Archive for Juli, 2008
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bicara tentang Natsir
“Natsir sangat besar jasanya untuk memulihkan NKRI melalui mosi integral tanpa seorang pun kehilangan muka. Natsir berhasil mengembalikan NKRI secara terhormat dan bermartabat“, ujar Presiden dalam sambutan tertulisnya pada Refleksi Seabad M Natsir, yang dibacakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa di Jakarta, Jumat (18/7) malam.
Presiden tak bisa hadir dalam acara yang dihadiri sejumlah menteri, mantan pejabat, dan pengagum Natsir itu karena melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah di Sumatera Utara.
Menurut Presiden, selain karena jasanya kepada bangsa, cara perjuangan dan hidup Natsir juga pantas dijadikan teladan. Presiden menyebutkan Natsir sebagai pendakwah, politikus, pejuang, dan negarawan yang membanggakan. Sebagai pendakwah, Natsir mendakwahkan Islam penuh keteduhan dan kedamaian jauh dari kekerasan.
“Syiar disampaikan dengan santun, bijak, dan penuh toleransi sehingga muncul ketenangan dan kedamaian di antara umat dan di antara umat yang beragama lain“, ujar Presiden. Pada periode awal kemerdekaan, Natsir tidak mungkin dihapus dalam catatan sejarah NKRI.
Presiden menyebut prestasi Natsir sebagai gemilang dan monumental dalam parlemen Indonesia. Presiden juga menyebut Natsir sebagai seorang demokrat dan negarawan. (INU)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/21/00563230/jejak.natsir.jangan.dilupakanAdd comment Juli 21, 2008
Masih dalam mengenang 100 tahun Mohamad Natsir
Oleh Asvi Warman Adam
Tanggal 17 Juli 2008, tepat 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Kali ini, peringatan tidak hanya mengenang pemikiran dan kepribadian tokoh yang bersih dan konsisten, tetapi ada usul untuk mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.
Mohammad Natsir berjasa mengembalikan bentuk pemerintahan federal menjadi negara kesatuan. Ia yang prihatin dengan proses disintegrasi negara-bangsa berpidato pada sidang DPR Republik Indonesia Serikat (RIS) tanggal 3 April 1950 yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir.
Negara kesatuan
Ia mengusulkan agar RIS melebur kembali menjadi negara kesatuan Republik Indonesia. Atas jasanya, Soekarno meminta Natsir untuk membentuk kabinet yang pertama dari negara kesatuan Republik Indonesia (1950-1951). Dalam pemilu pertama 1955, ia berprestasi memimpin Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) meraih suara nomor dua terbanyak setelah PNI (Partai Nasional Indonesia).
Jika kita berbicara tentang etika politik, itu sudah ditunjukkan Natsir. Ia bisa berdebat sengit dengan Ketua PKI DN Aidit di dalam sidang, setelah itu berbincang ringan sambil meminum secangkir kopi. Kehidupan yang asketis juga dijalani politikus Muslim kaliber internasional ini.
Bila kita kini melihat mobil- mobil mewah diparkir di pelataran gedung DPR, Natsir menolak ketika seorang pengusaha memberi hadiah sebuah mobil Chevrolet Impala yang saat itu tergolong mentereng. Padahal, di rumahnya hanya ada sebuah mobil tua, De Soto.
Ia berpolitik secara santun dan berdakwah tanpa kekerasan. Ia politikus yang hidup bersahaja. Ia santun terhadap Soekarno dan bersikap correct terhadap Soeharto. Pada awal Orde Baru ia berjasa mengirim nota kepada Tunku Abdurrachman dalam rangka pencairan hubungan diplomatik dengan Malaysia.
Ia mengontak Pemerintah Kuwait agar mau menanamkan modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintahan Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi. Ironisnya, imbalan yang diberikan penguasa adalah larangan baginya untuk kembali ke pentas politik.
Pahlawan nasional?
Masalahnya, layakkah ia diangkat sebagai pahlawan nasional? Dalam kriteria pahlawan nasional ada klausul, orang itu tidak pernah cacat dalam perjuangannya. Selama Orde Baru kriteria itu digunakan tanpa ukuran yang jelas. Kabarnya Sanusi Hardjadinata, tokoh PNI, mantan Menteri era Soekarno dan Gubernur Jawa Barat saat berlangsung Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955, ditolak menjadi pahlawan nasional karena pernah menandatangani Petisi 50.
Alasan itu terasa berlebihan karena petisi yang dikeluarkan 50 tokoh nasional tahun 1980 itu merupakan sikap kritis atas pernyataan Presiden Soeharto yang otoriter terhadap mereka yang mencoba mengubah Pancasila dan UUD 1945. Natsir menandatangani petisi itu, juga Sanusi Hardjadinata, Hugeng, Ali Sadikin, SK Trimurti, dan banyak tokoh lain. Alasan ini seyogianya tidak digunakan untuk menolak pencalonan pahlawan nasional.
Petisi jelas berbeda dengan pemberontakan, meskipun Soeharto menanggapi dengan tindak kekerasan senada. Sebenarnya, yang memberatkan Natsir adalah keterlibatannya dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958 dan meningkat dengan pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) tahun 1960 yang terdiri dari 10 negara bagian seperti Republik Islam Aceh dan Republik Islam Sulawesi Selatan (Audrey dan George Kahin, 1997: 381)
Sjafruddin Prawiranegara
Tahun lalu, Sjafruddin Prawiranegara juga diproses sebagai calon pahlawan nasional. Namanya lolos seleksi Badan Pembina Pahlawan Pusat. Namun, usulan ini kandas di tangan Presiden. Tampaknya keterlibatan Sjafruddin Prawiranegara dalam sebuah pemberontakan tetap tidak bisa ditolerir kepala negara.
Padahal, Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa besar terhadap negara. Apa jadinya Indonesia bila Sjafruddin tidak memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), pemerintahan gerilya yang bergerak di Sumatera. Tentu terjadi kevakuman pemerintahan, atau republik mengalami mati suri sesaat.
Saat ini, pemerintah hanya menetapkan terbentuknya PDRI sebagai hari bela negara. Selain bintang jasa tertinggi yang diterima, namanya diabadikan pada dua gedung yang berseberangan di Jl Budi Kemuliaan Jakarta (di kompleks Bank Indonesia dan satu lagi di Departemen Pertahanan karena Sjafruddin pernah memimpin kedua instansi ini).
Warga Minangkabau tentu bangga bila pemangku adat Mohammad Natsir yang bergelar Datuk Sinaro Panjang menjadi pahlawan nasional. Namun, bila ketentuan menegaskan, tokoh yang terlibat pemberontakan tidak memenuhi syarat, dengan jiwa besar harus menerimanya. Bukankah Natsir telah mendapat penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana yang diberikan semasa pemerintahan Habibie. Meski itu bukan gelar pahlawan nasional, biarlah asketisme hidupnya senantiasa dikenang masyarakat dan kebersahajaan beliau menjadi contoh bagi kita semua terutama para pemimpin di negeri ini.
Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI
Add comment Juli 19, 2008
Selamat Jalan Pak Natsir, Khadimul Ummah
Selamat jalan Pak Natsir
|
|
Oleh : H Mas’oed Abidin
Bumi Minangkabau, tepatnya Kampung Jambatan Baukia Alahan Panjang, negeri dingin di balik Gunung Talang Solok menjadi saksi kelahiran Pembawa Hati Nurani Umat, tokoh yang mendunia, pemikir dan pemimpin politik. Mohamad Natsir, lahir pada 17 Juli 1908. Putra Sutan Sari Pado dan Khadijah yang kemudian menjadi tokoh internasional dari berbagai segi : agama, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan, keteladanan, pemikiran, bahkan menjadi kajian ilmiah dalam berbagai seminar, simposium, skripsi, thesis disertasi para doktor berbagai disiplin ilmu.[1]
Masa kanak-kanak beliau lalui di tengah pergolakan pemikiran para tokoh besar pembaharu dari Ranah Minang. Belajar di pendidikan dasar Sekolah Belanda.
Mohamad Natsir kecil dengan tekun mengikuti gebrakan para tokoh besar di negerinya. Dari usia delapan tahun (1916) sampai 15 tahun (1923) Bapak Mohamad Natsir remaja menggali kekayaan para ulama itu di HIS Adabiyah Padang dan Madrasah Diniyah Solok.
Bapak Mohamad Natsir aktif dalam Jong Islamiten Bond Padang sewaktu melanjutkan pendidikan ke MULO Padang tahun 1923. Dan kemudian, masih dalam jalur pendidikan Belanda, beliau melanjutkan pendidikan ke AMS (A2) di Bandung. Bapak Mohamad Natsir secara formal mengikuti pendidikan barat di sekolah-sekolah Belanda.
Pemimpin Dunia Terkejut
|
|
Berita wafatnya Bapak DR. Mohamad Natsir cukup mengejutkan.
Tidak hanya dirasakan oleh para da’i di lapangan dakwah, juga oleh para politisi dan para pemimpin dunia.
Takeo Fukuda, Mantan Perdana Menteri Jepang, beralamat di 4 – 4 – 3 Shimbashi Minato Ku Tokyo, mengirimkan ucapan belasungkawa dari Tokyo bertanggal 8 Pebruari 1993 sebagai berikut,
Kepada
Yang Mulia
Keluarga besar Dr. Muhamad Natsir
di Jakarta,
Kata Belasungkawa,
Dengan sedih kami menerima berita kehilangan besar dengan meninggal dunianya DR. MOHAMAD NATSIR.
Ketika menerima berita duka tersebut terasa lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima, karena kita kehilangan pemimpin dunia, dan pemimpin besar dunia Islam.
Peranan beliau masih sangat diperlukan dalam mengkordinasikan dunia yang stabil.
Saya banyak belajar dari beliau ketika beliau berkunjung ke Jepang disaat saya menjabat Menteri Keuangan. Beliaulah yang meyakinkan kami di Jepang tentang perjuangan masa depan pemerintahan orde baru di Indonesia yang bersih dan sejahtera, bersamaan dengan cita-cita beliau untuk menciptakan dunia Islam yang stabil, adil sejahtera dengan kerjasama Jepang.
Kini beliau sudah tiada. Walaupun keberadaan beliau masih sangat kita perlukan, tetapi Tuhan telah mengambil kembali beliau untuk beristirahat.
Dengan penuh kesedihan izinkan saya atas nama kawan-kawan beliau di Jepang menyampaikan Kata Belasungkawa atas kepergian teman kami pemimpin dunia yang disegani, Doktor Muhamad Natsir.
Kami yakin kepergian beliau dengan ketenangan karena telah banyak murid-murid beliau yang setia diharapkan meneruskan perjuangan suci beliau.
Kami yang berduka cita,
Takeo Fukuda.
Bersama-sama tokoh ummat yang secita-cita Mohamad Natsir mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Pebruari 1967.
Pengabdian di bidang dakwah ini bukan semata dalam makna simbol tetapi secara substantif dan komprehensif baik lisan, tulisan dan amaliah sosial bil hal dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Memang Dewan Da’wah banyak menghidupkan dakwah Islam pada masyarakat suku terasing dan daerah terisolir serta di pemukiman transmigrasi. Untuk keperluan pergerakan dakwah ini, Mohamad Natsir tidak pernah lelah untuk menggembeleng kader-kader Islam dengan sangat ikhlas, agar selalu berjuang untuk kemulian dan ketinggian Islam. Mohamad Natsir mengganggap kader pemimpim tak bisa dicetak hanya dalam satu malam.
Pemimpin tidak bisa dicetak oleh kursus, tidak ada universitas pemimpin, dan tidak pula ada ijazah pemimpin. Pemimpin tidak bisa di SK kan. Pemimpin tumbuh di lapangan, setelah berinteraksi dengan tantangan di dalam masyarakat. Pemimpin harus lahir dari kandungan ummat itu sendiri. Lahir dari lapangan. Mohamad Natsir percaya bahwa kader ummat dalam jumlah yang terbatas tetap ada. Para pemimpin umat lebih banyak hadir tanpa dibesar-besarkan dan gembar gembor. Pemimpin itu harus berakar ke bawah dan berpucuk ke atas.
Mohamad Natsir ditengah-tengah Ibu Badan Penyantun Rumah Sakit Ibnu Sina Yarsi Sumbar di Padang, ketika kunjungan ke Sumbar. Mohamad Natsir menyempatkan melihat perkembangan Rumah Yatim Budi Mulia di Ranah Padang. Beliau memang menjadi pemimpin tempat bertanya dari berbagai kalangan.
Inilah pemimpin yang diidamkan masyarakat. Proses itu lahir sendiri dalam suatu perjalanan sejarah.
Calon-calon pemimpin diuji oleh keadaan dan tantangan dalam masyarakatnya. Ujian itu ada yang baik dan ada yang buruk. Ujian atas kebaikan misalnya mendapat kesenangan harta dan pangkat. Bila seorang pemimpin lulus dari berbagai ujian kehidupan akan punya berlipat kekuatan dan berdampak poisitif yang tinggi. Sebaliknya bila gagal, maka yang menanggung derita adalah diri, keluarga dan masyarakat. Inilah arti sebuah ujian, bertalian keistiqahaman seorang pemimpin atau pendakwah di medan dakwah.
Sebaliknya, ketika ada ujian terhadap keburukan misalnya penderitaan atau kekurangan harta, mesti harus dapat dihadapi dengan keteguhan hati dan tidak pernah sesaatpun lepas dari naungan dan ma’unah dari Allah SWT.
Maka, yang akan beruntung adalah diri sendiri, disamping itu keluarga dan juga umat ikut berbahagia. Bila seorang pemimpin gagal menghadapi segala penderitaan, dan sempat menggadaikan diri demi secuil kesenangan, maka yang akan menderita pertama sekali adalah diri yang akan ditinggalkan umatnya dan tidak terlalu mengganggu keluarga dan lingkungan. Hal itu disampaikannya pada acara syukuran 80 tahun Natsir yang dilaksanakan rekan dan sahabat pada 17 Juli 1988.[2]
Mohamad Natsir dengan para du’at yang melanjutkan gerakan dakwah di bidang kesehatan dan pendidikan di Sumbar dan Riau
Mohamad Natsir yang pernah diberi gelar penghormatan Doktor Kehormatan oleh salah satu Univeristas di Malaysia tak pernah sepi dari perjuangan kepentingan bangsa Indonesia dan izzul Islam wal Muslimuun diseluruh dunia. Beliau mendapat julukan dari umat sebagai, «hati nurani dan pemandu ummat».
Sepanjang hanyatnya Mohamad Natsir telah menghasilkan karya tulis di dalam berbagai aspek pemikiran. Karya tulisnya yang sudah diterbitkan sebanyak 60 buah, diantaranya ;
1. Fiqhud Dakwah, (Jakarta: DDII, t.t.) Cet. IV.
2. Surat-surat Mohamad Natsir dari tanggal 17 Juli-15 Agustus 1958. (T.T. : T.P., t.t.)
3. Bahaya Takut, Jakarta : Media Dakwah, 1991.
4. Capita Selecta I, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), Cet. III.
5. Capita Selecta II, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Pustaka Pendis, 1957).
6. Capita Selecta III, (Naskah Belum Diterbitkan).
7. Fiqhud Dakwah, Djedjak Risalah dan Dasar-Dasar Dakwah, Malaysia : Polygraphic Press, 1981.
8. Selamatkan Demokrasi Berdasarkan Jiwa Proklamasi dan UUD 1945, (T.T.: Forum Silaturrahmi 45, 1984).
9. Islam dan Akal Merdeka, (Jakarta: Media Dakwah, 1988), Cet. III.
10. Azaz Keyakinan Kami. (T.T.).
11. Islam sebagai Dasar Negara, (T.T. : Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957).
12. Revolusi Indonesia, (Bandung: Pustaka Jihad, T.T.). 13. Demokrasi di Bawah Hukum, (Jakarta: Media Dakwah, 1407/1987), Cet. I.
13. Pendidikan, Pengorbanan Kepemimpinan, Primordialisme, dan Nostalgia, (Jakarta: Media Dakwah, 1987), Cet. I.
14. Normalisasi Konstitusional, (Jakarta: Yayasan Kesadaran Berkonstitusi, 1990).
15. Islam di Persimpangan Jalan, T.T.
16. Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya yang Konstitusioanl, T.T.
17. Mempersatukan Umat, (Jakarta: CV Samudra, 1983), Cet. III.
18. Dunia Islam dari Masa ke Masa, (Jakrta: Panji Masyarakat, 1982).
19. Islam sebagai Ideologi, (Jakarta: Penyiaran Ilmu, T.T.).
20. Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah, (Jakarta: Girimukti Pusaka, 1988).
21. Percakapan antara Generasi, Pesanan Perjuangan Seorang Bapak, (Malaysia: Dewan Pustaka Islam, 1991).
22. Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam, (Medan:T. P, 1951).
23. Some Observations Concerning the Role of Islam in National and International Affairs, (Ithaca New York : Departement of Far Eastern Studies, Cornell University, 1954), Penerbitan XVI.
24. The Role of Islam in the Promotion of National Resilience, (Jakarta: T.P., 1976).
25. Membangun di Antara Tumpukan Puing dan Pertumbuhan, (Djakarta : Kementerian Penerangan RI, 1951).
26. Marilah Shalat, Jakarta : Media Dakwah, 1981.
27. Mencari Modus Vivendi antara Umat Beragama di Indonesia, (Jarta: Media Dakwah, 1983).
28. Asas Keyakinan Agama Kami,(Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah, 1984).
29. Bahaya Takut, (Jakarta: Media Dakwah, 1991).
30. Kumpulan Khutbah Idul Fithri/Adhha, (Jakarta: Media Dakwah,1978).
31. Kumpulan Khutbah Hari Raya, (Jakarta : Media Dakwah, 1975).
32. The New Morality, (Surabaya: Perwakilan DDII, 1969).
33. Tinjauan Hidup, Widjaja, Djakarta, 1957.
34. Kom Tot Het Gebed (Marilah Shalat), (Jakarta: Media Dakwah, 1981).
35. Keragaman Hidup Antar Agama, Djakarta : Hudaya, 1970.
36. Hidupkan Kembali Idealisme dan Semangat Pengorbanan, Djakarta : Bulan Bintang, 1970.
37. Gubahlah Dunia dengan Amalmu, Sinarilah Zaman dengan Imanmu, Djakarta : Hudaya, 1970.
38. Kubu Pertahanan Mental dari Abad ke Abad,(Surabaya: T.P., 1969).
39. Tauhid untuk Persaudaraan Universal, (Jakarta: Suara Masjid, 1991).
40. Hendak ke mana Anak-anak Kita Dibawa oleh PMP,(Jakarta: Panji Masyarakat, 1402 H.).
41. Islam dan Akal Merdeka,(Tasikmalaja: Persatoen Islam bg. Penjiaran, 1947).
42. Islam Mempunyai Sifat-sifat yang Sempurna untuk Dasar Nega ra, (Jakarta: T.P., 1957).
43. Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat, (Jakarta: Bulan bintang, 1980).
44. Dakwah dan Pembangunan,(Bangil: Al-Muslimun, 1974).
45. Tolong Dengarkan Pula Suara Kami,(Jakarta: Panji Masyarakat, 1982).
46. Buku PMP dan Mutiara yang Hilang,(Jakrta: Panji Masyarakat, 1982).
47. Di Bawah Naungan Risalah, (Jakarta: Sinar Hudaya, 1971).
48. Ikhtaru Ihdas Sabilain, Addinu wa la al-Dinu, (Jeddah: Al-dar al-Saudiyah, 1392 H.).
49. Islam sebagai Ideologi, ( Jakarta : Penyiaran Ilmu, t.t.).
50. Islam dan Kristen di Indonesia, (Bandung: Pelajar Bulan Sabit, 1969).
51. Pancasila akan Hidup Subur Sekali dalam Pangkuan Islam, (Bangil: T.P., 1982).
52. Cultur Islam, (Bandung: T.P., 1936).
53. Dari Masa ke Masa,(Jakarta: Yayasan Fajar Shadiq, 1975).
54. Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat,(Jakarta: Bulan Bintang, 1980).
55. Bersama H.A.M.K. Amarullah, Islam Sumbergia Bahagia, (Bandung: Jajasan Djaja, 1953).
56. Dengan nama samaran A. Moechlis, Dengan Islam ke Indonesia Moelia, (Bandung: Persatuan Islam, Madjlis Penjiaran, 1940).
57. Agama dan Negara dalam Persfektif Islam (Kumpulan Karangan), Penyunting, H. Endang Saifuddin Anshari dan LIPPM (Jakarta: 1409-1989, belum diterbitkan /masih monograph).
58. Asas Keyakinan Agama Kami, (Jakarta: DDII, 1982).
59. Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya yang Konstitusional, (Jakarta: TP, 1985).
60. World of Islam Festival dalam Persepektif sejarah (Jakarta : Yayasan Idayu, 1976).
Oleh: Febrianti/PadangKini.com
NATSIR menatap selembar foto hitam-putih itu lekat-lekat dan lama, selembar foto yang menggambarkan sebuah rumah beratap limas dengan halaman yang luas, dengan sungai yang jernih mengalir di sampingnya dan jembatan kayu jati yang berukir di atasnya.
Seolah ingin mengenang masa kecil dalam foto itu nun jauh di Lembah Gumanti yang permai di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, dari atas tempat tidurnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, Natsir lama menatap foto itu.
Ini diceritakan Hamdi El Gumanti, 60 tahun, salah seorang pengurus Dewan Dakwah Islamiyah di Jakarta semasa itu. Hamdi juga cucu Sutan Rajo Ameh di Alahan Panjang, pemilik rumah tempat Natsir dilahirkan.
“Seminggu sebelum wafat Pak Natsir memaggil saya dan meminta saya tolong carikan foto rumah masa kecilnya di Alahan Panjang, saya kaget, sebelumnya Pak Natsir tidak pernah seperti itu,” kata Hamdi.
Hamdi bergegas berangkat dari Jakarta ke Alahan Panjang dan membongkar album yang ada di rumah Jembatan Berukuir. Foto yang diinginkan Natsir ketemu dan ia segera terbang ke Jakarta memberikan foto itu pada Natsir. Tiga hari kemudian, 6 Februari 1993, Natsir meninggal.
Di masa tuanya, Natsir memang beberapa kali pernah ingin bernostalgia masa kecilnya di Sumatera Barat, tetapi tidak pernah kesampaian.
Menurut Hamdi, di Jakarta pada tahun 70-an, Natsir pernah dekat dengan pamannya Hamdi yang bernama Syahrul Kamal. Mereka bersepakat akan akan pulang kampung ke Alahan Panjang, tapi batal karena Syahrul Kamal keburu meninggal.
Pada 1991, saat berkunjung ke Padang dan Bukittinggi Natsir juga sempat ingin bernostalgia mengunjungi tempat-tempat masa kecilnya seperti di Alahan Panjang, Solok, dan Maninjau, namun itu juga batal. Hal ini diceritakan Aisyah Rahim Natsir, putri Natsir yang kelima.
“Saat itu saking bersemangatnya Bapak meresmikan Islamic Center di Padang, naik tangga sampai ke lantai 4, lalu jantungan, akhirnya nggak jadi, padahal Bapak sepertinya ingin bernostalgia, ia mengatakan pada kakak saya ingin ke Alahan Panjang, Solok dan ke Danau Maninjau, ke Maninjau saja tidak sempat, Bbapak hanya sempat lewat di Solok, dan Bapak menunjuk di dekat jembatan Solok itu dulu sekolah,” kata Aisyah.
Natsir dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang. Daerah yang dikenal dengan Lembah Gumanti itu adalah dataran tinggi yang subur dengan kebun-kebun kopi dan kebun sayur, serta sawah yang luas. Berhawa dingin dan kerap hujan karena berada di Gunung Talang.
Di Alahan Panjang ini pemandangan alam amat indah, selain perkebunan yang subur, juga dilingkupi dua danau yang dijuluki Danau Kembar yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah.
Tak Banyak yang Tahu
M.Natsir kecil dulunya lahir di sebuah rumah yang besar yang terletak di dekat Jembatan Berukir, Alahan Panjang 17 Juli 1908. Saat menetap di Alahan Panjang karena menjadi pegawai Belanda di pemerintahan setingkat kecamatan di Alahan Panjang, Ayah M. Natsir, Mohamad Idris Sutan Saripado tinggal di rumah seorang saudagar kopi kaya di Alahan Panjang, Sutan Rajo Ameh.
“Mungkin kakek saya Sutan Rajo Ameh bersahabat dengan Mohamad Idris Sutan Saripad, Bapaknya Pak Natsir sehingga mereka diajak tinggal di rumah itu,” kata Hamdi, cucu Sutan Rajo Ameh yang juga lahir di rumah itu.
Di rumah besar itu, Keluarga Sutan Rajo Ameh bersama istrinya Siti Zahara dan anak-anaknya tinggal di bagian kiri rumah. Sementara ayah Mohammad Idrus Saripado dan Istrinya Khadijah bersama anaknya menempati rumah bagian kanan.
Menurut Hamdi, rumah itu berhalaman luas, di sisi kirinya mengalir Batang Hiliran Gumanti (batang artnya sungai) yang berair jernih. Airnya berasal dari Danau Diatas dan mengalir terus ke hilir. Di atas sungai itu ada jembatan dari kayu jati yang penuh ukiran yang dibangun Belanda.
“Ketika itu tempat paling indah di Alahan Panjang mungkin di rumah kakek saya, di sampingnya ada sungai dengan jembatan yang berukir dan di depannya ada lapangan yang hijau ditumbuhi rumput dan dipagari pohon pinang,” kata Hamdi.
Di belakang rumah kelahiran Natsir saat ada kolam ikan dan taman kecil yang tetata apik, karena Sutan Rajo Ameh amat suka menata taman dan duduk di kursi malas menghadap ke kolam ikan.
Di sebelah kolam ikan ada sungai Batang Hiliran Gumanti yang sebagian kecil airnya dialirkan ke kincir air untuk menumbuk padi. Itu adalah satu-satunya kincir air penumbuk padi yang ada di Alahan Panjang semasa itu. Sayangnya rumah kelahiran Natsir terbakar saat agresi Belanda pada 1947 tinggal di Indonesia. Rumah besar itu terbakar kena bom.
“Kata almarhum nenek saya Siti Zahara, waktu kecil ini Pak Natsir orangnya lugu, jujur dan punya sifat yang sejak kecil sudah kelihatan akan jadi pemimpin, selain itu Natsir juga suka dengan segala hal yang rapi, merapikan kamar tidurnya, dan suka membantu mencuci piring,” kata Hamdi.
Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga ke surau, belajar mengaji. urau itu tidak jauh dari rumahnya, di depan lapangan. Namanya Surau Dagang yang didirikan oleh pedagang dari nagari-nagari di sekitar Alahan Panjang. Pedagang ini berjualan tiap pekan di Pasar Perserikatan Alahan Panjang tak jauh dari surau itu.
Menurut Hamdi, surau itu dulunya dari kayu, lantainya bambu dan atapnya dari daun rumbia, kini sudah berubah menjadi Masjid Al Wusta.
Dijaga Penjaga Buta
Tidak banyak yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang, karena orang-orang segenerasi dengan Natsir apalagi generasi di atas Natsir sudah tidak ada lagi. Apalagi Natsir di Alahan Panjang hanya pada masa sebelum masuk Sekolah Rakyat (SR) di Kota Solok.
Kini Alahan Panjang tidak banyak berubah. Lembah Gumanti berhawa dingin. Ladang sayuran dan kebun kopi masih terhampar luas, karena Alahan Panjnag termasuk sentra pemasok sayuran untuk Sumatera Barat dan Riau.
Namun tempat kelahiran Natsir agak berubah. Rumah kelahiran Natsir yang terbakar telah dibangun lagi pada 1957. Walaupun cukup besar tapi kalah luas dibandingkan rumah yang pernah ditempati Natsir.
Di samping kiri rumah masih mengalir Batang Hiliran Gumanti dengan airnya yang masih jernih, di atasnya ada jembatan namun tidak lagi jembatan kayu jati yang berukir, telah diganti jembatan beton, walaupun nama jalan di depan rumah itu tetap Jembatan Berukir.
Di dalam rumah masih ada satu set kursi rotan milik Sutan Rajo Ameh, semasa ayah Natsir tinggal di rumah itu, juga ada kursi malas dari kayu jati, serta lemari yang penuh peralatan dari kuningan, peninggalan zaman Natsir saat di rumah itu.
Kolam ikan di belakang rumah sudah tidak ada lagi, kincir air dibelakang rumah dekat rumpun bambu masih ada, namun tidak lagi digunakan. Di seberang jembatan berukir tidak ada lagi lapangan hijau yang luas yang dinaungi barisan pohon pinang. Lapangan itu telah berubah menjadi terminal bus dan angkutan umum, letaknya bersebelahan dengan pasar Alahan Panjang.
Rumah itu dijaga seorang penjaga buta, Zulfikar. Ia adalah kerabat si pemilik rumah Hamdi El Gumanti yang mewarisi rumah itu dari ibunya. Hamdi sendiri tinggal di Jakarta.
“Saya dititipi rumah ini karena ini rumah kelahiran Pak Natsir, karena yang punya merantau semua ke Jakarta, tetapi saya tidak banyak tahu tentang beliau,” kata Zulfikar.
Ia sehari-hari bertugas memelihara rumah, menyapu, membersihkan halaman.
“Sudah banyak yang datang ke rumah ini, karena mereka ingin melihat rumahnya pak Natsir, pernah bupati, gubernur, beberapa menteri dan pernah pula orang dari Arab yang datang dan numpang sholat di rumah ini karena tahu tempat ini rumah kelahiran Pak Natsir,” kata Zul.
Hamdi El Gumanti sang pemilik rumah mengatakan, tidak banyak lagi orang yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang.
“Yang tahu itu seangkatan nenek saya,dan itu tentu sudah meninggal semua, saya saja tahu cerita Natsir pernah di sana dari nenek , karena nenek saya umurnya sampai 103 tahun jadi saat saya SMA dan nenek tinggal di Jakarta bersama kami, di situlah beliau sering bercerita,” kata Hamdi El Gumanti.
Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai Kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang, Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah.
Tak lama berselang, dia pindah ke Solok. Dan ketika sang ayah pindah ke Makassar, Natsir kembali ke Padang tinggal bersama kakaknya. Di sana dia menamatkan pendidikan dasarnya sebelum akhirnya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bandung.
Orang Maninjau
Di Danau Maninjua, jejak masa kecil Natsir juga kabur, orang lebih banyak mengenalnya sebagai sosok Natsir yang ikut memimpin perjuangan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).
Kedua orang tua Muhammad Natsir berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam. Namun tidak diketahui apakah Natsir kecil pernah ke Maninjau. Turunan pihak ibu Natsir memiliki ‘rumah gadang’ di Maninjau. Letaknya di Kelok Satu, sekitar 200 meter dari tepian Danau Maninjau. Dari tempat itu, Danau Maninjau terlihat jelas.
Di jalan Kelok Satu itu beberapa rumah tua dari kayu masih berdiri salah satunya rumah Roslinar, 64 tahun, kemenakan jauh Natsir dari keturunan kakak dari ibu Natsir.
Rumah yang ditempati Roslinar bersebelahan dengan rumah yang disebut-sebut rumah Natsir.
Sebenarnya rumah Natsir itu adalah ‘rumah gadang’ milik suku dari pihak perempuan keluarga ibu Natsir. Dulunya rumah itu rumah kayu, namun pada 1990 dibangun menjadi rumah beton dengan atap seng model bagonjong. Di halaman rumah ditutupi paving blok dan dipagar besi. Rumah bercat kuning itu disewakan untuk kost siswa.
“Saya tidak tahu persis apakah saat kecil Pak Natsir pernah singgah ke rumah ini, karena ayah dan ibu Pak Natsir kan memang tidak pernah tinggal di Maninjau, yang jelas itu adalah rumah keluarga ibunya Pak Natsir,” kata Roslinar.
Di dalam rumah itu tidak ada selembar pun foto Nastir. Menurut Roslinar, karena pada masa PRRI semua foto Natsir dan keluarganya disembunyikan dalam plastik sehingga rusak.
“Saat PRRI dulu banyak tentara yang setiap hari ke rumah ini dengan senjata terkokang menanyakan Pak Natsir, jadi seluruh foto-fotonya dan keluarganya kami simpan jauh-jauh di dalam plastik disembunyikan, akhirnya rusak,” kata Roslinar.
Roslinar mengatakan Natsir pernah dua kali berkunjung ke rumah itu. Pertama semasa PRRI dan kedua pada 1980-an.
“Saat masa PRRI saya tidak terlalu ingat, karena masih kanak-kanak, tetapi saat 80-an lalu saya yang sibuk memasak dan jadi tuan rumah karena Pak Natsir datang dan berkumpul di rumah itu bersama sanak dan kemenakannya,” kata Roslinar.
Ia ingat, Natsir banyak bercerita ringan dengan sanak keluarganya, juga nasehat agar bila ingin maju harus mengutamakan pendidikan.
“Pak Natsir tidak menginap, beliau pulang ke Padang, saat pulang saya ditinggali uang Rp150 ribu, katanya untuk belanja di rumah, itulah terakhir kalinya Pak Natsir berkunjung ke rumah ini,” kata Roslinar.
Roslinar mengatakan, tidak tahu banyak tentang masa kecil Natsir. Ia adalah satu-satunya keluarga dari pihak ibu Natsir yang tinggal di Maninjau.
Sekitar 500 meter dari rumah Natsir kini berdiri sebuah perpustakaan yang dinamakan Perpustakaan Mohamad Natsir.
Perpustakaan ini didirikan 2005 lalu oleh Ikatan Perantau Maninjau di Jabodetabek.
Di dalam pustaka dengan luas 180 meter persegi itu cukup banyak koleksi buku. Di salah satu lemari terdapat 20-an buku karangam Natsir dan buku tentang Natsir yang disumbang keluarga M. Natsir untuk perpustakaan.
Selain itu juga ada buku-buku fiksi, sastra, buku anak-anak, dan majalah.
“Perpustakaan ini untuk semua umur, setiap hari paling sedikit 10 orang yang membaca di sini,” kata Santi, salah seorang penjaga pustaka.
Ia mengatakan, perpustakaan ini memakai nama M. Natsir karena untuk mengenang tokoh asal Maninjau itu.
“Ini kan daerah asalnya Pak Natsir, walaupun beliau tidak lahir di sini, tetapi beliau orang sini,” kata Santi.
Ia mengatakan, beberapa perantau asal Inggris tahun lalu pernah mengirimkan sumbangan buku-buku anak-anak satu kardus besar langsung dari Inggris. Selain itu mereka juga menyumbang satu perangkat komputer untuk perpustakaan itu.**
Di Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Mohamad Natsir juga meninggalkan asset kekayaan ilmiah dengan hadirnya majalah Serial Media Dakwah, Suara Mesjid, Serial Khutbah Jum’at, majalah Sahabat untuk anak-anak serta Bulletin Dakwah sebagai penyiram hati umat yang sedang gersang rohani.
Pemikiran beliau masih tetap hidup ditengah umat, dibaca dan ditelaah oleh setiap generasi secara sambung bersambung.
Bertimbang terima dengan generasi yang akan menerima tongkat patah tumbuh hilang berganti, untuk melanjutkan usaha pembangunan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar dalam Musyawarah di Padang.
Bapak Mohamad Natsir telah meninggalkan pesan-pesan dakwah yang tidak akan kering menyirami setiap insan pendakwah di medan dakwah sepanjang masa.
Berpuluh khazanah intelektual dan ratusan artikel yang bernuansa dakwah telah ditulis beliau. Belum sempat diterbitkan.
Sebagai insan beliau telah dipanggil kehadirat Allah, pada hari Sabtu tanggal 6 Pebruari 1993 pukul 12.10 WIB bertepatan dengan 14 Sya’ban 1413 H di Ruang ICCU RSCM Jakarta. Dimakamkan di TPU Karet 7 Pebruari 1993 siang, dibawah deraian air mata dan siraman air hujan.
Selamat jalan Bapak Mohamad Natsir. Dibelakang bapak telah menunggu Natsir muda melanjutkan perjuanganmu yang harum semerbak. “Harimau mati meninggalkan belang, manusia pergi meninggalkan amal yang baik juga“.G
[1] Skripsi sarjana IAIN, Wirda Yati, SAg: Dinamika Dakwah Islam di Indonesia, Telaah Terhadap Pemikiran Bapak Mohamad Natsir.
[2] Dalam bagian pada wawancara dengan Panji Masyarakat Juli 1988 itu, Natsir mengibaratkan kader pempimpin itu adalah seperti harapan Nabi Zakaria yang mendambakanm keturuan yang akhairnya Allah mmemberikan keturuan Nabi Yahya. Natsir optimis lahirnya Yahya-Yahaya baru. Terutama menurutnya adalah dari Kampus dan dari LSM serta kelompok-kelompok pengajian dan pesantren. Yang penting menutut Natsir pada akhir 80-an itu, tercipta situasi yang kondusip yaitu kebebasan mengeluarkan pendapat atau kebebasan beribicara.
Add comment Juli 19, 2008
Ulasan Majalah Tempo tentang Natsir, ketika peringatan 100 tahun Natsir.
sumber : Majalah Tempo
Edisi. 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008
Laporan Utama
Sebuah Pemberontakan tanpa Drama
Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood:
perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan,
dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena
ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu
teladan yang jarang.
DIA,
Mohammad Natsir (17 Juli 1908 6 Februari 1993), orang yang puritan.
Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak
berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang
sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik
sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah
lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemimpinan terjadi,
tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih
baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang
berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap
yang diambil, bersahaja.
Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan
Perjuangan, George McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang
bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita
tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri
Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat
Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. “Ia
memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di
antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.
Mungkin karena itulah sampai tahun ini seratus tahun setelah
kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat tidak sedikit orang menyimpan
keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontemporer
kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di
kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan
kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa
gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas misionaris Kristen di tanah
air ini. Dan di kalangan Islam moderat, dengan politik lupa-ingat yang
sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri
dari Partai Masyumi ini memimpin Dewan Dakwah Islamiyah; seraya
mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah
bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.
Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi
bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada
dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain,
disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya
semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua
yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di
atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung
parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika
itu.
Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan
Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih
berarti. Waktu itu, pengujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan
nasionalisme-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai
bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah
Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan
kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.
Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya “bertemu” lagi
dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri
penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda
pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi
ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar
buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang
kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara
kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.
Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara
kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa
menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara
si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuangan
Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang
terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang
semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa
tokoh lain tanpa pengadilan.
Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang
memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita,
akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat,
menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu.
Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan
kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung
awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin
yang cenderung otoriter.
Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa
Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan
menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel “musuh utama”
pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis
keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit
bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau
Buru pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik pengikut PKI.
Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para
penanda tangan Petisi 50 dicekal.
Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang
cukup panjang, di balik kelemahlembutannya, ada kegigihan seorang yang
mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita
sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan
bersahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantangan. Hari-hari
belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh,
bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh
santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edisi ini.
Add comment Juli 18, 2008
Pandangan anak Tionghoa tentang Natsir dan Keberagaman Natsir
Jumat, 18 Juli 2008
Oleh : Mustofa Liem, Dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk Kesetaraan. WNI
asal Jatim di Singapura
Bangsa ini sedang memperingati 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Dalam
peringatan di aula MK, 15 Juli 2008, Wapres Jusuf Kalla mengungkapkan, figur
Natsir patut menjadi panutan para pemimpin Indonesia. Lalu, dia menunjuk
enam presiden dalam sejarah republik ini yang tidak saling berbicara satu
sama lain.
Bahkan, Natsir layak menjadi panutan bagi segenap anak bangsa. Sebab, dalam
kontak sosial atau relasi antarmanusia, persoalan perbedaan ideologi atau
politik, agama atau suku, tidak pernah menjadi pertimbangan bagi sosok yang
sebenarnya lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat,
tersebut. Natsir amat menonjol dengan penghargaan pada egalitarianisme atau
kesetaraan, sebagaimana hal itu diajarkan dalam Islam.
Sosok Sederhana
Sejak masa kanak-kanak, Natsir akrab dengan Islam. Mulai madrasah diniah di
Solok pada sore dan belajar mengaji Alquran pada malam di surau. Dia belajar
pada H Agus Salim, HOS Cokroaminoto, hingga Mohammad Abduh, tokoh pembaru
Islam asal Mesir. Sampai hari tuanya, Islam menjadi pegangan hidupnya. Pada
1987, Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic
Studies, London.
Pengetahuannya yang mendalam tentang Islam sebagai agama perdamaian sungguh
terimplementasi dalam hidupnya yang amat sederhana. Tidak heran, anak juru
tulis yang pernah ditolak masuk sekolah dasar Belanda itu layak dijadikan
suri teladan dalam hal kesederhanaan.
Sebagaimana diketahui, Natsir bersama Sukiman dan Roem dikenal sebagai
pendiri partai Islam Masyumi pada November 1945. Dalam Kabinet Syahrir I dan
II (1946-1947) dan dalam Kabinet Hatta 1948, Natsir ditunjuk sebagai menteri
penerangan.
Prof George Kahin, ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika, pernah
diterima oleh Menpen Natsir pada 1948 yang mengenakan pakaian
compang-camping. Menurut catatan guru besar Cornell University itu, beberapa
minggu kemudian, staf yang bekerja di kantor Menpen Natsir berpatungan
membelikannya sehelai baju yang lebih pantas.
Kesederhanaan itulah yang tidak menjerumuskan dirinya dalam ketamakan atau
hasrat untuk mengorupsi uang rakyat sebagaimana marak ditunjukkan para
pejabat akhir-akhir ini.
Sosok Multikultural
Bukan kesederhanaan itu saja yang menonjol. Sikap santunnya sungguh
menyentuh hati siapa saja. Tidak heran, Natsir dikenal sebagai politikus
dengan 1001 teman yang beragam. Misalnya, pascakembali ke negara kesatuan RI
pada 17 Agustus 1950, Natsir ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Soekarno
pada September 1950. Dia tak sungkan melibatkan unsur-unsur nonmuslim dan
nasionalis. Herman Johannes, tokoh Kristen dari Partai Indonesia Raya,
ditunjuk memimpin Departemen Pekerjaan Umum.
Natsir juga akrab dengan I.J. Kasimo dari Partai Katolik yang menjadi
pendukungnya saat mengajukan mosi kembali ke bentuk NKRI pada 3 April 1950.
Dengan Dipa Nusantara Aidit, Komite Comite Central Partai Komunis Indonesia,
Natsir bisa berdebat sangat panas di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat.
Tapi, di luar sidang, Natsir bisa akrab bahkan “menyeruput” kopi hasil
traktiran Aidit.
Bahkan apa yang ditunjukkan Natsir juga menjadi model bagi tokoh Masyumi
yang lain. Kiai Isa Ansari misalnya, biasa makan sate bersama Aidit dan
Njoto setelah terlibat dalam perbedaaan politik yang panas. Lalu, Mohammad
Roem dengan Oei Tjoe Tat, tokoh Tionghoa dan mantan menteri Kabinet Dwikora.
Menurut Amien Rais, tidak ada halangan bagi Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi
untuk bergaul dengan kalangan nonmuslim (Tempo, 20 Juli 2008, hal 88).
Kemudian, meski selama lima tahun (1950-1955) dominasi parpol Islam merajai
perpolitikan nasional, Natsir tegas mengakui Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia. Dalam pidato di Pakistan Institute of World Affairs, 1952, dia
membela Pancasila yang dinilai selaras dengan prinsip-prinsip Islam.
Merenungkan Natsir yang, antara lain, ikut menandatangani Petisi 50 pada
1980, memang banyak hal yang bisa kita timba. Maklum, dia punya banyak
peran, mulai politikus, pendidik, pendakwah, dan sebagainya. Namun, satu hal
yang perlu digarisbawahi, Natsir tidak alergi pada kemajemukan atau
perbedaan. Manusia bisa berbeda agama, suku, atau partai. Namun, semua punya
derajat sama di mata Sang Pencipta. Perbedaan pada lawan politik Natsir
bukan kendala. Perbedaan justru rahmat yang bisa dipakai untuk membangun
bangsa ini.
Apalagi, karakter utama bangsa ini adalah keberagaman atau kemajemukan. Saat
para pemimpin bangsa ini memberikan teladan buruk dengan tidak saling
menyapa, Natsir menjadi inspirasi segar bahwa perbedaan bukan barang haram.
Bahkan, kita harus belajar mengelola perbedaan itu untuk memberikan manfaat
yang sebanyak-banyaknya bagi kemajuan bangsa. Perbedaan bukan alasan untuk
memecah belah bangsa.
Jasad Natsir memang sudah dikebumikan pada 6 Februari 1993 di Tanah Kusir,
Jakarta. Namun, teladan dan nilai-nilai yang diyakini akan terus hidup dalam
hati para pengagumnya. Meski belum dianugerahi gelar pahlawan nasional,
Natsir adalah pahlawan sejati bangsa ini. (***)
Add comment Juli 18, 2008