Natsir, Politikus Intelektual Oleh ANWAR IBRAHIM (Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia)

12 Jan 09

Natsir, Politikus Intelektual

Oleh ANWAR IBRAHIM
(Mantan Wakil Perdana Menteri
Malaysia)
PERTEMUAN pertama dengan Pak Natsir adalah juga introduksi saya secara intim dengan Indonesia . Perkenalan itu terjadi pada 1967, ketika hubungan diplomatik di antara kedua negara— Indonesia dan Malaysia —pulih setelah mengalami konfrontasi. Sebelum pertemuan itu, saya hanya menghidu Indonesia dari sedikit pengetahuan sejarah melalui novel-novel Abdoel Moeis, Marah Roesli, Hamka, dan lain-lain.

Pada masa konfrontasi, saya terpukau oleh pidato-pidato Soekarno di hari Lebaran melalui Radio Republik Indonesia siaran Medan , yang saya dengar di kampung saya di Pulau Pinang . Ayah saya, yang ketika itu anggota parlemen dari partai pemerintah, ternyata tak senang dengan keasyikan saya ini.
Maka, ketika Himpunan Mahasiswa Islam yang dipimpin Cak Nur menyambut saya dan beberapa pemimpin mahasiswa Malaysia di Indonesia, tak ubahnyalah itu laksana menemui kekasih yang belum pernah ditemui. Rekan-rekan HMI, seperti Fahmi Idris, Mar’ie Muhammad, dan Ekky Syahruddin membawa saya, yang ketika itu baru berumur sekitar 20 tahun, menemui Pak Natsir.

Karena saya begitu muda, dan melihat Pak Natsir sebagai mantan perdana menteri, pernah memimpin Masyumi—aliansi partai dan organisasi Islam yang terbesar di dunia—saya lebih banyak mendengar dari berkata-kata.
Apa yang terkesan bagi saya hingga hari ini dari pertemuan yang pertama itu adalah sosok, sikap, dan tingkah beliau yang amat sederhana. Selepas pertemuan dengan Pak Natsir, saya ke Bandung, dan di sana saya dibawa ke sebuah toko buku Van Hoeve yang secara zahirnya kelihatan usang dan berdebu. Toko buku tersebut merupakan penerbit karya-karya besar kajian Indonesia, seperti karya Van Leur, Indonesian Trade and Society, dan karya B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies.
Di toko itu, dan di atas lantainya yang berdebu, saya menemukan kedua buku tersebut serta dua jilid Capita Selecta, lantas membelinya.
Sejak zaman muda saya memang memberikan perhatian terhadap peran, ide, gagasan, serta ideologi dalam perjuang­an dan gerakan politik. Saya kagum terhadap intelektualitas dan gagasan para filsuf.
Melalui Capita Selecta saya tampak sosok intelektual Mohammad Natsir. Melaluinya saya mengenali Henri Pirenne, nama yang kini mungkin kurang dikenal, tapi di masa itu tesisnya mencetuskan polemik besar di universitas-universitas di Eropa dan pengkaji-pengkaji tamadun Barat. Muhammad et Charlemagne, yang ditulis oleh Pirenne, melontarkan gagasan bagaimana Islam menjadi faktor penentu ­dalam sejarah Eropa.

Ketika itu tesis ini sungguh radikal, tapi sekarang sudah diterima umum di kalangan sarjana bahwa tanpa Islam, tamadun Barat tidak akan menghasilkan renaisans, tradisi rasionalisme, dan humanisme.
Sejak pertemuan pertama itu, setiap ke Jakarta dan mengunjungi Pak Natsir, saya diperkaya oleh imbauan baru berkaitan dengan isu umat Islam, sosial, dan politik mutakhir.

Tatkala saya sudah membentuk Angkatan Belia Islam Malaysia , beliau senantiasa mengingatkan saya akan realitas sosial di Malaysia, dengan kehadiran jumlah masyarakat Cina , India , dan lain-lainnya yang substantif. Beliau sangat positif dan senantiasa menggalakkan interaksi serta dialog di antara organisasi Islam dan masyarakat bukan Islam. Sewaktu menjadi Menteri Keuangan, tatkala memacu pertumbuhan ekonomi, saya sering meng­ulangi pesan Mohammad Natsir, jangan kita membangun sambil merobohkan: membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan.
Pada 2004-2006 saya di Universitas Oxford , Inggris, dan beberapa universitas lainnya di Amerika Serikat, khususnya di Universitas Georgetown . Di universitas ini saya memberikan mata kuliah yang khusus tentang rantau ini, karena selama ini kajian Islam kontemporer hanya bertumpu di Timur Tengah dan negara-negara Arab, tempat resistansi terhadap demokrasi begitu kuat, sehingga muncul persepsi bahwa Islam tidak sejajar ataupun compatible dengan demokrasi.
Saya merasakan pengkaji-pengkaji Islam kontemporer di Barat tidak berlaku adil terhadap Natsir dan perjuangan umat Islam Indonesia umumnya. Sekiranya mereka mengkaji pemikiran Natsir dan Gerakan Masyumi serta sejarah ”demokrasi konstitusional” di Indonesia sebelum dihancurkan oleh Orde Lama, persoalan compatibility atau kesejajaran Islam dan demokrasi itu tidak akan timbul. Satu-satunya sarjana Barat yang berlaku adil terhadap Natsir dan Masyumi sebagai pelopor constitutional democracy di dunia membangun selepas Perang Dunia Kedua ialah sarjana besar Herbert Feith, yang magnum opus-nya berjudul The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia.
Namun saya tidak melihat Pak Natsir sebagai demokrat yang terisolasi. Beliau berada di dalam tradisi Islam Indonesia yang inklusif, dari tokoh seperti Oemar Said Co­kroaminoto, Agus Salim, dan Wahid Hasyim.

Di negara Arab kita menyaksikan pembenturan yang tajam antara tokoh-tokoh sekularis dan tokoh-tokoh islamis, antara Taha Hussain dan penghujah-penghujahnya dari Universitas Al-Azhar. Di Indonesia saya tidak menyaksikan pertembungan yang sebegini antara Sutan Takdir Alisjahbana yang memiliki orientasi yang hampir sama dengan Taha Hussain dan tokoh-tokoh Islam.

Negosiasi kreatif antara intelektual sekuler tapi tidak bermusuhan dengan Islam, dengan intelektual muslim yang ditampilkan oleh Natsir, amat bermakna bagi generasi muda muslim di Malaysia.

Di Kuala Lumpur hari ini terdapat anak-anak muda yang mengunyah Polemik Kebudayaan, tapi mereka juga sebahagian dari gerakan Islam yang meneliti Capita Selecta. Debat Natsir-Soekarno tentang negara Islam dan sekularisme juga menarik bagi mereka dan mereka kira masih relevan dalam negosiasi Islam serta ruang awam di Malaysia .
Tapi tulisan Natsir yang paling tersebar luas di Malaysia­ ialah Fiqud Dakwah. Saya selaku Presiden ABIM ketika itu mencetaknya, termasuk menerbitkannya ke dalam edisi­ Jawi dan menjadikannya teks usrah ataupun grup studi ka­mi.­ Saya begitu terkesan oleh buku ini karena metode dak­wahnya bersifat moderat dan berhikmah.

Melalui metode ini, ABIM dapat melebarkan sayapnya hingga menjadi orga­nisasi massa dan gerakan Islam yang bergaris sederhana.
Pada awal 1980-an, ketika saya sedang menjabat Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan, saya berkunjung ke Indonesia . Saya ingin menemui Pak Natsir di kediamannya, tapi beliau lebih dulu menemui saya di hotel. Saya sangat terharu karena sikapnya yang merendah, sedangkan dia merupakan pemikir Islam besar. Maka saya mengundang beliau ke kamar untuk bersarapan pagi.
Natsir sedang menghadapi tekanan dari pemerintah, karena dia terlibat dengan Petisi 50. Ternyata pertemuan itu menimbulkan keributan di kalangan intel Orde Baru. Maka, ketika saya menemui Pak Harto, saya jelaskan bahwa Pak Natsir ibarat bapak saya di Indonesia dan bahwa pertemuan kami hanya mengobrol secara umum tentang umat Islam di Pakistan dan Arab Saudi. Pak Harto hanya diam mendengar penjelasan saya.

Terakhir kali saya selaku Timbalan Perdana Menteri menemui Pak Natsir di hospital ketika beliau sedang tenat. Suasana memilukan dan menyayat hati, saya sedih melihat keadaan hospital, dan saya merasakan layanan sebegini tidak layak untuk seorang pemikir Islam besar. Saya rasa wajar beliau mendapat layanan yang lebih baik.

Beberapa bulan kemudian, saya mendapat berita beliau telah berpulang ke rahmatullah. Beliau sudah pergi, tapi legasinya masih menanti apresiasi yang adil dari luar rantau ini.
*Artikel ini telah disiarkan dalam majalah Tempo edisi 14 Julai 2008.

http://anwaribrahimblog.com/2009/01/12/natsir-politikus-intelektual/#more-4838

Add comment Januari 12, 2009

Seminar tentang Natsir di Univ. Islam Antar Bangsa di Kuala Lumpur, Malaysia

Seminar 100 Tahun M. Natsir di Malaysia

Laporan Afriadi Sanusi

Belum pernah ada acara seratus tahunan di Indonesia yang meriah dan dihadiri oleh peserta seramai ini kata seorang presenter dari Indonesia.

Pusat konvensyen Kolej Universiti Islam antarabangsa itu dipenuhi dengan peserta yang membludak sampai ke atas dan ada yang berdiri.


Makalah habis dan harus di cetak ulang, banyak yang tidak dapat tanda nama sebagai peserta, makanan kurang karena peserta terlalu banyak yang hadir dan di luar dugaan panitia.

Rasa beruntung saya hari ini karena dapat menghadiri acara seminar 100 Tahun M. Natsir walaupun mendapat sms dari kawan Muhammadiyah di hari-hari terakhir.

Ceramah pertama tentang M. Natsir disampaikan oleh Menteri Besar Selangor Tansri Abdul Khalid Ibrahim  yang menceritakan panjang lebar tentang Natsir yang membuat saya malu sebagai orang Indonesia.

Di saat acara pembukaan dan pidato tentang Natsir disampaikan oleh Datuk Seri Anwar Ibrahim saya bertambah malu sekali.

Ternyata orang lain lebih mengenal dan menghargai Natsir sebagai tokoh yang dihormati daripada saya sebagai anak bangsa Indonesia dan berasal dari daerah yang sama dengan Natsir.

Saya melihat beberapa kawan Malaysia yang membuat thesis PhD juga hadir dan nampak berminat sekali dalam seminar itu.


Turut hadir adalah para saksi hidup dan pengkaji tentang M. Natsir, seperti oleh anak almarhum Ibu Asma Faridah Saleh,  Prof Dr Redzuan Othman sebagai moderator, Dato` Dr Sidiq Fadzil dan pembicara antara lain oleh Prof Dr Laode M. Kamaluddin, Chrish siner Key Timu, Prof Madya Muhammad Nur Manuty, Syuhada` Bahari, Prof Dr Mohd Kamal Hasan, Dr Gamal Abdul Nasir Hj Zakaria dari Brunei dan ditutup dengan sebuah resolusi oleh Hj Ab.Halim Ismail dan Dato` Haji Mohd Adnan Isman.

Dengan tema “berdakwah di jalur politik dan berpolitik dijalur dakwah” para pemakalah menyampaikan keunggulan Natsir sebagai seorang pendakwah, politikus, ahli agama, pendidik dan sebagainya.

Menyinggung mengenai politik dakwah and kacau balaunya suasana perpolitikan Nasional saat ini, maka penulis teringat akan kepribadian Natsir yang dapat menyatukan Islam traditional, Islam modern dan berbagai kelompok Islam lainnya dalam satu wadah partai bernama Masyumi.

Saat ini terdapat banyak sekali partai Islam atau partai yang mengaku Islami. Saya sebagai orang yang agak terpelajar saja bingung, apalagi masyarakat awam dikampung yang tidak begitu membaca berita.  Dan nampaknya kelebihan satu partai Islam saat ini hanya mampu  mengurangi suara partai Islam lainnya saja dan tidak mampu mengurangi suara-suara yang ada di partai Golkar atau PDIP serta partai lainnya.

Kekuatan Natsir yang saya lihat adalah bahwa beliau ikhlas dalam berjuang.

Keikhlasan inilah yang membuatnya melihat segala penderitaan, siksaan dan kesusahan yang dialaminya bagaikan sebuah irama yang merdu, bagaikan hidangan yang nikmat dan bagaikan keindahan panorama yang begitu mempesona.

Bangi, 10 January 2009

Afriadi Sanusi
PhD Candidate,

Dept.of Islamic Political Science University of  Malaya,  Kuala Lumpur

2 comments Januari 12, 2009

Mohamad Natsir, “Empat Cata Pemimpin Pulang”

 

Pemimpin Pulang

 

Empat cara pulang bagi Pemimpin

dari Perjuangan.

 

Dia pulang dengan kepala tegak,

membawa hasil perjuangan.

 

Dia pulang dengan kepala tegak,

tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku,

atau lebih dari itu,

riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan

bagi para Mujahidin seterusnya.

 

Dia pulang.

Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal

di Medan Jihad.

Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup

dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim,

serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya.

 

Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai,

hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul.

Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur.

Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang

Entah pabila umat itu akan bangkit kembali,

mungkin akan diatur  oleh Ilahi dengan umat yang lain,

yang lebih baik, nanti

 Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip

.

Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.

Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah.

Ia belum pulang.

 

                  Mohamad Natsir   

                         Medan Djihad, 24 Agustus 1961 M/ Maulid  1381 H.

 


 

 

 

Bab – Satu

 

TASYAKUR NIKMAT

 

 

 

 

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat.

 

       Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini.

       Apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.

       Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

       Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu:

 

 

 

 

 

       Dan Ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-KU), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS.14, Ibrahim : 7).

       Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri. Yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

       Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan. Yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah.

       Baru saja merasakan luka-luka terkoyaknya perang saudara semasa rezim Soekarno, selama 3½ tahun lamanya.

       Banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak pula keruntuhan yang harus dibangun.

       Langkah-langkah yang digariskan itu, tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

·        penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

·        perumahan rakyat yang hangus terbakar

·        sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

·        luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

·        kehancuran pendidikan agama.

 

       Nopember 1961, terjadi lagi satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor.

       Dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan.

       Sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang diberi nama Yayasan Tunas Harapan.

       Kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.

       Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat, walau dengan segala akibat yang harus dilalui.

       Para pemimpin umat itu, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.

       Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan di Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, maka Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang.

       Bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat.

       Terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar dari Bapak Mohamad Natsir, berupa taushiyah yang akan diperpegangi.

       Dengan pedoman yang telah digariskan secara rinci oleh Bapak Mohamad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan. Maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut.

       Menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.

       Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan. Segi psikologis, masyarakat kita masih diliputi oleh rasa takut. Dan dengan alas an didalilkan demi untuk menjaga keamanan yang bersangkutan.

       Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, telah pula berhasil.

       Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung. Secara timbal balik dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung) itu.

       Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakan PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halaman, negerinya itu.

       Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya. Untuk mendorong kembali kehidupan rakyat. Menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan.

       Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu.

       Yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Pak Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).

       Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohamad Natsir  terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk. Yang selalu digoreskan Beliau, walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”.

       Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin lain seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, Duski Samad, dan banyak lagi yang lainnya.

       Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak Mohamad Natsir disambut baik. Tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan. Tetapi juga oleh berbagai kalangan.

       Lahirnya suatu pandangan yang sama, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada rajinnya tangan dan tumbuhnya usaha-usaha di rumah tangga”.

       Dengan memulai program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan kerajinan tangan dan home-industri. Waktu itu tahun 1962.

       Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing.

       Berbekal amanat (taushiyah) supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat.

       Dimasa itu Bapak Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

       Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid. Pertemuan itu membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni merawat sutera alam dan membuat tikar mendong harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat.

       Gerakannya perlu dilaksanakan melalui kursus dan latihan.

       Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka. Di ikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

       Bayangan masa depan mulai menyeruak penuh harapan. Sungguhpun ketika itu, nafas masih berhembus di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI. Namun dari sudut ke sudut hati setiap peserta, telah merayap suatu keyakinan bahwa setiap usaha akan berhasil bila diiringi kesungguhan.

       Barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar. Kadang kala, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

       Semboyan kita ialah :

¨     Yang  m u d a h sudah dikerjakan orang

¨     Yang  s u k a r  kita kerjakan sekarang

¨     Yang  tak mungkin          kita kerjakan besok

¨     Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

 

 

 

 

 

       Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah diantara kita yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan mendapat  keberuntungan“. (QS.6, Al An’am : 135).

       Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak Mohamad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting.

       Sedari dulu di pertengahan November 1961.

       Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria. Dirasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanita-wanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

       Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga, seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura. Dan juga pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang. Termasuk pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor. Terutama oleh kalangan “bundo kandung”, kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis.

       Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan. Mengembangkan penanaman sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash[1], di tengah mana Bapak Mohamad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta. Bibit yang dikirimkan tersebut disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga.

       Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar akan mendatangkan hasil yang melegakan. Apalagi bila disertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang“.

       Taushiyah ini, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima. Diterima sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’.[2]

       Dan seorang keluarga yang menerima pesan itu, antaranya Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru. Beliau mengungkapkan taushiyah tersebut dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..“. Pesan itu, akhirnya merupakan buhul yang kian saat makin erat, sebagai modal utama untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepada Fiatin Qalilatin[3]

 

“ Minal ‘Aidin Wal Fa-izien”

 

 

Telah bertingkah guruh dan petir,.

Seakan kilat hendak menyambarmu,

Telah Menghitam awan di hulu,

Seakan gelamat hendak melandamu.

 

Telah berdendang lagu dan siul,

Seakan Rayuan membawamu hanyut,

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil hamd”.

 

Hanya Allah Yang Maha Besar

Kepada Nya pulang puji dan syukur,

Kembalilah kamu kedalam Hidayat dan Taufiq Nya.

Di sana letak Pangkalan merebut Kejayaanmu.

 

Pancangkan Petunjuk Ilahy dalam Kalbumu,

“Cukuplah Allah bagimu tempat berlindung

Dia-lah yang akan menegakkan pendirianmu,

Dengan pertolongan langsung dan pada Nya”,

‘ Dan Kekuatan Mukminin sama se-iman’ 

 

“Iannahu laa yukhliful mie-‘aad !

“Minal ‘aidin Wal Faa-izin !”

 

 

Mohamad Natsir


 


[1] Rumah Tahanan para pemimpin umat di Batu Malang, Ambarawa, atau Wisma Keagungan di Jakarta.

[2] Bai’atul qurba, adalah bai’at kekeluargaan dalam memelihara Iman dan Persaudaraan, sebagai modal utama menjaga keutuhan bangsa.

[3] Fiatin Qalilatin, adalah istilah Kitab Suci Al Quran untuk menyebutkan kelompok terpilih dan teruji ketangguhannya (selected minority). Silected minority (fiah qalilah) bila teguh dalam memegang prinsip, Insya Allah akan mampu menghadapi kekuatan yang lebih besar (fiah katsirah)., tentu saja dengan idzin Allah. Kuncinya adalah Iman dan Persaudaraan yang ikhlas sesama. Kepedulian bersama, sesungguhnya lebih mulia dari hanya kepentingan diri sendiri. 

Add comment Agustus 17, 2008

Pejuang tak pernah mati, walau disanjung atau terbunuh, dia berjuang untuk bangsanya, mereka tak pernah meminta tanda jasa. Lihat Tan Malaka demikian juga Natsir. Keduanya adalah penghulu ninik mamak di Minangkabau, yang satu bergelar Datuk Tan Malako dari Luhak Limopuluah Koto, dan seorang lagi bergelar Datuk Sinaro Panjang dari Maninjau Luhak Agam.

[R@ntau-Net] KOMPAS => Debat Tan Malaka, Darurat Perang Jenderal Sudirman

Sunday, August 3, 2008 6:46 PM
From:

Add sender to Contacts

To:
RantauNet@googlegroups.com
Membaca artikel Sabam Siagian, “Tentang Tan Malaka” (Kompas, 12/7) yang menanggapi tulisan saya, “Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional” (Kompas, 7/07), ada hal-hal yang ingin dikesankan mantan Dubes RI untuk Australia itu.

Pertama, politik diplomasi Syahrir seolah tak bermasalah bagi TNI dan pejuang sehingga kombinasi politik diplomasi dan pertahanan disimpulkan telah melahirkan Indonesia merdeka.

Kedua, negara memiliki legitimasi mengeksekusi Tan Malaka atas nama keadaan darurat perang guna “memikul wibawa penuh Panglima Besar Letjen Sudirman”.

Dwitunggal

Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik menyatakan, dwitunggal tidak hanya satu pasang—Soekarno-Hatta—tetapi ada dua pasang lagi: Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Sudirman. Saya ulas pasangan ketiga, Tan Malaka-Sudirman.

Bagi Tan Malaka, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah harga mati. Kompromi para pemimpin politik menghadapi Belanda adalah naif dan melelahkan. Maka, Tan Malaka bersama 139 organisasi (Masyumi, PNI, Parindra, PSI, PKI, Front Rakyat, PSII, tentara, dan unsur laskar) menggelar Kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto, 4-5 Januari 1946. Sudirman hadir sebagai unsur tentara.

Setelah mempelajari gagasan Tan Malaka, kongres yang dilanjutkan di Solo, 15-16 Januari, dengan 141 organisasi mengesahkan rancangan Tan Malaka yang disebut “Minimum Program”.

Program itu untuk mengatasi aneka masalah, seperti pertentangan antara pimpinan negara dan pemuda/rakyat, konflik antarpejuang, dan sikap Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda di Indonesia. Sebutlah itu konsolidasi para pejuang. Kehadiran Sudirman dalam kongres itu adalah poin utama hubungan politik Tan Malaka-Sudirman. Tan Malaka mencatat ucapan Sudirman saat itu, “Lebih baik kita di atom daripada merdeka kurang dari 100 persen.”

Sudirman dikenal tegas, melindungi anak buah, dan tidak kenal kompromi. Ketidaksetujuannya pada diplomasi tergambar pada sikap tetap bergerilya daripada menyerah meski kesehatan Sudirman sakit parah. Sikap menyerah Soekarno dan Hatta kepada Belanda oleh sebagian orang dinilai cara taktis menghadapi diplomasi internasional. Namun, itulah yang membedakan kedua pasang pemimpin itu. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan adalah 100 persen dan bagi Sudirman “tentara tidak kenal menyerah”.

Bagi keduanya, tidak ada lagi penjajahan Belanda dengan segala siasatnya. Perundingan adalah siasat Belanda seperti terjadi dalam hasil Perjanjian Linggarjati dan Renville. Dan Belanda tetap menekan pemerintah dengan Agresi Militer I (13 Juli 1947) dan II (18 Desember 1948). Akibatnya, TNI harus hijrah dari satu tempat ke tempat lain, meninggalkan kantong pertahanan, yang amat menjengkelkan Sudirman.

Saat di pemerintahan pengungsian Yogyakarta muncul kemelut antarpemimpin, saat itu juga terjadi penangkapan terhadap kelompok Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng yang dilakukan Pesindo (kelompok Syahrir) pada 17 Maret dan 16 Mei 1946. Hubungan dwitunggal itu berlanjut saat Sudirman menugaskan Mayjen Sudarsono membebaskan tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng: Tan Malaka, Adam Malik, Chairul Saleh, Muwardi, Abikusno, M Yamin, Sukarni, dan lainnya. Semua dibebaskan. Atas perintah lisan Sudirman, Mayjen Sudarsono menangkap Sutan Sjahrir dan dilepaskan 1 Juli 1946 karena campur tangan Soekarno.

Tuduhan kudeta lalu diarahkan ke kelompok Tan Malaka saat terjadi peristiwa 3 Juli 1946, di mana Mayjen Sudarsono mendatangi Soekarno-Hatta di Yogya, mendesak agar memecat Syahrir. Soekarno-Hatta menolak dan Amir Syarifuddin (Menteri Pertahanan) menangkap Tan Malaka/Persatuan Perjuangan termasuk Mayjen Sudarsono.

Meski tuduhan kudeta tidak terbukti di Mahkamah Agung Militer, dan Jenderal Sudirman ikut bersaksi. Tidak adanya pembelaan Sudirman kepada Tan Malaka dan kawan-kawan merupakan tanda tanya. Namun, ini tidak dapat ditafsirkan Sudirman meninggalkan teman-temannya. Kemungkinan, Sudirman tunduk kepada sumpah prajurit, patuh kepada Panglima Tertinggi APRI Soekarno dan pengaruh intelektual Hatta.

Tak sekeji itu

Saya tidak percaya uraian Sabam bahwa karena pengumuman Darurat Perang Panglima Besar Sudirman, maka Surachman dan Sukotjo mengeksekusi Tan Malaka (21 Februari 1949). Sudirman tidak sekeji itu. Juga tidak diyakini, Hatta bagian komplotan itu. Diyakini, yang terjadi adalah panafsiran berbeda di antara faksi-faksi tentara di lapangan. Juga penafsiran legalisme Sabam tentang kegiatan Tan Malaka yang menjadikan dirinya Pemimpin Revolusi Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap dan dibuang ke Sumatera. Dikesankan, Tan Malaka seolah mengesampingkan peran Pemerintahan Darurat RI (PDRI).

Saya tidak yakin semua pemimpin pejuang di lapangan tahu telah dibentuk PDRI begitu Soekarno-Hatta ditangkap. Adalah masuk akal jika inisiatif Tan Malaka mengambil alih pimpinan (jika Sabam benar) untuk menghindari kekosongan kekuasaan berdasar Testamen Politik Soekarno, Oktober 1945 (“…jika saya tiada berdaya lagi, saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka….”), tindakan Tan Malaka sah menurut logika hukum.

Bung Sabam perlu tahu, TB Simatupang dan dr J Leimena sempat tergugah mengisi kekosongan kekuasaan itu karena tidak tahu bahwa sudah terbentuk PDRI di Sumatera. Komunikasi radio RI saat itu amat terbatas.

Catatan lain adalah pemerintahan Hatta tidak menunjukkan tanggung jawabnya jika benar itu sebuah eksekusi terhadap Tan Malaka. Tan Malaka bukan hewan, dia pemimpin dan pejuang mendahului Hatta dan Soekarno. Rezim bahkan sengaja menutupi kematian Tan Malaka. Ada yang menyebut Tan Malaka dibunuh di pinggir kali lalu dihanyutkan, dan sebagainya. Hingga kini, negara tampak tak ingin mengungkap temuan Harry Poeze tentang kuburan Tan Malaka di Selopanggung, Kediri. Jika negara tidak bertanggung jawab bukankah itu sebuah pembunuhan?

Setelah terjadi pembunuhan terhadap Tan Malaka, Hatta memberhentikan Sungkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur dan Surachmat sebagai Komandan Brigade karena kesembronoan mengatasi kelompok Tan Malaka. Agaknya, fakta ini pula yang mendorong Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional, 28 Maret 1963.

Oleh ZULHASRIL NASIR, Guru Besar UI
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/26/01292431/darurat.perang.jenderal.sudirman

Add comment Agustus 5, 2008

Pandangan Peneliti LIPI sebagai pandangan ilmuan pendendam

Supaya lebih jelas dan tidak keliru atas tulisan Asvi Warman Adam saya
postingkan tulisannya di kompas tanngal 17 Juli 2008 , diambil dari
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/17/00452911/natsir.pahlawan

—-

Natsir Pahlawan Nasional Jul 20, ‘08 10:25 AM
Oleh Asvi Warman Adam

Tanggal  17 Juli 2008, tepat 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Kali
ini,  peringatan tidak hanya mengenang pemikiran dan kepribadian tokoh
yang bersih dan konsisten, tetapi ada usul untuk mengangkatnya sebagai
pahlawan nasional.

Mohammad  Natsir  berjasa  mengembalikan  bentuk  pemerintahan federal
menjadi  negara  kesatuan. Ia yang prihatin dengan proses disintegrasi
negara-bangsa  berpidato  pada  sidang  DPR Republik Indonesia Serikat
(RIS) tanggal 3 April 1950 yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir.

Negara kesatuan

Ia  mengusulkan  agar  RIS  melebur  kembali  menjadi  negara kesatuan
Republik  Indonesia.  Atas  jasanya,  Soekarno  meminta  Natsir  untuk
membentuk kabinet yang pertama dari negara kesatuan Republik Indonesia
(1950-1951).  Dalam  pemilu  pertama  1955,  ia  berprestasi  memimpin
Masyumi  (Majelis  Syuro  Muslimin  Indonesia)  meraih suara nomor dua
terbanyak setelah PNI (Partai Nasional Indonesia).

Jika  kita  berbicara  tentang  etika  politik,  itu sudah ditunjukkan
Natsir.  Ia  bisa  berdebat  sengit dengan Ketua PKI DN Aidit di dalam
sidang,  setelah  itu berbincang ringan sambil meminum secangkir kopi.
Kehidupan   yang   asketis  juga  dijalani  politikus  Muslim  kaliber
internasional ini.

Bila kita kini melihat mobil- mobil mewah diparkir di pelataran gedung
DPR,  Natsir  menolak  ketika  seorang pengusaha memberi hadiah sebuah
mobil  Chevrolet Impala yang saat itu tergolong mentereng. Padahal, di
rumahnya hanya ada sebuah mobil tua, De Soto.

Ia   berpolitik  secara  santun  dan  berdakwah  tanpa  kekerasan.  Ia
politikus  yang  hidup  bersahaja.  Ia  santun  terhadap  Soekarno dan
bersikap  correct  terhadap  Soeharto.  Pada awal Orde Baru ia berjasa
mengirim   nota  kepada  Tunku  Abdurrachman  dalam  rangka  pencairan
hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Ia  mengontak Pemerintah Kuwait agar mau menanamkan modal di Indonesia
dan  meyakinkan  pemerintahan  Jepang  tentang  kesungguhan  Orde Baru
membangun  ekonomi.  Ironisnya, imbalan yang diberikan penguasa adalah
larangan baginya untuk kembali ke pentas politik.

Pahlawan nasional?

Masalahnya,  layakkah  ia  diangkat  sebagai  pahlawan nasional? Dalam
kriteria  pahlawan  nasional ada klausul, orang itu tidak pernah cacat
dalam  perjuangannya.  Selama  Orde  Baru kriteria itu digunakan tanpa
ukuran  yang  jelas.  Kabarnya  Sanusi Hardjadinata, tokoh PNI, mantan
Menteri   era  Soekarno  dan  Gubernur  Jawa  Barat  saat  berlangsung
Konferensi  Asia-Afrika  (KAA)  di Bandung tahun 1955, ditolak menjadi
pahlawan nasional karena pernah menandatangani Petisi 50.

Alasan  itu  terasa berlebihan karena petisi yang dikeluarkan 50 tokoh
nasional  tahun  1980  itu  merupakan  sikap  kritis  atas  pernyataan
Presiden  Soeharto yang otoriter terhadap mereka yang mencoba mengubah
Pancasila  dan UUD 1945. Natsir menandatangani petisi itu, juga Sanusi
Hardjadinata, Hugeng, Ali Sadikin, SK Trimurti, dan banyak tokoh lain.
Alasan   ini  seyogianya  tidak  digunakan  untuk  menolak  pencalonan
pahlawan nasional.

Petisi   jelas   berbeda   dengan   pemberontakan,  meskipun  Soeharto
menanggapi   dengan   tindak   kekerasan   senada.   Sebenarnya,  yang
memberatkan   Natsir   adalah   keterlibatannya   dalam   Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958 dan meningkat dengan
pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) tahun 1960 yang terdiri
dari  10  negara bagian seperti Republik Islam Aceh dan Republik Islam
Sulawesi Selatan (Audrey dan George Kahin, 1997: 381)

Sjafruddin Prawiranegara

Tahun  lalu,  Sjafruddin  Prawiranegara  juga  diproses  sebagai calon
pahlawan nasional. Namanya lolos seleksi Badan Pembina Pahlawan Pusat.
Namun,  usulan  ini  kandas di tangan Presiden. Tampaknya keterlibatan
Sjafruddin  Prawiranegara  dalam sebuah pemberontakan tetap tidak bisa
ditolerir kepala negara.

Padahal, Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa besar terhadap negara.
Apa  jadinya  Indonesia  bila  Sjafruddin  tidak  memimpin  Pemerintah
Darurat  Republik Indonesia (PDRI), pemerintahan gerilya yang bergerak
di  Sumatera.  Tentu  terjadi  kevakuman  pemerintahan,  atau republik
mengalami mati suri sesaat.

Saat  ini,  pemerintah hanya menetapkan terbentuknya PDRI sebagai hari
bela  negara.  Selain  bintang  jasa  tertinggi yang diterima, namanya
diabadikan  pada  dua  gedung  yang berseberangan di Jl Budi Kemuliaan
Jakarta  (di  kompleks  Bank  Indonesia  dan  satu  lagi di Departemen
Pertahanan karena Sjafruddin pernah memimpin kedua instansi ini).

Warga Minangkabau tentu bangga bila pemangku adat Mohammad Natsir yang
bergelar  Datuk  Sinaro Panjang menjadi pahlawan nasional. Namun, bila
ketentuan menegaskan, tokoh yang terlibat pemberontakan tidak memenuhi
syarat,  dengan  jiwa  besar  harus menerimanya. Bukankah Natsir telah
mendapat   penghargaan  Bintang  Republik  Indonesia  Adipradana  yang
diberikan  semasa pemerintahan Habibie. Meski itu bukan gelar pahlawan
nasional
,  biarlah  asketisme  hidupnya senantiasa dikenang masyarakat
dan  kebersahajaan beliau menjadi contoh bagi kita semua terutama para
pemimpin di negeri ini.

Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI

 

 

R@ntau-Net] Re: Moh. Natsir dan Urang Awak

Tuesday, August 5, 2008 2:46 AM
From:

Add sender to Contacts

To:
RantauNet@googlegroups.com
Warga Minangkabau tentu bangga bila pemangku adat Mohammad Natsir yang
bergelar  Datuk  Sinaro Panjang menjadi pahlawan nasional. Namun, bila
ketentuan menegaskan, tokoh yang terlibat pemberontakan tidak memenuhi
syarat,  dengan  jiwa  besar  harus menerimanya. Bukankah Natsir telah
mendapat  penghargaan  Bintang  Republik  Indonesia  Adipradana  yang
diberikan  semasa pemerintahan Habibie. Meski itu bukan gelar pahlawan
nasional
,  biarlah  asketisme  hidupnya senantiasa dikenang masyarakat
dan  kebersahajaan beliau menjadi contoh bagi kita semua terutama para
pemimpin di negeri ini.

Kata-kata pemberontakan itu yang harus diluruskan, saya rasa sebagai seorang peneliti, beliau harusnya jangan hanya terpaku dari data yang ada. Apalagi saat ini di butuhkan tokoh2 sekaliber Moh Natsir. Bayangkan banyak tokoh yang diangap berjasa oleh rejim Orde Baru yang diberi gelar pahlawan, hal ini karena sudut pandang nya berbeda dan sesuai dengan koridor dari orde baru tersebut. Sedangkan saat ini adalah rejim Reformasi, dimana keterbukaan merupakan sebuah amunisi untuk mencari kebenaran ataupun pembenaran. Jaadi saya rasa peneliti jangan hanya terpaku dari produk dan materi2 yang ada saat ini, semestinya sebagai peneliti eliau harus berani menyuarakan hal-hal yang tidak pernah terungkap oleh sepak terjangnya bengawan Moh Natsir yang selama ini terbelenggu oleh rejimnya orde baru.

 
Saatnya lah sekarang penulis sekaliber Asvi Marwan Adam dapat mengungkap kebesaran daari Moh Natsir sekaligus kontribusinya yang besar bagi republik tercinta ini. Ini bukan karena beliau sebagai putra minang, tetapi tokoh kita ini sangat layak untuk diperjuangkan menjadi pahlawan nasional.
 
Saya rasa saatnya sekarang ini para peneliti Minang terutama nan mudo2 untuk dapat menghasilkan kajian2 tentang profil2 hebat Minang nan kurang terangkat optimal di kancah nasional.  Apalagi kalangan muda ini tidak terjebak oleh rejimnya orde baru dan dapat melihat tampa dibebani oleh masa orde baru tersebut.
 
 
 
Nanang
anak muda yg prihatin

Add comment Agustus 5, 2008

Tidak semua anak bangsa Indonesia senang kepada Pahlawan yang telah berjasa menjadikan Indonesia menjadi NKRI. Termasuk tidak senang kepada M.Natsir yang telah mempertahankan NKRI dengan Mosi Integralnya. Banyak anak bangsa yang menggugat agar Natsir tidak diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Satu bentuk pemikiran yang salah. Semua terjadi karena ada hasutan dari pihak lain. Atau, karena kepentingan politik belaka…… Inilah sebuah kebodohan sejarah yang amat nyata.

 
Selasa, 05 Agustus 2008
Oleh : Gusti Asnan, Sejarawan, Dosen Fakultas Sastra Unand
Harian Kompas tanggal 17 Juli 2008 yang lalu menurunkan tulisan Asvi Warman Adam (selanjutnya AWA) yang berjudul ”Natsir Pahlawan Nasional?”. Intisari dari tulisan tersebut adalah ketidaksetujuan AWA jika Moh Natsir diangkat menjadi pahlawan nasional. Alasannya Moh Natsir terlibat dalam PRRI dan RPI.

Kompas nampaknya memberi apresiasi yang tinggi kepada tulisan itu. Penempatan artikel tersebut pada posisi teratas pada halaman 6 membuktikan adanya penghargaan yang tinggi dari harian terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia tersebut terhadap gagasan AWA. Sebelumnya, jarang sekali, atau hampir tidak pernah tulisan AWA ditempatkan pada posisi seperti itu.

Namun terlepas dari fenomena di atas, tulisan AWA tersebut menarik untuk dicermati. Pertama, tulisan itu diturunkan pada saat puncak perayaan 100 Tahun Moh Natsir. Kedua, tulisan itu terbit pada saat hampir semua orang mengungkapkan pengabdian, kebesaran, keluhuran, ketulusan, kerendahhatian, serta semua sikap dan perilaku positif Moh Natsir.

Ketiga, tulisan dilontarkan pada saat Moh Natsir (kembali) diusulkan untuk menerima anugerah gelar pahlawan nasional. Keempat, tulisan itu dibuat oleh seorang sejarawan yang berasal dari Minangkabau, daerah asal Moh Natsir. Kelima, hampir tidak ada argumen bantahan dari penulis lain (terutama urang awak) terhadap pendapat AWA.

Urang awak akhir-akhir ini kurang atau tidak begitu memberikan apresiasi yang tinggi pada Moh Natsir. Hanya segelintir urang awak yang serius dan dengan hati yang tulus-ikhlas menghargai sosok, yang ketokohannya diakui tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional. Urang awak yang dimaksud di sini mencakup berbagai unsur masyarakat, terutama kaum cerdik-pandai daerah dan para pejabat atau petinggi (eksekutif dan legislatif) daerah.

AWA yang urang awak, sebagai salah seorang sejarawan terkemuka di Indonesia akhir-akhir ini dengan tegas mengatakan ketidaksetujuannya pada penganugerahan gelar pahlawan kepada Moh Natsir. Keterlibatan Moh Natsir dalam PRRI dan RPI dijadikannya nila untuk ”menghambat” penghargaan yang selayaknya diterima Moh Natsir.

Sayangnya, hampir tidak ada kaum cerdik-cendekia daerah (Minangkabau/Sumatera Barat) yang mengemukakan caunter argumen terhadap pernyataan AWA di atas. Sehingga dapat dikatakan bahwa hampir semua cerdik-cendekia daerah  setuju dengan pendapat AWA di atas.

Warga daerah dan pemerintah daerah juga kurang mendukung kegiatan ”Peringatan 100 Tahun Moh Natsir”. Buktinya terlihat dari pengalaman ”panitia lokal” di Alahan Panjang, negeri kelahiran Moh Natsir yang telah dua kali menunda kegiatan ”Peringatan 100 Tahun Moh Natsir (17 Juli dan 31 Juli)” di negeri itu karena kekurangan atau ketiadaan dana. Panitia tidak mendapatkan bantuan dana yang cukup dari para donatur, termasuk dari pemerintah daerah. Padahal dana yang dianggarkan untuk acara itu tidak begitu besar bila dibandingkan dengan sejumlah acara yang diadakan di hotel-hotel berbintang di kota Padang atau Bukittinggi dengan para pembicara dari luar daerah.

Acara yang akan digelar panitia lokal tersebut sebetulnya sangat menarik. Menarik karena panitia mengagendakan acara pemaparan ketokohan Moh Natsir yang bisa dijadikan sebagai sumber insiprasi dan suri-teladan bagi pelajar, generasi muda, dan bahan yang akan disampaikan para guru kepada para murid, serta diisi dengan diskusi mengenai berbagai persoalan yang hadir dalam perjalanan hidup Moh Natsir (termasuk keterlibatannya dalam PRRI dan RPI yang oleh sebagian kalangan, termasuk AWA dikatakan sebagai tindakan pemberontakan). Menarik karena akan diikuti oleh para pelajar (SLTP dan SLTA), generasi muda, serta para guru dari daerah Alahan Panjang dan sekitarnya. Singkat kata, acara yang digagas panitia lokal tersebut sebetulnya sangat strategis dan tepat sasaran.

Strategis dan tepat sasaran., maksudnya, lebih ditujukan kepada peserta yang ”mau mendengar” dan ”akan menjadi orang” di masa depan. Tidak seperti kebanyakan acara yang diadakan di hotel berbintang di Kota Padang atau Bukittinggi, yang para pesertanya telah menjadi ”orang”, yang lebih suka didengar pembicaraannya daripada mendengarkan pembicaraan orang lain.

Sebetulnya, kurangnya dukungan urang awak bukan hanya untuk Moh Natsir dan acara ”Peringatan 100 Tahun Moh Natsir” saja. Hampir semua acara seperti itu yang diadakan di daerah ini mengalami hal yang sama. Banyak sekali panitia yang menggagas acara seperti itu yang pontang-panting dan panik menghadapi sikap urang awak yang sangat rendah apresiasinya terhadap acara seperti itu. Kalaupun acara tersebut terlaksana, maka pelaksanaannya tidak maksimal.

Kiranya ”tamparan” yang dilakukan AWA dalam harian Kompas 17 Juli di atas dapat menjadi bahan koreksian bagi urang awak untuk lebih menghargai ”harta pusaka” miliknya. Moh Natsir adalah berlian milik urang awak yang tidak terkira nilainya. Namun anehnya, orang lain menghargai mutu manikam tersebut, tetapi urang awak kini malah menyepelekannya.

Sudah saatnya penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang jaya di masa lampau diungkapkan dalam sikap dan perilaku yang nyata dari urang awak masa kini (termasuk mendukung peringatan terhadap para tokoh tersebut), tidak hanya dalam kata-kata semata. Hargailah mereka dan jadikanlah mereka sebagai sumber insiprasi dan teladan, terutama pada saat negeri dan bangsa, serta masyarakat kita sekarang kekurangan sosok-sosok yang pantas diteladani.

Bila penghargaan itu tidak kita berikan, maka bersiap-siaplah menunggu hujatan dan pelecehan orang mengenai tokoh-tokoh milik kita. Tempo hari Tuanku Imam Bonjol yang dihujat oleh Mudi Situmorang, dan sekarang Moh Natsir oleh AWA. Esok hari akan disusul oleh… dan hari berikutnya akan disusul lagi oleh…Wallahu’alam bissawab. (***)

 
http://www.padangekspres.co.id/content/view/14522/55/

Add comment Agustus 5, 2008

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bicara tentang Natsir

Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, jejak langkah dan kepahlawanan Mohammad Natsir (1908-1993) dalam perjuangan bangsa Indonesia memperjuangkan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan tidak boleh dilupakan. Natsir besar jasanya memulihkan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI dari ancaman federasi melalui mosi integral.

Natsir sangat besar jasanya untuk memulihkan NKRI melalui mosi integral tanpa seorang pun kehilangan muka. Natsir berhasil mengembalikan NKRI secara terhormat dan bermartabat, ujar Presiden dalam sambutan tertulisnya pada Refleksi Seabad M Natsir, yang dibacakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa di Jakarta, Jumat (18/7) malam.

Presiden tak bisa hadir dalam acara yang dihadiri sejumlah menteri, mantan pejabat, dan pengagum Natsir itu karena melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah di Sumatera Utara.

Menurut Presiden, selain karena jasanya kepada bangsa, cara perjuangan dan hidup Natsir juga pantas dijadikan teladan. Presiden menyebutkan Natsir sebagai pendakwah, politikus, pejuang, dan negarawan yang membanggakan. Sebagai pendakwah, Natsir mendakwahkan Islam penuh keteduhan dan kedamaian jauh dari kekerasan.

Syiar disampaikan dengan santun, bijak, dan penuh toleransi sehingga muncul ketenangan dan kedamaian di antara umat dan di antara umat yang beragama lain, ujar Presiden. Pada periode awal kemerdekaan, Natsir tidak mungkin dihapus dalam catatan sejarah NKRI.

Presiden menyebut prestasi Natsir sebagai gemilang dan monumental dalam parlemen Indonesia. Presiden juga menyebut Natsir sebagai seorang demokrat dan negarawan. (INU)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/21/00563230/jejak.natsir.jangan.dilupakan

Add comment Juli 21, 2008

Masih dalam mengenang 100 tahun Mohamad Natsir

Kamis, 17 Juli 2008 | 00:45 WIB

Oleh Asvi Warman Adam

Tanggal 17 Juli 2008, tepat 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Kali ini, peringatan tidak hanya mengenang pemikiran dan kepribadian tokoh yang bersih dan konsisten, tetapi ada usul untuk mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.

Mohammad Natsir berjasa mengembalikan bentuk pemerintahan federal menjadi negara kesatuan. Ia yang prihatin dengan proses disintegrasi negara-bangsa berpidato pada sidang DPR Republik Indonesia Serikat (RIS) tanggal 3 April 1950 yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir.

Negara kesatuan

Ia mengusulkan agar RIS melebur kembali menjadi negara kesatuan Republik Indonesia. Atas jasanya, Soekarno meminta Natsir untuk membentuk kabinet yang pertama dari negara kesatuan Republik Indonesia (1950-1951). Dalam pemilu pertama 1955, ia berprestasi memimpin Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) meraih suara nomor dua terbanyak setelah PNI (Partai Nasional Indonesia).

Jika kita berbicara tentang etika politik, itu sudah ditunjukkan Natsir. Ia bisa berdebat sengit dengan Ketua PKI DN Aidit di dalam sidang, setelah itu berbincang ringan sambil meminum secangkir kopi. Kehidupan yang asketis juga dijalani politikus Muslim kaliber internasional ini.

Bila kita kini melihat mobil- mobil mewah diparkir di pelataran gedung DPR, Natsir menolak ketika seorang pengusaha memberi hadiah sebuah mobil Chevrolet Impala yang saat itu tergolong mentereng. Padahal, di rumahnya hanya ada sebuah mobil tua, De Soto.

Ia berpolitik secara santun dan berdakwah tanpa kekerasan. Ia politikus yang hidup bersahaja. Ia santun terhadap Soekarno dan bersikap correct terhadap Soeharto. Pada awal Orde Baru ia berjasa mengirim nota kepada Tunku Abdurrachman dalam rangka pencairan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Ia mengontak Pemerintah Kuwait agar mau menanamkan modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintahan Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi. Ironisnya, imbalan yang diberikan penguasa adalah larangan baginya untuk kembali ke pentas politik.

Pahlawan nasional?

Masalahnya, layakkah ia diangkat sebagai pahlawan nasional? Dalam kriteria pahlawan nasional ada klausul, orang itu tidak pernah cacat dalam perjuangannya. Selama Orde Baru kriteria itu digunakan tanpa ukuran yang jelas. Kabarnya Sanusi Hardjadinata, tokoh PNI, mantan Menteri era Soekarno dan Gubernur Jawa Barat saat berlangsung Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955, ditolak menjadi pahlawan nasional karena pernah menandatangani Petisi 50.

Alasan itu terasa berlebihan karena petisi yang dikeluarkan 50 tokoh nasional tahun 1980 itu merupakan sikap kritis atas pernyataan Presiden Soeharto yang otoriter terhadap mereka yang mencoba mengubah Pancasila dan UUD 1945. Natsir menandatangani petisi itu, juga Sanusi Hardjadinata, Hugeng, Ali Sadikin, SK Trimurti, dan banyak tokoh lain. Alasan ini seyogianya tidak digunakan untuk menolak pencalonan pahlawan nasional.

Petisi jelas berbeda dengan pemberontakan, meskipun Soeharto menanggapi dengan tindak kekerasan senada. Sebenarnya, yang memberatkan Natsir adalah keterlibatannya dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958 dan meningkat dengan pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) tahun 1960 yang terdiri dari 10 negara bagian seperti Republik Islam Aceh dan Republik Islam Sulawesi Selatan (Audrey dan George Kahin, 1997: 381)

Sjafruddin Prawiranegara

Tahun lalu, Sjafruddin Prawiranegara juga diproses sebagai calon pahlawan nasional. Namanya lolos seleksi Badan Pembina Pahlawan Pusat. Namun, usulan ini kandas di tangan Presiden. Tampaknya keterlibatan Sjafruddin Prawiranegara dalam sebuah pemberontakan tetap tidak bisa ditolerir kepala negara.

Padahal, Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa besar terhadap negara. Apa jadinya Indonesia bila Sjafruddin tidak memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), pemerintahan gerilya yang bergerak di Sumatera. Tentu terjadi kevakuman pemerintahan, atau republik mengalami mati suri sesaat.

Saat ini, pemerintah hanya menetapkan terbentuknya PDRI sebagai hari bela negara. Selain bintang jasa tertinggi yang diterima, namanya diabadikan pada dua gedung yang berseberangan di Jl Budi Kemuliaan Jakarta (di kompleks Bank Indonesia dan satu lagi di Departemen Pertahanan karena Sjafruddin pernah memimpin kedua instansi ini).

Warga Minangkabau tentu bangga bila pemangku adat Mohammad Natsir yang bergelar Datuk Sinaro Panjang menjadi pahlawan nasional. Namun, bila ketentuan menegaskan, tokoh yang terlibat pemberontakan tidak memenuhi syarat, dengan jiwa besar harus menerimanya. Bukankah Natsir telah mendapat penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana yang diberikan semasa pemerintahan Habibie. Meski itu bukan gelar pahlawan nasional, biarlah asketisme hidupnya senantiasa dikenang masyarakat dan kebersahajaan beliau menjadi contoh bagi kita semua terutama para pemimpin di negeri ini.

Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI

Add comment Juli 19, 2008

Selamat Jalan Pak Natsir, Khadimul Ummah

 

 

 Selamat jalan Pak Natsir

 

 

 

Oleh : H Mas’oed Abidin

 

Bumi Minangkabau, tepatnya Kampung Jambatan Baukia Alahan Panjang, negeri dingin di balik Gunung Talang Solok menjadi saksi kelahiran Pembawa Hati Nurani Umat, tokoh yang mendunia, pemikir dan pemimpin politik. Mohamad Natsir, lahir pada 17 Juli 1908. Putra Sutan Sari Pado dan Khadijah yang kemudian menjadi tokoh internasional dari berbagai segi : agama, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan, keteladanan, pemikiran, bahkan menjadi kajian ilmiah dalam berbagai seminar, simposium, skripsi, thesis disertasi para doktor berbagai disiplin ilmu.[1]

Masa kanak-kanak beliau lalui di tengah pergolakan pemikiran para tokoh besar pembaharu dari Ranah Minang. Belajar di pendidikan dasar Sekolah Belanda.

Mohamad Natsir kecil dengan tekun mengikuti gebrakan para tokoh besar di negerinya.  Dari usia delapan tahun (1916) sampai 15 tahun (1923) Bapak Mohamad Natsir remaja menggali kekayaan para ulama itu di HIS Adabiyah Padang dan Madrasah Diniyah Solok.

Bapak Mohamad Natsir aktif dalam Jong Islamiten Bond Padang sewaktu melanjutkan pendidikan ke MULO Padang tahun 1923. Dan kemudian, masih dalam jalur pendidikan Belanda, beliau melanjutkan pendidikan ke AMS (A2) di Bandung. Bapak Mohamad Natsir secara formal mengikuti pendidikan barat di sekolah-sekolah Belanda.

 

Pemimpin Dunia Terkejut

 

Berita wafatnya Bapak DR. Mohamad Natsir cukup mengejutkan.           

Tidak hanya dirasakan oleh para da’i di lapangan dakwah, juga oleh para politisi dan para pemimpin dunia.     

Takeo Fukuda, Mantan Perdana Menteri Jepang, beralamat di 4 – 4 – 3 Shimbashi Minato Ku Tokyo, mengirimkan ucapan belasungkawa dari Tokyo bertanggal 8 Pebruari 1993 sebagai berikut,

 

Kepada

Yang Mulia

Keluarga besar Dr. Muhamad Natsir

di Jakarta,

Kata Belasungkawa,

Dengan sedih kami menerima berita kehilangan besar dengan meninggal dunianya DR. MOHAMAD NATSIR.

Ketika menerima berita duka tersebut terasa lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima, karena kita kehilangan pemimpin dunia, dan pemimpin besar dunia Islam.

Peranan beliau masih sangat diperlukan dalam mengkordinasikan dunia yang stabil.

Saya banyak belajar dari beliau ketika beliau berkunjung ke Jepang disaat saya menjabat Menteri Keuangan. Beliaulah yang meyakinkan kami di Jepang tentang perjuangan masa depan pemerintahan orde baru di Indonesia yang bersih dan sejahtera, bersamaan dengan cita-cita beliau untuk menciptakan dunia Islam yang stabil, adil sejahtera dengan kerjasama Jepang.

Kini beliau sudah tiada. Walaupun keberadaan beliau masih sangat kita perlukan, tetapi Tuhan telah mengambil kembali beliau untuk beristirahat.

Dengan penuh kesedihan izinkan saya atas nama kawan-kawan beliau di Jepang menyampaikan Kata Belasungkawa atas kepergian teman kami pemimpin dunia yang disegani, Doktor Muhamad Natsir.

 

Kami yakin kepergian beliau dengan ketenangan karena telah banyak murid-murid beliau yang setia diharapkan meneruskan perjuangan suci beliau.

Kami yang berduka cita,

Takeo Fukuda. 

 

Bersama-sama tokoh ummat yang secita-cita Mohamad Natsir mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Pebruari 1967.

Pengabdian di bidang dakwah ini bukan semata dalam makna simbol tetapi  secara substantif dan komprehensif baik lisan, tulisan dan amaliah sosial bil hal dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Memang Dewan Da’wah banyak menghidupkan dakwah Islam pada masyarakat  suku  terasing dan daerah terisolir serta di  pemukiman  transmigrasi. Untuk keperluan pergerakan dakwah ini, Mohamad Natsir tidak pernah lelah untuk  menggembeleng  kader-kader  Islam  dengan sangat ikhlas, agar selalu berjuang  untuk  kemulian  dan ketinggian  Islam. Mohamad Natsir mengganggap  kader  pemimpim tak bisa dicetak  hanya  dalam  satu malam.

Pemimpin  tidak bisa dicetak  oleh  kursus, tidak  ada  universitas pemimpin, dan tidak pula ada ijazah pemimpin. Pemimpin tidak bisa  di SK kan. Pemimpin  tumbuh di lapangan, setelah berinteraksi dengan tantangan di dalam masyarakat. Pemimpin harus lahir  dari kandungan ummat itu sendiri. Lahir dari lapangan. Mohamad Natsir percaya  bahwa kader ummat dalam jumlah yang terbatas tetap ada. Para pemimpin umat lebih banyak hadir tanpa dibesar-besarkan dan gembar gembor. Pemimpin itu harus  berakar  ke bawah  dan berpucuk ke atas.

 

 

 

Mohamad Natsir ditengah-tengah Ibu Badan Penyantun Rumah Sakit Ibnu Sina Yarsi Sumbar di Padang, ketika kunjungan ke Sumbar. Mohamad Natsir menyempatkan melihat perkembangan Rumah Yatim Budi Mulia di Ranah Padang. Beliau memang menjadi  pemimpin tempat bertanya dari berbagai kalangan.

 

Inilah pemimpin yang  diidamkan  masyarakat. Proses itu  lahir sendiri dalam suatu perjalanan sejarah.

Calon-calon pemimpin diuji oleh keadaan  dan  tantangan dalam masyarakatnya. Ujian itu ada yang baik dan ada yang  buruk. Ujian atas kebaikan misalnya mendapat kesenangan harta dan  pangkat. Bila seorang pemimpin lulus dari berbagai ujian kehidupan akan punya berlipat kekuatan dan berdampak poisitif yang tinggi. Sebaliknya bila gagal, maka yang menanggung derita adalah diri, keluarga dan masyarakat. Inilah arti sebuah ujian, bertalian keistiqahaman seorang pemimpin atau pendakwah di medan dakwah.

 

 

Sebaliknya, ketika ada ujian terhadap keburukan misalnya penderitaan atau kekurangan  harta, mesti harus dapat dihadapi dengan keteguhan hati dan tidak pernah sesaatpun lepas dari naungan dan ma’unah dari Allah SWT.

Maka, yang akan beruntung adalah diri sendiri, disamping itu keluarga dan juga umat ikut berbahagia. Bila seorang pemimpin gagal menghadapi segala penderitaan, dan sempat menggadaikan diri demi secuil kesenangan, maka yang akan menderita pertama sekali  adalah diri yang akan ditinggalkan umatnya dan tidak terlalu mengganggu keluarga dan lingkungan.  Hal itu disampaikannya pada acara syukuran 80 tahun  Natsir yang dilaksanakan rekan dan sahabat pada 17 Juli 1988.[2]

 

 

Mohamad Natsir dengan para du’at yang melanjutkan gerakan dakwah di bidang kesehatan dan pendidikan di Sumbar dan Riau

 

 

Mohamad Natsir yang pernah  diberi gelar penghormatan  Doktor Kehormatan  oleh  salah satu Univeristas di Malaysia  tak  pernah sepi dari  perjuangan kepentingan bangsa  Indonesia  dan  izzul Islam wal Muslimuun diseluruh dunia. Beliau mendapat julukan dari umat sebagai, «hati nurani dan pemandu ummat».

Sepanjang hanyatnya Mohamad Natsir telah menghasilkan karya tulis di dalam berbagai aspek pemikiran. Karya tulisnya yang sudah diterbitkan sebanyak 60 buah, diantaranya ;

1.      Fiqhud Dakwah, (Jakarta: DDII, t.t.) Cet. IV.

2.      Surat-surat Mohamad Natsir dari tanggal 17 Juli-15 Agustus 1958. (T.T. : T.P., t.t.)

3.      Bahaya Takut, Jakarta : Media Dakwah, 1991.

4.      Capita Selecta I, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), Cet. III.

5.      Capita Selecta II, dihimpunkan oleh D.P. Sati Alimin, (Jakarta: Pustaka Pendis, 1957).

6.      Capita Selecta III, (Naskah Belum Diterbitkan).

7.      Fiqhud Dakwah, Djedjak Risalah dan Dasar-Dasar Dakwah, Malaysia : Polygraphic Press, 1981.

8.      Selamatkan Demokrasi Berdasarkan Jiwa Proklamasi dan UUD  1945, (T.T.: Forum Silaturrahmi 45, 1984).

9.      Islam dan Akal Merdeka, (Jakarta: Media Dakwah, 1988), Cet. III.

10.  Azaz Keyakinan Kami. (T.T.).

11.  Islam sebagai Dasar Negara, (T.T. : Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957).

12.  Revolusi Indonesia, (Bandung: Pustaka Jihad, T.T.). 13. Demokrasi di Bawah Hukum, (Jakarta: Media Dakwah, 1407/1987), Cet. I.

 

13.  Pendidikan, Pengorbanan Kepemimpinan, Primordialisme, dan Nostalgia, (Jakarta: Media Dakwah, 1987), Cet. I.

14.  Normalisasi Konstitusional, (Jakarta: Yayasan Kesadaran    Berkonstitusi, 1990).

15.  Islam di Persimpangan Jalan, T.T.

16.  Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya  yang   Konstitusioanl, T.T.

17.  Mempersatukan Umat, (Jakarta: CV Samudra, 1983), Cet. III.

18.  Dunia Islam dari Masa ke Masa, (Jakrta: Panji Masyara­kat, 1982).

19.  Islam sebagai Ideologi, (Jakarta: Penyiaran Ilmu, T.T.).

20.  Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah,  (Jakarta: Girimukti  Pusaka, 1988).

21.  Percakapan antara Generasi, Pesanan Perjuangan Seorang Bapak,   (Malaysia: Dewan Pustaka Islam, 1991).

22.  Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam, (Medan:T. P, 1951).

23.  Some Observations Concerning the Role of Islam in National and International Affairs, (Ithaca New York : Departement of  Far   Eastern Studies, Cornell University, 1954), Penerbitan XVI.

24.  The Role of Islam in the Promotion of National Resil­ience, (Jakarta: T.P., 1976).

25.  Membangun di Antara Tumpukan Puing dan Pertumbuhan, (Djakarta : Kementerian Penerangan RI, 1951). 

26.  Marilah Shalat, Jakarta : Media Dakwah, 1981.

27.  Mencari Modus Vivendi antara Umat Beragama di Indonesia, (Jarta: Media Dakwah, 1983).

28.  Asas Keyakinan Agama Kami,(Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah, 1984).

 

29.  Bahaya Takut, (Jakarta: Media Dakwah, 1991).

30.  Kumpulan Khutbah Idul Fithri/Adhha, (Jakarta: Media Dakwah,1978).

31.  Kumpulan Khutbah Hari Raya, (Jakarta : Media Dakwah, 1975).

32.  The New Morality, (Surabaya: Perwakilan DDII, 1969).

33.  Tinjauan Hidup, Widjaja, Djakarta, 1957.

34.  Kom Tot Het Gebed (Marilah Shalat), (Jakarta: Media Dakwah, 1981).

35.  Keragaman Hidup Antar Agama, Djakarta : Hudaya, 1970.

36.  Hidupkan Kembali Idealisme dan Semangat Pengorbanan, Djakarta : Bulan Bintang, 1970.

37.  Gubahlah Dunia dengan Amalmu, Sinarilah Zaman dengan Imanmu, Djakarta : Hudaya, 1970.

38.  Kubu Pertahanan Mental dari Abad ke Abad,(Surabaya: T.P., 1969).

39.  Tauhid untuk Persaudaraan Universal, (Jakarta: Suara Masjid, 1991).

40.  Hendak ke mana Anak-anak Kita Dibawa oleh PMP,(Jakarta: Panji  Masyarakat, 1402 H.).

41.  Islam dan Akal Merdeka,(Tasikmalaja: Persatoen Islam bg. Penjiaran, 1947).

42.  Islam Mempunyai Sifat-sifat yang Sempurna untuk Dasar Nega ra, (Jakarta: T.P., 1957).

43.  Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat, (Jakarta: Bulan bintang, 1980).

44.  Dakwah dan Pembangunan,(Bangil: Al-Muslimun, 1974).

45.  Tolong Dengarkan Pula Suara Kami,(Jakarta: Panji Ma­syarakat,   1982).

46.  Buku PMP dan Mutiara yang Hilang,(Jakrta: Panji Masyar­akat, 1982).

 

47.  Di Bawah Naungan Risalah, (Jakarta: Sinar Hudaya, 1971).

48.  Ikhtaru Ihdas Sabilain, Addinu wa la al-Dinu, (Jeddah: Al-dar al-Saudiyah, 1392 H.).

49.  Islam sebagai Ideologi, ( Jakarta :  Penyiaran Ilmu, t.t.).

50.  Islam dan Kristen di Indonesia, (Bandung: Pelajar Bulan Sabit, 1969).

51.  Pancasila akan Hidup Subur Sekali dalam Pangkuan Islam, (Bangil: T.P., 1982).

52.  Cultur Islam, (Bandung: T.P., 1936).

53.  Dari Masa ke Masa,(Jakarta: Yayasan Fajar Shadiq, 1975).

54.  Pandai-pandailah Bersyukur Nikmat,(Jakarta: Bulan Bintang, 1980).

55.  Bersama H.A.M.K. Amarullah, Islam Sumbergia Bahagia, (Bandung: Jajasan Djaja, 1953).

56.  Dengan nama samaran A. Moechlis, Dengan Islam ke Indonesia Moelia, (Bandung: Persatuan Islam, Madjlis Penjiaran, 1940).

57.  Agama dan Negara dalam Persfektif  Islam (Kumpulan Karangan), Penyunting, H. Endang Saifuddin Anshari dan LIPPM (Jakarta: 1409-1989, belum diterbitkan /masih monograph).

58.  Asas Keyakinan Agama Kami, (Jakarta: DDII, 1982).

59.  Tempatkan Kembali Pancasila pada Kedudukannya yang Konstitusional, (Jakarta: TP, 1985).

60.  World of Islam Festival dalam Persepektif sejarah (Jakarta : Yayasan Idayu, 1976).

 

 

Masih dalam suasana 100 tahun M Natsir, dari padang kini kita baca…..
 
Menyusuri Jejak Masa Kecil M Natsir

 
Oleh: Febrianti/PadangKini.com

NATSIR menatap selembar foto hitam-putih itu lekat-lekat dan lama, selembar foto yang menggambarkan sebuah rumah beratap limas dengan halaman yang luas, dengan sungai yang jernih mengalir di sampingnya dan jembatan kayu jati yang berukir di atasnya.

Seolah ingin mengenang masa kecil dalam foto itu nun jauh di Lembah Gumanti yang permai di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, dari atas tempat tidurnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta,  Natsir lama menatap foto itu.

Ini diceritakan Hamdi El Gumanti, 60 tahun, salah seorang pengurus Dewan Dakwah Islamiyah di Jakarta semasa itu. Hamdi juga cucu Sutan Rajo Ameh di Alahan Panjang,  pemilik rumah tempat Natsir dilahirkan.

“Seminggu sebelum wafat Pak Natsir memaggil saya dan meminta saya tolong carikan foto rumah masa kecilnya di Alahan Panjang, saya kaget, sebelumnya Pak Natsir tidak pernah seperti itu,” kata Hamdi.

Hamdi bergegas berangkat dari Jakarta ke Alahan Panjang dan membongkar album yang ada di rumah Jembatan Berukuir. Foto yang diinginkan Natsir ketemu dan ia segera terbang ke Jakarta memberikan foto itu pada Natsir. Tiga hari kemudian, 6 Februari 1993, Natsir meninggal.

Di masa tuanya, Natsir memang beberapa kali pernah ingin bernostalgia masa kecilnya di Sumatera Barat, tetapi tidak pernah kesampaian.

Menurut Hamdi, di Jakarta pada tahun 70-an,  Natsir pernah dekat dengan pamannya Hamdi yang bernama Syahrul Kamal. Mereka bersepakat akan akan  pulang kampung ke Alahan Panjang, tapi batal karena Syahrul Kamal keburu meninggal.

Pada 1991, saat berkunjung ke Padang dan Bukittinggi Natsir juga sempat ingin bernostalgia mengunjungi tempat-tempat masa kecilnya seperti di Alahan Panjang, Solok, dan Maninjau, namun itu juga batal. Hal ini diceritakan Aisyah Rahim Natsir, putri Natsir yang kelima.

“Saat itu saking bersemangatnya Bapak meresmikan Islamic Center di Padang, naik tangga sampai ke lantai 4, lalu jantungan, akhirnya nggak jadi, padahal Bapak sepertinya ingin bernostalgia, ia mengatakan pada kakak saya ingin ke Alahan Panjang, Solok dan ke Danau  Maninjau, ke Maninjau saja tidak sempat, Bbapak hanya sempat lewat di Solok, dan Bapak menunjuk di dekat jembatan Solok itu dulu sekolah,” kata Aisyah.

Natsir dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang. Daerah yang dikenal dengan Lembah Gumanti itu adalah dataran tinggi yang subur dengan kebun-kebun kopi dan kebun sayur, serta sawah yang luas. Berhawa dingin dan kerap hujan karena berada di Gunung Talang.

Di Alahan Panjang ini pemandangan alam amat indah, selain perkebunan yang subur, juga dilingkupi dua danau yang dijuluki Danau Kembar yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah. 

Tak Banyak yang Tahu
M.Natsir kecil dulunya lahir di sebuah rumah yang besar yang terletak di dekat Jembatan Berukir, Alahan Panjang 17 Juli 1908. Saat menetap di Alahan Panjang karena menjadi pegawai Belanda di pemerintahan setingkat kecamatan di Alahan Panjang, Ayah M. Natsir, Mohamad Idris Sutan Saripado tinggal di rumah seorang saudagar kopi kaya di Alahan Panjang, Sutan Rajo Ameh.

“Mungkin kakek saya Sutan Rajo Ameh bersahabat dengan Mohamad Idris Sutan Saripad, Bapaknya Pak Natsir sehingga mereka diajak tinggal di rumah itu,” kata Hamdi, cucu Sutan Rajo Ameh yang juga lahir di rumah itu.

Di rumah besar itu, Keluarga Sutan Rajo Ameh bersama istrinya Siti Zahara dan anak-anaknya tinggal di bagian kiri rumah. Sementara  ayah Mohammad Idrus Saripado dan Istrinya Khadijah bersama anaknya menempati rumah bagian kanan.

Menurut Hamdi, rumah itu berhalaman luas, di sisi kirinya mengalir Batang Hiliran Gumanti (batang artnya sungai) yang berair jernih. Airnya berasal dari Danau Diatas dan mengalir terus ke hilir. Di atas sungai itu ada jembatan dari kayu jati yang penuh ukiran yang dibangun Belanda.

“Ketika itu tempat paling indah di Alahan Panjang mungkin di rumah kakek saya, di sampingnya ada sungai dengan jembatan yang berukir dan di depannya ada lapangan yang hijau ditumbuhi rumput dan dipagari pohon pinang,” kata Hamdi.

Di belakang rumah kelahiran Natsir saat ada kolam ikan dan taman kecil yang tetata apik, karena Sutan Rajo Ameh amat suka menata taman dan duduk di kursi malas menghadap ke kolam ikan.

Di sebelah kolam ikan ada sungai Batang Hiliran Gumanti yang sebagian kecil airnya  dialirkan ke kincir air untuk menumbuk padi.  Itu adalah satu-satunya kincir air penumbuk padi  yang ada di Alahan Panjang semasa itu. Sayangnya rumah kelahiran Natsir terbakar saat  agresi Belanda pada 1947 tinggal di Indonesia. Rumah besar itu terbakar kena bom.

“Kata almarhum nenek saya Siti Zahara, waktu kecil ini Pak Natsir orangnya lugu, jujur dan punya sifat yang sejak kecil sudah kelihatan akan jadi pemimpin, selain itu Natsir juga suka dengan segala hal yang rapi, merapikan kamar tidurnya, dan suka membantu mencuci piring,” kata Hamdi.

Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga ke surau, belajar mengaji.  urau itu tidak jauh dari rumahnya, di depan lapangan. Namanya Surau Dagang yang didirikan oleh pedagang dari nagari-nagari di sekitar Alahan Panjang. Pedagang ini berjualan tiap pekan di Pasar Perserikatan Alahan Panjang tak jauh dari surau itu.
Menurut Hamdi, surau itu dulunya dari kayu, lantainya bambu dan atapnya dari daun rumbia, kini sudah berubah menjadi Masjid Al Wusta.

Dijaga Penjaga Buta
Tidak banyak yang  tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang, karena orang-orang segenerasi dengan Natsir apalagi generasi di atas Natsir sudah tidak ada lagi. Apalagi Natsir di Alahan Panjang hanya pada masa sebelum masuk Sekolah Rakyat (SR) di Kota Solok.

Kini Alahan Panjang tidak banyak berubah. Lembah Gumanti berhawa dingin. Ladang sayuran dan kebun kopi masih terhampar luas, karena Alahan Panjnag termasuk sentra pemasok sayuran untuk Sumatera Barat dan Riau.

Namun tempat kelahiran Natsir agak berubah. Rumah kelahiran Natsir yang terbakar telah dibangun lagi pada 1957. Walaupun cukup besar tapi kalah luas dibandingkan rumah yang pernah ditempati Natsir.

Di samping kiri rumah  masih mengalir Batang Hiliran Gumanti dengan airnya yang masih jernih, di atasnya ada jembatan namun tidak lagi jembatan kayu jati yang berukir, telah diganti jembatan beton, walaupun nama jalan di depan rumah itu tetap Jembatan Berukir.

Di dalam rumah masih ada satu set kursi rotan milik Sutan Rajo Ameh, semasa ayah Natsir tinggal di rumah itu, juga ada kursi malas dari kayu jati, serta lemari yang penuh peralatan dari kuningan, peninggalan zaman Natsir saat di rumah itu.

Kolam ikan di belakang rumah sudah tidak ada lagi, kincir air dibelakang rumah dekat rumpun bambu masih ada, namun tidak lagi digunakan. Di seberang jembatan berukir tidak ada lagi lapangan hijau yang luas yang dinaungi barisan pohon pinang. Lapangan itu telah berubah menjadi terminal bus dan angkutan umum, letaknya bersebelahan dengan pasar Alahan Panjang.

Rumah itu dijaga seorang penjaga buta, Zulfikar. Ia adalah kerabat si pemilik rumah Hamdi El Gumanti yang mewarisi rumah itu dari ibunya. Hamdi sendiri tinggal di Jakarta.

“Saya dititipi rumah ini karena ini rumah kelahiran Pak Natsir, karena yang punya merantau semua ke Jakarta, tetapi saya tidak banyak tahu tentang beliau,” kata Zulfikar.

Ia sehari-hari bertugas memelihara rumah, menyapu, membersihkan halaman.

“Sudah banyak yang datang ke rumah ini, karena mereka ingin melihat rumahnya pak Natsir, pernah bupati, gubernur, beberapa  menteri dan pernah pula orang dari Arab yang datang dan numpang sholat di rumah ini karena tahu tempat ini rumah kelahiran Pak Natsir,” kata Zul.

Hamdi El Gumanti sang pemilik rumah mengatakan, tidak banyak lagi orang yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang.

“Yang tahu itu seangkatan nenek saya,dan itu tentu sudah meninggal semua, saya saja tahu cerita Natsir pernah di sana dari nenek , karena nenek saya umurnya sampai 103 tahun jadi saat saya SMA dan nenek tinggal di Jakarta bersama kami, di situlah beliau sering bercerita,” kata Hamdi El Gumanti.

Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai Kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang, Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah.

Tak lama berselang, dia pindah ke Solok. Dan ketika sang ayah pindah ke Makassar, Natsir kembali ke Padang tinggal bersama kakaknya. Di sana dia menamatkan pendidikan dasarnya sebelum akhirnya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onder­wijs (MULO) di Bandung.

Orang Maninjau
Di Danau Maninjua, jejak masa kecil Natsir juga kabur, orang lebih banyak mengenalnya sebagai sosok Natsir yang ikut memimpin perjuangan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). 

Kedua orang tua Muhammad Natsir berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam. Namun tidak diketahui apakah Natsir kecil pernah ke Maninjau. Turunan pihak ibu Natsir memiliki ‘rumah gadang’ di Maninjau. Letaknya di Kelok Satu, sekitar 200 meter dari tepian Danau Maninjau. Dari tempat  itu, Danau Maninjau terlihat jelas.

Di jalan Kelok Satu itu beberapa rumah tua dari kayu masih berdiri salah satunya rumah Roslinar, 64 tahun, kemenakan jauh Natsir dari keturunan kakak dari  ibu Natsir.

Rumah yang ditempati Roslinar bersebelahan dengan rumah yang disebut-sebut rumah Natsir.

Sebenarnya rumah Natsir itu adalah ‘rumah gadang’ milik suku dari pihak perempuan keluarga ibu Natsir. Dulunya rumah itu rumah kayu, namun pada 1990 dibangun menjadi rumah beton dengan atap seng model bagonjong. Di halaman rumah ditutupi paving blok dan dipagar besi. Rumah bercat kuning itu disewakan untuk kost siswa.

“Saya tidak tahu persis apakah saat kecil Pak Natsir pernah singgah ke rumah ini, karena ayah dan ibu Pak Natsir kan memang tidak pernah tinggal di Maninjau, yang jelas itu adalah rumah keluarga ibunya Pak Natsir,” kata Roslinar.

Di dalam rumah itu tidak ada selembar pun foto Nastir. Menurut Roslinar, karena pada masa PRRI semua foto Natsir dan keluarganya disembunyikan dalam plastik sehingga rusak.

“Saat PRRI dulu banyak tentara yang setiap hari ke rumah ini dengan senjata terkokang menanyakan Pak Natsir, jadi seluruh foto-fotonya dan keluarganya kami simpan jauh-jauh di dalam plastik disembunyikan, akhirnya rusak,” kata Roslinar.

Roslinar mengatakan Natsir pernah dua kali berkunjung ke rumah itu. Pertama semasa PRRI dan kedua pada 1980-an.

“Saat masa PRRI saya tidak terlalu ingat, karena masih kanak-kanak, tetapi saat 80-an lalu saya yang sibuk memasak dan jadi tuan rumah karena Pak Natsir datang dan berkumpul di rumah itu bersama sanak dan kemenakannya,” kata Roslinar.

Ia ingat, Natsir banyak bercerita ringan dengan sanak keluarganya, juga nasehat agar bila ingin maju harus mengutamakan pendidikan.

“Pak Natsir tidak menginap, beliau pulang ke Padang, saat pulang saya ditinggali uang Rp150 ribu, katanya untuk belanja di rumah, itulah terakhir kalinya Pak Natsir berkunjung ke rumah ini,” kata Roslinar.

Roslinar mengatakan, tidak tahu banyak tentang masa kecil Natsir. Ia adalah satu-satunya keluarga dari pihak ibu Natsir yang tinggal di Maninjau.
Sekitar 500 meter dari rumah  Natsir  kini berdiri sebuah perpustakaan yang dinamakan Perpustakaan Mohamad Natsir.

Perpustakaan ini didirikan 2005 lalu oleh Ikatan Perantau Maninjau di Jabodetabek.

Di dalam pustaka dengan luas 180 meter persegi itu cukup banyak koleksi buku. Di salah satu lemari terdapat 20-an buku karangam Natsir dan buku tentang Natsir yang disumbang keluarga M. Natsir untuk perpustakaan.

Selain itu juga ada buku-buku fiksi, sastra, buku anak-anak, dan majalah.
“Perpustakaan ini untuk semua umur, setiap hari paling sedikit 10 orang yang membaca di sini,” kata Santi, salah seorang penjaga pustaka.

Ia mengatakan, perpustakaan ini memakai nama M. Natsir karena untuk mengenang tokoh asal Maninjau itu.

“Ini kan daerah asalnya Pak Natsir, walaupun beliau tidak lahir di sini, tetapi beliau orang sini,” kata Santi.

Ia mengatakan, beberapa perantau asal Inggris tahun lalu pernah mengirimkan sumbangan buku-buku anak-anak satu kardus besar langsung dari Inggris. Selain itu mereka juga menyumbang satu perangkat komputer untuk perpustakaan itu.** 

 

 

 

Di Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Mohamad Natsir juga meninggalkan asset kekayaan ilmiah dengan hadirnya majalah Serial Media Dakwah, Suara Mesjid, Serial Khutbah Jum’at, majalah Sahabat untuk anak-anak serta Bulletin Dakwah sebagai penyiram hati umat yang sedang gersang rohani.

Pemikiran beliau masih tetap hidup ditengah umat, dibaca dan ditelaah oleh setiap generasi secara sambung bersambung.

 

 

Bertimbang terima dengan generasi yang akan menerima tongkat patah tumbuh hilang berganti, untuk melanjutkan usaha pembangunan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar dalam Musyawarah di Padang.

 

Bapak Mohamad Natsir telah meninggalkan pesan-pesan dakwah yang tidak akan kering menyirami setiap insan pendakwah di medan dakwah sepanjang masa.

 

Berpuluh khazanah intelektual dan ratusan artikel yang bernuansa dakwah telah ditulis beliau. Belum sempat diterbitkan.

Sebagai insan beliau telah dipanggil kehadirat Allah, pada hari Sabtu tanggal 6 Pebruari 1993 pukul 12.10 WIB bertepatan dengan 14 Sya’ban 1413 H di Ruang ICCU RSCM Jakarta. Dimakamkan di TPU Karet 7 Pebruari 1993 siang, dibawah deraian air mata dan siraman air hujan.

Selamat jalan Bapak Mohamad Natsir. Dibelakang bapak telah menunggu Natsir muda melanjutkan perjuanganmu yang harum semerbak. “Harimau mati meninggalkan belang, manusia pergi meninggalkan amal yang baik juga“.G

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]       Skripsi sarjana IAIN, Wirda Yati, SAg: Dinamika Dakwah Islam di Indonesia, Telaah Terhadap Pemikiran Bapak Mohamad Natsir.

[2]       Dalam bagian pada wawancara dengan Panji Masyarakat Juli  1988 itu,  Natsir  mengibaratkan kader pempimpin  itu  adalah  seperti harapan  Nabi Zakaria yang mendambakanm keturuan  yang  akhairnya Allah  mmemberikan keturuan Nabi Yahya. Natsir  optimis  lahirnya Yahya-Yahaya  baru.  Terutama menurutnya adalah dari  Kampus  dan dari  LSM serta kelompok-kelompok pengajian dan pesantren.   Yang penting  menutut  Natsir pada akhir 80-an itu,  tercipta  situasi yang kondusip yaitu kebebasan mengeluarkan pendapat atau  kebebasan beribicara.

 

 

Add comment Juli 19, 2008

Ulasan Majalah Tempo tentang Natsir, ketika peringatan 100 tahun Natsir.

sumber : Majalah Tempo
Edisi. 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

                 Laporan Utama

               Sebuah Pemberontakan tanpa Drama

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood:
perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan,
dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena
ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu
teladan yang jarang.

DIA,
Mohammad Natsir (17 Juli 1908 6 Februari 1993), orang yang puritan.
Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak
berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang
sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik
sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah
lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi,
tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih
baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang
berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap
yang diambil, bersahaja.

Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan
Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang
bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita
tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri
Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat
Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. “Ia
memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di
antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Mungkin karena itulah sampai tahun ini seratus tahun setelah
kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat tidak sedikit orang menyimpan
keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer
kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di
kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan
kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa
gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah
air ini. Dan di kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang
sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri
dari Partai Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya
mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah
bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.

Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi
bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada
dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain,
disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya
semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua
yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di
atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung
parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika
itu.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan
Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih
berarti. Waktu itu, pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan
nasionalis­me-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai
bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah
Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan
kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.

Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya “bertemu” lagi
dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri
penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda
pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi
ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar
buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang
kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara
kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.

Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara
kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa
menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara
si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an
Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang
terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang
semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa
tokoh lain tanpa pengadilan.

Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang
memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita,
akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat,
menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu.
Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan
kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung
awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin
yang cenderung otoriter.

Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa
Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan
menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel “musuh utama”
pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis
keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit
bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau
Buru pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik peng­ikut PKI.
Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para
penanda tangan Petisi 50 dicekal.

Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang
cukup panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang
mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita
sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan
ber­sahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari
belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh,
bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh
santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edi­si ini.

Add comment Juli 18, 2008

Previous Posts


Halaman

 

November 2009
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Blogroll

Meta

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

Blog Stats

Klik tertinggi

Tulisan Teratas

Pengarang

Spam Blocked