompok Islam lainnya dalam satu wadah partai bernama Masyumi.
Saat ini terdapat banyak sekali partai Islam atau partai yang mengaku Islami. Saya sebagai orang yang agak terpelajar saja bingung, apalagi masyarakat awam dikampung yang tidak begitu membaca berita. Dan nampaknya kelebihan satu partai Islam saat ini hanya mampu mengurangi suara partai Islam lainnya saja dan tidak mampu mengurangi suara-suara yang ada di partai Golkar atau PDIP serta partai lainnya.
Kekuatan Natsir yang saya lihat adalah bahwa beliau ikhlas dalam berjuang.
Keikhlasan inilah yang membuatnya melihat segala penderitaan, siksaan dan kesusahan yang dialaminya bagaikan sebuah irama yang merdu, bagaikan hidangan yang nikmat dan bagaikan keindahan panorama yang begitu mempesona.
Bangi, 10 January 2009
Afriadi Sanusi
PhD Candidate,
Dept.of Islamic Political Science University of Malaya, Kuala Lumpur
Entry Filed under: Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Dewan Dakwah, Mohamad Natsir, Pesan Pesan Dakwah. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Mohd Halimi | Januari 13, 2009 at 6:37 am
Terima kasih diatas posting laporan perjalanan seminar. Tepatnya, seminar telah diadakan di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIS) Bangi, Selangor bukan di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) Gombak, Kuala Lumpur.
MOHD HALIMI
Ketua Sekretariat
Seminar 100 Tahun Memperingati Bapak Mohammad Natsir
merangkap
Assistant Sec Gen WADAH
2.
Buya Masoed Abidin | Januari 13, 2009 at 9:23 am
Alhamdulillah, Terimakasih Saudara Mohamad Halimi.
Buya termasuk orang yang menulis Taushiyah Mohamad Natsir, yang pengantarnya ditulis oleh Sidik Fadzil pada sembilan tahun yang lalu, dan kini sedang diperbaiki tulisannya menjadi Fiqhud dakwah bagi pelanjut risalah dakwah Ilaa Allah. Buya bersyukur dan amat gembira, karena selama ini tulisan-tulisan itu hanya mungkin buya samapaikan di suaraulama, atau yahoogroup tulisan mohamad natsir dan di blog buya ini.
Alhamdulillah, akhirnya Allah SWT selalu menepati janjinya. Amin.
Maaf buya masukan laporan itu ke dalam blog karena syukur nikmat.
Wassalam Buya HMA