Bai’atul Qurba, Pesan Dakwah Mohamad Natsir
April 22, 2008
BAI’ATUL QURBA
|
Bai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan, pesan “pemimpin”, 1) Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala : Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru. Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Dalam pada itu, perlu diingat bahwa secepat-cepat terbangnya pesawat jet, dia tidak akan bisa tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali. Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup. Yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Ini seringkali pula pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan. Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Kecenderungan penduduk di bidang ekonomi terfokus semata hanya kepada mencari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian mereka. Ini seringkali “dilupakan” pula. Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru. Memulai dari urat masyarakat itu sendiri. Umat yang mempunyai shibgah dengan corak kepribadian yang terang. Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform“. Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu. Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang efektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar. Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yang terus berkembang dan penghematan devisa, mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah secara besar-besaran. Bisa pula memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain. Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini. Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat dengan honorarium yang lumayan. Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian, maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam di kalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa (masyarakat lemah) ini dalam bentuk yang lain dari pada sekedar ; “meminta nasi bungkus”. Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah didukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan : hidup dan memberi hidup (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup; tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun); keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari dalam, bukan lantaran penggembalaan dari luar; ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ; keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a; Ini shibgah yang hendak dipancangkan ; Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan berkeberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah. Kita sekarang merintis. Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana. Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan. Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak…. Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan, untuk hanya kepentingan individu semata, demi memelihara diri sendiri-sendiri, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali. Agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata. “kok io kito ka badunsanak juo ……….!” Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi, dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap. Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar (Al Hadist). Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba“, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini …. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing. B i s m i l l a h ! Dari sini kita mulai !
Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi. Di sinilah letaknya ruhul jihad.
Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal. “ bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati, dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua“. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.
Semboyan kita adalah, Yang mudah sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang tak mungkin kita kerjakan beresok,
Dengan mengharapkan hidayah Ilahi, ” Katakanlah, Wahai Kaumku, Berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuanmu, Akupun berbuat ….” ! Bangunan SURAU – SOEKOE di masa doeloe yang dibangun sederhana, kokoh dengan misi Membina Umat Dakwah di Nagari-Nagari di Minangkabau TANYA DAN DO’A [1]
Tentang hidup di desa ini Dari dahulu sampai kini Banyak, cerita ku dengar Dan pengalaman dan penderitaan dirasa Hidup dilingkungan bahan bertimbun Terlena dibuai nyanyian alam Alpa menggali aneka guna Meranalah hidup hampir tak punya,
Dini hari …………….
Dalam upacara ini ………… Berdegup jantungku merangkum tanya Munajat jiwaku memohon do’a. Adakah ini mula masanya desauan air sungai ngalau dicelah celah batu ini bertukar derum mesin diruang pabrik lambaian bambu mendaduhkan daun-daun ini berganti cerobong tinggi mengepulkan asap, gerobak bemo, pedati kayu, ditarik insan mandi keringat bertukar rupa truk, dan gerbong menyilang siur, punggung membungkuk meranting tulang mendukung derita menjelma manusia-manusia baru makmur bahagia ……. Ridha (Buchari Tamam), Balingka, Nopember 1963. [1] Ditulis oleh Ridha, nama samaran Buchari Tamam.
Entry Filed under: Buku Buya, Dakwah Komprehensif, Minangkabau, Mohamad Natsir, Pesan Pesan Dakwah. . 1 Comment Add your ownLeave a CommentSome HTML allowed: Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed HalamanArsipBlogrollMetaTulisan Terakhir
Komentar Terakhir
Blog Stats
Klik tertinggiTulisan TeratasPengarangSpam Blocked |
1.
Bai’atul Qurba, Pesan Dakwah Mohamad Natsir « Mohamad Natsir’s Weblog « blog Buya Mas’oed Abidin | April 22, 2008 at 2:23 am
[...] Bai’atul Qurba, Pesan Dakwah Mohamad Natsir « Mohamad Natsir’s Weblog Bai’atul Qurba, Pesan Dakwah Mohamad Natsir « Mohamad Natsir’s Weblog [...]