Archive for Juli 18th, 2008

Ulasan Majalah Tempo tentang Natsir, ketika peringatan 100 tahun Natsir.

sumber : Majalah Tempo
Edisi. 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

                 Laporan Utama

               Sebuah Pemberontakan tanpa Drama

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood:
perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan,
dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena
ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu
teladan yang jarang.

DIA,
Mohammad Natsir (17 Juli 1908 6 Februari 1993), orang yang puritan.
Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak
berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang
sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik
sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah
lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi,
tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih
baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang
berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap
yang diambil, bersahaja.

Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan
Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang
bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita
tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri
Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat
Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. “Ia
memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di
antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Mungkin karena itulah sampai tahun ini seratus tahun setelah
kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat tidak sedikit orang menyimpan
keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer
kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di
kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan
kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa
gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah
air ini. Dan di kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang
sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri
dari Partai Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya
mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah
bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.

Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi
bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada
dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain,
disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya
semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua
yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di
atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung
parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika
itu.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan
Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih
berarti. Waktu itu, pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan
nasionalis­me-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai
bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah
Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan
kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.

Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya “bertemu” lagi
dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri
penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda
pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi
ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar
buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang
kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara
kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.

Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara
kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa
menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara
si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an
Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang
terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang
semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa
tokoh lain tanpa pengadilan.

Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang
memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita,
akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat,
menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu.
Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan
kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung
awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin
yang cenderung otoriter.

Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa
Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan
menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel “musuh utama”
pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis
keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit
bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau
Buru pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik peng­ikut PKI.
Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para
penanda tangan Petisi 50 dicekal.

Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang
cukup panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang
mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita
sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan
ber­sahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari
belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh,
bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh
santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edi­si ini.

Add comment Juli 18, 2008

Pandangan anak Tionghoa tentang Natsir dan Keberagaman Natsir

Jumat, 18 Juli 2008
Oleh : Mustofa Liem, Dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk Kesetaraan. WNI
asal Jatim di Singapura
Bangsa ini sedang memperingati 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Dalam
peringatan di aula MK, 15 Juli 2008, Wapres Jusuf Kalla mengungkapkan, figur
Natsir patut menjadi panutan para pemimpin Indonesia. Lalu, dia menunjuk
enam presiden dalam sejarah republik ini yang tidak saling berbicara satu
sama lain.

Bahkan, Natsir layak menjadi panutan bagi segenap anak bangsa. Sebab, dalam
kontak sosial atau relasi antarmanusia, persoalan perbedaan ideologi atau
politik, agama atau suku, tidak pernah menjadi pertimbangan bagi sosok yang
sebenarnya lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat,
tersebut. Natsir amat menonjol dengan penghargaan pada egalitarianisme atau
kesetaraan, sebagaimana hal itu diajarkan dalam Islam.

Sosok Sederhana

Sejak masa kanak-kanak, Natsir akrab dengan Islam. Mulai madrasah diniah di
Solok pada sore dan belajar mengaji Alquran pada malam di surau. Dia belajar
pada H Agus Salim, HOS Cokroaminoto, hingga Mohammad Abduh, tokoh pembaru
Islam asal Mesir. Sampai hari tuanya, Islam menjadi pegangan hidupnya. Pada
1987, Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic
Studies, London.

Pengetahuannya yang mendalam tentang Islam sebagai agama perdamaian sungguh
terimplementasi dalam hidupnya yang amat sederhana. Tidak heran, anak juru
tulis yang pernah ditolak masuk sekolah dasar Belanda itu layak dijadikan
suri teladan dalam hal kesederhanaan.

Sebagaimana diketahui, Natsir bersama Sukiman dan Roem dikenal sebagai
pendiri partai Islam Masyumi pada November 1945. Dalam Kabinet Syahrir I dan
II (1946-1947) dan dalam Kabinet Hatta 1948, Natsir ditunjuk sebagai menteri
penerangan.

Prof George Kahin, ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika, pernah
diterima oleh Menpen Natsir pada 1948 yang mengenakan pakaian
compang-camping. Menurut catatan guru besar Cornell University itu, beberapa
minggu kemudian, staf yang bekerja di kantor Menpen Natsir berpatungan
membelikannya sehelai baju yang lebih pantas.

Kesederhanaan itulah yang tidak menjerumuskan dirinya dalam ketamakan atau
hasrat untuk mengorupsi uang rakyat sebagaimana marak ditunjukkan para
pejabat akhir-akhir ini.

Sosok Multikultural

Bukan kesederhanaan itu saja yang menonjol. Sikap santunnya sungguh
menyentuh hati siapa saja. Tidak heran, Natsir dikenal sebagai politikus
dengan 1001 teman yang beragam. Misalnya, pascakembali ke negara kesatuan RI
pada 17 Agustus 1950, Natsir ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Soekarno
pada September 1950. Dia tak sungkan melibatkan unsur-unsur nonmuslim dan
nasionalis. Herman Johannes, tokoh Kristen dari Partai Indonesia Raya,
ditunjuk memimpin Departemen Pekerjaan Umum.

Natsir juga akrab dengan I.J. Kasimo dari Partai Katolik yang menjadi
pendukungnya saat mengajukan mosi kembali ke bentuk NKRI pada 3 April 1950.
Dengan Dipa Nusantara Aidit, Komite Comite Central Partai Komunis Indonesia,
Natsir bisa berdebat sangat panas di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat.
Tapi, di luar sidang, Natsir bisa akrab bahkan “menyeruput” kopi hasil
traktiran Aidit.

Bahkan apa yang ditunjukkan Natsir juga menjadi model bagi tokoh Masyumi
yang lain. Kiai Isa Ansari misalnya, biasa makan sate bersama Aidit dan
Njoto setelah terlibat dalam perbedaaan politik yang panas. Lalu, Mohammad
Roem dengan Oei Tjoe Tat, tokoh Tionghoa dan mantan menteri Kabinet Dwikora.
Menurut Amien Rais, tidak ada halangan bagi Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi
untuk bergaul dengan kalangan nonmuslim (Tempo, 20 Juli 2008, hal 88).

Kemudian, meski selama lima tahun (1950-1955) dominasi parpol Islam merajai
perpolitikan nasional, Natsir tegas mengakui Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia. Dalam pidato di Pakistan Institute of World Affairs, 1952, dia
membela Pancasila yang dinilai selaras dengan prinsip-prinsip Islam.

Merenungkan Natsir yang, antara lain, ikut menandatangani Petisi 50 pada
1980, memang banyak hal yang bisa kita timba. Maklum, dia punya banyak
peran, mulai politikus, pendidik, pendakwah, dan sebagainya. Namun, satu hal
yang perlu digarisbawahi, Natsir tidak alergi pada kemajemukan atau
perbedaan. Manusia bisa berbeda agama, suku, atau partai. Namun, semua punya
derajat sama di mata Sang Pencipta. Perbedaan pada lawan politik Natsir
bukan kendala. Perbedaan justru rahmat yang bisa dipakai untuk membangun
bangsa ini.

Apalagi, karakter utama bangsa ini adalah keberagaman atau kemajemukan. Saat
para pemimpin bangsa ini memberikan teladan buruk dengan tidak saling
menyapa, Natsir menjadi inspirasi segar bahwa perbedaan bukan barang haram.
Bahkan, kita harus belajar mengelola perbedaan itu untuk memberikan manfaat
yang sebanyak-banyaknya bagi kemajuan bangsa. Perbedaan bukan alasan untuk
memecah belah bangsa.

Jasad Natsir memang sudah dikebumikan pada 6 Februari 1993 di Tanah Kusir,
Jakarta. Namun, teladan dan nilai-nilai yang diyakini akan terus hidup dalam
hati para pengagumnya. Meski belum dianugerahi gelar pahlawan nasional,
Natsir adalah pahlawan sejati bangsa ini. (***)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/12772/114/

Add comment Juli 18, 2008


Halaman

 

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip

Blogroll

Meta

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

Blog Stats

Klik tertinggi

Tulisan Teratas

Pengarang

Spam Blocked