Archive for Juni, 2008

Berencana Menghadapi Gerakan Salibiyah

 

Berencanalah dengan baik

dalam berhadapan dengan

gerakan Salibiyah terencana

 

 Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya  untuk memikirkannya lebih mendalam. Apalagi untuk membicarakannya dengan teman-teman kita secara bertenang-tenang. Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab  bakorong-ketek“.[1]

1. Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.

2. Pihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi biaya pembangunan tidak ada.

3. Akibatnya, pihak masyarakat merasa tidak puas karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.

4. Di Bukittinggi ada agen dari missi asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saya.

 

Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristenisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materi dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka di tengah-tengah ummat Islam. Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti di tengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat” itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daya upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5. Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukakan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama?  Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken

Di pulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum!- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu. Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

 

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katolik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan, mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.

Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.

6. Kalau mereka berpikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat mengadu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :

·         Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan.

·         Pihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.

·         Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang modern, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

 

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7. Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu.

Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya.

Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minangkabau secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya !

Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.    Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?

Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:

a) rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,b) soal asrama untuk tentara,

 

 

b) soal kekurangan rumah sakit yang bermutu lebih baik, ialah dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam.

Atau setidaknya-tidaknya peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.

  Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya. Tapi apabila yang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali manfaatnya.

Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjukkan jalan alternatif yang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missi-missi asing itu :

“Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita coba-coba sama-sama pikirkan.

Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir.

 

 

 

Dan bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern. Dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dsb.

Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal. Yakni asrama yang mencukupi syarat (kalaupun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh  Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut. Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat dikumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.

Kata dari orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.

Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih flexible.  Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama. Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

 

 

 

Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana.

  Saya ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was.

Wassalam, Mohamad Natsir. G

 


 


Catatan

[1]   Surat Bapak DR. Mohamad Natsir yang ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo dan Buya Fachruddin HS. Datuk Majo Indo, bertarikh Djakarta, 20 Juli 1968, adalah merupakan pengamatan Pak Natsir serta pengalaman-pengalaman berdasarkan data-data tentang Gerakan Salibiyah yang sangat terencana.

 

 

 

 

Add comment Juni 9, 2008

Menjaga Kerukunan Umat

Memelihara

Kerukunan Umat

 Oleh : H Mas’oed Abidin

 

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang diketuai Bapak DR. Mohamad Natsir, juga turut dirancang oleh Buya Datuk Palimo Kayo sejak didirikan pada bulan Pebruari 1967. Sebagai organisasi dakwah, maka kepada setiap unsur yang berperan dalam Dewan Da’wah selalu diajarkan supaya memanggil semua orang ke jalan Allah, dengan cara-cara yang diperingatkan supaya memanggil itu dengan hikmah (bijaksana).

Bil hikmah dalam satu masyarakat yang terdiri dari pemeluk-pemeluk berbagai agama, terasa sekali sangat mutlak diperlukannya.[1]

Sebagai telah diyakini bahwa Dakwah Islam adalah perombakan total sikap umat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat. Maka sebenarnya sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain, dakwah tidak akan pernah berhenti, tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap umat Muslim di mana pun mereka berada. Karena itu para pendiri Dewan Da’wah dengan sadar telah menetapkan gerakan dakwah berdasar kepada taqwa dan keredhaan Allah dan tujuan menggiatkan mutu dakwah Islamiyah di Indonesia.

Dalam melakukan kegiatan-kegiatan, Dewan Da’wah menempatkan diri sebagai penerus kegiatan-kegiatan dakwah sebelumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW.

 

Menerima tugas risalah, artinya adalah memanggil umat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatu hasanah. Bapak DR. Mohamad Natsir menyebutkan dengan ungkapan sederhana tapi padat arti ialah “risalah mengawali dan dakwah melanjutkan”. 

Dewan Da’wah sadar benar walaupun tugas risalah Islamiyah yang dibawa Rasulullah SAW bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin). Namun sudah menjadi tabiat pembawaan, bahwa setiap risalah pasti menghadapi tantangan. Menghadapi tantangan itu, diperlukan jawaban-jawaban. Maka tugas dakwah senantiasa mengandung dua segi: bina’an wa difa’an. Pertama: membina mereka yang sudah muslim, baik yang sejak lahirnya, maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah Islamiyah. Kedua: membela Islam dan umatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam, bahkan yang melihat Islam sebagai rivalnya.

Di kala Bapak DR. Mohamad Natsir berkunjung ke Sumatera Barat pada Juni tahun 1968 itu, ada program pokok yang musti dilakukan.

Gerakan Kembali Tangan Umat

a.    Melalui penguasaan keterampilan di desa-desa,

b.    Dalam usaha membina kesejahteraan bersama,

c.    Menghidupkan kembali ekonomi umat di desa-desa. Desa adalah benteng kota dalam artian perkembangan ekonomi yang sesungguhnya.

Keterampilan pertanian dan peternakan terpadu di Tanah Mati Payakumbuh dan pemanfaatan lahan wakaf umat di Rambah Kinali mulai digarap.

 

 

Tujuan utamanya tidak hanya sekedar untuk mendatangkan hasil secara ekonomis namun lebih jauh sebagai wadah pembinaan generasi muda yang tetap harus tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ , syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

Adat dan syari’at memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif. Keduanya menyimpan kekuatan pendorong dan perangsang, force of motivation, menjadi tenaga penggerak, untuk mendinamisasi satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”, dan menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan, untuk mengembangkan kegiatan ekonomis, seperti menghindarkan pemborosan, dan selalu melihat jauh ke depan, yang akan merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

Bapak DR.Mohamad Natsir sebagai seorang the political thinkers atau the political idea philosopher, senantiasa berupaya menggali dan memerankan sungguh-sungguh potensi yang dipunyai masyarakat kecil. Idea dan pemikiran politik Mohamad Natsir adalah berurat di hati umat.

Satu tema menarik: menciptakan masyarakat tamaddun (beradab). Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban liberal yang sekuler. Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi. Konsep membentuk masyarakat semacam ini sangat sejalan dengan salah satu konsepsi pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir dalam ruang lingkup pemikiran Islam. Ajaran agama Islam sanggup bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya, tanpa harus menggadaikan prinsip dasar ajaran Wahyu Allah yang menjadi landasan agama Islam.

 

Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari-hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya. Tetapi semestinya bersifat inklusif, untuk bisa dipahami oleh semua orang.

Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan semua problematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap lapisan masyarakat yang ada mulai dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut.

Pemikiran Bapak DR. Mohamad Natsir sedari awalnya berupaya menjelmakan umat pertengahan (umathan wasathan). Suatu tatanan masyarakat yang kokoh iman dan berakhlak mulia seperti yang dikemukakan ajaran Al Qur’an. Sebagai pemikiran aplikatif terhadap problematika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupakan sebuah keniscayaan. Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan hadir,  karena kesenjangan antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut. Kesenjangan teratasi oleh pembentukan masyarakat self help, selfless help dan mutual help di atas. 

Upaya menjembatani kesenjangan hanya bisa dilakukan melalui amal nyata dengan “Berorientasi kepada ridha Allah SWT.” Suatu keyakinan sangat obyektif bahwa setiap ajaran Islam, pasti mampu memberikan jalan keluar (solusi) terhadap problematika sosial umat manusia.

Ajaran agama Islam berada dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut,  adalah mereka orang-orang yang beriman.

 

Apatisme politik dan bersikap menjadi “pengamat diam” tanpa ada keinginan dan usaha untuk ikut berperan aktif dalam setiap perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah-lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi, yang selalu mengalami perubahan, hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan sikap yang jelas, antaranya ;

·      mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,

·      jangan pikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,

·      apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu, 

·      jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata-kata tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu saja setiap perubahan, baik itu bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini. Setiap mukmin mestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhubungan dengan kehidupan dunia luar dan di sekitarnya.

Sikap hidup menjemput bola, merupakan sikap hidup yang sangat didorongkan untuk dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Sikap dinamis sangat diperlukan mengantisipasi selemah-lemah iman, dan sikap dinamis pula yang menjadi kata-kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi. 

Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam saling membantu dan tidak selalu tergantung kepada orang lain. Ketergantungan akan menempatkan orang terbawa hanyut ke mana-mana.

 

 

Maka menciptakan kekuatan ekonomi dalam masyarakat mesti diupayakan terus-menerus melalui penguatan rakyat kecil (people empowerment) yang menjadi tiang proses kompetisi dunia saat ini. Terutama di dalam menghadapi perkembangan era globalisasi. Maka tujuan dakwah adalah dalam kerangka ibadah dan pembentengan aqidah. Apalagi tatkala umat tengah mempertahankan diri menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.

DR. Mohamad Natsir mengemukakan dalam taushiyahnya bahwa membangun masyarakat besar hanya bisa dicapai dengan penguatan (to strength) melalui masyarakat kecil dan sederhana.  Istilah yang pas untuk menjelaskan hal ini adalah melalui pembentukan cara hidup yang diajarkan agama Islam. Antara lain berdikari atau berdiri di kaki sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain (self help), kemudian membantu orang lain tanpa pamrih dengan ukuran ikhlas karena Allah SWT (selfless help), dan selanjutnya membentuk satu masyarakat yang saling membantu satu dan lainnya (mutual help).

Cara hidup ini merupakan konsepsi pemikiran Islami yang dikembangkan menjadi dasar pembentukan kerjasama di antara warga masyarakat. Bahkan bisa dikembangkan untuk solidaritas antar negara yang mendasari bentuk hubungan internasional yang mampu menciptakan tata perdamaian dunia.

Ketiga dasar tersebut merupakan dasar pembentukan masyarakat tamaddun (beradab), yang bukan hanya bersifat “kebangkitan ekonomi”, tetapi merupakan sesuatu yang bersifat moral (the moral renewance). Dalam “pembersihan moral” ini, maka peranan agama Islam menjadi penting.

 

 

Hidupkan Kembali Lembaga Puro, Tanamkan Ruhul Infaq

·      Hidupkan kembali kebiasaan menabung dan berhemat dalam satu simpanan bernama puro.

·      Juga menghidupkan kebiasaan berinfaq, bersedekah dan berzakat sebagai suatu usaha pelaksanaan syariat Islam,

·      menghimpun dana dari umat yang berada untuk dikembalikan kepada umat yang lemah (dhu’afa).

Perhatian tidak dapat dipalingkan dari perlunya pembinaan para dhu’afa’ serta anak-anak yatim yang memerlukan uluran tangan setiap Muslim. Yang mereka perlukan bukan sekedar makanan dan pakaian akan tetapi adalah juga tempat berlindung dan sarana pendidikan. Memang sudah sejak lama sarana pembinaan anak yatim melalui panti-panti asuhan menjadi perhatian dari Badan-badan Dakwah Islam di tanah air. Tidak dapat dilupakan peran ke-gotong-royongan sebagai buah dari ajaran ta’awun sebagai inti aqidah tauhid.

Upaya yang dilakukan di antaranya untuk memberikan bantuan bea siswa terhadap anak-anak yatim, serta mencarikan Bapak angkat yang akan meng-kafil (membiayai) anak-anak yatim yang berprestasi dan juga mendirikan bangunan darul aitam.

Bertahun-tahun kemudian, membiayai anak yatim melalui lembaga puro atau mengidupkan ruhul infaq telah terbukti. Di antaranya bangunan Panti Asuhan Putera Bangsa Yayasan Budi Mulia Padang yang dilengkapi dengan sembilan lokal ruang belajar dan satu asrama bertingkat untuk anak-anak yatim, yang dimulai pembangunannya pada tahun 1992. Sungguhpun sampai sekarang Dewan Da’wah sebagai Yayasan belum mempunyai panti asuhan anak yatim secara khusus.

 

Hal ini tidaklah berarti bahwa Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia melupakan pembinaan anak yatim. Usaha ini dilakukan secara positif dengan berbagai gerak antara lain melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga-lembaga dakwah dalam dan luar negeri. Kemudian pada bulan September 1997 ditanda tangani piagam kerja sama pembinaan anak yatim tersebut antara Dewan Da’wah dengan Yayasan Budi Mulia di Padang.

Masih berkaitan dengan pembinaan anak yatim ini maka  Dewan Da’wah secara intensif tetap berusaha ke arah penyediaan dana abadi yang secara jangka panjang mampu membiayai keperluan-keperluan anak yatim. Tentu, yang sangat mendesak terarah kepada anak-anak yatim yang berada di bawah Kafil Aitam Dewan Da’wah. Mulai Agustus 1996 dicoba mengusahakan ladang pembenihan bibit ikan untuk keperluan anak yatim di desa Bawan, Kec. Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan budidaya ikan air tawar sistem karamba di Desa Sigiran, Maninjau, yang juga hasilnya diperuntukkan 100% bagi keperluan anak yatim.

Usaha ini baru dalam langkah awal, namun juga berdampak terhadap pendidikan ekonomi pedesaan pada kalangan dhu’afa’ di sekitar proyek-proyek ekonomi yatim tersebut antara lain menerapkan sistem bagi hasil dengan para penduduk pedesaan dimaksud.

Apa yang digambarkan ini, semuanya berawal dari menghidupkan kembali puro, menggerakkan hati umat untuk ikut serta mengulurkan tangan membantu kaum yang lebih lemah (dhu’afa) dengan menanamkan ruhul infaq. G


Catatan

[1]               Lihat DR. Anwar Haryono, SH; Media Dakwah Dzulkaedah 1411/ Juni 1991; Mengingat 24 Tahun Dewan Da’wah.

Add comment Juni 9, 2008

Karya Tulis Mohamad Natsir,

Assalamu’alaiku warahmatullahi wa barakatuh,

Sebenarnya warisan pemikiran Pak Natsir melalui tulisan sangat banyak, tidak hanya 32 buku.

Sepanjang hanyatnya Mohamad Natsir telah menghasilkan karya tulis di dalam berbagai aspek pemikiran.

Karya tulis beliau yang sudah diterbitkan sebanyak 60 buah, di antaranya ;
1. Fiqhud Dakwah, (Jakarta: DDII, t.t.) Cet. IV.
2. Surat-surat Mohamad Natsir dari tanggal 17 Juli-15 Agustus 1958. (T.T. : T.P., t.t.)
3. Bahaya Takut, Jakarta : Media Dakwah, 1991.
4. Capita Selecta I, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), Cet. III.
5. Capita Selecta II, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Pustaka Pendis, 1957).
6. Capita Selecta III, (Naskah Belum Diterbitkan).
7. Fiqhud Dakwah, Djedjak Risalah dan Dasar-Dasar Dakwah, Malaysia : Polygraphic Press, 1981.
8. Selamatkan Demokrasi Berdasarkan Jiwa Proklamasi dan UUD  1945, (T.T.: Forum Silaturrahmi 45, 1984).
9. Islam dan Akal Merdeka, (Jakarta: Media Dakwah, 1988), Cet. III.
10. Azaz Keyakinan Kami. (T.T.).
11. Islam sebagai Dasar Negara, (T.T. : Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957).
12. Revolusi Indonesia, (Bandung: Pustaka Jihad, T.T.). 13. Demokrasi di Bawah Hukum, (Jakarta: Media Dakwah, 1407/1987), Cet. I.
13. Pendidikan, Pengorbanan Kepemimpinan, Primordialisme, dan Nostalgia, (Jakarta: Media Dakwah, 1987), Cet. I.
14. Normalisasi Konstitusional, (Jakarta: Yayasan Kesadaran    Berkonstitusi, 1990).
15. Islam di Persimpangan Jalan, T.T.
16. Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya  yang   Konstitusioanl, T.T.
17. Mempersatukan Umat, (Jakarta: CV Samudra, 1983), Cet. III.
18. Dunia Islam dari Masa ke Masa, (Jakrta: Panji Masyara¬kat, 1982).
19. Islam sebagai Ideologi, (Jakarta: Penyiaran Ilmu, T.T.).
20. Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah,  (Jakarta: Girimukti  Pusaka, 1988).
21. Percakapan antara Generasi, Pesanan Perjuangan Seorang Bapak,   (Malaysia: Dewan Pustaka Islam, 1991).
22. Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam, (Medan:T. P, 1951).
23. Some Observations Concerning the Role of Islam in National and International Affairs, (Ithaca New York : Departement of  Far   Eastern Studies, Cornell University, 1954), Penerbitan XVI.
24. The Role of Islam in the Promotion of National Resil¬ience, (Jakarta: T.P., 1976).
25. Membangun di Antara Tumpukan Puing dan Pertumbuhan, (Djakarta : Kementerian Penerangan RI, 1951). 
26. Marilah Shalat, Jakarta : Media Dakwah, 1981.
27. Mencari Modus Vivendi antara Umat Beragama di Indonesia, (Jarta: Media Dakwah, 1983).
28. Asas Keyakinan Agama Kami,(Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah, 1984).
29. Bahaya Takut, (Jakarta: Media Dakwah, 1991).
30. Kumpulan Khutbah Idul Fithri/Adhha, (Jakarta: Media Dakwah,1978).
31. Kumpulan Khutbah Hari Raya, (Jakarta : Media Dakwah, 1975).
32. The New Morality, (Surabaya: Perwakilan DDII, 1969).
33. Tinjauan Hidup, Widjaja, Djakarta, 1957.
34. Kom Tot Het Gebed (Marilah Shalat), (Jakarta: Media Dakwah, 1981).
35. Keragaman Hidup Antar Agama, Djakarta : Hudaya, 1970.
36. Hidupkan Kembali Idealisme dan Semangat Pengorbanan, Djakarta : Bulan Bintang, 1970.
37. Gubahlah Dunia dengan Amalmu, Sinarilah Zaman dengan Imanmu, Djakarta : Hudaya, 1970.
38. Kubu Pertahanan Mental dari Abad ke Abad,(Surabaya: T.P., 1969).
39. Tauhid untuk Persaudaraan Universal, (Jakarta: Suara Masjid, 1991).
40. Hendak ke mana Anak-anak Kita Dibawa oleh PMP,(Jakarta: Panji  Masyarakat, 1402 H.).
41. Islam dan Akal Merdeka,(Tasikmalaja: Persatoen Islam bg. Penjiaran, 1947).
42. Islam Mempunyai Sifat-sifat yang Sempurna untuk Dasar Nega ra, (Jakarta: T.P., 1957).
43. Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat, (Jakarta: Bulan bintang, 1980).
44. Dakwah dan Pembangunan,(Bangil: Al-Muslimun, 1974).
45. Tolong Dengarkan Pula Suara Kami,(Jakarta: Panji Ma¬syarakat,   1982).
46. Buku PMP dan Mutiara yang Hilang,(Jakrta: Panji Masyar¬akat, 1982).
47. Di Bawah Naungan Risalah, (Jakarta: Sinar Hudaya, 1971).
48. Ikhtaru Ihdas Sabilain, Addinu wa la al-Dinu, (Jeddah: Al-dar al-Saudiyah, 1392 H.).
49. Islam sebagai Ideologi, ( Jakarta :  Penyiaran Ilmu, t.t.).
50. Islam dan Kristen di Indonesia, (Bandung: Pelajar Bulan Sabit, 1969).
51. Pancasila akan Hidup Subur Sekali dalam Pangkuan Islam, (Bangil: T.P., 1982).
52. Cultur Islam, (Bandung: T.P., 1936).
53. Dari Masa ke Masa,(Jakarta: Yayasan Fajar Shadiq, 1975).
54. Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat,(Jakarta: Bulan Bintang, 1980).
55. Bersama H.A.M.K. Amarullah, Islam Sumbergia Bahagia, (Bandung: Jajasan Djaja, 1953).
56. Dengan nama samaran A. Moechlis, Dengan Islam ke Indonesia Moelia, (Bandung: Persatuan Islam, Madjlis Penjiaran, 1940).
57. Agama dan Negara dalam Persfektif  Islam (Kumpulan Karangan), Penyunting, H. Endang Saifuddin Anshari dan LIPPM (Jakarta: 1409-1989, belum diterbitkan /masih monograph).
58. Asas Keyakinan Agama Kami, (Jakarta: DDII, 1982).
59. Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya yang Konstitusional, (Jakarta: TP, 1985).
60. World of Islam Festival dalam Persepektif sejarah (Jakarta : Yayasan Idayu, 1976).

Itu tulisan Pak Natsir yang terkumpulkan di luar pidato, khutbah makalah, dan lain sebagainya.

Memang beliau adalah Khadimul Ummah.

Semoga Allah SWT mengampuni kesilapan-kesilapan beliau,
menerima amal ibadah beliau,
menempatkan beliau pada Jannah yang menjadi cita dan harapan setiap mukmin dan mujahid dakwah.
Amin.
Wassalam,
BuyaHMA

— In surau@yahoogroups.com, boes <boes@…> wrote:
>
> ….[tercatat disini 32 buku karangan Pak Natsir tentang Islam,
> suatu usaha yg sungguh2]……..————— cut —————

> wassalam
> bpes
>

Add comment Juni 9, 2008


Halaman

 

Juni 2008
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Blogroll

Meta

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

Blog Stats

Klik tertinggi

Tulisan Teratas

Pengarang

Spam Blocked